Resensi Buku “Kiat Sukses Mengarang Novel” Karya: Saut P. Tambunan

August 8, 2009 at 9:49 am | Posted in RESENSI BUKU Aniters | 1 Comment
Tags: ,
buku sautJudul: Kiat Sukses Mengarang Novel
Penulis: Saut Poltak Tambunan
Penerbit: Kutubuku Sampurna, 2009
Penulis bukan tukang masak yang karyanya akan berakhir di meja makan. Penulis menghasilkan karyanya yang akan dikonsumsi menjadi makanan suplemen bagi sikap, karakter, moral dan kepribadian pembaca. Oleh karena itu sebelum menulis, seorang penulis harus terlebih dahulu mengetahui maksud dan tujuan yang hendak dicapai, bahkan sudah tahu segmen pembaca mana yang akan menjadi targetnya dan sudah memperkirakan bagaimana responsi mereka.

Dalam cerita silat kuno kita temukan bahwa sastrawan di Tiongkok mendapat penghargaan tinggi di dunia persilatan. Sekali pendekar salah tebas, seorang tewas. Tetapi jika seorang penulis yang salah, diperlukan waktu yang sangat lama untuk memperbaikinya, karena keterlanjuran pengaruhnya terhadap perubahan sikap dan moral pembacanya.

Namun demikian buku ini tak hanya mengungkap bagaimana mengarang novel yang baik sebagaimana buku-buku yang pernah terbit di pasaran selama ini. Buku ini mengajak para pengarang untuk membuat novel agar cepat dikenal, dan laris (best seller). Ia mengibaratkan judul novel adalah produk, nama pengarang adalah brand owner dan nama pena adalah brand umbrella. Buku ini lebih menitikberatkan bagaimana mengarang novel dengan pendekatan marketing, agar novel Anda laris (best seller) dan dibaca orang.

Penulisnya Saut Poltak Tambunan telah membuktikan hal itu. Dia adalah pengarang novel laris yang novel-novelnya banyak difilmkan di layar lebar dan sinetron.

Buku ini juga menyertakan proses kreatif 17 pengarang Indonesia, seperti Ali Muakhir, Ana Mustamin, Anny Djati, Arie MP Tamba, Aulia ‘Ollie’ Halimatussadiah, Benny Rhamdani, Cok Sawitri, Dewi ‘Dee’ Lestari, Donatus A Nugroho, Fanny Jonathan Poyk, Ida Ahdiah, Kurnia Effendi, Kurniawan Junaedhie, Pipiet Senja, Putu Wijaya, Zara Zettira ZR dan Saut Poltak Tambunan.

Jika belum/ tdk tersedia di TB Gramedia di kota Anda, buku ini bisa diperoleh melalui Cabang2/ Agen Anita terdekat di kota Anda.

Advertisements

Resensi Buku “The Four Fingered Pianist” karya Kurnia Effendi

August 8, 2009 at 8:28 am | Posted in RESENSI BUKU Aniters | Leave a comment
Tags:

ahlee-kurniaJudul: The Four Fingered Pianist
Penulis: Kurnia Effendi
Penyunting: Hermawan Aksan
Penerbit: Hikmah
Cetakan: I, 2008
Tebal: 228 hlm

Dua kali Hee Ah Lee datang ke Indonesia. Yang pertama, tahun lalu, demi kepentingan konser tunggalnya di Jakarta, sedangkan yang berikutnya adalah untuk promosi buku memoar–ah..lebih tepat sebetulnya sketsa kehidupan–nya yang ditulis oleh cerpenis kita, Kurnia Effendi.

Kehidupan Hee Ah Lee memang sangat menarik untuk ditulis dan kemudian dibaca oleh banyak orang. Bagaimana tidak? Gadis kelahiran 22 tahun silam ini laksana sebuah keajaiban yang diturunkan Tuhan ke dunia. Gadis mungil yang terlahir cacat ini sukses menjadi seorang pianis handal hanya dengan menggunakan 4 biji jemarinya.

Ya, Hee Ah Lee dilahirkan dalam kondisi fisik yang tak sempurna : jari-jari tangannya masing-masing hanya ada dua serupa capit pada hewan kepiting. Oleh karena itu, kelainan yang disandangnya ini populer dengan istilah lobster claw syndrome (sindrom capit lobster (ectrodactyly), yakni kelainan bentuk yang langka dari tangan atau kaki, saat bagian tengahnya tidak ada, dan terdapat celah di tempat metakarpal jari seharusnya berada. Belahan ini menyebabkan tangan/kaki memiliki penampilan seperti capit pada kepiting/lobster/udang galah (hlm 23)

Kondisi seperti ini diwarisi sejak lahir, pada taraf tertentu dapat disembuhkan melalui metode bedah. Pernah tercatat bedah sukses yang dilakukan oleh Dr. Joseph Upton terhadap pasien Samantha dan Stephanie Wojciechowics. Bedah mikro itu dilakukan ketika kedua bersaudara ini berumur 2 tahun. Upton berhasil membuat sebuah ibu jari mungil untuk tangan mereka, diambil dari ibu jari kaki. Kasus Hee Ah Lee termasuk langka: 1 berbanding 10.000 kelahiran.

Hee Ah sangat beruntung sebab memiliki Woo Kap Sun sebagai ibu. Woo adalah ibu yang tabah dan kuat. Dahulu, ia bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit. Di rumah sakit ini ia berjumpa dan jatuh cinta pada seorang pria yang menjadi pasiennya. Pria itu, Wun Bong Lee, kelak menjadi ayah Hee Ah Lee.

Setelah lama menanti, akhirnya pada tahun kedelapan pernikahan mereka, Woo Kap Sun hamil. Selama menjalani kehamilannya ini, Woo banyak mengonsumsi obat-obatan untuk sakit kepala yang sering menyerang dan membuatnya tidak tahan. Barangkali hal ini turut juga menjadi penyebab kecacatan yang diderita Hee Ah lee.

Selanjutnya, buku ini menuturkan perjalanan karier Hee Ah Lee sebagai pianis berjari empat yang penuh suka dan duka. Dengan ketabahan yang mengagumkan, Hee Ah Lee beserta ibunya sanggup mengalahkan segala kekurangan fisik yang pada banyak orang mungkin adalah hambatan. Mereka berdua saling bahu membahu dalam cinta mewujudkan kehidupan yang lebih baik, terutama bagi Hee Ah Lee. Hanya berkat ketabahan, kemauan, dan latihan yang keras serta disiplin semua itu bisa dicapai. Harus diakui apa yang sudah dialami dan diperjuangkan oleh Hee Ah adalah sebuah kisah yang inspiratif dan hendaknya bisa memotivasi banyak orang di dunia, terutama kita yang dikarunia fisik dan mental normal.

Kisah yang dikemas dalam buku berukuran mungil ini disampaikan dengan bahasa yang ringan–sangat ringan malah sehingga rasanya kita seperti tengah membaca cerita anak-anak–ini cukup menarik diikuti dan bermanfaat, terutama bagi para ibu yang memiliki anak-anak dengan kelainan khusus. Menurut penulisnya, Kurnia Effendi, ia memang sengaja memakai gaya penulisan demikian agar buku tersebut bisa dinikmati segala lapisan usia, dari anak-anak hingga orang tua.

Namun, entah karena bahannya terbatas atau alasan lain, di beberapa bagian terdapat pengulangan-pengulangan. Keterbatasan bahan itu lebih kentara lagi dengan tampilnya halaman-halaman yang berisi kutipan dari bab yang bersangkutan. Siasat yang terbukti jitu–saya pernah menemukannya juga di buku Paranoid (Patrick Suskind) terbitan Dastan (2007)–untuk mendongkrak jumlah halaman buku selain pemuatan foto-foto dan ilustrasi. Mungkin lantaran itu, Kurnia Effendi lebih suka menyebut karyanya ini sebagai sebuah sketsa ketimbang memoar atau apalagi biografi.

Akan tetapi, terlepas dari itu, kisah yang termuat di dalamnya sungguh amat mengharukan dan menginspirasi; mengetuk kesadaran kita untuk tidak lupa bersyukur atas semua kesempurnaan yang telah diberikan Tuhan. Hee Ah Lee yang selalu tersenyum dalam menjalani hidupnya, seharusnya membuat kita merasa malu untuk bermalas-malasan atau mengeluhkan hal-hal sepele. Sebab, seperti kata Mary Dunbar yang tulisannya dipetik dalam buku ini, bahwa setiap manusia diberi anugerah dalam cara yang unik dan penting. Menemukan cahaya istimewa kita masing-masing adalah hak eksklusif dan petualangan yang harus kita jalani.

Untuk setiap pembelian buku ini, ada bonus sekeping VCD berisi film seputar keseharian Hee Ah Lee berdurasi 12 menit.***

-endah sulwesi-

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.