Cerpen Ryana Mustamin

August 8, 2009 at 2:22 pm | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

ryanaHappy birthday to you.
Happy birthday to you.
Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you….

“SELAMAT ulangtahun, Utami!” Papa tersenyum samar. Disentuhnya kening Utami lembut, lantas ditatapnya wajah putrinya dengan lekat. “Kamu harus panjang umur!” Suara papa gemetar, dengan rahang yang mengeras.
Utami menggigil mendengar kalimat terakhir itu. Dirasakannya jemari yang merangkulnya dingin. Utami menatap aneh, dan seleret duka yang pernah hadir lima hari lalu kembali membayang pada wajah tua di depannya. Gadis itu membuang pandang, menyembunyikan matanya yang merebak. Ia tidak tahu, kejadian apa yang sesungguhnya tengah ia alami; memperingati ulangtahun dalam suasana berkabung….
Utami memejamkan mata, menenteramkan sedihnya. Tapi justru bayangan kelam yang memintas; sosok-sosok berbaju hitam, bau tanah merah yang basah, daun kamboja yang luruh….
Angin yang bertiup bergegas. Mama menyentuh lengannya, memeluk dan menciumnya. Wanita baya itu kemudian membisikkan ucapan selamat dengan nada yang sama dengan Papa: kering dan gemetar.
Malam mulai melarut. Bulan membayang lembut, bergerak naik, melewati satu-dua bintang. Ada bayangan pepohonan yang jatuh di rumput halaman. Di luar amat lengang, dan murung. Utami mengeluh lirih, lantas tatapnya jauh menerawang, benaknya pun mengembara ke lain tempat, ke sebuah lereng pegunungan yang senyap dan lembab, tempat Utari — saudara kembarnya, dibaringkan lima hari lalu. Dan dalam lima hari terlewat itu, Utari telah melupakan rumah putih, Papa, dirinya, dan…. ulangtahun mereka malam ini!
Suara angin dan desahan Papa terdengar sayup. Utami menoleh. Pandangannya jatuh pada kue ulangtahun di atas meja. Ia tidak memiliki keinginan untuk menyentuhnya. Dulu, tak satu pun peringatan semacam itu terlewati tanpa Utari. Dan mereka akan meniup lilin ulangtahun secara bersama-sama. Betapa pun mereka seperti anjing dan kucing sehari sebelumnya. Tapi kini?
“Papa tidak memiliki kado….”
Hening pecah. Ada burung malam melintas di atas genteng.
“Tapi Papa ingin bermain untuk Utami,” Papa membuka piano di sudut ruangan. Sejurus kemudian jemarinya lincah menari di atas tuts, melantunkan ‘Serenade’, sepenuh perasaan, menyulamkan kesesakan di dada Utami. Lagu itu, lagu kesayangan Utari. Ada kenangan berlarian tergesa: Papa membaca koran, Utari datang mengusik dan merajuk, meminta piano dimainkan, lalu mengalun Serenade….
Suatu kala, di kesilaman, betapa Utami benci dengan pemandangan seperti itu. Kemesraan Papa dan Utari, menumbuhkan sesuatu yang lain di hatinya. Kehilangan, keterasingan, dan kebencian. Namun, betapa sering sepenggal impiannya berhias peristiwa sejenis; ia dan Papa dalam sebuah taman bunga, berlarian, dan senggak oleh gelak. Tapi kemudian, saat terjaga, Utami hanya merasakan sebuah kengiluan. Ia tahu impiannya tidak akan pernah menetas jadi kenyataan.
Awan-awan bergerak menutupi bulan. Bayangan pepohonan di halaman hilang. Tapi dalam pekat dan kedap, ingatan Utami tetap berlayar. Kemudian berlabuh ke suatu masa di belahan hari lalu.

***

Dingin telah mencapai sumsum saat Utami tiba di ambang pintu. Hujan belum reda.
“Hai, Ri!” Katanya ketika daun pintu di depannya melebar. Dikibas-kibaskannya rambutnya yang kuyup.
“Baru pulang?” Gadis di depannya menatapnya penuh rupa.
Pertanyaan yang tidak perlu sebetulnya. Tapi Utami hafal adat Utari. Ia enggan ribut, maka dijawabnya dengan anggukan.
“Kau memang suka cari penyakit!”
Langkah Utami terhenti.
“Kau sendiri yang menciptakan kemarahan Papa!” Utari mengawasinya tajam.
“Sudah terlalu sering kau mengurusku, Ri. Aku sudah bosan mendengarnya!” Utami melanjutkan langkah.
“Itu demi kebaikanmu sendiri!” Utari berang.
Utami tersenyum patah. “Tidak begitu caranya!”
“Ho-ho, minta dibujuk? Tami sayang, betahlah di rumah! Belajarlah yang rajin, dan jangan keluyuran hingga malam begini….”
Mata Utami berkilat. Bulan di langit bersinar pucat.
“Seharusnya kau tidak perlu memaksakan seluruh kehendakmu. Apalagi memperalat Papa. Semua orang memiliki jalan sendiri. Kau memilih duniamu, dan Papa bangga karenamu. Tapi maaf, jangan memintaku mengulang dan mengikuti kesuksesanmu!”
Wajah saudara kembarnya itu menegang. Tersinggung.
Utami tidak peduli. Semalaman ia latihan untuk sebuah pagelaran. Ia lelah. Ia dingin. Ia merasa malang dan papa. Di perjalanan pulang tadi — dalam hujan badai, Utami masih sempat membangun ilusi: seseorang akan menyambutnya dengan mata cemas, menyuruhnya bergegas mengganti pakaian, menyodorinya segelas susu panas….
Utami menggigit bibirnya yang pucat. Pedih. Dan kepedihan serta kelelahan begitu mudah menetaskan kerapuhan dan kepitaman. Apalagi Utari… ah, ia sudah terlalu penat memelihara kesabaran.
“Kau memang banyak memiliki kelebihan dan semua mengakuinya,” suara Utami lara.
Angin memintas tergesa.
“Kenapa kau tak puas juga? Kenapa kau masih mencari kelebihan dengan mencari kelemahanku? Apa salahku?”
“Kau mulai kurang ajar!” Suara Utari berbaur tangis, dibaluri emosi.
“Aku hanya berkata apa adanya. Kau….”
“Tami!”
Ada kilat yang nyala di angkasa, lantas mati di penghujung cakrawala. Guruh secara runtun melukai keheningan langit. Musim yang rapuh, batin Utami, seperti hatiku. Suara yang keras dan berat milik Papa senantiasa membuatnya gagal memaki Utari. Ia seolah datang untuk memangkas habis pita suaranya, memaksanya berdiri di pihak yang lemah. Selalu begitu.
“Bertengkar lagi?” Suara berat itu kini dibarengi sorot mata berkilat angker.
“Biasa, Pa!” Utari menyahut, dan menenteramkan isaknya. Dipandangnya Utami dalam tatap penuh amarah. “Dinasehati, malah melawan!”
“Aku tidak butuh nasehat….”
“Tami!” Suara Papa menggelegar, menyaingi guruh.
Utami mengeluh pedih. Lagi-lagi kalimatnya tertebas. Papa mengawasinya nanar, menyalahkan.
Gadis itu menelan ludah, sakit. “Papa selalu membela Tari!” Suaranya tersendat, mengandung isak, dan putus asa.
“Papa tidak membela siapa-siapa. Hanya secara kebetulan Tari berdiri di pihak yang benar.”
Benar?! Utari benar?! Katakanlah begitu. Tapi kenapa Papa mesti mencetuskannya di depan Utari?! Mengapa Papa mengajari Utari jadi besar kepala?!
“Kau selalu pulang malam-malam, amat jarang di rumah. Wajar kan kalau Tari menegurmu? Papa juga tidak suka.”
“Tapi….”
“Masuklah! Dan belajar, seperti Tari!” Suara Papa tak terbantah.
Rinai hujan masih menggantung dalam kabut. Tenggorokan Utami perih. Ia lungkah, dengan sakit yang membelukar. Seperti Tari: betapa ia benci kalimat itu.
Utami mencari tombol lampu. Kamar benderang. Tapi hatinya pepat. Masih melela di matanya: Utari yang memandanginya dengan mata penuh kemenangan….
Betapa ia ingin tidur. Melupakan semuanya, meredam lara. Digantinya sweater. Tapi kemudian kakinya membawa ke jendela. Ia memang sulit tidur dalam keadaan demikian.
Hujan kini lembut, tapi langit masih berwarna ungu. Di seputar rumah, kabut melayang rendah. Utami mendesah. Di tempat yang sekarang, betapa ia sering menahan tangis, berdoa memohon ketegaran, dan belajar memanen hikmah sebuah prahara. Kunang-kunang terlalu sering jadi pelariannya, mengadukan kesomplakan jiwanya. Kerap ia berangan, betapa menyenangkan jadi seekor kunang-kunang, beterbangan, membawa berkas sinar di kelegaman.
Awan menepi, bintang-bintang mulai bermunculan. Bersinar pucat, terhalang kabut. Namun, betapapun sinarnya cerlang, Utami tak suka. Baginya, semua bintang tak ada yang berbeda: sama melukai! Kecuali satu-dua bintang dalam genggamannya….
Utami mengerjapkan mata. Sekarang, ia lebih suka merenungi langit. Padahal dulu, terlalu sering ia bermain di bawah purnama. Mengejar kunang-kunang, atau sekadar memperhatikannya dari kursi teras. Tapi betapa seringnya ia berbuat serupa, lebih kerap lagi Mama mengusiknya bersama Utari, memporandakan keasyikannya, melumatkan sebuah dunia yang diciptakannya diam-diam….
“Tami, nyanyi!” seru Mama.

Bintang kecil
di langit yang biru
amat banyak menghias angkasa
aku ingin….

Ah, ia suka lupa dengan ‘Bintang Kecil’ Mama. Ia tidak tertarik mengulang-ulang sebuah lagu yang sama. Baginya, binatang kecil berlampu itu jauh lebih memikat. Dan mama kecewa menjadi ibu guru yang gagal.
“Tami begitu lamban!” Lapor Mama ke Papa. “Tari bisa secepat itu menghafal lagu, tapi kok Tami nggak?”
Kemarau telah jatuh ketika Utami menyadari apa arti kekecewaan Mama. Ternyata ‘kelambanan’ menciptakan kerontang di dadanya. Rinai hujan telah berlalu, mengakhiri sejumlah hijau. Hal itu dipahaminya di bulan Juni, saat kenaikan kelas.
Papa menghambur dan memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi Utari. Utari juara kelas. Dari balik gorden, Utami perih menyaksikan adegan itu. Matanya mengerjap menyaksikan tubuh Utari yang berputar-putar di udara, penuh gelak dalam gendongan Papa.
“Tari minta hadiah apa?”
“Papa mau ngasih apa?” Mata Utari berpendar-pendar, sarat bintang.
“Apa yang Tari minta, Papa berikan!”
Tenggorakan Utami perih dan kering. Lalu ia ingat peristiwa sebelumnya. Mama yang mengeluh kecewa, mata Papa yang berkilat dengan urat menegang….
“Kok bisa begini, Mi?” Dahi Papa terlipat. Ada kemarahan ikut mengalir.
Gadis kecil itu merunduk pasrah. Ia mengerut, mencari perlindungan. Ditatapnya Mama. Tapi wanita itu justru kembali mengeluh. “Kembar. Tapi kok….?”
“Tami! Dengar papa!” Lelaki di depannya menatap nanap. “Tami harus mengurangi main. Tami harus belajar banyak, mengejar ketinggalan. Tahun depan, tidak boleh tidak, Tami harus naik kelas!”
Rerumputan meranggas dikhianati musim. Di udara, cakrawala mulai memucat. Sedikit demi sedikit kelam jatuh. Menyelimuti perdu bunga mawar dengan nuansa temaram. Di tubuh jalan, sepasang kaki mengayuh sepeda. Penat dan berdebu. Hujan telah lama selesai. Dan entah kapan lagi ia mengunjungi senja. Entah kapan lagi Utami menyaksikan polesan jingga di ufuk barat yang terbasuh hujan hingga lamur. Dunia kini begitu garing, dan sempit. Papa memaksanya menghabiskan waktu di depan meja belajar, seperti laku Utari. Ia hafal nyanyian Mama sepulang sekolah: “Cuci tangan dan kaki, Mi. Makan. Setelah itu belajar sebentar, lalu bobok siang. Petang nanti, selesaikan PR….”
Debu beterbangan. Jalan kecil yang dilewati Utami memang berabu. Banyak bocah yang berlarian, mengejar layang-layang putus. Matahari di situ selalu memanggang. Tapi Utami merasa damai tiap kali menyusurinya. Apalagi bila ia tengah melarikan kecewanya.
Ia tiba di depan rumah yang dicarinya, bercat biru teduh. Selalu teduh. Karena di dalamnya ada mata Kak Didi yang tenang dan lembut, ada ‘Papa-Mama’ kedua yang selalu mengerti.
“Masuklah, Adik Kecil!”
Angsa-angsa putih berkejaran di kolam. Lewat jendela, Utami melihat air yang semula tenang beriak.
“Tari usil lagi?” Didi menatapnya lunak.
Ayun langkah kami memang tak pernah bisa sama, batin Utami. Utari memaksanya untuk mengikuti jejaknya. Tak ada menit terlewati tanpa belajar, belajar dan belajar; memaksakannya jadi kutubuku, memaksanya jadi patung porselen yang berdiam di kamar.
Oh. Utami tak pernah bisa melakukannya. Jiwanya tak bisa terpenjara begitu. Ia menyukai bau tanah basah, ia mencintai hutan yang remang, ia selalu rindu pada tebing bercadas, ia menemukan dunianya di alam bebas. Ia menemukan pelabuhan di dada seseorang yang selalu mau memahaminya, ia menemukan cintanya dalam rengkuhan seorang lelaki bernama Didi.
Helaan napas gadis itu panjang dan pasrah. Didi memperhatikan mata murung di sampingnya dengan batin menggelepar. Utami yang berhati lembut, gadis kecilnya yang malang….
Didi yang membawanya berani keluar dari ambisi Papa dan Utari. Mereka bertemu pada sebuah musim. Dan keinginan untuk menyibak misteri di balik mata murung Utami begitu kuat menggelitik nuraninya. Gadis itu seperti memiliki keletihan yang panjang, kesendirian yang tak bertepi….
“Papa telah menyiapkan sebuah model untukku. Dan itu adalah Tari!” Keluh Utami tak suka, suatu ketika. “Aku tidak punya kesempatan untuk menjadi diriku sendiri. Aku pernah kalah dalam suatu kesempatan. Dan kini, Tari selalu menebas tiap kali aku mau memperbaikinya dengan caraku sendiri. Ia memang besar kepala di hadapan Papa….”
Utami asyik dengan lamunannya. Ia ingat sebuah malam yang pernah terlewati. Ruang tamu penuh gelak dan canda Oom Ben dan Tante Tien — sahabat Papa semasa SMA.
“Ini Utari dan Utami….”
“Kembar?” Oom Ben menatapi ia dan Utari bergantian dengan mata tersenyum.
Papa mengangguk. “Tapi keduanya seperti bumi dan langit.”
“Kok?” Tante Tien tak pandai menyimpan kesabaran.
“Ya, mereka memang tak ubah dengan langit dan bumi!” Mama menimpali. “Utami keras kepala, lamban dalam menangkap pelajaran. Berbeda dengan Utari. Ia anak yang manis, penurut, cerdas….”
Angin yang menerpa amat memerihkan pipi. Utami mengerjapkan mata. Mendadak kegamangan menyergapnya. Papa dan Mama telah menghantarnya pada sebuah pulau tak berpenghuni, membuatnya kehilangan arah. Disaksikannya mata kecil Utari yang berpendar-pendar penuh bintang dengan perasaan sakit. Ditatapnya hidung saudara kembarnya yang kembang kempis itu dengan perasaan benci. Dan, diam-diam, ia surut, menyingkir dari ruang tamu. Berdiam di kamar, menulikan kuping, tentu itu pekerjaan yang lebih bagus. Sebab ia hapal luar kepala apa yang bakal dipercakapkan Papa dan Mama dengan kedua tamunya itu; daftar tentang ‘bintang kelurga’ Utari kian panjang. Dan makin disadarinya: ia bukan kelinci kecil Papa yang lucu, pun bukan boneka Mama yang manis!
Senja merebak. Utami dan Didi berpandangan. Tangisan usai. “Maafin aku, ya! Aku selalu membawa kemelut….”
Didi mengulurkan tangan, menyeka lembut sepasang mata basah di depannya. Disentuhnya kening Utami sekejap. “Kita pergi latihan sekarang?” Didi mengawasinya lembut.
Letih Utami menyingkir. Ia membalas dengan mata tersenyum. Terbayang bintang-bintang dalam genggamannya: berpuluh piala dan piagam yang disembunyikannya di lemari….
Dialah pianis dan Sri Panggung yang memukau penonton, dialah bintang lapangan yang selalu mengundang gempita tempik sorak-sorai di tepi lapangan basket. Tapi Papa tidak pernah tahu itu — tak pernah mau tahu. Dan Utami merasa tidak perlu memberitahu. Ia cukup puas dengan dunianya, dengan Didi-nya. Ia tidak ingin mengusik kedudukan Utari di mata Papa. Biarlah Utari tetap jadi patung porselen….

***

Serenade telah lama berhenti. Suasana ngelangut meriap di ruangan. Mama sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Papa tertunduk di depan piano dengan mata berkaca, seolah berdoa untuk Utari. Di atas meja, kue ulang tahun masih utuh.
Malam makin larut. Utami tiba-tiba merasa ingin bertemu dengan Utari, ingin berada di dekatnya. Tapi berjuta tirai seolah menghalangi. Utami merasa menggapai, tapi tetap tak mampu disingkapnya.
Kakinya membawanya melangkah ke kamar Utari. Kelengangan menyambutnya. Utami mengusap foto Utari di atas meja dengan sepenuh jiwa. Timbul keinginannya untuk membereskan meja belajar Utari yang berdebu, membersihkan buku-bukunya. Hanya dengan berada di meja Utari, Utami merasa dekat dengan saudara kembarnya itu. Ia tahu pasti, waktu Utari banyak tersita di tempat itu.
Utami seolah melihat Utari datang, menuntun jemarinya membuka laci-laci meja. Angin malam menyerbu masuk lewat jendela yang dibiarkannya terbuka. Dada Utami gemuruh. Buku harian Utari ada dalam genggamannya. Catatan terakhir — tertanggal duapuluh tiga, ditulis sehari sebelum Utari mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.

Jumat, 23 September
My dear,
Kami bertengkar lagi. Saya tahu Tami tidak bersalah. Malam ini — dan berpuluh malam sebelumnya, ia pulang terlambat.
Saya tahu pasti Tami latihan teater. Seperti halnya saya tahu, beratus-ratus hari sebelumnya, waktunya sarat dengan kegiatan-kegiatan serupa.
Saya tidak tahu, kapan saya berhenti memanfaatkan keterlambatan — dan semua kesalahan kecil Tami lainnya — untuk menyulut pertengkaran. Saya tahu, saya telah berkompensasi. Saya iri dengan dunia Tami. Semua memujanya, mengaguminya. la memiliki Didi. Sementara saya — seperti kata Tami, saya adalah porselen. Dunia yang serius membuat teman-teman enggan dan takut mendekat.
Satu satunya ‘kekayaan’ saya adalah Papa dan Mama. Tapi saya melihat tanda-tanda, saya bakal kehilangan semuanya. Suatu ketika, cepat atau lambat, tabir yang menyelimuti diri Tami akan tersibak. Saya takut, dear! Saya harus mempertahankan milik saya satu-satunya itu: saya tetap harus jadi kebanggaan Papa, saya harus melupakan dunia remaja yang ceria untuk menjadi ‘anak manis’ Papa dengan belajar dan belajar. Saya tak boleh ‘cacat’ di hadapan Papa, saya harus tetap juara kelas. Ya, harus tetap jadi porselen Papa….
Tami telah jadi korban. Saya berdosa (maafkan saya, Mi!). Saya tersiksa dengan semua ini. Saya kepalang basah. Diam-diam, saya menjadi arsitek bagi luka luka Tami. Tapi saya tidak melihat pilihan lain….

Bulan tak lagi perkasa di angkasa.
Ah, Utari yang malang!
Utami menggigit bibir. Airmata yang begitu lama tak jatuh, kini mengambang di pelupuk matanya.
Ditutupnya jendela kamar Utari. Ia tahu apa arti ulangtahunnya malam ini.
“Selamat malam, Tari. Selamat jalan saudaraku….”
Disekanya isak terakhir. 

Advertisements

Cerpen Nurhayati Pujiastuti

August 8, 2009 at 2:03 pm | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

nurhayatiSEBENARNYA, sosok yang berdiri kaku dan menghadang langkah Asry untuk memasuki halaman rumah besar itu, sangatlah menarik. Tubuh tinggi dengan kulit putih dan senyum yang bertengger di wajah tampan itu.
Lalu mata seperti elang yang memandangnya dengan serius itu.
Asry mengembuskan napasnya. Menyembunyikan ruas-ruas jemarinya. Sudah ada peringatan sebelumnya dari Andini dan dia memperhatikan peringatan itu.
“Cari siapa, Mbak?”
Sapaan yang ramah dengan mata mengerling menggoda. Asry tersenyum kecut. Kalau tidak mengenal siapa cowok di depannya itu, ia pasti akan terkesirap sendiri mendapat kerlingan seperti itu.
“Cari aku, kan?” tangan si Tampan terulur, berniat menggapai tangan Asry. Tapi Asry cepat mengelak.
Asry menggelengkan kepalanya. Ia hampir mengurungkan niatnya untuk bertahan di tempat itu. Tapi untunglah, suara nyaring yang sangat dikenalnya, menyelamatkannya.
“Apa-apaan, sih?” Andini mendorong tubuh cowok tampan itu. “Berani-beraninya ganggu temanku. Awas, ya. Aku bilangin Mama baru tahu rasa kamu. Masih kecil berani-beraninya ganggu cewek yang sudah gede.” Tangan Asry ditarik. Mendorong tubuh si Tampan lalu melewatinya. “Siapa?” tanya Asry. Ia menoleh ke arah si Tampan. Lalu memalingkan wajahnya ketika mendapati si Tampan menghadiahinya lagi dengan kerling menggoda dan senyum di bibirnya.
“Adikku,” sahut Andini cepat. “Tidak usah dipedulikan. Ado memang begitu. Maklum….” Andini mengedikkan bahunya. Mengembuskan napasnya.
“Kenapa?”
“Andini menggaruk kepalanya. “Anak bungsu yang butuh banyak perhatian. Tapi kesibukan orangtuaku membuatnya merasa kehilangan banyak perhatian. Lalu berteman dengan anak-anak berengsek dan hasilnya….”
“Dia…?”
Andini mengangguk seperti tahu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan Asry. “Sekolahnya sudah pindah beberapa kali. Entah dengan cara apa lagi aku harus menyadarkannya.”
“Orangtuamu?”
Andini tersenyum kecut. “Pasrah.”
“Tapi…?”
“Aku sendiri tidak tahu apa yang diinginkan Ado. Dia berengsek, bandel dan selalu mengganggu kawanku-kawanku. Karena itu aku selalu melarang kawan-kawanku yang cewek datang ke rumahku.”
“Ceweknya…?” Asry tersenyum. Menepuk bahu Andini. “Biasanya kalau dia mencintai seseorang, dia akan mudah disadarkan.”
Andini mengernyit. Memandang Asry.
“Kenapa?”
“Kamu berniat…?”
“Jangan konyol kamu!” Kali ini, Asry yang sepertinya tahu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan Andini. “Aku lebih pantas menjadi kakaknya!”
Andini tertawa. “Barangkali saja kamu mau berbaik hati….” Andini tidak meneruskan kalimatnya ketika ia merasakan sebuah kerikil mengenai kakinya. Ia menoleh. Melotot. “Ado…!”
Ado tertawa. “Aku mau!” teriak Ado, mengangkat jempolnya tinggi-tinggi, lalu mengerling ke arah Asry.
Dan Asry hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan si Tampan itu.

***

Sebuah kebetulan mungkin bila hari ini, Asry melihat Ado dan kawan-kawannya bergerombol di sebuah halte. Melakukan kegiatan menyebalkan di matanya. Menggoda gadis-gadis yang akan naik dan turun dari bus di halte itu. Terkadang, bahkan begitu kurang ajarnya, berani mencolek pinggul seorang gadis lalu bersembunyi dan tertawa-tawa.
Asry menggelengkan kepalanya. Mengembuskan napasnya. Lalu membulatkan tekadnya untuk berjalan ke arah halte bus itu. Ado harus melihatnya. Dan ia ingin sekali melihat sampai di mana kekurangajaran anak itu.
“Hallo…,” sebuah sapaan yang hampir saja disertai sebuah colekan kalau ia tidak cepat-cepat mengelak.
Asry melotot. Tersenyum sinis pada cowok berkulit hitam yang dengan tenangnya berdiri di sampingnya. Ia menggeser selangkah. Dan cowok itu cuma menanggapinya dengan tawa lebar yang membuat deretan gigi-giginya yang coklat kelihatan jelas sekali. Tangannya kembali terulur, ingin menggapai pinggul Asry. Tapi sebuah tangan lain menepiskannya.
“Jangan! Teman gue.”
Asry menoleh. Kejutan yang tidak diharapkan. Ternyata Ado masih punya rasa belas kasihan.
“Sendiri?” Senyum manis bertengger di bibir Ado. “Kawan-kawanku memang suka jahil.”
Asry menggelengkan kepalanya. “Tidak sekolah?” tanyanya tanpa memperhatikan Ado.
“Pasti sudah termakan omongan Andini. Kakakku yang satu itu memang paling suka mempromosikan kejelekanku pada kawan-kawan ceweknya. Pantas saja pasaranku di mata kawan-kawan ceweknya agak menurun.”
“Aku bukan anak kecil lagi yang dengan begitu gampangnya mempercayai omongan orang tanpa melihat kenyataannya terlebih dahulu.”
Ado bertepuk tangan.
“Kenapa?”
“Aku kira pertama melihatmu…,” Ado mengernyit. “Aku tidak tahu namamu.”
“Aku Asry. Dan kamu harus memanggilku Mbak karena aku lebih pantas menjadi kakakmu.”
Ado mencibir. “Apa bukan lebih pantas menjadi sepasang kekasih?”
Asry melotot.
Ado tertawa. Menoleh kawan-kawannya mengikuti tawanya dengan irama dibuat-buat.
Asry menggeleng. “Sekolah yang benar dan pikirkan masa depanmu baru….”
“Alaaah….”
“Akan banyak gadis yang berebut cintamu.”
Ado menjentikkan jemarinya. “Aku cuma ingin…,” Ado menggaruk kepalanya. “Kamu mau pulang?”
“Ke toko buku. Ada yang dicari.”
“Cowok?”
“Kamu kira aku tipe cewek yang suka cuci mata di toko buku?”
“Barangkali….” Ado terbahak. Kali ini, kawan-kawannya sedang sibuk memperhatikan seorang ibu yang berdandan menor yang baru saja turun dari bus hingga tidak mempedulikan tawa Ado.
“Kenapa?”
“Aku mau menemanimu.”
“Aku biasa sendiri.”
“Aku antar sampai ke rumah.”
“Nanti banyak gadis-gadis SMA yang cemburu padaku.”
“Tidak peduli!”
“Harus ada syaratnya.”
“Apa?”
“Aku tidak suka jalan dengan cowok yang merokok.”
“Belum apa-apa sudah banyak tuntutan.”
“Kalau…?”
“Iya, Mbak,” kali ini Ado mengangguk keras-keras. Berjalan mengikuti langkah-langkah Asry meninggalkan halte. Tidak dpedulikannya teriakan kawan-kawannya yang memanggilnya.

***

“Hebat!”
“Apa-apaan, sih?” Andini mengangkat kedua alisnya. Lalu tertawa. “Kamu ternyata bisa mengubah Ado.”
“Ngomong apa kamu?”
“Alaaah… pakai sembunyi-sembunyian. Suer, aku sangat menyetujui hubunganmu dengan Ado. Dan sangat berminat menjadikanmu sebagai adik ipar.”
“Ngaco!” Asry melotot. “Aku baru sekali bertemu dengannya.”
“Alaaah….”
“Oke. Tiga kali, dan semuanya itu di halte bus ketika aku akan menunggu bus untuk pulang. Dia menawari aku untuk menemaniku dan aku tidak bisa menolak.”
“Dan hasilnya, dia berubah menjadi penyair dadakan. Banyak puisi memenuhi buku tulisannya. Dia jadi rajin melamun dan keberengsekannya sudah agak menurun.”
“Tapi….”
Andini bertepuk tangan. “Kamu membawa banyak perubahan untuknya. Aku menyukainya.”
“Tapi….”
“Kalau ada sesuatu yang disimpan Ado untukmu, kamu mau menerimanya kan?”
“Apa-apaan, sih?” Asry mengernyit. “Omonganmu ngaco dan kamu mengambil kesimpulan terlalu cepat.”
“Aku kakaknya.”
“Tapi bukan berarti…?”
“Puisi-puisi di bukunya itu cuma ditujukan untukmu. Sungguh, aku tidak mengada-ada.”
Asry menggelengkan kepalanya. Bayangan Ado melintasi kepalanya.
Ah, si Tampan itu. Siapa yang percaya anak konyol itu bisa jatuh cinta padanya? Senyum dan kerlingnya begitu sering dilakukan hingga ia terkadang berpikir anak konyol itu pasti melakukannya pada gadis-gadis lain.
“Gimana?”
Asry melotot. Menggeleng.
“Kamu tidak tertarik pada Ado?”
“Terlalu tampan dan aku tidak mau bersaing dengan gadis-gadis SMA yang lebih pantas untuknya.”
“Kalau kenyataannya dia cuma tertarik padamu dan bersedia berubah total untukmu?”
“Sebuah tantangan, heh?”
“Katakanlah begitu,” angguk Andini. “Kamu mau melakukannya dengan suka rela, kan? Lagipula, selama ini aku tidak pernah melihat kamu akrab dengan satu cowok. Kamu belum punya pacar, kan?”
“Masalahnya…,” Asry menggelengkan kepalanya. “Aku takut akan jatuh cinta pada Ado.”
“Kebetulan kalau begitu.”
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Aku akan membantumu untuk menyadarkan Ado. Tapi jangan pernah berharap ada sesuatu di antara kami.”
“Berarti…,” Andini mengedikkan bahunya. “Hilang deh, harapanku untuk menjadikanmu adik ipar.”
“Konyol,” sahut Asry lalu mengurai tawa. Bayangan Ado melintasi kepalanya lagi.
Dan kali ini, ia merasakan ada yang bergetar di hatinya. Tapi samar sekali.

***

“Sadar apa tidak dengan apa yang tengah kamu lakukan?”
Asry menutup majalahnya. Memandang ke arah kakaknya. “Mau bicara soal cowok yang mengantarku pulang tadi?”
Nita mengangguk. “Ada binar cinta di matanya.”
Asry tertawa. “Terlalu mengada-ada. Dia menganggapku sebagai kakak dan aku menganggapnya sebagai adik, tidak lebih dan tidak ada yang perlu didiskusikan.”
Nita mencibir. “Sudah tiga malam Minggu kalian keluar bersama. Dan tingkahmu yang resah setiap akan menunggu kedatangannya, membuatku yakin, sudah ada yang lain di hatimu. Kamu tidak bisa menyembunyikannya dariku.”
“Terlalu berprasangka.”
“Mungkin. Tapi kurasa hati kecilmu mengiyakan prasangkaku itu,” Nita menggeleng. “Katakan hal itu pada hati kecilmu.”
“Kamu ingin menghakimiku?”
Nita tertawa. “Tampan memang. Menarik dan tingkahnya menyenangkan. Tapi bukan berarti kamu harus melupakan segala janjimu dengan Dodit. Dia menunggumu. Dan setahun lagi, sepulangnya dari Australia, dia akan mengikatmu dengan tali pertunangan.”
Asry diam menundukkan kepalanya.
Dodit?! Ia menggigit bibirnya. Akhir-akhir ini, nama itu benar-benar hilang dari kepalanya berganti dengan wajah Ado.
Ya Tuhan, desisnya sambil mengusap wajahnya. Ia hampir lupa bahwa ia sudah memiliki seorang arjuna yang tengah menuntut ilmu jauh di seberang sana, yang selalu meminta kesetiaannya dalam penantian.
“Akhiri kisah cintamu dengan anak itu. Sebelum salah satu di antara kalian terluka.”
“Tapi…?”
“Jalinan cinta kalian cukup sampai di sini saja. Tidak perlu ada episode-episode lain yang justru akan membuat kamu sukar melepaskannya.”
“Tapi…?”
“Sedikit dewasalah….”
Asry mengembuskan napasnya. “Sulit,” gelengnya sambil berjalan keluar kamarnya.
“Asry…!”
Tidak ada sahutan. Yang terdengar hanyalah nyanyian keras yang meluncur dari bibir Asry.

***

Apa yang sebenarnya diharapkan dari hubungan yang terjalin dengan Ado selama ini?
Asry mengembuskan napasnya.
Andini bilang, Ado telah berubah sekarang ini. Tidak lagi suka bergerombol dengan kawan-kawannya. Dan sudah memilih rumah sebagai tempat mencari ketenangan ketimbang tempat-tempat lain. Kata Andini lagi, cintanya pada Asry begitu besar. Sampai-sampai semua nasehat Asry diikuti dan tidak ada yang dibantah.
Asry menggigit bibirnya.
Lalu, haruskah ia tinggalkan Ado begitu saja? Dan membiarkan anak itu kembali ke dunianya semula? Alangkah jahatnya bila itu sampai ia lakukan. Tapi apakah di mata Dodit dia bukan gadis yang jahat? Mengabaikan janji kesetiaan? Tukang selingkuh?
“Asry…?”
Sudah ada kata cinta yang diucapkan dengan begitu romantisnya oleh Ado, dan meski samar ia telah menjawab dengan anggukan.
“Kamu melamun…!”
Asry tersenyum pada Ado di sampingnya. “Mbak…,” ujarnya dengan wajah dibuat cemberut.
“Mbak…,” ujar Ado mengikuti seperti menggoda. “Melamun di saat berduaan dengan pacar, berarti melamunkan cowok lain.”
“Nyatanya…,” Asry tertawa. Lalu menggeleng. “Cuma melamun kalau-kalau ada gadis lain yang kebaikannya melebihi aku dan bisa kamu cintai dengan sungguh-sungguh, apa yang akan kamu lakukan?”
Ado mengernyit, seperti berpikir. Ia belum menjawab.
Suara Asry seperti tersekat. “Kamu akan meninggalkan aku atau…?”
“Terlalu jauh berpikir,” geleng Ado. “Aku tidak suka.”
“Tapi…?”
Ado mengungkap bijak. “Mengalir seperti air. Biarkan itu terjadi pada hubungan kita.”
Asty tersenyum — hei, dari mana datangnya semua kearifan pada cowok bengal itu?
“Tapi kemungkinan itu bisa terjadi, kan?” cetusnya seperti menuntut.
Ado mengangguk. “Tapi bukan berarti, aku akan dengan mudahnya menghilangkan nama seseorang yang begitu baiknya hingga membuat hidupku berubah.”
“Tapi…?”
Ado menggeleng keras-keras.
“Atau kamu yang berniat meinggalkanku?” tanyanya cepat dengan wajah serius.
Asry menggeleng cepat. “Biarlah mengalir seperti air. Waktu yang akan bicara dan menentukan semua itu,” desisnya seperti pada dirinya sendiri.
Diembuskannya napas kuat-kuat.
Ada Didot dan Ado di hatinya. Dan kesetiaannya sebagai seorang wanita seperti dituntut dalam dilema yang teramat berat.
Tapi biarlah saat ini, ia menikmati episode jalinan cintanya dengan Ado. Barangkali di seberang sana, Didot pun tengah menciptakan episode cinta dengan gadis yang lain.
Entahlah.

Cerpen Wita Alamanda Simbolon

August 8, 2009 at 10:20 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

witaSUNGGUH, kukutuki sekaligus kunikmati kenyataan yang kualami sekarang ini. Aku bertanya-tanya, normalkah aku, atau jiwaku yang telah sakit? Luka demi luka di masa lalu ternyata telah mencetakku menjadi cewek yang mempersetankan cinta. Sampai kenyataan baru itu datang. Aku jatuh cinta pada Om Bur, seorang selebriti di kotaku, seorang yang sangat ramah, dan seorang Papa dari sahabat terbaikku.
Aku gamang.
Kutepuk keningku. Kuhitung, sudah sebulan perasaan terlarang itu menjerat hatiku. Seharusnya memang, ini tidak boleh terjadi!
Tania, sahabatku, anak Om Bur, yang mengawali semua ini. Ia tahu aku sedang kacau waktu itu. Lalu ia mengusulkan sesuatu.
“Udah, deh, Ke, terima aja Resnu. Dia kan cakep banget.”
“Aku nggak bisa, Tan. Sumpah, aku nggak punya perasaan apa-apa padanya, juga pada yang lain,” aku hampir menangis. “Aku takut, Tan, jangan-jangan nanti aku bisa jadi lesbi!”
“Hus! Ngaco!” Tania memandangku iba. “Kamu sendiri yang menghukum dirimu. Makanya jangan dipikir terus.”
“Gimana caranya supaya nggak mikir?”
“Buang bayangan mereka dari pikiran kamu. O, ya, kamu suka nggak dengerin radio Santana?”
“Memangnya kenapa?”
“Untuk mecahin masalah-masalah asmara kayak kamu ini, radio Santana-lah tempatnya. Papaku kan penyiar di sana.”
“Masak, sih?” aku mulai tertarik.
“Papa ngasuh banyak acara. Salah satunya ‘Problema Asmara Kamu’. Cara konsultasinya enak lagi, Ke. Pakai telepon.”
“Siapa sih nama Papa kamu?”
“Bur. Di udara dipanggil Om Bur.”
Aku menganga. Benar-benar tidak menyangka. Jadi Om Bur, penyiar top itu, Papa Tania?
“Kamu kok nggak bilang-bilang Om Bur itu Papamu, Tan?”
Banyak memang yang belum kuketahui tentang Tania, terutama keluarganya. Ia seorang yang agak tertutup, sama seperti aku. Yang jelas, Tania telah kehilangan ibunya sejak kecil. Sedang aku, juga telah kehilangan Papa dua tahun lalu. Barangkali, latar belakang persamaan nasib itulah yang membuat kami cepat akrab sejak menjadi siswa SMA Teladan.
Tania-lah yang pada akhirnya membuatku menjadi penggemar maniak radio Santana, terutama acara-acara yang diasuh oleh Om Bur.
“Halo, radio Santana di sini,” kata Om Bur waktu pertama kali aku ikutan di ajang ‘Problema Asmara Kamu’. “Ini dari siapa, ya?”
“Dari Keke, Om. Keke temannya Tania.”
“Tania?”
“Iya, Om. Tania anaknya Om. Kami satu sekolah. Teman akrab, Om.”
“O, begitu. Pasti Tania yang nyuruh kamu ikutan acara ini. Iya kan, Ke?”
“Iya deh, Om.”
“Oke, sekarang cerita deh apa masalah kamu, Ke?”
“Gini, Om. Saat ini saya sedang kacau. Kacau benar. Saya sering bener dikecewain sama cowok. Akibatnya, selama hampir dua tahun ini, saya nggak bisa lagi jatuh cinta pada cowok, secakep apapun itu. Saya nggak punya perasaan apa-apa lagi pada cowok, Om. Dan memang saya nggak bakalan bisa jatuh cinta, Om Bur.”
“Ah, yang bener?” Om Bur tertawa. Tawa untuk yang pertama kali selama dua tahun ini kuakui sangat menawan.
“Bener, Om, saya nggak bohong!”
“Iya deh, percaya. Berapa sekarang usia kamu, Ke?”
“Limabelas, Om.”
“Udah berapa kali kamu putus dengan pacar kamu?”
“Lima kali, Om.”
“Waduh, banyak sekali iya, Ke. Itu artinya Keke itu laris. Om bisa tebak, Keke pasti cantik, iya,” Om Bur tertawa.
Aku ikut tertawa.
“Aduh, Keke, seharusnya di usia kamu yang masih amat dini ini, Keke nggak boleh tersiksa karena cinta. Biarkan cinta itu datang silih berganti dalam kehidupan Keke, sampai tiba saatnya nanti Keke menemukan cinta sejati.”
“Cinta sejati, Om?”
“Iya, Ke. Kalo cinta sejati nanti sudah datang, Keke akan sadar bahwa nggak benar Keke nggak bisa jatuh cinta lagi. Segala sesuatunya akan indah pada waktunya, Ke. Juga cinta sejati kamu akan datang pada waktu yang tepat, sehingga indah pada waktunya. Begitu, Ke.”
Tiba-tiba saja, semuanya menjadi lain. Tiba-tiba saja, perasaanku menjadi plong.
“Oke deh, Keke, Om yakin Keke belum puas. Keke boleh datang konsultasi ke studio, dan Om akan dengar semua masalah Keke.”
“Bener, Om?”
“Bener. Masak Om bohong?”
“Dua hari lagi, saya datang bareng Tania iya, Om.”
“Oke, Om tunggu. Sekarang udahan dulu, iya. Salam buat adik Keke, Mama Keke, Papa Keke, juga kucing Keke.”
“Tapi, Om…?”
“Kenapa?”
“Saya nggak punya Papa lagi. Sudah meninggal….”
“Oh, maaf, Keke. Kalo begitu, salam buat Papa didobelin ke Mama Keke aja, deh.”
“Iya, Om….”

***

Sejak itu, aku jadi akrab dengan Om Bur. Tampangnya tidak seperti Bapak-Bapak. Wajahnya kelihatan masih amat muda. Punya sepasang mata yang amat teduh, senyum yang menawan, dan tawa yang renyah. Ia punya banyak modal untuk digandrungi.
Dan saat ini, detik ini, sama seperti hari-hari kemarin, aku sedang menunggu Om Bur siaran. Cuma bedanya, hari ini aku datang sendiri tanpa Tania. Betapa kangennya aku memandang mata Om Bur. Betapa kangennya aku tangan itu kembali menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Nggak dengan Tania?”
“Tania ada urusan, Om,” aku berbohong. Padahal Tania tidak tahu aku ke sini.
“Keke pasti haus. Mau minum apa, Ke?”
“Apa aja deh, Om.”
Om Bur begitu perhatian. Alangkah bahagianya Tania punya Papa sebaik Om Bur, dan alangkah malangnya aku tidak punya Papa untuk bermanja-manja.
“Apa kabar adikmu Sasi?” tanya Om Bur sambil menyodorkan sebotol sprite dingin.
“Baik, Om.”
“Kucing Keke?”
“Lagi flu, Om.”
Kami sama-sama tertawa.
“Mama Keke cantik, iya. Lembut lagi.”
Aku menganga. Cantik? Lembut? Kapan ia melihat Mama?
“Kemarin, waktu ngantar Tania ke rumah Keke, Om sempat bertemu Mama Keke. Kami lama ngobrol. Keke sih, pergi ke mana aja? Tania sampai sebel nunggu Keke. Tania nggak cerita?”
Aku menggeleng lemah. Tiba-tiba saja aku merasa cemburu.
“Waktu masih muda, Mama Keke pasti secantik Keke.”
“Berapa jam Om ngobrol dengan Mama?”
“Kira-kira lima jam, deh.”
Lima jam? Selama itu? Apa saja yang mereka obrolkan?
“Agar-agar buatan Mama enak banget. Sudah lama Om nggak makan agar-agar seenak itu.”
Kugigit bibirku. Om Bur makan agar-agar buatan Mama?
“Kaget iya, Ke?” Ia mengacak rambutku. “Om sama Tania sempat makan siang di rumah Keke. Sayur asemnya enak!”
Kugigit telunjukku. Sampai makan siang segala!
Om Bur sudah kembali siaran. Aku tidak berminat lagi menungguinya siaran. Aku harus pulang!
“Keke!” panggil Om Bur ketika kakiku sudah di halaman.
“Iya, Om?”
“Keke ada ongkos pulang?”
“Ada….”
“Salam buat Mama….”
“Iya….”
“Bilangin, Om Bur kangen makan agar-agar lagi.”
“Iya….”
“Dadah Keke….”
“Dadah…!”
Langkahku begitu berat. Tertarikkah Om Bur pada Mama? Tidak, tidak, tidak mungkin! Itu cuma pengungkapan rasa hormat Om Bur terhadap Mama karena aku adalah sahabat Tania! Hanya sebatas itu! Tidak mungkin ada yang lain!

***

Ini adalah untuk yang pertama kalinya aku melihat wajah Mama bersinar lagi selama dua tahun ini. Sejak Papa berpulang, Mama larut dalam segala kesedihannya.
Malam ini, Mama cantik sekali. Sudah berdandan rapi. Om Bur-kah yang ditunggunya? Tidak mungkin! Toh sejak Om Bur titip salam, ia tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang Mama.
“Mama lain sekarang iya, Mbak Ke,” Sasi mencolek tanganku.
Aku diam. Tanganku sedang sibuk mencari gelombang radio Santana. Malam ini Om Bur siaran. Katanya siang tadi, ia akan kirim lagu untukku.
“Halo, kawula muda, radio Santana bersama Anda,” suara Om Bur. “Sekarang kamu-kamu sedang mengikuti ajang ‘Anjang Sana’. Buat Keke di Padang Harapan, udah belajar belum? Kalo udah, dengerin nih lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ milik Anditi yang kamu pesan tadi siang. Om yakin, Keke pasti hepi dengerin lagu ini.”
Lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ dari Anditi berkumandang di kamarku, juga di hatiku.
“Buat Keke, Om tinggal dulu, iya. Sekarang giliran Mama Keke yang Om kirimi lagu.”
Astaga!
“Buat Mama Keke, selamat malam, dan selamat menunggu kedatangan saya. Udah rapi, kan? Oke deh, sebentar lagi saya dan Tania akan menjemputmu. Anak-anak diajak sekalian, iya?”
Aku terhempas. Kenyataan macam apakah lagi ini?!
Jam delapan, Om Bur datang. Tidak bersama Tania. Aku mengintip dari kamarku. Mama setengah berlari ke halaman menyambut Om Bur. Mereka saling senyum, saling bertatapan, saling….
Maka berakhirlah semua harapanku.
Mereka cekikikan di ruang tamu.
“Tania nggak jadi ikut?”
“Katanya malas, Jeng. Dia titip salam saja untuk Jeng. Anak-anak mana?”
“Sasi baru aja keluar dengan pacarnya. Sebentar, saya lihat dulu Keke di kamarnya.”
Refleks kuhempaskan tubuhku ke ranjang. Kututupi wajahku dengan selimut.
“Keke, Keke, bangun, Nak. Ada Om Bur,” Mama mengguncang tubuhku.
Beberapa menit kemudian, Mama keluar. Nyata sekali Mama tidak bersungguh-sungguh membangunkanku. Supaya acaranya dengan Om Bur tidak terganggu!
Aku mengintip lagi dari kamar.
“Wah, Keke nggak bisa dibangunin lagi tuh, Mas.”
Dasar pembohong! Apa katanya tadi?! Mas?!
“Iya udah. Bagaimana kalau kita nggak jadi keluar? Kan lebih enak di rumah. Saya ingin memandang bola matamu lama-lama, Jeng….”
“Ah, Mas ini….”
Genit! Mama genit!
“Jeng…!”
“Iya…?”
“Sudah kamu beritahu anak-akan tentang rencana pernikahan kita?”
“Belum, Mas. Tapi aku yakin, mereka akan setuju. Apalagi Keke, dia pasti merasa sangat surprais.”
Airmataku banjir. Dua tahun aku tidak punya perasaan apa-apa pada cowok. Sekarang, setelah perasaan itu kembali muncul, kenapa Om Bur harus dirampas? Kenapa justru yang merampasnya adalah Mama?
Airmataku terus berhamburan, dan aku gagal menyembunyikan suara tangisku.
“Keke, ada apa, Nak?” Tiba-tiba Mama sudah berdiri di ambang pintu. Di belakang Mama, ada Om Bur….
“Keke, bilang pada Mama ada apa?”
“Keke… Keke…!”
“Kenapa, Nak?”
“Keke… Keke mimpi diterkam harimau. Keke takut, Ma….”
“Udah, jangan takut lagi, iya,” Mama menarikku ke pelukannya. “Di sini ada Mama, ada Om Bur.”
“Iya, Ke. Jangan takut. Ada Om di sini. Mimpi segitu aja Keke kok takut?”

***

Tak ada lagi suara radio di kamarku. Bahkan radio sudah kulemparkan ke gudang. Toh semuanya sudah berakhir! Toh luka-lukaku sudah sempurna dalamnya! Toh…!
Tinjuku terkepal, menahan rasa cemburu yang amat hebat.
Hari pernikahan Mama dengan Om Bur sudah ditentukan. Aku cuma bisa mengangguk lemah ketika Mama minta restu persetujuanku beberapa hari yang lalu.
“Kamu setuju kan, Ke, kalo Mama menikah… dengan Om Bur?” tanya Mama. Matanya memandangku penuh harap.
“Setuju, Ma.”
“Kamu kok lesu, Ke. Kenapa, Nak? Sakit?”
“Mimpi-mimpi seram itu terus mengganggu saya, Ma,” aku berbohong.
“Mimpi diterkam harimau?”
Aku mengangguk. Airmataku merebak. Tuhan, betapa pahitnya kenyataan ini!
“Sebaiknya, saya tinggal bersama Nenek dulu di Curup, Ma.”
“Baiklah, Nak.”
Sejak mendengar tentang pernikahan Mama dengan Om Bur, aku memang terus bermimpi. Bukan mimpi diterkam harimau, bukan! Aku bermimpi, Mama menikah di gereja. Dan dalam mimpi itu, aku menangis, menangis, dan menangis!

***

Menurut rencana, cuma sebulan aku tinggal bersama Nenek. Nyatanya, sampai bulan keempat, sampai Mama menikah, sampai Mama dan Sasi pindah ke rumah Om Bur, aku tidak kembali. Kukira, aku sudah tidak punya tempat lagi di sana. Buat apa aku kembali ke rumah, jika di sana aku cuma berjuang menyingkirkan rasa cemburu kepada Mama.
Tiap hari kerjaku cuma merenung, dan terus menyesali nasib.
Suara radio tetangga sebelah berkumandang, memamerkan lagu dangdut. Iseng-iseng, kuhidupkan radio Nenek.
Dan… suara khas Om Bur langsung meluncur.
“Buat Keke di kota kecil Curup, gimana kabarnya, Nak. Minggu depan, Papa, Mama, Tania, dan Sasi akan mengunjungimu. Papa kangen menjewer hidung Keke….”
Radio kusentakkan. Hampir saja jatuh membentur lantai. Apa katanya tadi? Papa? Lancang betul!
Minggu yang gila itu pun tiba. Mereka datang dengan segala keceriaan mereka, dengan segala kebahagiaan mereka. Tiga bulan pisah dengan Mama, aku lihat ia bertambah cantik. Tak ada lagi warna kelabu dalam matanya. Aku senang, tapi juga marah, sedih, sirik, iri, dan cemburu!
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Keke nggak kangen pada Papa?”
Tenggorokanku tercekik.
“Kangen kok, Pa….”
Tuhan, aku telah memanggilnya Papa?
“Halo, Kak Keke…!”
Aku semakin takjub. Apa kata Tania? Aku dipanggil Kakak? Aku memang tua tujuh bulan darinya. Tapi, haruskah aku dipanggil Kakak?!
Rasa takjubku tidak cukup sampai di situ. Tania dengan fasih memanggil Mama pada Mamaku, dan Sasi dengan lincahnya memanggil Papa pada Om Bur. Aku menggigit bibir. Harus bagaimana aku bersikap di tengah luapan kegembiraan mereka?
“Mama, Mama,” Tania menarik-narik tangan Mamaku. “Kolam ikannya mana dong, Ma?”
“Tuh, di ujung sana, Sayang.”
“Kita mancing sekarang dong, Ma!”
Mama, Om Bur, Sasi, dan Tania berlarian ke arah kolam ikan. Aku menyusul, tanpa semangat.
“Seharusnya kamu bahagia punya pengganti Papa sebaik dia, Ke,” Nenek menggamitku dari belakang.
“Saya bahagia kok, Nek.”
“Kenapa mesti bohong. Nenek sudah baca buku harianmu.”
“Nenek!” Aku memekik. “Nenek lancang sekali!”
“Kenapa ini bisa terjadi, Ke?”
“Saya nggak tahu, Nek! Perasaan itu mengalir begitu saja.”
“Sebenarnya bisa kamu cegah. Tapi kamu nggak mau melakukanna, karena kamu egois!”
“Egois kata Nenek?”
“Apa nggak egois namanya, jika kamu nggak rela Mama dan adik kamu bahagia. Sebenarnya, perasaan kamu pada Om Bur bukan cinta! Sebenarnya, sosok Om Bur muncul dalam benak kamu sebagai Papa, tapi kamu salah kaprah menyebutnya sebagai cinta. Dan nggak bener kamu nggak bisa jatuh cinta lagi! Kamu hanya belum ketemu cinta sejati, Keke. Percayalah, cinta sejati suatu saat akan datang dalam hidupmu, akan indah pada waktunya, Keke….”
Aku ternganga.
“Mulai sekarang, bunuh semua rasa cemburu kamu! Seharusnya kamu bersyukur, telah mendapat pengganti Papa yang sangat baik! Apalah artinya perasaan semu kamu dibanding dengan cinta dan kasih sayang Om Bur yang begitu tulus? Itu karunia besar, Cucu….”
Tangisku pecah.
“Tapi, Nek, saya duluan yang mengenal Om Bur.”
“Jadi maumu apa sekarang?”
“Nek….”
“Masihkah kamu tetap sirik pada Mama kamu, jika Nenek beritahu sekarang bahwa Mama telah mengandung?”
“Apa, Nek?”
“Kamu akan segera punya adik.”
“Saya… saya….”
“Sekarang pergi sana ikut mancing. Panggil Om Bur dengan sebutan Papa tanpa malu-malu!”
“Nek…!”
“Keke!” teriak Om Bur dari jauh. “Cepeten sini mancing bareng Papa!”
“Iya, Papa!”
Aku berlari menghampiri mereka ke kolam ikan. Nenek memang benar. Mulai sekarang, akan kubunuh perasaan terlarang ini, meskipun untuk itu aku harus berjuang.
Bukankah Om Bur pernah bilang, segala sesuatunya akan indah pada waktunya. 

Sungguh, kukutuki sekaligus kunikmati kenyataan yang kualami sekarang ini. Aku bertanya-tanya, normalkah aku, atau jiwaku yang telah sakit? Luka demi luka di masa lalu ternyata telah mencetakku menjadi cewek yang mempersetankan cinta. Sampai kenyataan baru itu datang. Aku jatuh cinta pada Om Bur, seorang selebriti di kotaku, seorang yang sangat ramah, dan seorang Papa dari sahabat terbaikku.
Aku gamang.
Kutepuk keningku. Kuhitung, sudah sebulan perasaan terlarang itu menjerat hatiku. Seharusnya memang, ini tidak boleh terjadi!
Tania, sahabatku, anak Om Bur, yang mengawali semua ini. Ia tahu aku sedang kacau waktu itu. Lalu ia mengusulkan sesuatu.
“Udah, deh, Ke, terima aja Resnu. Dia kan cakep banget.”
“Aku nggak bisa, Tan. Sumpah, aku nggak punya perasaan apa-apa padanya, juga pada yang lain,” aku hampir menangis. “Aku takut, Tan, jangan-jangan nanti aku bisa jadi lesbi!”
“Hus! Ngaco!” Tania memandangku iba. “Kamu sendiri yang menghukum dirimu. Makanya jangan dipikir terus.”
“Gimana caranya supaya nggak mikir?”
“Buang bayangan mereka dari pikiran kamu. O, ya, kamu suka nggak dengerin radio Santana?”
“Memangnya kenapa?”
“Untuk mecahin masalah-masalah asmara kayak kamu ini, radio Santana-lah tempatnya. Papaku kan penyiar di sana.”
“Masak, sih?” aku mulai tertarik.
“Papa ngasuh banyak acara. Salah satunya ‘Problema Asmara Kamu’. Cara konsultasinya enak lagi, Ke. Pakai telepon.”
“Siapa sih nama Papa kamu?”
“Bur. Di udara dipanggil Om Bur.”
Aku menganga. Benar-benar tidak menyangka. Jadi Om Bur, penyiar top itu, Papa Tania?
“Kamu kok nggak bilang-bilang Om Bur itu Papamu, Tan?”
Banyak memang yang belum kuketahui tentang Tania, terutama keluarganya. Ia seorang yang agak tertutup, sama seperti aku. Yang jelas, Tania telah kehilangan ibunya sejak kecil. Sedang aku, juga telah kehilangan Papa dua tahun lalu. Barangkali, latar belakang persamaan nasib itulah yang membuat kami cepat akrab sejak menjadi siswa SMA Teladan.
Tania-lah yang pada akhirnya membuatku menjadi penggemar maniak radio Santana, terutama acara-acara yang diasuh oleh Om Bur.
“Halo, radio Santana di sini,” kata Om Bur waktu pertama kali aku ikutan di ajang ‘Problema Asmara Kamu’. “Ini dari siapa, ya?”
“Dari Keke, Om. Keke temannya Tania.”
“Tania?”
“Iya, Om. Tania anaknya Om. Kami satu sekolah. Teman akrab, Om.”
“O, begitu. Pasti Tania yang nyuruh kamu ikutan acara ini. Iya kan, Ke?”
“Iya deh, Om.”
“Oke, sekarang cerita deh apa masalah kamu, Ke?”
“Gini, Om. Saat ini saya sedang kacau. Kacau benar. Saya sering bener dikecewain sama cowok. Akibatnya, selama hampir dua tahun ini, saya nggak bisa lagi jatuh cinta pada cowok, secakep apapun itu. Saya nggak punya perasaan apa-apa lagi pada cowok, Om. Dan memang saya nggak bakalan bisa jatuh cinta, Om Bur.”
“Ah, yang bener?” Om Bur tertawa. Tawa untuk yang pertama kali selama dua tahun ini kuakui sangat menawan.
“Bener, Om, saya nggak bohong!”
“Iya deh, percaya. Berapa sekarang usia kamu, Ke?”
“Limabelas, Om.”
“Udah berapa kali kamu putus dengan pacar kamu?”
“Lima kali, Om.”
“Waduh, banyak sekali iya, Ke. Itu artinya Keke itu laris. Om bisa tebak, Keke pasti cantik, iya,” Om Bur tertawa.
Aku ikut tertawa.
“Aduh, Keke, seharusnya di usia kamu yang masih amat dini ini, Keke nggak boleh tersiksa karena cinta. Biarkan cinta itu datang silih berganti dalam kehidupan Keke, sampai tiba saatnya nanti Keke menemukan cinta sejati.”
“Cinta sejati, Om?”
“Iya, Ke. Kalo cinta sejati nanti sudah datang, Keke akan sadar bahwa nggak benar Keke nggak bisa jatuh cinta lagi. Segala sesuatunya akan indah pada waktunya, Ke. Juga cinta sejati kamu akan datang pada waktu yang tepat, sehingga indah pada waktunya. Begitu, Ke.”
Tiba-tiba saja, semuanya menjadi lain. Tiba-tiba saja, perasaanku menjadi plong.
“Oke deh, Keke, Om yakin Keke belum puas. Keke boleh datang konsultasi ke studio, dan Om akan dengar semua masalah Keke.”
“Bener, Om?”
“Bener. Masak Om bohong?”
“Dua hari lagi, saya datang bareng Tania iya, Om.”
“Oke, Om tunggu. Sekarang udahan dulu, iya. Salam buat adik Keke, Mama Keke, Papa Keke, juga kucing Keke.”
“Tapi, Om…?”
“Kenapa?”
“Saya nggak punya Papa lagi. Sudah meninggal….”
“Oh, maaf, Keke. Kalo begitu, salam buat Papa didobelin ke Mama Keke aja, deh.”
“Iya, Om….”

***

Sejak itu, aku jadi akrab dengan Om Bur. Tampangnya tidak seperti Bapak-Bapak. Wajahnya kelihatan masih amat muda. Punya sepasang mata yang amat teduh, senyum yang menawan, dan tawa yang renyah. Ia punya banyak modal untuk digandrungi.
Dan saat ini, detik ini, sama seperti hari-hari kemarin, aku sedang menunggu Om Bur siaran. Cuma bedanya, hari ini aku datang sendiri tanpa Tania. Betapa kangennya aku memandang mata Om Bur. Betapa kangennya aku tangan itu kembali menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Nggak dengan Tania?”
“Tania ada urusan, Om,” aku berbohong. Padahal Tania tidak tahu aku ke sini.
“Keke pasti haus. Mau minum apa, Ke?”
“Apa aja deh, Om.”
Om Bur begitu perhatian. Alangkah bahagianya Tania punya Papa sebaik Om Bur, dan alangkah malangnya aku tidak punya Papa untuk bermanja-manja.
“Apa kabar adikmu Sasi?” tanya Om Bur sambil menyodorkan sebotol sprite dingin.
“Baik, Om.”
“Kucing Keke?”
“Lagi flu, Om.”
Kami sama-sama tertawa.
“Mama Keke cantik, iya. Lembut lagi.”
Aku menganga. Cantik? Lembut? Kapan ia melihat Mama?
“Kemarin, waktu ngantar Tania ke rumah Keke, Om sempat bertemu Mama Keke. Kami lama ngobrol. Keke sih, pergi ke mana aja? Tania sampai sebel nunggu Keke. Tania nggak cerita?”
Aku menggeleng lemah. Tiba-tiba saja aku merasa cemburu.
“Waktu masih muda, Mama Keke pasti secantik Keke.”
“Berapa jam Om ngobrol dengan Mama?”
“Kira-kira lima jam, deh.”
Lima jam? Selama itu? Apa saja yang mereka obrolkan?
“Agar-agar buatan Mama enak banget. Sudah lama Om nggak makan agar-agar seenak itu.”
Kugigit bibirku. Om Bur makan agar-agar buatan Mama?
“Kaget iya, Ke?” Ia mengacak rambutku. “Om sama Tania sempat makan siang di rumah Keke. Sayur asemnya enak!”
Kugigit telunjukku. Sampai makan siang segala!
Om Bur sudah kembali siaran. Aku tidak berminat lagi menungguinya siaran. Aku harus pulang!
“Keke!” panggil Om Bur ketika kakiku sudah di halaman.
“Iya, Om?”
“Keke ada ongkos pulang?”
“Ada….”
“Salam buat Mama….”
“Iya….”
“Bilangin, Om Bur kangen makan agar-agar lagi.”
“Iya….”
“Dadah Keke….”
“Dadah…!”
Langkahku begitu berat. Tertarikkah Om Bur pada Mama? Tidak, tidak, tidak mungkin! Itu cuma pengungkapan rasa hormat Om Bur terhadap Mama karena aku adalah sahabat Tania! Hanya sebatas itu! Tidak mungkin ada yang lain!

***

Ini adalah untuk yang pertama kalinya aku melihat wajah Mama bersinar lagi selama dua tahun ini. Sejak Papa berpulang, Mama larut dalam segala kesedihannya.
Malam ini, Mama cantik sekali. Sudah berdandan rapi. Om Bur-kah yang ditunggunya? Tidak mungkin! Toh sejak Om Bur titip salam, ia tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang Mama.
“Mama lain sekarang iya, Mbak Ke,” Sasi mencolek tanganku.
Aku diam. Tanganku sedang sibuk mencari gelombang radio Santana. Malam ini Om Bur siaran. Katanya siang tadi, ia akan kirim lagu untukku.
“Halo, kawula muda, radio Santana bersama Anda,” suara Om Bur. “Sekarang kamu-kamu sedang mengikuti ajang ‘Anjang Sana’. Buat Keke di Padang Harapan, udah belajar belum? Kalo udah, dengerin nih lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ milik Anditi yang kamu pesan tadi siang. Om yakin, Keke pasti hepi dengerin lagu ini.”
Lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ dari Anditi berkumandang di kamarku, juga di hatiku.
“Buat Keke, Om tinggal dulu, iya. Sekarang giliran Mama Keke yang Om kirimi lagu.”
Astaga!
“Buat Mama Keke, selamat malam, dan selamat menunggu kedatangan saya. Udah rapi, kan? Oke deh, sebentar lagi saya dan Tania akan menjemputmu. Anak-anak diajak sekalian, iya?”
Aku terhempas. Kenyataan macam apakah lagi ini?!
Jam delapan, Om Bur datang. Tidak bersama Tania. Aku mengintip dari kamarku. Mama setengah berlari ke halaman menyambut Om Bur. Mereka saling senyum, saling bertatapan, saling….
Maka berakhirlah semua harapanku.
Mereka cekikikan di ruang tamu.
“Tania nggak jadi ikut?”
“Katanya malas, Jeng. Dia titip salam saja untuk Jeng. Anak-anak mana?”
“Sasi baru aja keluar dengan pacarnya. Sebentar, saya lihat dulu Keke di kamarnya.”
Refleks kuhempaskan tubuhku ke ranjang. Kututupi wajahku dengan selimut.
“Keke, Keke, bangun, Nak. Ada Om Bur,” Mama mengguncang tubuhku.
Beberapa menit kemudian, Mama keluar. Nyata sekali Mama tidak bersungguh-sungguh membangunkanku. Supaya acaranya dengan Om Bur tidak terganggu!
Aku mengintip lagi dari kamar.
“Wah, Keke nggak bisa dibangunin lagi tuh, Mas.”
Dasar pembohong! Apa katanya tadi?! Mas?!
“Iya udah. Bagaimana kalau kita nggak jadi keluar? Kan lebih enak di rumah. Saya ingin memandang bola matamu lama-lama, Jeng….”
“Ah, Mas ini….”
Genit! Mama genit!
“Jeng…!”
“Iya…?”
“Sudah kamu beritahu anak-akan tentang rencana pernikahan kita?”
“Belum, Mas. Tapi aku yakin, mereka akan setuju. Apalagi Keke, dia pasti merasa sangat surprais.”
Airmataku banjir. Dua tahun aku tidak punya perasaan apa-apa pada cowok. Sekarang, setelah perasaan itu kembali muncul, kenapa Om Bur harus dirampas? Kenapa justru yang merampasnya adalah Mama?
Airmataku terus berhamburan, dan aku gagal menyembunyikan suara tangisku.
“Keke, ada apa, Nak?” Tiba-tiba Mama sudah berdiri di ambang pintu. Di belakang Mama, ada Om Bur….
“Keke, bilang pada Mama ada apa?”
“Keke… Keke…!”
“Kenapa, Nak?”
“Keke… Keke mimpi diterkam harimau. Keke takut, Ma….”
“Udah, jangan takut lagi, iya,” Mama menarikku ke pelukannya. “Di sini ada Mama, ada Om Bur.”
“Iya, Ke. Jangan takut. Ada Om di sini. Mimpi segitu aja Keke kok takut?”

***

Tak ada lagi suara radio di kamarku. Bahkan radio sudah kulemparkan ke gudang. Toh semuanya sudah berakhir! Toh luka-lukaku sudah sempurna dalamnya! Toh…!
Tinjuku terkepal, menahan rasa cemburu yang amat hebat.
Hari pernikahan Mama dengan Om Bur sudah ditentukan. Aku cuma bisa mengangguk lemah ketika Mama minta restu persetujuanku beberapa hari yang lalu.
“Kamu setuju kan, Ke, kalo Mama menikah… dengan Om Bur?” tanya Mama. Matanya memandangku penuh harap.
“Setuju, Ma.”
“Kamu kok lesu, Ke. Kenapa, Nak? Sakit?”
“Mimpi-mimpi seram itu terus mengganggu saya, Ma,” aku berbohong.
“Mimpi diterkam harimau?”
Aku mengangguk. Airmataku merebak. Tuhan, betapa pahitnya kenyataan ini!
“Sebaiknya, saya tinggal bersama Nenek dulu di Curup, Ma.”
“Baiklah, Nak.”
Sejak mendengar tentang pernikahan Mama dengan Om Bur, aku memang terus bermimpi. Bukan mimpi diterkam harimau, bukan! Aku bermimpi, Mama menikah di gereja. Dan dalam mimpi itu, aku menangis, menangis, dan menangis!

***

Menurut rencana, cuma sebulan aku tinggal bersama Nenek. Nyatanya, sampai bulan keempat, sampai Mama menikah, sampai Mama dan Sasi pindah ke rumah Om Bur, aku tidak kembali. Kukira, aku sudah tidak punya tempat lagi di sana. Buat apa aku kembali ke rumah, jika di sana aku cuma berjuang menyingkirkan rasa cemburu kepada Mama.
Tiap hari kerjaku cuma merenung, dan terus menyesali nasib.
Suara radio tetangga sebelah berkumandang, memamerkan lagu dangdut. Iseng-iseng, kuhidupkan radio Nenek.
Dan… suara khas Om Bur langsung meluncur.
“Buat Keke di kota kecil Curup, gimana kabarnya, Nak. Minggu depan, Papa, Mama, Tania, dan Sasi akan mengunjungimu. Papa kangen menjewer hidung Keke….”
Radio kusentakkan. Hampir saja jatuh membentur lantai. Apa katanya tadi? Papa? Lancang betul!
Minggu yang gila itu pun tiba. Mereka datang dengan segala keceriaan mereka, dengan segala kebahagiaan mereka. Tiga bulan pisah dengan Mama, aku lihat ia bertambah cantik. Tak ada lagi warna kelabu dalam matanya. Aku senang, tapi juga marah, sedih, sirik, iri, dan cemburu!
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Keke nggak kangen pada Papa?”
Tenggorokanku tercekik.
“Kangen kok, Pa….”
Tuhan, aku telah memanggilnya Papa?
“Halo, Kak Keke…!”
Aku semakin takjub. Apa kata Tania? Aku dipanggil Kakak? Aku memang tua tujuh bulan darinya. Tapi, haruskah aku dipanggil Kakak?!
Rasa takjubku tidak cukup sampai di situ. Tania dengan fasih memanggil Mama pada Mamaku, dan Sasi dengan lincahnya memanggil Papa pada Om Bur. Aku menggigit bibir. Harus bagaimana aku bersikap di tengah luapan kegembiraan mereka?
“Mama, Mama,” Tania menarik-narik tangan Mamaku. “Kolam ikannya mana dong, Ma?”
“Tuh, di ujung sana, Sayang.”
“Kita mancing sekarang dong, Ma!”
Mama, Om Bur, Sasi, dan Tania berlarian ke arah kolam ikan. Aku menyusul, tanpa semangat.
“Seharusnya kamu bahagia punya pengganti Papa sebaik dia, Ke,” Nenek menggamitku dari belakang.
“Saya bahagia kok, Nek.”
“Kenapa mesti bohong. Nenek sudah baca buku harianmu.”
“Nenek!” Aku memekik. “Nenek lancang sekali!”
“Kenapa ini bisa terjadi, Ke?”
“Saya nggak tahu, Nek! Perasaan itu mengalir begitu saja.”
“Sebenarnya bisa kamu cegah. Tapi kamu nggak mau melakukanna, karena kamu egois!”
“Egois kata Nenek?”
“Apa nggak egois namanya, jika kamu nggak rela Mama dan adik kamu bahagia. Sebenarnya, perasaan kamu pada Om Bur bukan cinta! Sebenarnya, sosok Om Bur muncul dalam benak kamu sebagai Papa, tapi kamu salah kaprah menyebutnya sebagai cinta. Dan nggak bener kamu nggak bisa jatuh cinta lagi! Kamu hanya belum ketemu cinta sejati, Keke. Percayalah, cinta sejati suatu saat akan datang dalam hidupmu, akan indah pada waktunya, Keke….”
Aku ternganga.
“Mulai sekarang, bunuh semua rasa cemburu kamu! Seharusnya kamu bersyukur, telah mendapat pengganti Papa yang sangat baik! Apalah artinya perasaan semu kamu dibanding dengan cinta dan kasih sayang Om Bur yang begitu tulus? Itu karunia besar, Cucu….”
Tangisku pecah.
“Tapi, Nek, saya duluan yang mengenal Om Bur.”
“Jadi maumu apa sekarang?”
“Nek….”
“Masihkah kamu tetap sirik pada Mama kamu, jika Nenek beritahu sekarang bahwa Mama telah mengandung?”
“Apa, Nek?”
“Kamu akan segera punya adik.”
“Saya… saya….”
“Sekarang pergi sana ikut mancing. Panggil Om Bur dengan sebutan Papa tanpa malu-malu!”
“Nek…!”
“Keke!” teriak Om Bur dari jauh. “Cepeten sini mancing bareng Papa!”
“Iya, Papa!”
Aku berlari menghampiri mereka ke kolam ikan. Nenek memang benar. Mulai sekarang, akan kubunuh perasaan terlarang ini, meskipun untuk itu aku harus berjuang.
Bukankah Om Bur pernah bilang, segala sesuatunya akan indah pada waktunya.

Cerpen Ery Sofid

August 8, 2009 at 10:09 am | Posted in CERPEN Aniters | Comments Off on Cerpen Ery Sofid

sofid-altAKU yakin wajah yang berada di dalam cermin itu bukan diriku. Teksturnya menyimpang liar dari fakta. Dengan jujur aku mengakui bahwa aku terlahir ganteng. Mirip Antonio Banderas sedikit. Tapi saat jemari mentari pagi memancar mataku dan membuyarkan mimpi dalam pulasku, kebanggaan akan wajahku sekonyong-konyong terancam. Tapi pagi ini, aku berani menyangkal. Aslinya penampilanku memikat, namun kenapa musti nongol figur makhluk aneh?
Aku tak bisa mendeskripsikan secara detail ‘diri’-ku yang lain, yang nampak di cermin. Kira-kira begini, kepalaku nyaris mengembang sebesar guci keramik yang dipajang di ruang tamu. Bulat rada melonjong. Jidatku lebar dan berkerut-merut. Oya, kepala ‘asing’ itu botak licin mengkilap. Sepasang mataku persis ikan maskoki, seputarnya sembab. Pelipisku membengkak dan alisku rimbun kecoklatan. Hidungku cuma menyembul satu senti dengan cuping mekar. Pesek. Makhluk itu, selayang mengingatkan pada film-filim science-fiction yang kerap aku tonton. Jelek, menjijikkan, dan menakutkan.
Lama pula aku terpekur. Aku tegaskan harapan semoga pengalaman aneh pagi ini cuma ilusi belaka. Harus ada proses kausalitas kalau aku terhasut percaya. Kenapa begitu? Tapi yang mengherankan saat aku menguji kesesuaian antara diriku yang di luar dan bayangan di dalam cermin. Tiap gerakan fisik yang aku lakukan misalnya meraba-raba pipi, hidung, bibir, telinga, mata, dan kening, dia menirunya serba tepat. Tapi aku tetap merasakan keberadaan diriku wajar-wajar saja. Ah, apa yang sebenarnya terjadi?
Satu-satunya cara membuktikan apakah semua ini ilusi atau bukan adalah mencari persepsi obyektif dari Ibu dan Bapakku. Meskipun aku yakin makhluk dalam cermin itu bukan diriku yang riil.
“Tumben terlambat, Ry,” kata Ibu yang lagi mengoleskan selai nanas ke lempengan roti. “Buruan mandi, deh. Sebentar kesiangan sampai sekolah.”
Senyumku tercetak kaku. Jarum jam dinding merangkak di kisaran enam lima belas menit. Sesaat aku tertegun memandang mereka.
Bapak mendongak dari rentangan koran yang dibacanya sejenak. “Malah bengong. Bapak pengen berangkat nih, Ry. Mau menumpang atau nggak?”
“Siap, Bos,” sahutku. Lalu ngeloyor ke belakang. Lega.
Tapi seusai mandi dan balik bersalin seragam di kamar, aku kembali menemukan ‘diri’-ku yang asing saat bercermin.

***

Sebenarnya aku segan mengeluhkan perihal ini. Pada siapapun, bahkan Bapak dan Ibu. Aku ingin melupakannya. Masih mengantri sederet masalah lain yang lebih penting dipikirkan. Namun entah kenapa peristiwa edan pagi tadi itu terus-menerus menerjang benakku. Sesosok makhluk antah-berantah. Ini amat mengganggu ketenanganku.
Unek-unek itu coba aku limpahkan ke Beno. Dari sejumlah teman seantero sekolah, Beno ibarat kulit dan daging denganku. Dekat. Sahabat. Kadang anak-anak iseng meledek kami pasangan hombreng. Cuek. Hak mereka bersuara. Yang jelas kerukunanku sama Beno terbina. Beno baik. Solidaritasnya cemerlang. Itulah pasalnya aku mempercayainya.
Bahwa Beno terheran-heran selepas menyimak pemaparanku, aku mafhum. Kiasah misterius ini sarat kadar khayali. Sembilanpuluh sembilan prosen, mungkin. Sukar dicerna rasio. Tapi ketika kubuktikan kepadanya, lewat secarik kaca peraut pinsil, Beno terkejut bukan kepalang. Merinding. Dan percaya. Setelah sekian menit mencermatinya.
“Tapi mengapa keadaanmu yang kulihat sekarang nggak menggambarkan kelainan oragan-oragan sedikit pun?” tanya Beno meringis. Tubuhnya melorot lemas di kursi. Dipandangnya aku lumat-lumat.
“Itu yang masih belum terjawab,” sahutku, sambil menyusupkan rautan tadi ke dalam ransel.
“Mirip-mirip… mutant? Tahu kan, Ry?” Beno mereka-reka.
“Ya, perubahan sel-sel genetik akibat faktor tertentu,” tanggapku. “Radiasi nuklir atau limbah-limbah kimiawi pun memungkinkan terangsangnya proses mutasi gen jika terkena.”
“Tapi ini bukan mutasi, Ry,” sergah Beno serius.
“Saya rasa begitu,” keluhku. “Ah, kenapa saya ini?!”
“Anatomi makhluk dalam cermin itu, kayak makhluk-makhluk imajinasi dari angkasa luar, Ry,” Beno mengobral taksiran lain.
“Alien, begitu? Saya dirasuki Alien? Bagaimana bisa?” Aku jadi merasa geli sendiri. Aku tak kuasa menangkal laju senyumku. Pembicaraan kami di kantin siang ini sepulang sekolah seakan-akan saling menguliti kebodohan saja. “Dalam jasadku hidup Alien….”
“Kamu percaya UFO, Ry? Kehidupan lain selain di bumi?”
Aku menguncupkan bahu sambil tertawa. “Nggak tahu, deh. Tapi kamu bisa kan mengupas masalah saya ini dari sudut yang wajar?”
Beno tergugu. Lalu melengos. “Yah, kamu benar,” sungutnya.

***

Kelas III IPS 2 ramai dan gaduh. Sesekali terlontar sorak-sorai membahana. Begitu riuh dan bersemangat. Dan dijerat amarah.
Beno menyongsong kedatanganku. Ia nampak cemas.
“Gawat, Ry. Bondan menghasut anak-anak!”
“Apa?” Aku tersengat. Aku bersijingkat. Melongok ke dalam kelas dari kerumunan siswa yang memadati pintu. Bondan nampak berdiri kokoh di atas meja. Berkoar-koar dengan tatapan berapi-api.
Seantero SMA 17 Agustus 45 pasti kenal Bondan. Dialah siswa pemberani di sekolah ini. Ketimpangan-ketimpangan yang ia temukan dalam aktifitas pendidikan di sekolah kami, digugatnya blak-blakan. Pendukungnya banyak. Ia figur pemberontak tulen. Ia terpaksa didepak dari keanggotaan OSIS, karena kelewat gencar mengkritik dan melecehkan inisiatif ketua yang melempem.
Katanya, para pengurus OSIS itu cuma numpang tenar, biar dekat sama guru-guru. Hebatnya lagi, cowok yang bokapnya sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik itu, tak sungkan-sungkan hengkang dari kelas saat guru mengajar. “Cara menerangkannya payah. Tuh guru pantes ngajar di TK!” ujarnya.
Kini, ia menancapkan aksi baru. Dasar senewen!
Bondan pengen mengadakan demonstrasi?” Aku menoleh ke Beno.
“Yah,” angguk Beno. “Tadi, tiba-tiba saja ia memanggil anak-anak dari kelas-kelas lain. Mengumpulkannya di kelas kita. Ipung dan Fredi membantunya. Kamu tahu kan, Ry, Bondan jago propaganda. Dia bilang, Kepala Sekolah kita yang baru sebulan bertugas itu diangkat lewat prosedur nggak sah. Dia juga tambahkan, Kepsek baru itu mata duitan. Ry, kita harus cegah niat sontoloyo Bondan.”
Aku tak sangka Bondan berpikiran sekotor itu. Menimang-nimang sedetik, lalu aku menyeruak. Hingga aku berada di dalam kelas.
“Bondan, turun!” bentakku. “Saya mau ngomong sama kamu!”
Bondan menyeringai ke arahku. Ia melompat ke lantai.
“Halo, Ketua Kelas kita. Mau bergabung?” Gayanya menyebalkan.
Aku menggeretnya ke pojok kelas. Menghindar dari keramaian.
“Kamu musti punya alasan yang kuat kenapa mengajak demo, Dan?!”
“Aku rasa sudah jelas. Kita tuntut agar Pak Widnarjo, Kepsek kita yang terdahulu, dikembalikan posisinya. Kepsek baru sekarang ini mutunya rendah!”
“Aku kenal Pak Sigit, Dan. Sekolah memilih dia karena dedikasinya yang tinggi. Ia justru lebih baik ketimbang Pak Widnarjo.”
“Problem kamu, Ry. Pokoknya aku dan lainnya menentang.”
Mendadak kepalaku pening. Tubuhku limbung dan tersandar ke dinding. Pada saat itu, sebersit adegan ringkas berkelebat di benakku. Aku melihat Bondan menerima segepok uang dari Pak Widnarjo!
“Ry, kamu kenapa?” tanya Bondan acuh tak acuh.
Adegan tadi sirna. Pening itu berangsur hilang. Aneh….
“Kamu disogok berapa sama Pak Widnarjo?” tebakku spontan, seolah aku yakin tebakanku jitu. Aku tatap Bondan setajam pedang.
Bondan tersekat. Gelisah. “Ki-kita bagi dua, Ry,” bisiknya.
“Kamu bubarkan anak-anak atau aku laporkan ke guru BP,” ancamku.
“Ry, aku cuma disuruh beliau. Dia kecewa atas penggeseran jabatan Kepsek itu. Dia dendam,” ujar Bondan tersendat-sendat.
“Itu fitnah, Dan. Kamu sama saja makan uang haram!” geramku.
Agaknya Bondan menyesal. “Bagaimana kamu bisa tahu imbalan itu, Ry?”
Aku mendengus. Menggeleng. Tuhan, apa lagi ini….”

***

Sorot mata mereka terpusat ke arahku. Berpuluh-puluh makhluk mengerikan itu mengelilingi. Di bawah keremangan suatu ruang. Mereka membisu, namun telingaku menangkap suara-suara riuh. Kupikir mereka menggunakan sistem komunikasi telepatis. Pesan-pesan disampaikan terselubung. Brain to brain!
Inilah bahasa paling rumit sekaligus runyam yang pernah kuketahui. Pakar linguistik atau etnologi pun mungkin kudu ekstra pusing menerjemahkannya. Tapi aku sedikit dan tak lancar mampu mengkamuskan pesan-pesan itu. Entah bagaimana aku bisa tahu!
Ada sepenggal kalimat terus-menerus mendengung memenuhi tempurung kepalaku, hingga aku menghapalnya.
“Secepatnya kami menjemputmu. Segenap bangsa menanti takdir kepemimpinanmu. Generasi tercerdas dan lebih bermoral luhur. Revolusi ini harus dihentikan. Korban sudah banyak. Secepatnya kami menjemputmu. Secepatnya….”
Aku terbangun. Dadaku berdebebar-debar tak beraturan. Cuplikan mimpi tadi masih menggelepar-gelepar di ingatanku. Perasaan gamang berkecamuk di lorong-lorong sukmaku. Malam itu aku mengalami derita batin menyayat. Ditindas oleh terkaman berjuta tanya. Siapakah diriku sesungguhnya?!
Aku beranjak dari ranjang. Kunyalakan lampu. Dengan gelisah aku menjenguk cermin. Napasku tersedak. Wajah makhluk itu masih ada. Kini aku lekas tanggap. Wajahku dalam cermin itu persis wajah makhluk yang menghiasi arena mimpiku. Persis!
Tuhan, siapakah aku sebenarnya? Mengapa Engkau datangkan cobaan berat ini pada hamba-Mu? Siapakah mereka… siapakah aku…?

***

Rasanya aku tak bisa menyimpan lebih lama lagi keganjilan-keganjilan yang akhir-akhir ini merongrong ketenteramanku. Hari itu, aku beberkan seluruhnya pada Ibu dan Bapak.
Mereka terkejut sekali. Terlebih-lebih pas aku buktikan.
“Astaga, waktunya telah tiba,” desis Ibu dengan muka haru.
Aku terhenyak. “Maksdu Ibu apa?”
“Ah, nggak. Nggak apa-apa,” kelit Ibu seakan tersentak.
Kebingunganku tumbuh. Aku tak mengerti mengapa ketika kegundahan tengah membelit hatiku, mereka malah semakin memupuknya.
“Bu, Pak, Hery harus tahu arti semua ini?!” Aku coba mendesak.
Bapak mendengus berat. Ibu menoleh ke Bapak. Saling kikuk.
“Perjanjian itu sudah kita sepakati, Bu. Kita tak boleh melanggarnya. Bukankah kita berhutang budi pada mereka….”
“Pak, ada apa sih?” Kesabaranku dihimpit penasaran.
Mata tua Ibu berkilat sayu. “Bapak saja yang cerita.”
Bapak mengangguk. Mendehem. Ia pindah ke sofa tempatku membeku tegang. Duduk di sisiku. Merangkul pundakku, ia bertutur pelan.
“Ry, delapanbelas tahun lalu, keluarga kita belum semakmur sekarang. Kami, Bapak-Ibu, masih di Cianjur. Perkebunan cabai shishito yang Bapak kelola bersama Ny. Hamada terancam musnah. Cabai khas Jepang yang ditanam di lahan seluas 660 meter persegi itu diserang hama. Seluruhnya. Sulit dipastikan jenis hama apa. Apakah ulat grayak, nematoda, tungau, atau hama thrips. Ny. Hamada malah cenderung mengira antranoksa, sejenis penyakit tanaman yang membahayakan. Kami kelimpungan. Meskipun penanaman cabai ini merupakan proyek percontohan yang pertama dirintis di Indonesia, dan prospeknya nggak sebagus pembudidayaan cabai-cabai lokal, Ny. Hamada bertekad menyelamatkannya. Para petani yang bekerja satu per satu mulai undur diri. Hanya Bapak yang tetap bertahan. Bersama Ny. Hamada, pimpinan proyek itu, kami berpikir keras. Penyemprotan pestisida maunpun insektisida sudah dilakukan. Hasilnya nihil. Sejumlah tenaga ilmuwan rekan Ny. Hamada, dari Jepang, kalang-kabut. Mereka menyerah. Dalam semangat yang kian rapuh, kami masih berjuang memecahkan masalah ini. Dalam saat-saat kritis itulah, kami didatangi oleh seseorang.”
“Siapa dia? Utusan pemda?” selaku. Aku menyimak seksama.
“Mulanya kami dan staf lainnya menduga begitu. Ia mengunjungi laboratorium kami malam hari. Ia menjanjikan bahwa besok pagi kondisi area tanaman cabai shishito itu akan kembali normal. Ia mengaku memiliki zat kimiawi tertentu yang ampuh memberantas hama atau penyakit. Kami senang mendengarnya. Tapi ia baru bersedia memenuhi janjinya asalkan kami sanggup menjalani satu syarat. Ini dia tujukan ke Bapak dan Ibu. Entah dari mana ia tahu kalau kami sudah menikah. Pria itu meminta agar kami mengadopsi seorang bayi dari mereka. Ibumu menyambut setuju. Sudah lama Ibu merindukan anak. Bapak turut bahagia. Maka dibuatlah perjanjian. Saatnya kamu menanjak dewasa, mereka akan menemui kami. Mengambil kamu, Ry. Membawamu pergi lagi.”
Kali ini aku kurang paham. Dan Bapak agaknya tahu hal ini.
Perlahan ia melanjutkan. “Orang itu menepati janji. Esok harinya perkebunan cabai shishito kami nampak lebih sehat, segar, kuat dan subur. Nggak lagi layu dan meranggas kusam seperti kemarin-kemarin. Terlebih menakjubkan, sejak itu tanaman cabai shishito kami kebal terhadap gangguan hama dan penyakit apa pun.”
“Bagaimana ia bisa melakukannya?” tanyaku.
“Nggak seorang pun tahu….” Suara Bapak terbata. Melirik Ibu.
“Semuanya, Pak. Ungkapkan,” ujar Ibu tampak tabah dalam duka.
“Baiklah. Kamu nggak tahu teknologi apa yang mereka terapkan. Sekitar pukul dua dinihari, sepeninggalnya, kami terjaga dari tidur. Hampir semua peneliti, staf, dan termasuk Ny. Hamada, mendengar bunyi gemuruh halus di angkasa. Kami berduyun-duyum keluar laboratorium. Di atas areal perkebunan cabai, mengapung sebuah piringan raksasa. Menyerupai cakram. Garis tengahnya diperkirakan sembilan ratus meter. Cahaya kehijauan tertumpah merata dari satu lubang yang menganga di permukaan bawah benda itu. Lahan tanaman cabai benderang oleh cahaya. Lima menit berlalu, cahaya lenyap. Benda tadi membubung lamban. Kali ini tanpa bunyi sedikit pun. Suasana terasa hening. Sunyi. Sampai benda itu tiba-tiba melejit luar biasa cepatnya. Nggak sampai satu menit, kamu sudah menyaksikan benda itu tinggal sebentuk titik mungil. Membaur di antara tebaran bintang. Dari peristiwa itu, kami menyimpulkan bahwa cahaya itulah yang memulihkan tananman cabai.”
Prasangka konyol menembus benakku. “Apakah mereka….”
“Ya, pria penolong itu makhluk luar bumi,” potong Bapak. “Kami nggak pernah bertemu lagi. Tapi ia pasti muncul lagi, setelah bayi yang diserahkan ke kami meningkat dewasa. Kami rawat, didik dan asuh bayi itu dengan penuh kasih-sayang. Kami anggap darah-daging kami sendiri. Sekarang ia sudah besar, gagah, tampan, dan pintar. Sang Jabang Bayi itu adalah… kamu sendiri, anakku….”
“Bapak mengada-ada!” sangkalku keras. Kaget dan tak percaya.
“Benar, Ry,” Ibu menegaskan. “Di sana, tempat asalmu, kamu adalah calon pemimpin. Kamu dipersiapkan guna menumbangkan pemimpin mereka saat ini. Yang bertindak semena-mena. Zalim dan biadab. Ada satu materi penting yang mereka sadari telah dilalaikan. Moral dan mental suci. Timbullah gagasan mempelajarinya dari umat manusia di bumi. Seorang bayi kaum mereka direkayasa sedemikian rupa hingga berwujud sama dengan bayi manusia. Bayi ini akan tumbuh sebagaimana layaknya manusia umumnya dan menyerap segala hal dalam kehidupan manusia. Termasuk apa itu moral dan mental. Sejak TK hingga kamu menjelang tamat SMA.”
Aku tercenung. Menelan ludah dengan susah payah.
Bapak melanjutkan. “Makhluk yang kamu lihat dalam cermin itu adalah sosok aslimu. Hanya akan terlihat jika kamu sudah mencapai kedewasaan. Ini juga isyarat, mereka tengah bersiap-siap menjemputmu. Selanjutnya kamu akan digembleng ilmu kemiliteran di sana.”
“Ah, ini mengada-ada!” desahku takut dan sedih. “Ibulah yang melahirkan aku. Kalianlah orangtua aku yang sesungguhnya!”
“Sebelum Bapak menikah, Ibumu dinyatakan mandul oleh dokter. Akibat kanker kandungan yang pernah dideritanya,” jelas Bapak dengan serius.
Aku terbelalak. Badai ganas menerpa jiwaku. “Bagaimana kalau aku menolak pergi saat mereka datang?!” dalihku emosi. Kalut luar biasa.
“Kami pun nggak rela berpisah darimu, tapi kami harus mematuhi perjanjian. Kamu harus ikut mereka,” jawab Bapak murung. Matanya berkaca-kaca.
“Kalau kerusuhan di sana mereda, kamu bisa sesekali menemui kami, Ry. Tentu kamu akan membawa cerita-cerita menarik tentang dunia di sana. Dunia asing yang masih misterius itu,” hibur Ibu, juga dengan mata berkaca-kaca.
Bapak dan Ibu sepertinya telah siap menghadapi hal ini. Tiba-tiba saja aku merasa tak punya pilihan lain lagi. Walau sulit kucerna, akhirnya kepasrahan membalutku. Siapa pun aku, inilah takdir. Bahwa ternyata aku adalah putra dari segolongan kaum yang bukan manusia. Dan malam itu, aku bersikap tegar saat di atas rumahku mengambang megah sebuah cakram raksasa.
Keberangkatanku telah tiba. 

Aku yakin wajah yang berada di dalam cermin itu bukan diriku. Teksturnya menyimpang liar dari fakta. Dengan jujur aku mengakui bahwa aku terlahir ganteng. Mirip Antonio Banderas sedikit. Tapi saat jemari mentari pagi memancar mataku dan membuyarkan mimpi dalam pulasku, kebanggaan akan wajahku sekonyong-konyong terancam. Tapi pagi ini, aku berani menyangkal. Aslinya penampilanku memikat, namun kenapa musti nongol figur makhluk aneh?
Aku tak bisa mendeskripsikan secara detail ‘diri’-ku yang lain, yang nampak di cermin. Kira-kira begini, kepalaku nyaris mengembang sebesar guci keramik yang dipajang di ruang tamu. Bulat rada melonjong. Jidatku lebar dan berkerut-merut. Oya, kepala ‘asing’ itu botak licin mengkilap. Sepasang mataku persis ikan maskoki, seputarnya sembab. Pelipisku membengkak dan alisku rimbun kecoklatan. Hidungku cuma menyembul satu senti dengan cuping mekar. Pesek. Makhluk itu, selayang mengingatkan pada film-filim
science-fiction yang kerap aku tonton. Jelek, menjijikkan, dan menakutkan.
Lama pula aku terpekur. Aku tegaskan harapan semoga pengalaman aneh pagi ini cuma ilusi belaka. Harus ada proses kausalitas kalau aku terhasut percaya. Kenapa begitu? Tapi yang mengherankan saat aku menguji kesesuaian antara diriku yang di luar dan bayangan di dalam cermin. Tiap gerakan fisik yang aku lakukan misalnya meraba-raba pipi, hidung, bibir, telinga, mata, dan kening, dia menirunya serba tepat. Tapi aku tetap merasakan keberadaan diriku wajar-wajar saja. Ah, apa yang sebenarnya terjadi?
Satu-satunya cara membuktikan apakah semua ini ilusi atau bukan adalah mencari persepsi obyektif dari Ibu dan Bapakku. Meskipun aku yakin makhluk dalam cermin itu bukan diriku yang riil.
“Tumben terlambat, Ry,” kata Ibu yang lagi mengoleskan selai nanas ke lempengan roti. “Buruan mandi, deh. Sebentar kesiangan sampai sekolah.”
Senyumku tercetak kaku. Jarum jam dinding merangkak di kisaran enam lima belas menit. Sesaat aku tertegun memandang mereka.
Bapak mendongak dari rentangan koran yang dibacanya sejenak. “Malah bengong. Bapak pengen berangkat nih, Ry. Mau menumpang atau nggak?”
“Siap, Bos,” sahutku. Lalu ngeloyor ke belakang. Lega.
Tapi seusai mandi dan balik bersalin seragam di kamar, aku kembali menemukan ‘diri’-ku yang asing saat bercermin.

***

Sebenarnya aku segan mengeluhkan perihal ini. Pada siapapun, bahkan Bapak dan Ibu. Aku ingin melupakannya. Masih mengantri sederet masalah lain yang lebih penting dipikirkan. Namun entah kenapa peristiwa edan pagi tadi itu terus-menerus menerjang benakku. Sesosok makhluk antah-berantah. Ini amat mengganggu ketenanganku.
Unek-unek itu coba aku limpahkan ke Beno. Dari sejumlah teman seantero sekolah, Beno ibarat kulit dan daging denganku. Dekat. Sahabat. Kadang anak-anak iseng meledek kami pasangan
hombreng. Cuek. Hak mereka bersuara. Yang jelas kerukunanku sama Beno terbina. Beno baik. Solidaritasnya cemerlang. Itulah pasalnya aku mempercayainya.
Bahwa Beno terheran-heran selepas menyimak pemaparanku, aku mafhum. Kiasah misterius ini sarat kadar khayali. Sembilanpuluh sembilan prosen, mungkin. Sukar dicerna rasio. Tapi ketika kubuktikan kepadanya, lewat secarik kaca peraut pinsil, Beno terkejut bukan kepalang. Merinding. Dan percaya. Setelah sekian menit mencermatinya.
“Tapi mengapa keadaanmu yang kulihat sekarang nggak menggambarkan kelainan oragan-oragan sedikit pun?” tanya Beno meringis. Tubuhnya melorot lemas di kursi. Dipandangnya aku lumat-lumat.
“Itu yang masih belum terjawab,” sahutku, sambil menyusupkan rautan tadi ke dalam ransel.
“Mirip-mirip…
mutant? Tahu kan, Ry?” Beno mereka-reka.
“Ya, perubahan sel-sel genetik akibat faktor tertentu,” tanggapku. “Radiasi nuklir atau limbah-limbah kimiawi pun memungkinkan terangsangnya proses mutasi gen jika terkena.”
“Tapi ini bukan mutasi, Ry,” sergah Beno serius.
“Saya rasa begitu,” keluhku. “Ah, kenapa saya ini?!”
“Anatomi makhluk dalam cermin itu, kayak makhluk-makhluk imajinasi dari angkasa luar, Ry,” Beno mengobral taksiran lain.
“Alien, begitu? Saya dirasuki Alien? Bagaimana bisa?” Aku jadi merasa geli sendiri. Aku tak kuasa menangkal laju senyumku. Pembicaraan kami di kantin siang ini sepulang sekolah seakan-akan saling menguliti kebodohan saja. “Dalam jasadku hidup Alien….”
“Kamu percaya UFO, Ry? Kehidupan lain selain di bumi?”
Aku menguncupkan bahu sambil tertawa. “Nggak tahu, deh. Tapi kamu bisa kan mengupas masalah saya ini dari sudut yang wajar?”
Beno tergugu. Lalu melengos. “Yah, kamu benar,” sungutnya.

***

Kelas III IPS 2 ramai dan gaduh. Sesekali terlontar sorak-sorai membahana. Begitu riuh dan bersemangat. Dan dijerat amarah.
Beno menyongsong kedatanganku. Ia nampak cemas.
“Gawat, Ry. Bondan menghasut anak-anak!”
“Apa?” Aku tersengat. Aku bersijingkat. Melongok ke dalam kelas dari kerumunan siswa yang memadati pintu. Bondan nampak berdiri kokoh di atas meja. Berkoar-koar dengan tatapan berapi-api.
Seantero SMA 17 Agustus 45 pasti kenal Bondan. Dialah siswa pemberani di sekolah ini. Ketimpangan-ketimpangan yang ia temukan dalam aktifitas pendidikan di sekolah kami, digugatnya blak-blakan. Pendukungnya banyak. Ia figur pemberontak tulen. Ia terpaksa didepak dari keanggotaan OSIS, karena kelewat gencar mengkritik dan melecehkan inisiatif ketua yang melempem.
Katanya, para pengurus OSIS itu cuma numpang tenar, biar dekat sama guru-guru. Hebatnya lagi, cowok yang bokapnya sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik itu, tak sungkan-sungkan hengkang dari kelas saat guru mengajar. “Cara menerangkannya payah. Tuh guru pantes ngajar di TK!” ujarnya.
Kini, ia menancapkan aksi baru. Dasar senewen!
Bondan pengen mengadakan demonstrasi?” Aku menoleh ke Beno.
“Yah,” angguk Beno. “Tadi, tiba-tiba saja ia memanggil anak-anak dari kelas-kelas lain. Mengumpulkannya di kelas kita. Ipung dan Fredi membantunya. Kamu tahu kan, Ry, Bondan jago propaganda. Dia bilang, Kepala Sekolah kita yang baru sebulan bertugas itu diangkat lewat prosedur nggak sah. Dia juga tambahkan, Kepsek baru itu mata duitan. Ry, kita harus cegah niat sontoloyo Bondan.”
Aku tak sangka Bondan berpikiran sekotor itu. Menimang-nimang sedetik, lalu aku menyeruak. Hingga aku berada di dalam kelas.
“Bondan, turun!” bentakku. “Saya mau ngomong sama kamu!”
Bondan menyeringai ke arahku. Ia melompat ke lantai.
“Halo, Ketua Kelas kita. Mau bergabung?” Gayanya menyebalkan.
Aku menggeretnya ke pojok kelas. Menghindar dari keramaian.
“Kamu musti punya alasan yang kuat kenapa mengajak demo, Dan?!”
“Aku rasa sudah jelas. Kita tuntut agar Pak Widnarjo, Kepsek kita yang terdahulu, dikembalikan posisinya. Kepsek baru sekarang ini mutunya rendah!”
“Aku kenal Pak Sigit, Dan. Sekolah memilih dia karena dedikasinya yang tinggi. Ia justru lebih baik ketimbang Pak Widnarjo.”
“Problem kamu, Ry. Pokoknya aku dan lainnya menentang.”
Mendadak kepalaku pening. Tubuhku limbung dan tersandar ke dinding. Pada saat itu, sebersit adegan ringkas berkelebat di benakku. Aku melihat Bondan menerima segepok uang dari Pak Widnarjo!
“Ry, kamu kenapa?” tanya Bondan acuh tak acuh.
Adegan tadi sirna. Pening itu berangsur hilang. Aneh….
“Kamu disogok berapa sama Pak Widnarjo?” tebakku spontan, seolah aku yakin tebakanku jitu. Aku tatap Bondan setajam pedang.
Bondan tersekat. Gelisah. “Ki-kita bagi dua, Ry,” bisiknya.
“Kamu bubarkan anak-anak atau aku laporkan ke guru BP,” ancamku.
“Ry, aku cuma disuruh beliau. Dia kecewa atas penggeseran jabatan Kepsek itu. Dia dendam,” ujar Bondan tersendat-sendat.
“Itu fitnah, Dan. Kamu sama saja makan uang haram!” geramku.
Agaknya Bondan menyesal. “Bagaimana kamu bisa tahu imbalan itu, Ry?”
Aku mendengus. Menggeleng. Tuhan, apa lagi ini….”

***

Sorot mata mereka terpusat ke arahku. Berpuluh-puluh makhluk mengerikan itu mengelilingi. Di bawah keremangan suatu ruang. Mereka membisu, namun telingaku menangkap suara-suara riuh. Kupikir mereka menggunakan sistem komunikasi telepatis. Pesan-pesan disampaikan terselubung. Brain to brain!
Inilah bahasa paling rumit sekaligus runyam yang pernah kuketahui. Pakar linguistik atau etnologi pun mungkin kudu ekstra pusing menerjemahkannya. Tapi aku sedikit dan tak lancar mampu mengkamuskan pesan-pesan itu. Entah bagaimana aku bisa tahu!
Ada sepenggal kalimat terus-menerus mendengung memenuhi tempurung kepalaku, hingga aku menghapalnya.
“Secepatnya kami menjemputmu. Segenap bangsa menanti takdir kepemimpinanmu. Generasi tercerdas dan lebih bermoral luhur. Revolusi ini harus dihentikan. Korban sudah banyak. Secepatnya kami menjemputmu. Secepatnya….”
Aku terbangun. Dadaku berdebebar-debar tak beraturan. Cuplikan mimpi tadi masih menggelepar-gelepar di ingatanku. Perasaan gamang berkecamuk di lorong-lorong sukmaku. Malam itu aku mengalami derita batin menyayat. Ditindas oleh terkaman berjuta tanya. Siapakah diriku sesungguhnya?!
Aku beranjak dari ranjang. Kunyalakan lampu. Dengan gelisah aku menjenguk cermin. Napasku tersedak. Wajah makhluk itu masih ada. Kini aku lekas tanggap. Wajahku dalam cermin itu persis wajah makhluk yang menghiasi arena mimpiku. Persis!
Tuhan, siapakah aku sebenarnya? Mengapa Engkau datangkan cobaan berat ini pada hamba-Mu? Siapakah mereka… siapakah aku…?

***

Rasanya aku tak bisa menyimpan lebih lama lagi keganjilan-keganjilan yang akhir-akhir ini merongrong ketenteramanku. Hari itu, aku beberkan seluruhnya pada Ibu dan Bapak.
Mereka terkejut sekali. Terlebih-lebih pas aku buktikan.
“Astaga, waktunya telah tiba,” desis Ibu dengan muka haru.
Aku terhenyak. “Maksdu Ibu apa?”
“Ah, nggak. Nggak apa-apa,” kelit Ibu seakan tersentak.
Kebingunganku tumbuh. Aku tak mengerti mengapa ketika kegundahan tengah membelit hatiku, mereka malah semakin memupuknya.
“Bu, Pak, Hery harus tahu arti semua ini?!” Aku coba mendesak.
Bapak mendengus berat. Ibu menoleh ke Bapak. Saling kikuk.
“Perjanjian itu sudah kita sepakati, Bu. Kita tak boleh melanggarnya. Bukankah kita berhutang budi pada mereka….”
“Pak, ada apa sih?” Kesabaranku dihimpit penasaran.
Mata tua Ibu berkilat sayu. “Bapak saja yang cerita.”
Bapak mengangguk. Mendehem. Ia pindah ke sofa tempatku membeku tegang. Duduk di sisiku. Merangkul pundakku, ia bertutur pelan.
“Ry, delapanbelas tahun lalu, keluarga kita belum semakmur sekarang. Kami, Bapak-Ibu, masih di Cianjur. Perkebunan cabai
shishito yang Bapak kelola bersama Ny. Hamada terancam musnah. Cabai khas Jepang yang ditanam di lahan seluas 660 meter persegi itu diserang hama. Seluruhnya. Sulit dipastikan jenis hama apa. Apakah ulat grayak, nematoda, tungau, atau hama thrips. Ny. Hamada malah cenderung mengira antranoksa, sejenis penyakit tanaman yang membahayakan. Kami kelimpungan. Meskipun penanaman cabai ini merupakan proyek percontohan yang pertama dirintis di Indonesia, dan prospeknya nggak sebagus pembudidayaan cabai-cabai lokal, Ny. Hamada bertekad menyelamatkannya. Para petani yang bekerja satu per satu mulai undur diri. Hanya Bapak yang tetap bertahan. Bersama Ny. Hamada, pimpinan proyek itu, kami berpikir keras. Penyemprotan pestisida maunpun insektisida sudah dilakukan. Hasilnya nihil. Sejumlah tenaga ilmuwan rekan Ny. Hamada, dari Jepang, kalang-kabut. Mereka menyerah. Dalam semangat yang kian rapuh, kami masih berjuang memecahkan masalah ini. Dalam saat-saat kritis itulah, kami didatangi oleh seseorang.”
“Siapa dia? Utusan pemda?” selaku. Aku menyimak seksama.
“Mulanya kami dan staf lainnya menduga begitu. Ia mengunjungi laboratorium kami malam hari. Ia menjanjikan bahwa besok pagi kondisi area tanaman cabai
shishito itu akan kembali normal. Ia mengaku memiliki zat kimiawi tertentu yang ampuh memberantas hama atau penyakit. Kami senang mendengarnya. Tapi ia baru bersedia memenuhi janjinya asalkan kami sanggup menjalani satu syarat. Ini dia tujukan ke Bapak dan Ibu. Entah dari mana ia tahu kalau kami sudah menikah. Pria itu meminta agar kami mengadopsi seorang bayi dari mereka. Ibumu menyambut setuju. Sudah lama Ibu merindukan anak. Bapak turut bahagia. Maka dibuatlah perjanjian. Saatnya kamu menanjak dewasa, mereka akan menemui kami. Mengambil kamu, Ry. Membawamu pergi lagi.”
Kali ini aku kurang paham. Dan Bapak agaknya tahu hal ini.
Perlahan ia melanjutkan. “Orang itu menepati janji. Esok harinya perkebunan cabai
shishito kami nampak lebih sehat, segar, kuat dan subur. Nggak lagi layu dan meranggas kusam seperti kemarin-kemarin. Terlebih menakjubkan, sejak itu tanaman cabai shishito kami kebal terhadap gangguan hama dan penyakit apa pun.”
“Bagaimana ia bisa melakukannya?” tanyaku.
“Nggak seorang pun tahu….” Suara Bapak terbata. Melirik Ibu.
“Semuanya, Pak. Ungkapkan,” ujar Ibu tampak tabah dalam duka.
“Baiklah. Kamu nggak tahu teknologi apa yang mereka terapkan. Sekitar pukul dua dinihari, sepeninggalnya, kami terjaga dari tidur. Hampir semua peneliti, staf, dan termasuk Ny. Hamada, mendengar bunyi gemuruh halus di angkasa. Kami berduyun-duyum keluar laboratorium. Di atas areal perkebunan cabai, mengapung sebuah piringan raksasa. Menyerupai cakram. Garis tengahnya diperkirakan sembilan ratus meter. Cahaya kehijauan tertumpah merata dari satu lubang yang menganga di permukaan bawah benda itu. Lahan tanaman cabai benderang oleh cahaya. Lima menit berlalu, cahaya lenyap. Benda tadi membubung lamban. Kali ini tanpa bunyi sedikit pun. Suasana terasa hening. Sunyi. Sampai benda itu tiba-tiba melejit luar biasa cepatnya. Nggak sampai satu menit, kamu sudah menyaksikan benda itu tinggal sebentuk titik mungil. Membaur di antara tebaran bintang. Dari peristiwa itu, kami menyimpulkan bahwa cahaya itulah yang memulihkan tananman cabai.”
Prasangka konyol menembus benakku. “Apakah mereka….”
“Ya, pria penolong itu makhluk luar bumi,” potong Bapak. “Kami nggak pernah bertemu lagi. Tapi ia pasti muncul lagi, setelah bayi yang diserahkan ke kami meningkat dewasa. Kami rawat, didik dan asuh bayi itu dengan penuh kasih-sayang. Kami anggap darah-daging kami sendiri. Sekarang ia sudah besar, gagah, tampan, dan pintar. Sang Jabang Bayi itu adalah… kamu sendiri, anakku….”
“Bapak mengada-ada!” sangkalku keras. Kaget dan tak percaya.
“Benar, Ry,” Ibu menegaskan. “Di sana, tempat asalmu, kamu adalah calon pemimpin. Kamu dipersiapkan guna menumbangkan pemimpin mereka saat ini. Yang bertindak semena-mena. Zalim dan biadab. Ada satu materi penting yang mereka sadari telah dilalaikan. Moral dan mental suci. Timbullah gagasan mempelajarinya dari umat manusia di bumi. Seorang bayi kaum mereka direkayasa sedemikian rupa hingga berwujud sama dengan bayi manusia. Bayi ini akan tumbuh sebagaimana layaknya manusia umumnya dan menyerap segala hal dalam kehidupan manusia. Termasuk apa itu moral dan mental. Sejak TK hingga kamu menjelang tamat SMA.”
Aku tercenung. Menelan ludah dengan susah payah.
Bapak melanjutkan. “Makhluk yang kamu lihat dalam cermin itu adalah sosok aslimu. Hanya akan terlihat jika kamu sudah mencapai kedewasaan. Ini juga isyarat, mereka tengah bersiap-siap menjemputmu. Selanjutnya kamu akan digembleng ilmu kemiliteran di sana.”
“Ah, ini mengada-ada!” desahku takut dan sedih. “Ibulah yang melahirkan aku. Kalianlah orangtua aku yang sesungguhnya!”
“Sebelum Bapak menikah, Ibumu dinyatakan mandul oleh dokter. Akibat kanker kandungan yang pernah dideritanya,” jelas Bapak dengan serius.
Aku terbelalak. Badai ganas menerpa jiwaku. “Bagaimana kalau aku menolak pergi saat mereka datang?!” dalihku emosi. Kalut luar biasa.
“Kami pun nggak rela berpisah darimu, tapi kami harus mematuhi perjanjian. Kamu harus ikut mereka,” jawab Bapak murung. Matanya berkaca-kaca.
“Kalau kerusuhan di sana mereda, kamu bisa sesekali menemui kami, Ry. Tentu kamu akan membawa cerita-cerita menarik tentang dunia di sana. Dunia asing yang masih misterius itu,” hibur Ibu, juga dengan mata berkaca-kaca.
Bapak dan Ibu sepertinya telah siap menghadapi hal ini. Tiba-tiba saja aku merasa tak punya pilihan lain lagi. Walau sulit kucerna, akhirnya kepasrahan membalutku. Siapa pun aku, inilah takdir. Bahwa ternyata aku adalah putra dari segolongan kaum yang bukan manusia. Dan malam itu, aku bersikap tegar saat di atas rumahku mengambang megah sebuah cakram raksasa.
Keberangkatanku telah tiba.

Cerpen Rahmat Taufik RT

August 8, 2009 at 10:04 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

taufikWirda mengeluh pelan. Sepucuk surat bersampul biru di tangannya ditatapnya sekali lagi. Dan kegalauan itu tiba-tiba saja datang, membelenggunya, dan rasanya hampir membekukan semua sendi-sendinya. Oh, surat ini….
Dengan matanya, dia mengeja untaian huruf di permukaan sampul biru lembut itu. Untaian huruf yang rapi, yang membentuk nama Leo di situ. Wirda menghela napas. Jemarinya bergetar manakala membuka ujung sampulnya. Cepat saja, dibacanya kalimat-kalimat berbaris rapi di situ. Dan dalam diamnya, kembali dia mengeluh pelan.
Jadi dia akan datang. Jadi Leo akan datang, besok. Tuhan, sekali lagi Wirda mengeluh. Seharusnya ini menggembirakan. Tetapi….
“Hai, Wir,” sebuah suara membuatnya menoleh. Indras tersenyum ke arahnya.
“Ada apa?” tanyanya sambil memaksakan diri untuk membalas senyum cowok itu. Dimasukkannya lembar surat Leo ke sampulnya.
“Surat dari siapa?” Indras yang melihat gerakannya, bertanya.
“Dari Leo…,” jawab Wirda, pelan dan ngambang.
“Oh, aku mengganggu keasyikanmu rupanya.” Indras tertawa kecil. “Kalau boleh tahu, Leo bilang apa?”
“Dia akan datang besok.”
“Wah, baguslah itu.” Indras mendesah. “Dengan begini kalian akan bisa menuntaskan rindu. Lima purnama yang terlewati tanpa dia cukup membuatmu kalang-kabut didera kerinduan, bukan?”
Wirda terdiam, merasa kelu mendadak untuk memberi tanggapan.
“Oya, ini bukumu kukembalikan,” Indras menyahut lagi. Diangsurkannya sebuah buku bersampul selebritis. “Thanks, ya,” katanya lagi. “Dan salam untuk Leo,” lanjutnya berseloroh seraya mengedipkan mata sebelum berlalu.
Wirda menggigit bibir. Diikutinya langkah panjang yang khas milik Indras dengan tatapan. Seorang lagi. Ya, seorang lagi yang tertipu. Lima belas menit yang lalu, ketika Yaning memberikan surat ini padanya, gadis berambut panjang itu pun mengatakan hal yang serupa; tentang rindunya pada Leo. Padahal… ah, apakah aku punya rindu, Wirda menggumam dalam hati. Rindukah aku pada Leo? Dengan tak pernah menyempatkan diri untuk berlama-lama mengingat Leo, apakah aku masih punya rindu untuk cowok itu? Dengan tak pernah sedikit pun menantikan kepulangan Leo, rindukah aku pada cowok itu?

***

Gucci di pergelangannya diliriknya sekali lagi. Pukul 3.20, sore. Berarti dia sudah terlambat 20 menit. Wirda menarik ujung bibirnya sekilas. Apa reaksi Leo melihat keterlambatannya kali ini? Marah, atau tetap seperti yang sudah-sudah; tersenyum dengan kearifan yang mengagumkan?
Dirapikannya sekali lagi jambulnya yang sudah bertengger manis di ubun-ubunnya. Kemudian dengan langkah tenang, dia melangkah ke tempat Leo yang sedang duduk memunggunginya.
“Leo…,” panggilnya halus.
Cowok itu menoleh. Dan senyumnya yang tenang itu, dan matanya yang menyiratkan kearifan, membuat Wirda menahan napas untuk sedetik.
“Kau terlambat sekali, Wir,” dia menengok arlojinya. “Hampir setengah jam. Macet, ya?”
“Leo, aku….” Wirda menunduk. Tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Tak mungkin dia mengatakan bahwa dia sengaja datang terlambat. Tak mungkin dia mengatakan bahwa sebenarnya dia tak menghendaki adanya pertemuan seperti ini….
“Tidak apa.” Leo mengibaskan tangan, tersenyum tenang. “Aku tahu kau sibuk akhir-akhir ini. Iya, kan?” Lalu ditariknya sebuah kursi untuk Wirda.
Ah, seperti dulu-dulu, keluh Wirda. Seperti kemarin-kemarin, setiap kali dia membuat kesalahan, Leo senantiasa siap dengan selaksa pengertiannya. Harus bagaimana, Leo? Aku harus bagaimana agar kau sempat untuk kehilangan kesabaran? Aku ingin melihat setitik kekurangan dari sikapmu yang teramat sempurna di mataku selama ini. Aku ingin melihatnya, Leo; setitik saja, agar kecanggungan bisa kutepis. Agar aku punya sedikit keberanian… ah… untuk mengatakan bahwa selama ini cinta belum bisa kutumbuhkan di hatiku….
Ditatapnya cowok yang tengah menunduk itu. Dia tahu, kesalahan paling besar yang pernah ia lakukan dan tak habis ia sesali adalah ketika menerima pernyataan cinta Leo tanpa tahu apa dan bagaimana wujud perasaannya yang sebenarnya pada cowok manis itu. Semuanya terjadi demikian cepat rasanya dan berlangsung begitu saja. Dan dia seperti tersihir oleh mata yang dipenuhi gemerlap kilau cinta yang bertaburan di dalamnya. Dan tahu-tahu dia telah mengangguk, mengiyakan dan menerima tawaran Leo!
Baru kemudian setelah sederet malam Minggu terlewati, kesadaran tiba-tiba saja datang melecut; dia tidak mencintai Leo. Dia menyukai cowok itu, barangkali menyayangi, tetapi tak pernah berhasil mencintainya. Sampai sekarang. Padahal dia telah berusaha sebisanya.
Wirda mendesah lirih. Cinta, di manakah dirimu sebenarnya? Lelah sudah batinku menggapai bayangmu untuk kupersembahkan pada Leo, kau tak pernah juga bisa kuraih. Lalu, sampai kapan sandiwara yang tak pernah sengaja tercipta ini berakhir? Wirda mengeluh. Dia lelah, dan ingin semuanya berakhir. Dia ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Leo, tapi sebelum niat itu terlaksana ketakberdayaan sudah lebih dulu datang membungkamnya. Dia tak sanggup, selalu tak sanggup melihat mata hitam penuh cinta itu berlumuran luka.

***

Lalu hari-hari pun berlalu dengan kebersamaan yang penuh sandiwara. Nyaris tanpa kesan, tapi bagi Wirda, bukan tanpa arti. Ya, di lintas hari-harinya bersama Leo, di sela keterpurukannya ke sudut kebimbangan yang kian menyiksa, dicobanya untuk meraup keberanian dan menepis ketanpadayaan.
Dan pelan-pelan, kesadaran pun mengusik. Dia harus jujur, pada Leo, pada hatinya sendiri, dan pada semuanya. Agar semuanya tak lagi menjadi beban. Toh, kalau langit bisa jujur dengan keapaadaan warnanya pada semua yang dipayunginya, kenapa dia tidak?
Tetapi nyatanya? Ah. Wirda lupa, tak semua insan menginginkan kejujuran. Terkadang, karena kepahitan, mereka lebih menyukai bila kejujuran tak pernah terucap. Salah satu ego dari manusia? Entahlah. Yang jelas, hanya dalam tempo kurang sejam setelah Wirda melayangkan surat pernyataan tentang kejujuran hati itu pada Leo, mobil cowok itu telah mendecitkan bannya di halaman rumah Wirda.
Kerikil lepas dari kumpulannya, debu terusik dari ketermanguannya ketika cowok itu melompat turun. Dan… mata itu, mata hitam penuh cinta itu, benar-benar berlumurkan luka! Wirda bergidik di keterpakuannya.
“Apa maksudmu dengan lelucon yang tidak lucu seperti ini, Wir?” desah Leo berat. Dan luka makin menganga di hitam matanya. Wirda menunduk, tak sanggup menatap.
“Wir,” suara Leo lagi, “Katakan, ada apa sebenarnya. Aku menyakitimu? Aku berbuat salah padamu?”
Wirda menggeleng pelan, tak mampu berucap. Padahal, inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Tapi… mana keberanian itu? Mana? Ah. Disesalinya hatinya yang terlampau lemah. Disesalinya kodratnya sebagai wanita yang melulu menempatkan perasaan di letak paling atas. Disesalinya semuanya!
“Lalu kenapa?” Leo mengeluh. Diusapnya wajahnya dengan kedua telapak tangan. Diamatinya Wirda yang tetap saja menunduk di hadapannya. Hati-hati dia mengulurkan tangan.
“Aku mencintaimu, Wir,” ucapnya pelan. “Amat sangat.”
Wirda masih diam juga; menekuri lantai dengan hati kacau.
“Tatap aku, Wir,” pinta Leo. Disentuhnya dagu gadis itu. Tanpa daya, Wirda mendongak, mencoba menguatkan diri untuk menatap Leo. Dan di mata Leo, luka dan cinta yang pekat bergumul di sana. Oh! Tak tahan, Wirda merapatkan mata, tak sanggup menatap lama-lama. Dan dua butir air bening meluncur begitu saja di kedua pipinya.
“Aku mencintaimu, Wir,” ulang Leo lagi. “Aku tidak ingin kehilangan kamu. Kau tidak sungguh-sungguh dengan surat ini, bukan?” tanyanya seperti tuntutan. Dan Wirda tak punya pilihan lain selain menelan ketololan lagi; mengiyakan semuanya. Leo menarik napas.
“Aku mengerti, kau kecewa karena aku kurang memperhatikanmu akhir-akhir ini. Tetapi kamu harus tahu, semua ini kulakukan untuk kita. Setelah lolos UMPTN, aku tidak boleh bersikap santai lagi, bukan? Banyak yang harus aku selesaikan sebelum berangkat ke Makassar. Dan itu membutuhkan waktu dan perhatian yang tidak sedikit. Kau mengerti?”
Dan lagi-lagi tak ada jalan lain bagi Wirda kecuali mengangguk.
Kemudian, Leo pun berangkat ke Makassar, membawa cintanya, membawa keyakinannya bahwa Wirda pun melepasnya dengan segenap cinta di Watampone. Dan surat-suratnya pun mengalir bak air bah. Tak perhah henti. Hingga detik ini, surat terakhirnya yang kini berada di genggaman Wirda, yang mengabarkan tentang kepulangannya besok.
Wirda mendesah. Ditatapnya sekali lagi surat itu. Sepasang burung yang tadi asyik bercengkerama di udara kini entah ke mana. Hilang dari pandangan. Tetapi kegalauan yang menggerumit di hati Wirda tak hilang juga. Dilangkahkannya kaki dengan lesu, dan begitu tiba dimulut gerbang distopnya sebuah becak. Dia ingin tiba cepat-cepat di rumah, merendam kepalanya dalam bak selama mungkin – seperti kebiasaannya kalau sedang sumpek – kemudian tidur.

***

Gagang telepon itu tergenggam erat-erat di tangan Wirda yang bergetar. Lidahnya kelu begitu mendengar suara dari seberang. Suara Leo.
“Sedari tadi kau hanya diam saja, Wir,” sahut Leo ketika menyadari bahwa hanya dia yang selalu ngomong. Ada nada rindu di letup suaranya. Dan Wirda merasa kedinginan tiba-tiba. “Pangling ya, mendengar suaraku?” Leo tertawa. Wirda menggigit bibir.
“Ah, aku kangen, Wir,” kata Leo lagi. “Sungguh! Kau percaya itu, bukan?”
“Leo, aku…,” ucapan Wirda menggantung, disalib oleh suara sumringah dari seberang.
“Tunggulah. Lima belas menit lagi aku ke rumahmu. Jangan ke mana-mana, ya.” Dan suara telepon yang diletakkan kembali membuat Wirda lunglai seperti kehabisan tenaga. Dibarengi dengan keluhan panjang, dihenyakkannya tubuhnya ke kursi panjang. Oh, sandiwara sialan ini mesti terjalani lagi! Sampai kapan?
Dan derum mobil memasuki halaman membuat Wirda bangkit. Dengan gerakan malas ditariknya handel pintu, lalu dengan senyum yang dipaksakan dia menyambut Leo yang turun tergesa dari Pajero-nya. Lihatlah, dia tampak semakin jangkung dan… tampan! Aneh, mengapa aku tak pernah bisa mencintainya, keluh Wirda di hati. Disambutnya uluran tangan Leo.
“Aku kangen, Wir,” kalimat pertama yang diucpkan cowok itu, sambil meremas hangat jemari Wirda. “Kau tahu itu?”
Tanpa kata, Wirda mengangguk.
“Kau semakin pendiam,” Leo menggumam kemudian, pelan. Matanya mengamati Wirda. “Ada apa?”
Tak ada sahutan. Wirda menggigiti kukunya; cermin hatinya yang sedang resah.
“Atau, kamu tidak senang aku pulang, ya?”
“Tidak, bukan begitu,” sanggah Wirda cepat.
Leo tertawa. “Sudahlah. Kita keluar sekarang, bagaimana?”
Oh, inilah yang tidak diinginkan Wirda. Keluar bersama Leo, sementara hatinya tak sedikit pun bersamanya. Itu sebuah siksaan; menipu diri sendiri, dan menipu Leo.
“Bagaimana, Wir?”
Wirda mendesah pelan. “Maaf, Leo, tapi kali ini….”
“Kenapa, tidak bisa?” pintas leo cepat. Matanya mengarah tajam ke manik mata Wirda.
Pelan, Wirda mengangguk.
Leo tertegun sejenak. “Baiklah kalau begitu,” desahnya kemudian. Ada kekecewaan yang mewarnai kalimatnya. “Aku pulang dulu.” Dia bangkit. “Besok, kalau kau punya waktu, kita keluar, ya.” Matanya bersinar penuh harap.
Wirda mengangguk pelan. Bagaimana lagi? Dan ketika bayangan Leo menghilang bersama Pajero-nya, sederet perasaan bersalah tiba-tiba melingkari batinnya. Leo begitu tulus dengan cintanya, sementara dia? Ah.

***

Leo pulang dengan kecewa. Kursi rotan berderik ketika dia menjatuhkan tubuhnya ke situ. Kekecewaan bergumpal-gumpal di hatinya. Selama kepulangannya hanya sekali dia bertemu dengan Wirda. Selebihnya, jangankan sosoknya, baunya pun tak tercium. Hanya laporan: ‘Non Wirda sedang keluar, belajar di rumah temannya’ dari Bik Inah yang senantiasa menyambutnya.
“Temannya yang mana, Bik?”
“Ndak tahu tuh, Den. Non Wirda ndak bilang apa-apa.”
Pufh! Leo mengepal tinju dengan gusar. Ditatapnya foto Wirda di dinding kamarnya dengan pandangan nanar. Dia kesal, tapi tak mampu untuk marah. Tidak, gadis itu terlampau lembut untuk menerima damparatan. Dia mencintai gadis itu, amat mencintai!
Diusapnya wajah. Dicobanya untuk introspeksi diri. Siapa tahu dia pernah berbuat salah terhadap gadis itu. Tetapi setelah lama merenung, akhirnya dia mengeluh putus asa ketika tak juga berhasil menemukan sejumput kekhilafan yang pernah ia lakukan terhadap gadis itu. Lalu, kenapa sikap Wirda seperti itu? kenapa gadis itu seperti sengaja merentang jarak? Ada orang ketigakah, dan Wirda ingin memutuskan hubungan di antara mereka?
Putus! Leo terhenyak. Seperti sesuatu yang lama terbenam di dasar, tiba-tiba kesadaran muncul menyeruak. Dulu, lama berselang rasanya, menjelang keberangkatannya ke Makassar, Wirda pernah menawarkan kata yang sama. Putus!
Leo merasa gamang tiba-tiba. Baru disadarinya kini, masalah itu sebenarya belum tuntas. Tuhan! Apakah sikap menghindar gadis itu sekarang ada hubungannya dengan yang dulu?
Oh, rasanya tak sabar Leo untuk menemui gadis itu. Tetapi di mana? Sekonyong-konyong dia ingat Yaning. Ah, gadis itu pasti tahu kawan-kawan dekat Wirda. Dengan sigap diraihnya kunci kontak Pajero-nya, dan kemudian melesatkannya pergi.

***

“Heran deh, tak biasanya kamu begini, Wir,” cericau Yaning.
Wirda menoleh. “Kenapa?”
Yaning mengangka bahu. “Tiba-tiba rajin mengerjakan tugas, dan tiap hari ke sini….”
“Kamu tidak senang ya, aku datang ke rumahmu?” tanya Wirda memintas. “Sudah, aku pulang saja kalau begitu.”
“Eit!” Yaning melompat, menarik lengan Wirda. “Kau terlalu perasa akhir-akhir ini.” Dia tertawa. Wirda tersenyum.
“Aku ingin membenahi semua pelajaran, Ning. Ujian tinggal sebulan lagi, kan?” kilah Wirda.
Yaning mengangguk-angguk, meski tak sepenuhnya menerima dalih itu. Ada dugaan yang meluncas di hatinya. Tetapi tak berani untuk memastikan sendiri.
“Oya, apa kabar Leo?” tanyanya kemudia. “Sudah balik lagi ke Makassar?” sambungnya.
Dan Wirda tertegun. Ditatapnya Yaning dengan keresahan yang tak tersembunyikan. Ya, apa kabar Leo sekarang? Dia bingung, tak tahu mesti menjawab bagaimana. Tidak ada yang diketahuinya tentang Leo lagi, selain bahwa cowok itu setiap sore datang ke rumahnya. Dan… dan dia senantiasa menghindar; seperti yang ia lakukan sekarang….
“Wir…,” sentuh Yaning pelan. Wirda segera tersadar. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” lanjut Yaning lagi. Wirda menunduk.
“Dia masih di sini, kok,” jawabnya singkat. Dan tanpa kata, dibenahirnya buku-bukunya yang berserak. Yaning menatapnya dengan hati bertanya-tanya.
“Tapi kulihat Leo tak pernah bersamamu. Kenapa?”
“Tidak apa-apa,” Wirda menjawab pendek, tanpa menoleh, tetap sibuk mengemasi buku-bukunya.
Yaning menghela napas. Dari sikap Wirda, dia tahu gadis itu menyembunyikan sesuatu. Lembut, disentuhnya bahu gadis itu. “Kau mulai tak jujur, Wir,” katanya tanpa tekanan.
Wirda mendongak, menatap Yaning dengan mata resah.
“Aku sahabatmu kan, Wir. Katakan, kau menyembunyikan sesuatu tentang Leo, bukan? Dia menyakitimu?”
Wirda menunduk, menggeleng berkali-kali dengan gerak lambat. Leo menyakitinya? Laki-laki yang kebaikannya hampir mendekati titik kesempurnaan itu menyakitinya? Oh, tak akan pernah terjadi. Justru dia, dia yang menyia-nyiakan kebaikan cowok itu!
“Lalu kenapa?” desah Yaning bingung.
“Aku yang sengaja meghindarinya, Ning,” desis Wirda pelan.
Yaning mengerutkan kening.
“Jadi itu sebabnya setiap sore kau ke sini?”
Wirda mengangguk pelan. Kelu.
“Oh, Wir,” Yaning meremas bahunya, “Leo pasti tak akan memaafkan aku kalau dia tahu aku menyediaka tempat untuk menghindar buatmu,” sesalnya.
“Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain,” suara Wirda basah. Dan di matanya ada kabut tebal yang berangsur berubah menjadi gerimis kecil. “Aku tersiksa setiap kali mesti bertemu dengan Leo; menatap matanya yang penuh cinta. Aku tidak bisa!”
“Tapi kenapa?” tanya Yaning, tak habis pikir.
Wirda mendesah. Inikah saat untuk mengungkapkan segalanya? Setelah sekian lama berpura-pura dalam sandiwara yang tak pernah sengaja tercipta, setelah ratusan hari terlewati dengan hati terkemas rapi dalam kebimbangan. Inikah saatnya untuk mengakhiri semuanya?!
Dan memang itulah mestinya. Tersendat-sendat, Wirda menceritakan semuanya. Tentang ketololannya menerima cinta Leo tanpa mengkaji perasaannya sendiri, tentang pencarian dan pengejaran cinta yang meletihkan, kesia-siaan, kegoyahannya dalam bersikap dan tentang betapa dia ingin lepas dari belenggu ketanpadayaan….
“Aku tak menyangka hal ini.” Yaning merangkulnya begitu penuturannya selesai. Wirda terisak, tetapi ada kelegaan yang menyusup di sela-sela kisi hatinya.
“Aku tak tahu mesti berbuat apa lagi,” keluhnya. “Aku tahu, membiarkan segalanya berlarut-larut akan semakin memperparah keadaan. Tapi setiap kali kucoba untuk mengungkapkan segalanya pada Leo, ketakutan telal lebih dulu datang membungkamku. Aku tak sanggup melihatnya terluka. Dia begitu baik, begitu penuh pengertian dan pengertian… oh, aku tidak mungkin sanggup melihatnya kecewa….”
“Aku mengerti,” sahut Yaning pelan. “Tetapi sampai kapan kau akan membiarkan semuanya berlarut-larut? Diam tak selamanya merupakan jalan paling bijak, kau tahu itu. Jangan diam terus, Wir. Kau akan tersiksa, dan semakin menenggelamkan Leo ke dalam harapan-harapan kosong.”
“Tapi aku tidak bisa.” Wirda menunduk, mendekap wajahnya dengan kedua tangan. “Benar-benar tidak bisa!”
“Kau mesti bisa,” tekan Yaning. “Keterlibatanmu selama ini hanya karena ketakutanmu melihat Leo terluka, bukan? Percayalah, dia pasti menerima semuanya, sekalipun pahit. Dia bukan cowok kemarin sore, Wir. Dia pati bisa memahami semuanya dengan sikap dewasanya. Selama ini dia…,” kalimat Yaning menggantung. Di sana, di mulut pintu yang terbuka lebar, Leo tertegun dengan sorot mata aneh!
“Leo…!” desis Yaning hampir tak kedengaran. Dan Wirda terperangah. Keterkejutan yang memenuhi ruang dadanya seketika berganti dengan ketakutan yang amat sangat begitu mata Leo menghunjamnya. Dan luka itu, luka yang menganga lebar dan dalam, kembali ada! Tergambar jelas di mata hitam penuh kilau cinta itu. Lebih kelam dari yang dulu! Tuhan! Wirda mendesah, tetapi tetap tak sanggup bersuara. Dan sebelum keheningan berubah beku, Leo telah mencairkannya dengan berbalik tanpa kata, melangkah tergesa, melindas kerikil dengan suara berderak-derak.
“Leo,” Wirda memanggil dengan suara pelan. Tetapi Leo tak mendengarnya. Terus saja melangkah tergesa, membuka pintu mobil dengan kasar dan menutupnya dengan bantingan, lalu kemudian melesatkannya pergi.
“Dia pasti mendengar semuanya,” Wirda mengeluh. “Oh, dia pasti sangat kecewa.”
Yaning menghela napas pelan, mengelus bahu Wirda lembut.

***

“Jadi itu yang kau lakukan selama ini, Wir,” desah Leo pahit.
Wirda menunduk, menekuri lantai.
“Seharusnya kau tidak perlu menghindar,” sesal Leo. “Semua toh bisa diselesaikan dengan baik-baik, bukan?”
Kepala Wirda terangkat, mencoba memberanikan diri untuk menatap Leo.
“Aku mencintaimu, Wir.” Leo balas menatap. Ada gelepar luka yang bersemayam di sana, amat jelas! “Dan selama ini,” Leo melanjutkan lagi, “telah kuyakinkan dalam hati bahwa kau pun menyimpan cinta untukku, sebelum segalanya menjadi jelas bagiku. Kenapa, Wir, sekian lama kamu menyiksa batin hanya agar aku tidak kecewa. Padahal kau tahu, semuanya bisa terselesaikan dengan baik-baik, bukan?”
Oh, dengar, dengarlah katanya. Wirda menangis dalam hati. Dia begitu tulus begitu penuh pengertian. Tuhan, mengapa aku tak juga bisa mencintainya?
“Leo…,” bibir Wirda bergetar. “Semuanya ini salahku. Aku….”
“Jangan teruskan, Wir. Tak ada yang salah di antara kita.”
“Tetapi aku menyakitimu.”
“Dan cintaku telah menyiksa batinmu sekian lama, bukan? Aku tidak mungkin bisa tenang mencintaimu kalau aku tahu cintaku hanya membuat kau tersiksa. Kau mengerti?” Digenggamnya jemari Wirda. Gadis itu menunduk.
“Kukira semua sudah jelas.” Leo mengempaskan napas kuat-kuat. “Yah, mungkin kita memang harus berpisah. Supaya tak ada hati yang terluka lebih lama….”
“Leo!” Wirda menggigit bibir. Ditatapnya wajah cowok itu dengan mata membasah. “Ta-tapi… ki-kita tetap akan bersahabat, bukan?” tanyanya ragu.
Leo menunduk. Bersahabat? Bisakah itu? Mampukah dia mengubah cinta yang lama bersemayam di hatinya dengan sebentuk kasih tanpa nuansa? Ah, Leo ragu, tetapi….
“Aku akan berusaha, Wir, biar waktu yang akan….” Leo tersenyum paksa. Kalimatnya tak rampung. Ada nada getir yang terbias pada wajahnya yang mengeras. Sepasang matanya berkaca. Dia bangkit kemudian, menyentuh bahu Wirda lembut. “Aku pulang, Wir. Jaga dirimu baik-baik!”
Lalu, cowok itu pun berbalik. Hanya kalimat itu yang diucapkannya setanda pisah. Hanya itu! Tak ada kata perpisahan syahdu yang mengharu-biru. Tak ada apa-apa.
Di tempatnya, Wirda tergugu. Dipejamkannya mata, tak sanggup menatap langkah gontai milik Leo yang pernah dikaribi. Dan ketika sosok itu lenyap bersama Pajero-nya, seperti ada yang lepas dan hilang, raib mendadak di ruang hatinya. Ah! Cinta kadang memang sangat menyakitkan!

Cerpen Reni Erina

August 8, 2009 at 9:10 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

reni“KE RUMAHKU, yuk! Kita bikin pe-er bareng-bareng!”
“Tapi aku harus pulang dulu. Kalo nggak pamit sama Mama, uh, bisa-bisa kupingku bengkak tujuh hari!”
Imel terkikik. “Ya, sudah. Aku tunggu di rumah sore nanti, ya?”
“Hai, semua!”
Imel dan Rista kontan menoleh ke arah sumber suara yang amat mereka kenal. Tak jauh dari tempat mereka, nampak senyum Bastian mekar menghampiri kumpulan teman-temannya. Beberapa detik kumpulan itu bertambah riuh dengan derai canda. Apalagi Bastian memang terkenal dengan gaya humornya. Konyol tapi simpatik. Dan dua gadis itu saling lirik menyembunyikan kekagumannya diam-diam.
“Yuk. Bisnya datang, tuh.”
Keduanya melompat naik. Tapi diam-diam sudut mata keduanya masih sempat mencuri pandang ke arah kumpulan itu.

***

“Uaaahhh! Akhirnya…!”
Rista meregangkan kedua tangannya ke atas sambil menguap kecil. Lalu berbaring di karpet lembut.
“Lega kan, kalo pe-er sudah kelar? Nah, sekarang enaknya kita ngapain, ya?” Imel menutup bukunya. Dinyalakannya disc-player. “Mau tambah minum lagi?”
Rista mengangguk. Membiarkan Imel beranjak keluar kamar, sementara dia asyik memeluk Teddy Bear. Tembang-tembang lembut itu malah membuai rasa kantuknya.
“Ini dia! Sekalian aku bawa botol jusnya biar kamu bisa nambah sepuasnya, tanpa aku harus repot bolak balik. Dan ini ada banyak cemilan kesukaan kamu.”
“Dari tadi, kek!” Dengan antusias Rista mencomot biskuit coklat yang kalengnya masih dalam dekapan Imel. Imel sampai melotot gemas.
“Kalo ngerjain pe-er sambil ngemil, nggak bakalan beres. Apalagi kamu! Eh, tahu Tutu kelas sebelah kan? Lihat perubahan badannya, nggak?”
“Tutu? Nah, itu dia yang aku heran. Dia kok sekarang langsing, ya? Diet?”
“Tauk! Tapi dia jadi kelihatan cantik, ya?”
“He-eh, sih. Pasti Heru si Mata Keranjang itu termasuk salah satu yang kecantol.”
Imel terkikik. “Kok, Heru? Kenapa juga nggak kamu sebutin Si Roy, Agus, Kim, atau Bastian?”
“Soalnya Heru itu nggak bisa lihat jidat bagus sedikit. Tapi kalo cowok model si… Roy, atau… Bastian….” Rista menelan ludah saat menyebut nama terakhir itu. “Mereka bukan tipe seperti itu. Tahu sendiri kan, berapa banyak cewek cakep di sekolah kita yang histeris banget ngejar-ngejar mereka? Toh, mereka nggak peduli! Apalagi kalo cuma Si Tutu!”
“Kamu kepingin nggak jadi cewek tercantik di sekolah?”
“Maksudnya?” Rista mencomot biskuit coklat kedua.
“Supaya kamu bisa jadi idola.”
Rista nyengir. Menjawil pipi Imel gemas.
“Bodoh amat sih, kalo aku nggak punya impian seperti itu. Dengan menjadi cewek tercantik, rasanya aku akan mudah mendapatkan cowok mana pun yang aku suka.”
“Tapi cantik saja belum cukup ya, Ris?”
“Ya. Benar juga,” Rista menarik napas. Dia jadi kurang semangat mengunyah biskuitnya. Bayang Bastian menari-nari.
“Abangku, Reinhard, pernah bilang, yang menarik dari cewek adalah kepribadian yang baik dan tutur kata yang manis. Kecantikan fisik memang daya tarik pertama. Tapi bukan yang utama dan terpenting.”
“Kepribadian yang baik itu yang kayak apa, sih?”
“Yaaaang…,” Imel mulai usil. “Yang nggak doyan ngemil kayak kamu!”
Rista nyengir. Menyambit Imel dengan Teddy Bear. Tapi meleset. Teddy Bear itu melayang ke arah meja sudut dekat ranjang. Untungnya Imel cepat menangkapnya. Sebelum Teddy Bear itu memporak-porandakan yang ada di atas meja sudut.
“Hei, awas! Nanti kena gelas kristalku!”
“Oups! Sori, Mel. Eh, tapi… gelas kristal?” Dengan dahi berkerut bola mata Rista berpindah ke arah meja sudut. “Kenapa pindah ke situ, Mel? Biasanya gelas kristal itu kan kamu pajang di lemari kaca? Dengan meletakkannya di atas meja itu, resiko pecahnya besar, Mel!”
“Tak akan pecah kalo tidak ada yang melempar Teddy Bear-ku seperti tadi.” Imel mendelik lucu. “Cuma ganti suasana saja kok, Ris. Tapi jadi cantik kan di meja itu?”
“Hei!” Rista tiba-tiba mendekati meja sudut dan menyentuh bibir gelas kristal itu dengan ujung jarinya hati-hati. Gelas itu berisi air putih.
“Jangan disentuh!” Imel melesat, menarik tangan Rista dengan gemas.
Rista meringis. Kedua alisnya terangkat tinggi.
“Sejak kapan kamu minum di gelas kristal? Hihihi, pingin seperti Putri Cinderella, ya? Pesta dansa dengan anggur dalam gelas kristal? Tapi itu kok, bukan anggur?”
“Ngaco! Siapa yang mimpi jadi Cinderella? Sini! Aku ceritakan sesuatu.” Imel menarik Rista ke bibir ranjang. Dipandanginya sahabatnya itu dengan raut ragu. “Janji jangan menertawakan aku?”
“Oke.” Rista memasang wajah serius. Tapi detik berikutnya dia malah terbahak.
“Kenapa?”
“Daripada tertawanya nanti dan kamu tersinggung, sebaiknya tertawa sekarang.”
“Ah, sinting! Kamu percaya pada sesuatu yang bersifat….” Imel mengedikkan bahu. Dia bingung dan belum menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan kalimat supranatural yang dimaksud. “Bersifat….”
“Mistik? Dongeng? Tahayul? Apa, dong?”
“Entahlah! Tapi minggu lalu nenekku kedatangan kawan lamanya. Kawan nenekku itu menyarankan agar aku selalu menyediakan segelas air putih dalam gelas kristal tiap malam sebelum aku tidur, sambil berdoa dan memohon apa pun keinginanku.”
“Teruuus…?”
“Bila aku bermimpi tentang sesuatu yang berhubungan dengan doa dan permohonanku itu, maka begitu terbangun, aku harus meminum air itu sampai habis.”
“Maksudnya, biar mimpi itu jadi kenyataan?”
Imel mengangguk. Tapi Rista malah ngakak.
“Gimana hasilnya?”
“Aku baru melaksanakan anjuran itu tiga hari ini. Selama tiga hari ini, aku belum bermimpi apa pun. Apalagi yang berhubungan dengan doa dan permohonanku.”
“Terus, air putih ini?”
“Kawan nenekku itu bilang, jangan diminum sebelum aku bermimpi apa pun.”
“Jadi, umur air ini sudah tiga hari?”
“Ya. Tapi air nggak kenal basi. Apalagi kalau nggak ada kamu di sini, kamarku ini steril, lho? Anti-kuman.”
Rista kembali ke karpet. Menuangkan jus dalam gelas dan meneguknya.
“Sebenarnya, kalo boleh aku tahu apa sih permohonan kamu?”
Imel meringis. Dia menggeleng. “Tak akan aku sebutkan!”
“Tapi salah satunya pingin jadi cewek tercantik, kan?”
“Hm… nggak juga!”
Imel nyengir. Hatinya mendadak bermekaran. Tak akan dia sebutkan bahwa salah satunya adalah berharap Bastian punya sedikit perhatian untuknya! Sayangnya, dia tak pernah bermimpi tentang yang satu itu. Hati Imel mendadak luluh. Diliriknya gelas kristalnya.
“Resep itu boleh juga kamu coba, Ris.”
“Tak akan! Kayak anak kecil. Percaya sama tahayul macam itu. Sekarang bukan zaman dukun-dukunan lagi, Non! Sudah, ah. Aku pulang dulu. Trims ya, jangan lupa baca mantera sebelum tidur. Dan siapkan juga bola kacanya, ya? Hihihi….”

***

Malamnya, di kamarnya, Rista malah terbengong-bengong. Segelas air putih dalam gelas kristal? Meminumnya kalau kita bermimpi tentang permohonan kita? Hih, aneh! Bola mata Rista menyapu langit-langit kamar. Seandainya aku mempercayai ‘tradisi’ itu, kira-kira permohonan apa yang akan aku minta sebelum tidur itu, ya? Minta supaya aku jadi juara kelas? Atau minta supaya Bastian jadi pacarku? Atau….
Rista senyum-senyum sendiri. Kok jadi ketularan sintingnya Imel, ya?! Minta supaya Bastian jadi pacarku, mungkin terlalu jauh. Tapi paling tidak Bastian punya sedikit perhatian padaku. Mau menyapaku, atau mau mengajakku ngobrol di kantin. Aha! Rasanya boleh juga dicoba.
Tergesa Rista bangkit. Dia menuju ke ruang tengah. Kebetulan Mama punya satu set gelas kristal kiriman Om Yon dari Hongkong. Mama tentu tak akan kehilangan jika dia mengambilnya satu.
Setelah diisi dengan air putih dari dispenser, dibawanya gelas itu ke kamar. Diletakkan di sisi tempat tidur. Rista mulai menarik selimutnya. Jam sepuluh saat dia melirik weker. Dipanjatkannya sejuta permohonan tentang Bastian dengan tangan dilipat di dada dan mata memejam. Semoga saja malam ini dia benar-benar memimpikan Bastian. Tapi Imel tidak boleh tahu hal ini! Oh, Bastian! Cowok paling keren, paling simpatik, dan paling lucu! Apa lagi kalau sedang menggiring bola basket di lapangan. Apa lagi kalau sedang berkutat dengan buku-buku di perpustakaan. Apa lagi kalau sedang tertawa dan bercanda bersama teman-temannya. Apa lagi kalau….
Rista terlelap. Dengan sejuta angan tentang Bastian dibawanya dalam tidur.

***

Pagi saat Imel menjejakkan kaki di halaman sekolah, hatinya demikian kacau. Bahagia, resah, ragu, berbaur satu. Semalam, untuk yang pertama kalinya sejak dia menerapkan anjuran kawan neneknya tentang air putih dalam gelas kristal tiga hari yang lalu itu, dia bermimpi. Ini adalah mimpi yang terindah yang selama ini dia panjatkan. Bastian datang dan memberi bunga. Waw! Dan bunga itu dipersembahkan Bastian di halaman samping sekolah! Waktu pagi tadi dia terbangun, segera saja air putih dalam gelas kristal di meja sudut itu diteguknya sampai habis!
Lalu apa yang akan terjadi hari ini, ya? Imel melangkah dengan keresahan yang setengah mati dia sembunyikan. Semoga mimpi itu jadi kenyataan, Tuhan!
Sampai di kelas ternyata sudah ada Rista. Duduk bertopang dagu dengan mata menerawang.
“Ngelamuni siapa?”
Olala, Rista nyaris terlompat kaget. Dia melotot kesal. Lamunannya tentang mimpi semalam buyar. Imel pengacau! Tak tahukah anak ini bahwa mimpi indah semalam itu akan terus dia kenang? Heh, hebat juga. Sekali dia berdoa sebelum tidur, malamnya Bastian datang dalam mimpi. Mendekatinya dan mengajaknya minum di kantin. Begitu dia terbangun pagi tadi, air putih dalam gelas kristal itu diteguknya sampai habis. Semoga menjadi kenyataan. Tapi si Pengacau ini datang mengganggu lamunannya. Huh!
“Tumben pagi sekali kamu datang?”
“Biar nggak kena macet.”
“Ke kantin, yuk!”
Rista menahan napas. Ke kantin? Bagaimana kalau bertemu Bastian? Jangan-jangan cowok itu urung mengajaknya minum karena ada Imel? Biasanya, di kencan pertama, cowok akan merasa risih bila ada orang ketiga.
“Nanti saja!”
“Aku mau beli permen, nih. Yuk, sebelum bel.”
Rista ragu-ragu mengikuti langkah Imel. Bola matanya mencari-cari sepanjang langkah mereka menuju kantin dimana si Keren Bastian? Oups! Itu dia! Bersandar di dekat pintu kantin. Sendirian. Mungkinkah Bastian menunggunya? Rista serba salah. Ditariknya tangan Imel
“Nggak usah ke kantin, deh!”
Imel bingung. Kenapa juga Si Rista ini! Dan Imel mendadak panik saat menangkap bayang Bastian yang beranjak menuju halaman samping. Mimpi itu! Oh, mungkinkah? Imel menarik tangannya dari cengkeraman Rista.
“Aku ada perlu sebentar!”
“Ke mana?”
“Ke kelasnya Tutu. Kamu tunggu saja di kelas.”
Imel ngibrit meninggalkan Rista yang manyun-manyun karena kesal.
Tiba di halaman samping, Imel melihat Bastian duduk sendirian di bangku taman. Dia pura-pura berjalan menuju perpustakaan. Inikah saatnya, Tuhan?! Ah, semoga Bastian memanggilnya dan….
“Mel!”
Jantung Imel hampir copot. Tapi suara itu bukan suara Bastian. Tapi Dodo! Hah, pengacau!
“Ada waktu?” Dodo tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Untuk?”
Dodo menarik sikutnya agak ke tepi.
“Ulangtahunmu dua minggu lalu, sebenarnya aku mau memberikan sesuatu untukmu. Tapi aku ragu. Dan kupikir, mungkin sekarang waktu yang tepat.”
Imel ternganga saat Dodo mengulurkan tiga tangkai bunga mawar plastik mungil yang terbungkus dalam bentuk buket. Cantik sekali.
“Aku senang kalau kamu mau menerimanya. Kutelepon malam nanti, ya?”
“Tapi….”
Dodo sudah kabur. Imel tertegun di tempatnya. Dodo? Diliriknya Bastian yang masih duduk sendirian entah menunggu siapa. Hah, kenapa Dodo? Rasanya semalam yang dia sebutkan dalam doa adalah Bastian.
Hati Imel nelangsa. Apa lagi saat dirasakannya Bastian sama sekali tidak memperhatikan keberadaannya di situ. Cowok itu malah asyik membuka-buka catatannya.

***

Saat bel pulang berdering, Rista begitu antusias mengemasi buku-bukunya. Berbeda dengan Imel yang nampak lesu.
“Ada apa sih, Mel? Dari tadi cemberuuut saja. Ngomong, dong! Aku kan bingung?”
Imel menggeleng. “Cuma lagi malas saja bawaannya.”
“Benar? Nggak ada apa-apa?”
“Ya. Aku mau ke perpustakaan sebentar, mengembalikan buku.”
“Kalau begitu, aku tunggu di kantin ya?”
“Oke.”
Rista lega. Barangkali inilah kesempatannya. Bukankah setiap bel pulang dia sering melihat Bastian menuju kantin?
Di kantin Rista duduk memesan es jeruk. Dadanya berdebar resah. Terutama saat melihat Bastian masuk ke kantin. Tapi cowok itu bersama teman-temannya. Doa Rista bertebaran di hati. Semoga mimpi itu menjadi kenyataan.
“Hai? Sendirian?”
Duh! Rista mengumpat dalam hati. Kenapa si Mata Keranjang Heru yang mengambil tempat di depannya?
“Boleh aku traktir minumnya?”
“Terima kasih, tapi aku sudah bayar kok.”
“Mana Imel? Nggak bareng dia?”
“Di perpustakaan.” Rista mengaduk-aduk es jeruknya dengan hati tak karuan. Cepatlah pergi, Mata Keranjang, karena tempat itu untuk Bastian!
“Kalau lain kali aku mengajakmu keluar, mau?”
“Terima kasih!” Rista mulai memasang wajah tak suka. Dan hatinya perlahan luluh lantak saat dilihatnya Bastian dan teman-temannya meninggalkan kantin. Oh, mimpi itu!
Untung saja Imel segera muncul sebelum Heru bertambah menjengkelkan. Cowok itu beranjak saat Imel memintanya pergi dengan halus.
“Ternyata asyik berduaan, ya?” ledek Imel.
Rista cemberut. “Ini hari yang menyebalkan!” rungutnya. Tapi jauh di dasar hatinya dia masih berharap mimpi itu akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.
“Aku juga merasakan hal yang sama. Menjengkelkan! Lihat!” Imel mengeluarkan bunga mawar plastik dari tasnya.
“Waw, cantiknya!” Rista mengelus bunga itu. “Dari siapa? Harusnya kamu bahagia, dong?”
“Ya, kalau saja yang memberikannya bukan Dodo!”
“Hah? Dodo?” Riska cekikikan.
“Diam! Ayo kita pulang!”
Di dalam bis, Rista masih cekikikan meledek Imel.
“Seandainya bukan Dodo yang memberi bunga itu?” gumam Rista.
“Siapa misalnya?” tanya Imel dalam nada malas.
Rista mengedikkan bahu. “Entahlah. Mungkin seseorang yang kamu harapkan.”
“Akan menjadi lain!” Imel tersenyum kecut. “Tadi pagi aku bahagia sekali. Seperti yang kusebutkan dalam doa dan permohonan, aku memimpikan seseorang memberiku seikat bunga. Seseorang yang membuatku simpatik selama ini. Air putih dalam gelas kristal itu langsung aku teguk. Tapi ternyata….”
“Boleh aku tahu, siapa?”
Imel menatap Rista ragu. “Bastian!”
Tenggorokan Rista tersekat. Jadi selama ini permohonan mimpi mereka sama? Tentang Bastian? Haruskah dia menceritakan juga mimpinya semalam dan ‘resep’ air putih dalam gelas kristal yang diconteknya dari Imel?! O, tidak! Dia tidak mau Imel menertawakannya!

Cerpen Pangerang Em

August 8, 2009 at 8:52 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

pangerangSAYA benar-benar terpana begitu melihat wajah yang ada di depan saya. Jadi seperti inilah sosok Bang Beng?
Uih, sederet makhluk keren pujaan warga dunia sebangsa Tom Cruise, atau Justin Timberlake, ataukah si Keanu Reeves, ternyata poinnya jauh di bawah Bang Beng. Akan ada saja ketidaksempurnaannya. Kalau tidak pada rambutnya yang kepirangan, kulitnya yang kebulean, atau matanya yang kelewat hijau sampai kayak orang rabun. Tapi yang namanya Bang Beng… waw, sudah rambutnya ikal legam, matanya hitam kelam, alisnya yang nyaris bertaut… benar-benar makhluk sempurna!
“Hai.” Dia mengangkat tangannya. “Kamu pasti Ena.”
Nah, dia tahu nama saya!
Nyaris saja saya melonjak kalau tidak cepat menyadari kalau kali ini kami bersua. Kalau saya jadi melonjak-lonjak kegirangan plus kege-eran, seperti apa kesan dia pada saya nanti?
Padahal orang bilang, kesan di awal perjumpaan itu sangat berarti!
“Kok tahu, sih?” Saya justru tersipu.
“Tentu, dong. Habis, kamu mirip betul dengan kakak kamu. Mudah-mudahan kamu bukan kloningnya dia.”
Saya tertawa mendengar gurauannya.
“Oh ya, Ella ada, kan?”
Tawa saya terpotong. Tersadar bahwa kedatangannya kemari adalah untuk kakak saya, bukan untuk saya. Ah, kenapa tadi saya begitu bersemangat? Sampai begitu bel ber-‘ning-nong’, dan menduga yang datang itu adalah orang yang bernama Bang Beng, saya yang justru menyerbu membuka pintu depan?
“Lho, ditanya kok malah bingung? Hoi, hoi!” Bang Beng menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan mata saya.
Harusnya saya tertawa oleh ulahnya itu. Tapi, entah kenapa, saya malah menanggapinya dengan acuh tak acuh.
“Kak Ella masih dandan, tuh. Di kamar,” sahut saya kemudian.
“Nah, sekarang kamu boleh laporan sama dia, bahwa Bang Beng yang ditunggunya telah mendarat dengan selamat. Oke?
Ooh, Mama, jadi dia datang memang bukan untuk saya? Dengar, dia malah mengusir saya dari hadapannya!

***

Saya sedang tidur-tidur ayam ketika Kak Ella muncul di sisi saya. Dia pasti setengah melompat, sampai sofa yang saya terlentangi berkeriut. Tentu dia sangat senang. Gembira sekali!
“Apaaaa….”
“Naaaah, bagaimana tanggapanmu tentang dia?”
“Apa…?”
Kak Ella manyun. Dia mematikan suara Toni Braxton dari stereo-set, lalu memekik. “Dia. Bang, Beng! Ganteng, kan?!”
“Uh, nenek-nenek pikun juga tahu dia itu ganteng.”
“Aih, sip. Berarti saya nggak asal comot.”
“Tapi….”
“Heh, tapi apa lagi? Kurang tinggi? Aduh, dia itu satu tujuh lima, lho. Untuk ukuran Indonesia dia itu sudah tinggi.”
Kembali sofa berkeriut. Kali ini saya yang menggelinjang.
“Kalau soal tingginya sih, tinggi banget malah. Apalagi kalau untuk saya.” Sejenak saya tertegun oleh kata-kata saya barusan. Kok untuk saya?!
“Lalu, apanya yang tapi?”
“Dia…,” lagi-lagi saya tertegun, “dia kelihatannya baik. Maksud saya, saya menangkap kesan dia itu orang yang sangat baik.”
Kak Ella ngakak-ngakak. “Itu sih bukan tapi,” serunya di sela ngakaknya. “Itu namanya nilai tambah.”
“Nah, karena itu dia nggak pantas diplonco lagi.”
Ngakak Kak Ella langsung padam. “Heh, sekali ini nggak lagi, deh.” Dia memencet hidung saya. Untung tidak berbunyi ‘tut’ kayak klakson. Lalu lanjutnya, “Jangan kuatir, sekali ini saya serius banget. Bersungguh-sungguh!”
Justru pengakuan Kak Ella barusan malah membuat saya berkecil hati.

***

Saya selalu teringat bagaimana Kak Ella memakai kata ‘plonco’ untuk cowok-cowok yang dipermainkannya.
Ketika Kak Taufik tidak lagi muncul-muncul di rumah ini, kala ditanya enteng saja Kak Ella menjawab, “Ah, Taufik itu kan cuma saya plonco saja.”
Heh, padahal sebelumnya, Kak Taufik itu rajin banget mengunjungi Kak Ella. Lalu Kak Anang yang rajin mengantarnya pulang kuliah, dan kini tidak pernah lagi kelihatan, Kak Ella juga bilang Anang itu cuma diplonco saja. Kemudian Kak Enal katanya juga diplonco, sampai tidak lagi nongol-nongol. Yang membuat saya kadang-kadang ikut sedih karena Kak Almy, yang seisi rumah tahu kalau mereka itu pacaran sejak kecil di kelas dua SMA, eh dianggap pula Kak Ella cuma dia plonco. Jadi, Kak Almy itu diplonco oleh Kak Ella sampai lebih tiga tahun?!
Dasar Kak Ella!
Bahkan, kalau saya mau repot-repot mengingat-ngingat yang lain, daftar cowok yang telah diploncoi oleh Kak Ella bakal bertambah panjang lagi. Sampai ke nama Bang Beng….
Suatu hari, sepulang kuliah, Kak Ella nyelonong ke kamar saya. Ditepuknya pundak saya, lalu seperti kebiasaanya selama ini tidak lupa dia pun memencet hidung saya.
“Kamu mau dengar cerita tentang Bang Beng?” ujarnya.
“Bang Beng?” Kening saya terlipat. “Ehm, nama cemilan itu, kan?”
“Uh, asal kamu, ya? Bang Beng itu adalah makhluk paling keren di Fakultas Ekonomi, you know? And, siap-siap saja dengar cerita bagaimana kakakmu ini menaklukkan makhluk super-tampan itu!”
Saya langsung melengos. “Memangnya banteng, sampai perlu ditaklukkan segala!”
“Eh, kamu bisa saja protes begitu karena kamu belum pernah merasakannya.”
“Merasakan apa?” Rasaingin tahu saya muncul. “Merasakan bagaimana asyiknya menaklukkan cowok.” Bibir Kak Ella sampai meor-meor bercerita. Saking asyiknya, barangkali. “Ada seninya, deh.”
“Ujung-ujungnya paling untuk dibuat plonco lagi.”
Kak Ella cuma tertawa menanggapi.
Dan itulah pertama kali saya mendengar nama Bang Beng beredar di rumah ini.
Selanjutnya, hampir setiap pulang kuliah ada saja cerita Kak Ella tentang Bang Beng. Karena keseringannya sampai saya menduga Kak Ella benar-benar jatuh hati pada nama itu. Jatuh cinta beneran!
Yang membuat saya ikut menaruh perhatian dibanding ‘cowok-cowok plonco’ Kak Ella sebelumnya, karena menurut cerita Kak Ella, Bang Beng itu suka juga menanyakan situasi keluarga kami. Eh, apakah itu berarti Bang Beng juga benar-benar jatuh hati pada Kak Ella, alias juga jatuh cinta beneran? Kalau begitu, mereka memang sudah klop!
Lalu tibalah pada hari yang tidak pernah saya duga ini. Bang Beng menelepon. Karena Kak Ella sedang keluar, maka saya yang menerima teleponnya. Ah, ngobrol dengan Bang Beng ternyata sangat menyenangkan.
Berawal dari situ, saya kemudian jadi ikut senang bila telepon dari Bang Beng berdering. Apalagi kalau Kak Ella pas tidak ada, maka yang menerima telepon pastilah saya. Rasa senang saya jadi berlipat-lipat tatkala pada percakapan via telepon yang keempat, Bang Beng menyatakan akan berkunjung ke rumah kami. Saat dia menyatakan begitu, rasanya saya mau melonjak-lonjak kegirangan.
Itulah kenapa saya begitu bersemangat ketika Bang Beng benar-benar datang. Sampai begitu bel ber-‘ning-nong’, saya menyerbu membuka pintu depan. Padahal, ah, dia datang ternyata bukan untuk saya, tapi untuk Kak Ella.
Saya mesti mengakui bila sesuatu telah terjadi pada diri saya. Suatu keanehan!
Entah kenapa, saya malah merasa gelisah melihat Kak Ella kian akrab dengan Bang Beng. Uh, bukankah saya seharusnya ikut senang? Bahwa Kak Ella benar-benar menepati janjinya, untuk tidak menjadikan Bang Beng sebagai cowok ploncoannya lagi?
Di kala termenung-menung sendiri, memang saya langsung menyadari bahwa perasaan saya itu salah. Tidak pada tempatnya. Tapi anehnya, di kala keakraban mereka terlihat lagi di depan mata saya, perasaan aneh itu datang lagi. Sepertinya saya tidak memiliki kemampuan untuk membendungnya.
“Itu tandanya kamu cemburu,” pendapat Utari, ketika saya menceritakannya.
“Ah, kamu,” elak saya. “Masak sih, saya mesti mencemburui kakak sendiri?”
“Lho, cemburu itu nggak mengenal saudara, En. Namanya juga cinta itu buta. Jadi, mana bisa membedakan antara yang saudara dengan yang bukan?”
“Aih, kamu kok ngomong soal cinta, sih?” Saya rasakan paras saya memanas. “Siapa yang cinta?”
“Datangnya cinta itu memang terkadang nggak kita sadari, kok. Tiba-tiba saja dia nongol, wusss, tahu-tahu sudah tembus ke dalam jantung. Deg! Gitu aja, tanpa kita sadari.”
“Wuuu, kamu. Kecil-kecil sudah jadi pakar cinta. Kalau kelak sudah masuk SMA, wah kamu bakal jadi apa lagi, ya?”
Utari tertawa. “Mungkin saya sudah jadi pakar di bidang tragedi rumah tangga.”
Ketika saling ngeledek dengan Utari itu, sama sekali tidak pernah terbayang bila ledekannya itu kelak akan menjadi kenyataan. Ah, jatuh cinta pada Bang Beng? Mana mungkin?!
Saya terpana. Takjub campur kaget. Kok Bang Beng ngomong begitu? Mana mungkin….
“Dalam hal seperti ini, nggak ada yang nggak mungkin, En. Kalau kita mau, kenapa nggak mungkin?”
“Maksud Bang Beng….”
“Yap. Kalau kita memang merasa saling menyukai, kenapa pula nggak mungkin untuk saling jatuh cinta?”
Di atas kepala kami, bentang langit begitu cerah. Geriap angin sore pun terasa begitu bersahabat di kulit. Tapi… entahlah, apakah saya sedang menikmati semua itu atau justru sedang sibuk mengurai benang kusut di dalam pikiran saya. Rasanya campur-aduk!
Ini semua berawal dari terlambatnya Kak Ella pulang dari rumah teman fitnesnya, hingga ketika Bang Beng muncul di rumah, sayalah yang menemaninya ngobrol. Sampai kemudian dia mengajak saya jalan-jalan.
Awalnya sih saya menganggapnya biasa saja. Letup-letup aneh yang muncul kemudian di dalam hati saya berupaya saya redam sendiri. Selesai melongok counter-counter di mal, mampir di pojok Texas Fried Chicken, lalu menyusuri trotoar, masih saja letup perasaan saya tersimpan dengan rapi. Saya menjaganya dengan baik.
Sampai kemudian Bang Beng melontarkan kalimat tadi.
“Kok kamu malah jadi murung begitu?” Bang Beng kembali mengagetkan saya. “Ah, ayolah, saya nggak ingin mendengar kamu bilang nggak suka sama saya.”
Dari samping, saya menatap matanya. Entah kekuatan dari mana yang membuat saya seperti itu. Padahal, hanya Tuhan yang tahu, betapa bergetarnya badan saya.
“Memang bukan itu, Bang Beng,” sahut saya akhirnya.
“Nah.” Jemari Bang Beng terdecak. “Lalu, apa lagi?”
“Sepertinya Bang Beng lupa bagaimana Kak Ella….”
Kalimat saya terpotong oleh tawanya. “Jadi, kamu menyangka kami ada hubungan khusus, begitu?” ujarnya di sela tawa.
“Ah, setahu saya Bang Beng dengan Kak Ella malah pacaran.”
Bang Beng semakin tertawa. Bahkan tawanya kali ini lebih nyaring dan lebih panjang. Sampai kemudian dia menyahut, “Uh, sudahlah. Mari kita pulang.”
Di dalam perjalanan pulang, saya sibuk dengan rangkaian pikiran saya sendiri.

***

Saya kemudian jadi kelimpungan sendiri. Inilah akibat dari penyataan Bang Beng hari itu, ketika dia mengajak saya jalan-jalan. Uh, apakah tidak sebaiknya saya menceritakannya saja pada Kak Ella? Apa tanggapan Kak Ella nanti? Bakalan mengamuk di depan Bang Beng? Atau, uh, tidak perlu saya ngomong apa-apa pada Kak Ella? Biarlah ini menjadi rahasia saya dengan Bang Beng? Supaya… aduh, apakah bukan ini yang dinamakan selingkuh? Nyeleweng dari Kakak sendiri?
Setelah jemu membolak-balik badan di tempat tidur, hampir setengah jam kemudian, barulah saya memutuskan untuk bicara saja dengan Kak Ella. Setelah itu terserah tanggapan Kak Ella nanti. Siapa tahu dia malah tertawa. Siapa tahu dia pun menganggap Bang Beng sama saja dengan cowok-cowoknya terdahulu, sebagai cowok plonco doang.
“Hah, Kak Ella….” Di depan kamarnya saya malah nyaris pingsan berdiri. Apa yang tengah diperbuat Kak Ella ini?
“Kaget?” Kak Ella nyengir, sampai wajahnya tambah menyeramkan. “Ini namanya masker, En. Memang belum perhah lihat teman-teman kamu pakai beginian kalau dandan?”
Saya mengurut dada. Idih, jangankan teman-teman SMP saya yang masih culun-culun itu, seingat saya Mama saja tidak pernah saya lihat pakai ‘topeng monster’ beginian.
“Kirain mau main topeng monyet.”
“Uh, kamu.” Wajah Kak Ella balik lagi ke cermin di depannya. Dia kembali mematut-matut wajahnya.
“Untuk apa, sih?” selidik saya seraya duduk di tepi tempat tidurnya.
“Mau tahu aja kamu. Cowok aja belum punya.”
Saya meringis, tapi tentu saja tanpa sepengetahuan Kak Ella. ‘Cowok aja belum punya?’. Uh, kalau saya mau, Bang Beng itu sudah jadi cowok saya! rutuk saya dalam hati.
“Heh, kenapa malah melongo begitu?”
Ketahuan sedang memikirkan Bang Beng, saya jadi gelagapan juga. Buru-buru saya menetralkan pikiran saya kembali.
“Nggak usah kamu heran-heran begitu, ah. Nanti, kalau Bang Beng yang datang, nah, harusnya dia yang heran melihat kekasih tersayangnya kian cantik. Begittcchuu.”
Rasanya seperti ada sengatan listrik yang mengaliri tubuh saya.
“Heh, malah makin heran. Belum tahu dia!”
Harusnya saya tertawa melihat gaya Kak Ella yang lucu. Tapi, yang dikatakannya tadi justru lebih menyita benak saya.
“Jadi… jadi, Kak Ella kepingin terlihat lebih cantik….”
“Di depan Bang Beng, pasti dong!”
“Bukankah….”
“Eit, no-no!” Jemari Kak Ella terkibas-kibas. “Saya tahu apa yang ada di pikiran kamu. Menyangka Bang Beng sebagai plonco lagi, kayak cowok-cowok yang dulu itu?” Wajah topengnya pun tergeleng-geleng. “Yang satu ini, nggak lagi deh! Kali ini saya serius, seriuuus banget! Saya sudah bertekad untuk menjadikan Bang Beng sebagai kekasih tersayang dan tercinta. Paling cinta, dan nggak bakalan ada lagi cowok lain yang mengisi hati ini. Ya, kecuali Bang Beng iut!”
Di depan Kak Ella, demi mendengar penuturannya tadi, rasanya saya kepingin berubah menjadi patung saja. Diam, diaaam saja, tanpa bisa bergerak-gerak.

***

Saya benar-benar terpana begitu melihat wajah di depan saya.
Bang Beng….
Oh, dia sampai menjemput saya di gerbang sekolah?
Untuk apa….
“Bang Beng?!” Akhirnya saya terpekik juga.
“Heran?” Bang Beng mengembangkan senyum. Senyumnya yang amat mempesona! “Saya menjemputmu begini karena nggak sabaran lagi menunggu sore.”
Saya mengernyitkan kening. “Untuk?”
“Ya, mengajakmu jalan-jalan.”
“Pakai seragam begini?”
“Nggak masalah. Paling kita cuma mampir makan burger sebentar, lalu mengantarmu pulang. Ada yang ingin saya katakan.”
“Apa?”
“Bukan di sini dong, tempatnya.”
Mudah-mudahan teman-teman sekolah saya tidak salah duga, pinta saya ketika menyurukkan badan ke dalam mobil yang dibawa Bang Beng. Mudah-mudahan mereka menduga salah seorang keluarga kami yang mendadak menjemput untuk urusan penting. Kalau mereka menduga lain, wah, besok muka saya entah mau diumpetin di mana.
“Kamu tahu, kenapa saya jadi tiba-tiba nggak sabaran begini sampai menjemputmu ke sekolah?” tanyanya di balik kemudi. Kemudian dijawabnya sendiri. “Karena semalam, setelah saya berpikir bolak-balik, akhirnya saya memutuskan sesuatu. Dan harus saya sampaikan secepatnya kepada kamu.”
“Apa?” Saya mendongak ke wajahnya tiba-tiba.
“Saya merasa, saya mencintaimu!”
“Oh….”
“Eit, jangan protes apa-apa lagi.” Tidak dihiraukannya perubahan mendadak di paras saya. “Mengenai soal Ella, saya pkir nggak ada masalah. Toh selama ini saya nggak pernah merasa serius dengan dia. Biasa aja.”
Dengan cepat wajah Kak Ella berkelebat masuk ke dalam benak saya, kemudian teringat ucapan-ucapannya kemarin, bahwa kali ini dia sangat serius dengan Bang Beng. Dia merasa sangaaaat mencintainya. Kak Ella tidak ingin lagi menjadikan cowok tersebut hanya sebagai ploncoannya saja. Dengan Bang Beng, Kak Ella benar-benar serius!
“Bang Beng….”
“Kenapa?”
“Tapi, Kak Ella itu….”
“Ah, saya nggak merasa mencintainya, kok,” potong Bang Beng. “Kamu tahu, di kampus dia itu suka banget mempermainkan cowok. Jadi kalau kami pisah, saya pikir itu nggak masalah bagi dia. Lagipula, uh, Ella itu bagi saya nggak lebih dari cewek ploncoan aja.”
Tanpa sadar kepala saya tersandar ke jok. Entahlah, apakah saya harus tertawa atau menangis mendengar penuturan Bang Beng. Apakah saya harus sedih, gembira, atau malah terpekik-pekik.
Sekarang perasaan saya jadi campur aduk tidak karuan!

Cerpen Benny Rhamdani

August 8, 2009 at 8:44 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

bennyPELUIT time out dibunyikan wasit di sisi lapangan. Pertandingan basket itu terhenti sejenak. Klub Rajwali yang menempati sisi kanan kelihatan agak tegang. Mereka sudah memimpin angka sejak awal pertandingan, namun klub lawan kini mulai mengejar.
“Arlan, kamu diganti dulu sama Cali,” pelatih yang keringatnya hampir menyamai para pemain itu memberi instruksi sesuai dengan yang direncakanannya.
Arlan mengangguk. Ia mengambil tempat duduk di barisan untuk pemain cadangan. Matanya terarah ke sudut tribun penonton. Mencari sosok yang memporakporandakan konsentarasi bertandingnya tadi.
Cewek berambut panjang dengan blus biru itu tak ada lagi di tempatnya.
“Permainanmu kacau sekali, Lan,” komentar Mas Aji yang tahu-tahu sudah duduk di sebelah Arlan. Ia agak senewen melihat permainan muridnya tadi. Tembakan three point yang biasa dihasilkan semuanya gagal.
“Janji deh, nanti kalo dipasang lagi nggak bakalan kayak tadi,” timpal Arlan. Ia meneguk sebagian air minerlah miliknya.
“Pamit sebentar mau ke belakang ya, Mas.”
Pelatih itu cuma mengangguk sambil tetap memandang ke tengah lapangan. Pertandingan kian seru.
Arlan berjalan cepat. Yang ditujunya bukan kamar kecil, ia malah menembus pintu ke luar. Matanya terus mencari-cari Cewek yang dilihatnya di tribun tadi. Kalo ia menghilang dari tribun itu mestinya ia pergi ke luar.
“Arlan! Kamu bukannya lagi bertanding? Kok di luar sih?” suara tanya itu mengejutkan Arlan. Seorang Cewek manis berambut sebahu mendekatinya.
“Aku lagi nggak kepake dulu. Ya, keluar cari angin sebentar kan nggak dilarang. Bagaimana rapat senatnya tadi?” Arlan teringat kesibukan Ratri sore ini.
“Agak tersendat dibandingkan sebelumnya. Makanya aku telat datang kemari,” jawab Ratri. Ia menjajari langkah Arlan ke dalam gelanggang olah raga.
“Kamu duduk di sini saja. Biar nggak susah aku nyari kamu nanti. Eh, mau nunggu sampai aku pulang, kan?” tanya Arlan sambil membiarkan Ratri duduk di barisan paling depan.
“Iya. Asal kamu main bagus!” Ratri tersenyum.
Arlan kembali ke bangku cadangan bergabung dengan tim lainnya. Baru sepuluh menit kemudian ia sudah dipanggil lagi untuk mengisi lapangan. Sebuah tembakan three point diciptanya semenit kemudian.
Ratri terpekik girang melihat aksi Arlan. Matanya terus melekat pada sosok cowok itu. Bukan pada permainan basket yang sebenarnya memang tak pernah ia sukai.

***

Duduk di taman kecil depan perpustakaan kampus kerap dilakukan Arlan bila tak tahu apa yang harus dikerjakannya sambil menunggu kuliah berikutnya. Mengedarkan pandangan sambil melamun memang jadi keasyikan tersendiri buatnya.
Nggak jarang matanya tertumbuk pada sosok cewek cantik. Tapi hatinya buru-buru menyisihkan hasrat yang kemudian timbul. Sebuah nama di masa lalu telah menciptakan kenangan yang menggurat di hatinya….
Maharani jadi siswa baru kelas dua. Ia langsung populer dengan kecantikannya ditambah lagi mobil mewah yang bergantian mengantar-jemputnya. Banyak cowok berusahan mendekati, tapi semua harus puas dengan mimpi mereka saja tanpa berhasil mewujudkannya. Sementara sebagian dari mereka mimpi pun sudah tak berani, termasuk Arlan yang duduk di belakang Rani.
Sampai suatu siang sepulang sekolah, sewaktu Arlan hendak menghidupkan motornya.
“Arlan, mau nolong aku nggak?” suara Rani mengejutkannya.
“Asal aku sanggup.”
“Aku harus buru-buru ke rumah. Tapi jemputanku belum datang juga. Aku….”
“Mengantarmu dengan motorku ini? Apa kamu nggak risih?”
“Sudahlah. Mau apa nggak?”
Arlan langsung menyambar helm yang tergantung di stang motor di sebelahnya. Ia menyodorkan helm itu kepada Rani. “Ayolah. Tapi kalo kamu masuk angin aku nggak tanggung,” Arlan menghidupkan motornya dan membiarkan membonceng.
Ternyata itu jadi sebuah awal dari jalinan manis antara mereka. Beberapa kali Rani membonceng Arlan. Sampai akhirnya Arlan merasa perlu mengungkapkan isi hatinya.
“Kamu mau jadi pacarku, Ran?” tanya Arlan sehabis mengajak Rani menyaksikan pertandingan basket antarkelas.
Rani mengangguk dan tersenum. “Tapi dengan syarat kamu jangan sampai datang ke rumahku,” katanya kemudian.
“Kenapa?”
“Papa melarangku pacaran.”
“Backstreet juga okelah,” angguk Arlan mantap. Siapa tahu waktu mengubah hal itu.
Tapi waktu tak pernah memberi kesempatan untuk mengubah hubungan mereka menjadi lebih baik. Lima bulan berlalu tetap saja mereka harus pacaran umpet-umpetan. Malah tiba-tiba waktu mengubahnya menjadi amat pahit.
Arlan membonceng Rani sepulang sekolah. Dan kecelakaan yang tak pernah diinginkan siapa pun itu terjadi. Arlan lukan gores di tangan dan kaki. Tapi Rani sampai gegar otak.
Langit buat Arlan benar-benar runtuh kemudian. Rani menghilang entah ke mana. Usaha yang dilakukannya cuma membuat panjang kepedihannya.
Rani….
Arlan tersentak dari lamunannya. Sekelebat ia melihat bayangan punggung seorang cewek. Ia berambut panjang. Dan gaun biru yang dipakai itu sama persis dengan gaun yang dibelikan Arlan di hari ulangtahun Rani yang ke tujuhbelas.
Arlan berlari mengejar sosok itu ke dalam perpustakaan. Tapi di pintu masuk langkahnya tertahan.
“Arlan, aku cari-cari kamu dari tadi,” Ratri langsung mendekatinya. “Bagaimana dengan final invitasi antarklub itu?”
“Jadi besok malam. Kamu mau nonton?”
“Kebetulan nggak ada kegiatan. Sudah makan siang? Ke Gelael yuk. Lapar, nih.”
Arlan menurut saja. Sulit untuk menolak setiap ajakan Ratri. Cewek ini memang seperti hampir kebanyakan anak orang berada, semua kemauannya harus dipenuhi. meski Ratri berusaha menutupinya dengan berorganisasi di senat, sifat manja itu amat dirasakan Arlan. Tapi lepas dari itu semua, Arlan lagi-lagi harus bersyukur bisa dekat dengan cewek yang diincar banyak temannya. Seperti dulu seperti Rani….
Arlan mendesah mengingat nama itu. Dan siapakah cewek bergaun biru itu?
“Kamu kelihatan gelisa, Lan?” tanya Ratri.
“Nggak apa-apa,” sembunyi Arlan.
“Sungguh?”
“Sungguh.” Arlan menatap bola mata Ratri agar lebih meyakinkan. Dan hatinya senantiasa bergetar usai menatap binar bola mata itu. Binar itu mirip sekali dengan milik Rani.
Mereka masuk ke Lancer merah Ratri. Sambil menghidupkan mesin Ratri berujar, “Dulu kamu pernah cerita SMA kamu, SMA 5, kan?”
“Iya. Lumayan ngetop di Bandung sini. Kalo SMA di Jakarta barangkali bisa disamain dengan SMA kamu itu.”
“Biasanya sekolah ngetop pada cakep-cakep ceweknya,” lanjut Ratri
“Memang.”
“Masak sih, kamu benar-benar nggak punya pacar di sana?”
Arlan tak menjawab. Ia memang selalu berupaya merahasiakan jalinan cintanya dengan Rani.
“Pasti kamu pernah patah hati ya, sampai akhirnya kebawa ke masa kuliah. Patah hati sih boleh aja, asal jangan jadi dingin, Lan.”
“Dingin?”
“Lho, kamu nggak ngerasa kalo kamu tuh cowok yang dingin. Nggak pernah ngobrol dengan siapa pun di kampus selain aku. Mainnya aja cuma sendirian di taman perpustakaan.”
Arlan cuma tersenyum. Ia yakin Ratri tengah memancingnya untuk cerita soal masa lalunya. Sudah sering Arlan membaca gelagat itu. Belum, belum tiba saat untuk itu semua, Arlan membatin.

***

Nggak tahu, sampai berapa lama lagi kau bisa bertahan begini. Mencari, menunggu, mengejar bayanganmu yang hilang entah ke mana. Sementara sisi hatiku telah hampa begitu lama. Akankah kamu salahkan aku bila saat ini sebuah nama hadir mengisi kehampaan itu? Nggakkah kamu akan merutukku tak setia dan mengutukku agar mengalami luka itu lagi?
Kalo saja nggak kulihat lagi kelebat bayangmu belakangan ini, aku sudah memasukkan namanya pada hari-hariku. Dan bila bayangmu itu tak juga dapat kuraih, akan kuakhiri penantianku ini….

Arlan menutup buku catatannya. Buku yang isinya melulu tentang Rani dan sejuta harapan yang menggurat di hatinya. Hampir dua tahun penantian itu terjadi.
Ia beranjak untuk bersiap ke gelanggang olahraga. Rani… Ratri… nama itu terus mengiringi desah napasnya. Satu sisi hatinya ingin agar Arlan segera memberi kepastian kepada Ratri tentang hubungan yang mereka jalin. Sementara sisi lain hatinya justru ingin mempertahankan kasih Rani.
Briefing yang diberikan pelatih menjelang pertandingan final invitasi antarklub bola basket se-Bandung nyaris tak digubris Arlan. Begitu masuk ke sisi lapangan matanya langsung mengitari tribun penonton.
“Nyari pacarmu, Lan?” usik si Jangkung, Oki.
“Sembarangan. Ratri bukan pacarku,” kilah Arlan.
“Tapi setia banget, ya. Cuma kali ini kayaknya telat lagi.”
Arlan cuma nyengir. Bangku yang biasa diduduki Ratri sudah diisi orang lain. Tapi bangku di sudut lain itu masih kosong. Tempat favorit Rani bila menyaksikan Arlan bertanding.
Priit. Peluit wasit memanggil peserta berbunyi. Arlan bersama timnya langsung memenuhi lapangan. Rebutan bola segera dimulai seiring tiupan peluit.
Lawan kali ini cukup tangguh. Lima menit pertama nyaris dilalui Arlan hanya dengan mengover bola. Baru kemudian akhirnya ia mendapat bola tanpa dihadang. Ada kesempatan untuk menciptakan three point. Cuma saat bola itu diangkat mata Arlan menangkap sosok cewek bergaun biru di tempat duduk kosong itu. Tempat yang sama diduduki cewek itu saat babak penyisihan lalu.
Lemparan bola Arlan tak sampai ring, untungnya sempat diraih Tio. Tapi peluit wasit berbunyi lantaran pelatih klub Rajawali meminta time out.
“Konsentrasimu kacau sekali, Lan!” hardik Mas Aji saat timnya mendekat.
“Sori, Mas. Diganti dulu deh,” usul Arlan.
“Pacarnya belum datang sih, Mas,” celetuk Tio.
Mas Aji setuju. Ia memanggil Alford yang tingginya 185 senti. Pertandingan dimulai lagi.
Arlan langsung mengarahkan pandangannya ke tribun penonton di seberangnya. Agak sulit juga untuk menyidiki wajah cewek yang masih terduduk di sana itu. Apalagi wajahnya menunduk, seolah tahu sedang diamati Arlan.
Cewek itu beringsut ke pinggir dan berjalan cepat meninggalkan tempat duduknya. Arlan reflek berdiri.
“Mas, saya pamit ke belakang sebentar,” izin Arlan.
“Dasar beser! Baru main beberapa menit!”
Arlan bergegas mengayunkan langkahnya. Cewek itu pasti keluar. Siapakah dia? Ranikah? Mengapa begitu misterius?
Sampai di ambang pintu keluar, Arlan masih sempat menangkap kelebat bayangan cewek itu menuju tempat parkir mobil. Arlan menyusul. Tapi napasnya tertahan sewaktu melihat cewek itu meluncur dengan Katana biru.
“Arlan!” suara khas itu mengejutkan Arlan.
Ratri baru hendak keluar dari Lancernya.
“Jangan turun. Antar aku,” Arlan langsung menyerbu masuk ke dalam mobil. Suatu kebetulan yang menguntungkan.
“Ada apa ini?” Ratri bingung melihat Arlan panik.
“Kamu lihat Escudo tadi, kan? Tolong disusul.”
“Orang di dalam mobil itu beberapa kali menguntitku. Aku penasaran. Kurasa kita belok kiri, Rat. Nah, itu mobilnya!” Arlan mengarahkan jarinya ke depan, nyaris menembus kaca.
Mobil yang mereka kejar melaju kian kencang, masuk ke jalan agak besar. Ratri membelokkan mobilnya tiba-tiba. Arlan tercengang.
“Kenapa membelok, Rat?” tanya Arlan.
Ratri tak menjawab. Ia malah membawa mobilnya ke jalan yang agak sepi sampai akhirnya ke pelataran parkir sebuah kompleks pemakaman umum. Suasana hening menyergap mereka.
“Ada yang ingin kuutarakan padamu, Lan. Barangkali aku terlalu lancang….” Ratri menggantung kalimatnya, menunggu reaksi Arlan.
Tahu Arlan hanya membisu, Ratri keluar dari mobil. Tubuhnya lantas bersandar pada badan mobil. Arlan dihinggapi sejuta tanya. Belum terpecahkan persoalan yang satu, sudah muncul soal lainnya.
“Barangkali aku harus menceritakannya dari pertama padamu,” Ratri membuka mulutnya lagi. “Dimulai dari perkenalan kita. Terus terang kamu langsung menyita perhatianku begitu kukenal. Tentu saja aku punya batasan untuk mengungkapkan perasaanku itu.”
Arlan merasakan hal itu.
“Cara yang kulakukan untuk menarik perhatianmu kupikir sudah tepat. Tapi rupanya ada selubung misteri yang menutupi hatimu. Segala upaya kulakukan untuk memancingmu, tapi kamu seperti enggan membukanya. Katakanlah, kenapa, Lan?”
“A-aku… aku tak bisa menceritakannya….”
“Kurasa kini memang tak perlu lagi, Lan. Waktu yang membelaku memberitahukan itu semua. Satu bulan lalu aku main ke tempat Oom-ku. Kutempati bekas kamar sepupuku. Tanpa sengaja aku menemukan tempat rahasia menyimpan buku harian sepupuku itu, Lan. Isinya banyak bertutur tentangmu dan cerita cinta rahasia kalian berdua….”
“Rani? Dia sepupumu? Di mana dia sekarang?”
“Setahun yang lalu dia telah meninggalkan kita,” nada suara Ratri melemah.
Arlan mendongakkan kepalanya ke langit. Gara-gara kecelakaan itukah?
“Kamu tak perlu merutuki dirimu sendiri, Lan. Tanpa kamu ketahui, sebenarnya kesehatan Rani memang rapuh. Itu sebanya Papanya amat ketat mengawasi. Ada kanker di otaknya. Dulu pernah dioperasi di Belanda, tapi kemudian tumbuh lagi. Operasinya yang kedua gagal.”
Arlan menahan airmata yang hampa keluar.
“Setelah tahu itu semua, aku masih bersabar diri, Lan. Aku ingin satu bentuk kejujuran darimu. Sebagai orang yang dekat, tadinya kupikir kamu mau mengungkapkan itu semua. Tapi harapanku sia-sia. Dan itu menimbulkan ide gila untuk menganggumu….”
“Cewek bergaun biru itu?”
“Ya, cewek itu bagian dari permainanku. Tapi ternyata aku tak sanggup untuk terus mempermainkanmu. Tuntutan untuk jujur kepadamu amat menyiksaku,” Ratri berupaya untuk tetap tegar mengeluarkan kata-katanya.
“Kamu….”
“Apa pun pandanganmu padaku saat ini akan kuterima. Tapi beri aku kesempatan untuk mengantarkanmu melihat makam Rani,” Ratri mulai tak kuat menahan isaknya. Ia tahu resiko apa yang paling berat yang akan diterimanya. Bisa saja Arlan membencinya lantas menjauhinya tanpa secuil maaf.
Tanpa diduga Arlan malah merengkuh Ratri ke pelukannya. Tentu saja isak Ratri makin tak terbendung. Ia tumpahkan gundah yang mengganjal perasaannya selama ini.
“Aku yang salah, Ratri. Aku bukan cuma nggak jujur pada hatiku sendiri. Aku telah mendustai banyak hal. Kesalahanku amat banyak. Aku harus menebus sakit hati yang kubuat padamu. Aku… mencintaimu, Ratri. Sesungguhnya perasaan itu timbul sudah lama. Tapi aku terlalu takut menghadapi resiko. Aku takut gurat luka yang ada di hatiku menganga lagi,” tutur Arlan sambil mengusap uraian rambut Ratri.
Ratri mengangkat mukanya. Jarinya menghapus airmata yang masih keluar. “Sebaiknya kita segera ke makam Rani. Berdoa sejenak di makamnya barangkali akan menenteramkan hati kita berdua. Lagipula, kamu kan harus kembali bergabung dengan timmu itu,” kata Ratri kemudian.
Arlan terperangah. Ia baru menyadari dirinya masih memakai kostum klub basketnya. Segera dirangkulnya bahu Ratri dengan tangan kanannya.
“Ayolah, kita bergegas. Mudah-mudahan aku masih sempat membuat three point. Tembakan itu akan kubuat spesial untukmu,” ucap Arlan dengan kelegaan yang tiada tara. Entah ke mana larinya selubung yang menutup rapat hatinya. Entah ke mana hilangnya gurat luka itu.

Cerpen Alexandra I Yunardi

August 8, 2009 at 8:06 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment

alexandra“Otish!”  Wanita berwajah galak itu menegurku dengan matanya yang garang.
Kusibakkan rambutku yang sudah menyentuh kerah baju. Kutatap dia tanpa sedikit pun rasa segan.
“Dari mana kamu?” tanyanya ketus.
“Sekolah,” jawabku tak kalah ketus.
Matanya menggeram padaku. Tubuhnya yang langsing dan dibalut blazer dengan merk tersohor, dihempaskan ke sofa yang ada di ruang tamu. Diangkatnya dagunya, semakin membuat wajahnya yang dingin itu tampak begitu angkuh.
“Duduk!” Ia menunjuk ke sofa di depannya dengan jemarinya yang dihiasi cat kuku merah tua.
Dengan mendengus jengkel, kuhempaskan tubuhku penuh kemalasan.
Matanya menyusuri aku, seperti seorang jaksa berhadapan dengan pembunuh berdarah dingin. Aku tak peduli.
Yah… kenalkan! Wanita eksklusif ini Mamaku. Musuh bebuyutanku. Orang yang selalu menganggap aku binatang liar yang tak pernah punya sisi kebaikan.
“Ke mana kamu tadi?” Seolah lupa, ia bertanya lagi.
“Ke sekolah!” tandasku kasar.
“Sekali lagi. Ke mana kamu tadi?” Matanya semakin menajam menusukku.
Aku menghela napas berat. Jengkel dan kesal.
“Pergi.”
“Ke mana?”
Aku tak mau menjawabnya.
“Sudah berapa lama kamu nggak sekolah?”
Aku meringis keki. Dia masih menunggu jawabanku.
“Baru tigabelas hari,” aku menjawab ringan.
“Oh, bagus!” serunya sinis.
Aku diam saja. Bodoh amat apa katamu! batinku memaki.
Mama berdiri. Masih dengan dagu yang sedikit terangkat, Mama menatap sejenak padaku.
Kutatap matanya. Kutatap lebih dalam lagi. Aku mencari kasih sayang yang selalu kuragukan di sana. Tapi rangkaian tembok baja yang terlalu kokoh, yang terlalu dingin, membalas harapanku.
“Sehari lagi kamu bolos, uang jajan cuti tiga bulan.” Tekanan nadanya mengisyaratkan aku akan ketidakmungkinan untuk membantah.
Mama meninggalkanku. Dengan langkah yang tegar, ia menghilang ditelan pintu kamarnya.
Dengan geram aku berjalan ke kamar. Kubanting pintu kamarku dengan keras.
Sayang, foto Mama di mejaku sudah kubakar dua hari yang lalu. Sekarang tak ada lagi yang bisa kulakukan, untuk menyuapi kekesalanku agar tak kelewat kelaparan.
Mama keterlaluan. Dia selalu berusaha menjadi musuhku. Dia tak mau mengerti akan aku. Selalu!
Di mata Mama hanya ada Yoshan, Abangku yang sempurna. Abangku yang kini kos di dekat kampusnya. Abangku yang kuliah di Universitas Indonesia fakultas Kedokteran. Abangku yang tak tak pernah membuat cela. Selalu menjadi yang terbaik. NEM tertinggi di sekolah, diraihnya waktu SD dan SMP – malah diukirnya nilai tertinggi untuk wilayahnya. Ketua Kelas, Ketua Panitia, bahkan Ketua OSIS hampir tak pernah absen mengunjunginya.
Mama terlalu. Ia selalu menekanku. Mengharapkan aku bisa melampaui, atau minimal menjajari Abangku itu. Semua cara dilakukannya. Bahkan juga dengan merampas setengah dari hidupku. Melukis. Kegiatan yang bagaikan napas cadangan untukku.
Sejak aku gagal menjadi bintang kelas waktu duduk di kelas tiga tingkat SD, Mama melarangku untuk melukis. Padahal ia tahu, aku sudah suka melukis sebelum aku bisa menulis. Keterlaluan! Dan itu bukannya menobatkanku. Aku makin berontak. Akibatnya, aku tak naik kelas di kelas empat. Kemudian kuulangi lagi tiga tahun kemudian.

***

Mama tak pernah tahu, aku sangat kecewa ketika gagal jadi bintang kelas dulu itu. Bahkan aku berjanji dalam hati, kalau tahun berikutnya aku gagal lagi, aku akan berhenti melukis selama satu tahun penuh. Tapi Mama seenaknya merampas kegemaranku itu. Menutup telinga dari semua alasan yang kuungkapkan.
Kemudian aku dan Mama, semakin jauh. Protesku yang semakin mendapat tekanan dari Mama, membuat aku untuk lebih berulah lagi. Aku mulai merokok, minum minuman keras, bolos sekolah, dan bikin onar di sekolah.
Kemudian aku makin yakin, Mama dan aku sudah terpisah semakin jauh. Sedangkan Yoshan, Abangku, sudah berputus asa mendamaikan kami dan menasehati aku.
Aku merasakan, keraguan yang sangat dalam bilangan hari-hariku. Masih adakah sejumput kasih Mama untukku? Dan tanpa terasa perselisihan itu telah memakan banyak waktu kami. Sekarang aku duduk di kelas dua SMA, dan jurang perselisihan itu semakin baur dalam pesimisme untuk dapat terjawab tuntas.
Aku menghitung uang di dompetku. Heh, sepertinya masih cukup untuk membeli barang yang ditawarkan temanku tadi siang. Banyak hal yang sudah kucoba. Berbagai macam obat, sudah kuhapal harga, khasiat dan lama reaksinya. Tapi aku belum pernah mencoba satu yang ditawarkan Koko tadi. Hm, menurut promosinya sih, obat tadi memberi sensasi baru dalam melarikan diri dari kenyataan. Ah, aku tak sabar untuk mencicipinya.
“Otish! Otish! Sini cepat!”
Tuh kan, suara yang melengking itu sudah mendengung lagi.
Dengan gusar, terpaksa aku keluar kamar.
“Apaan sih, Ma?” tanyaku jengkel.
“Besok kamu Mama antar ke sekolah.”
Mataku melotot. Diantar? Amit-amit! Kayak balita baru masuk Taman Kanak-Kanak saja.
“Nggak. Naik bis lebih enak.”
“Besok Mama antar. Mama nggak mau wali kelas kamu menelepon lagi, karena kamu nggak muncul di sekolah tanpa sebab yang jelas.”
Diktator! umpatku dalam hati. Dia selalu bicara seolah-olah ‘ratu’ di rumah ini. Absolut! Dan nggak ada yan bisa membantahnya. Huh! Gara-gara ditinggal Papa ketika aku masih belum bisa bicara, Mama memang jadi tak kenal musyawarah lagi. Dia tidak mau anak-anaknya sampai mengikuti jejak Papa. Oya, belum kuceritakan. Mama memang meninggalkan Papa karena Papa selalu punya wanita lain, dan tak pernah mau mencari nafkah
Hah, entah keberapa kali, kutatap lagi matanya. Menanyakan, masih adakah kasihnya untukku, dengan penuh keraguan. Tapi dia sudah berpaling meninggalkanku dan lenyap di kamarnya lagi. Ah! Sudah! Terlalu bodoh aku berharap.

***

Luar biasa! Aku sangat bahagia hari ini. Bayangkan, tadi pagi Mama mendapat telepon dari rumah sakit tempat dia bekerja. Katanya, ada pasien gawat darurat yang butuh pertolongan secepat mungkin.
Wah, syukurlah. Mama tipe dokter sejati. Dia selalu mendahulukan nyawa seseorang di atas segala-galanya.
Leganya….
Setelah tiga hari aku tersiksa. Bayangkan! Aku, Otish, biang kerok yang paling populer di sekolah, selama tiga hari diantar oleh Mamanya! Tak cukup hanya itu. Dia tidak akan pulang sebelum yakin aku benar-benar duduk dengan manis di kelasku yang menyebalkan itu. Malunya minta ampun. Seluruh dunia berlomba-lomba mengejek aku.
Sekarang tiba-tiba aku bebas. Hehehe. Bolos lagi, ah! Selagi ada kesempatan!
Aku sudah hampir keluar dari pagar rumahku. Tiba-tiba aku teringat. Oya! Uangku ludes sama sekali. Kemarin, Koko akhirnya punya kesempatan memberikan aku obat yang dijanjikannya, yang masih tersimpan di kantung celanaku dan belum sempat kuminum. Tentu saja ditukar dengan seluruh uangku. Tak mungkin aku bisa bolos dengan uang yang tinggal logam-logaman saja.
Aku pun kembali masuk ke rumah. Untung aku tahu tempat Mama menyimpan uang sisanya selama ini. Di laci meja riasnya, di atas laci rahasia, tempatnya menyimpan barang-barang berharga. Dasar Mama kurang mikir. Untuk apa dikuncinya laci tempat barang-barang kesayangannya? Paling-paling hanya berisi barang-barang rongsokan yang tak berguna. Lebih baik dikuncinya rapat-rapat lacinya yang berlimpah uang itu. Apalagi dia sadar aku sering menculik uang-uang itu. Tapi bodoh amat! Kalau benar-benar dikuncinya, dari mana bisa kudapatkan uang secara cepat dan efisien?
Aha! Ternyata uang Mama sedang banyak. Asyik! Bisa hidup nikmat hari ini. Buru-buru kusumpalkan uang-uang itu ke kantung bajuku. Saat aku mentutupnya, tiba-tiba aku tersadar. Lho? Kunci laci di bawahnya, laci rahasia Mama, masih bergantung di tempatnya! Rupanya Mama lupa membawanya.
Entah mengapa, tiba-tiba aku tertarik dan penasaran untuk membongkarnya. Maka tanpa ragu-ragu aku membukanya. Dan….
Aku terlongo! Ini pasti salah lihat. Isi laci itu…! Isi laci itu…! Astaga! Kertas-kertas yang dirawat begitu hati-hati dan sungguh-sungguh. Kebetulan kertas-kertas itu adalah keras yang berisi dengan coretan-coretan alias gambar-gambarku. Mama menyimpannya?! Semuanya?! Bahkan gambar yang disitanya, ketika secara diam-diam kubuat pada empat hari yang lalu. Bahkan yang satu ini….
Aduh! Ada satu gambarku, yang kubuat di usia enam tahun, yang dibingkainya dengan begitu apik. Astaga! Bagusan bingkainya daripada gambarnya. Aku tahu aku memang sangat berbakat menggambar. Tapi aku sadar dan mengaku kalau gambar itu terlalu buruk untuk diberi bingkai seindah itu.
Kemudian aku juga melihat dua buah album foto. Kuraih salah satu. Hm, semua berisi foto Yoshan semenjak ia masih digendong suster rumah sakit, hingga bermain gitar di tempat kosnya.
Yang satu lagi….
Penuh prasangka, kubuka perlahan. Ternyata, memang fotoku isinya. Sejak aku masih berwarna merah, hingga minggu lalu, saat aku ketiduran di depan TV. Ya, ampun. Sejak kapan Mama mengumpulkan dan mendokumentasikan semua ini? Aku terperangah.
Lima menit lewat sia-sia. Kutatap isi laci itu sekali lagi, untuk meyakinkan akan kenyataan.
Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak tahu makna semua ini. Aku bingung!
Aku menatap ke foto Mama di atas meja rias. Bertanya dengan penuh keraguan, masih adakah kasihnya untukku? Perlahan aku melihat ke dinding yang selama ini menyembunyikan jawaban itu, rontok secercah. Dan akan disusul dengan cercah lain.
Aku tak tahu. Apa yang harus kulakukan. Semua terlalu tiba-tiba. Mungkin otakku terlalu dangkal untuk menerima semua ini. Apakah aku harus mencoba untuk pulang dari segala pelarian dan pemberontakanku? Atau aku harus mencoba mengajak Mama berbicara dari hati ke hati? Mengatakan betapa tertekannya aku di balik bayangan obsesinya selama ini?
Entah!
Tapi yang pertama kali kulakukan, adalah mengeluarkan pil-pil kecil yang belum sempat kucicipi. Dengan penuh keyakinan, kuinjak hingga remuk.
Akan kubakar setelah ini!

Cerpen Mayoko Aiko

August 8, 2009 at 8:01 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment

mayokoEGIDIA  terus larut dengan keasyikannya. Bukit-bukit kecil yang dibuatnya dari pasir itu dihancurkan dengan kepalan tangan saat gerimis mengguyur kawasan Pantai Anyer. Berulang-ulang ia melakukannya. Ia tak peduli meskipun kaki hujan menampar-nampar wajahnya. Sesekali telapak tangan melap wajahnya yang basah. Lidah ombak Pantai Anyer menjilati kakinya yang telanjang.
Matahari sudah condong ke barat. Beberapa nelayan dan segerombol bocah pantai menarik-narik perahu lalu menambatkannya di bibir pantai.
“Kamu suka berlibur di pantai?” Seorang cowok tiba-tiba mengusik keasyikannya. Sekaligus memaksa Egidia mendongakkan kepalanya.
Seorang cowok dengan celana jean belel sebatas lutut dan sebuah T-shirt Anyer Beach, tersenyum ramah padanya. Seperti juga dirinya, cowok itu basah kuyup oleh gerimis yang turun di pantai itu.
“Pantai adalah tempat favoritku untuk berakhir pekan,” jawab Egidia sembari menatap wajah cowok itu.
“Kamu selalu ke pantai ini?” tanyanya.
Egidia tersenyum.
“Minimal sebulan sekali? Kamu?” Egidia mencoba beramah tamah. Menemukan seorang teman saat berakhir pekan tentunya sangat menyenangkan.
Cowok itu menyibakkan rambutnya.
Gerimis terus mengguyur. Anak-anak nelayan larut dengan alam. Berlari dan saling mengejar. Bagi mereka gerimis adalah teman bercumbu. Pengganti mimpi kanak-kanak yang indah tentang boneka Barbie yang cantik dan dongeng Sailormoon.
“Ayo Mas Re, kita naik ban lagi,” seorang yang hanya memakai celana kolor menarik-narik tangan cowok itu.
“Kamu aja, deh! Mas Re udah capek,” jawab cowok itu sembari mengoyak rambut si Bocah.
Si Bocah itu tersenyum. Menatap cowok itu lalu melirik Egidia dengan mata maklum.
“Kamu sering ke sini?” ulang Egidia.
“Nggak juga sih,” jawab cowok itu.
“Kok, bisa akrab sama mereka,” Egidia berpaling ke gerombolan anak-anak yang asyik bermain petak umpet dari satu perahu ke perahu lainnya.
“Tadi siang aku diajak melaut oleh ayahnya.”
“O ya? Aku suka melaut. Tapi tak seorang pun dari mereka yang mengajakku melaut.” Kalimat Egidia terdengar polos.
Cowok itu tersenyum. “Mungkin mereka takut terjadi apa-apa dengan kamu. Kamu kan seorang gadis. Tentu riskan kalau diajak berlayar sampai ke tengah lautan.”
Egidia tertawa. Untuk terakhir kalinya ia mengoyak bukit-bukit pasir yang tadi ditimbunnya. Kemudian membersihkan pasir yang menempel di telapak tangannya dengan air laut.
“Rupanya kamu suka pantai juga,” kata Egidia.
“Laut adalah bagian dari hidupku. Banyak hal indah yang disodorkan oleh pantai. Sunset yang indah. Nelayan yang ramah. Deburan ombak. Malah kalau beruntung, aku sering melihat pelangi di atas pantai.” Cowok itu menatap ke langit.
“Pelangi?” Egidia tertawa. “Mana ada pelangi di pantai? Pelangi kan adanya di pegunungan,” lanjutnya.
“Lihat saja nanti. Jika ada gerimis lalu matahari bersinar redup maka pelangi yang indah akan muncul di atas sana.” Cowok itu menatap ke langit lalu pandangannya kembali hinggap di wajah Egidia.
Egidia tertawa lagi.
“Kamu romantis banget.” Egidia terpingkal.
“Aku penulis,” aku cowok itu. Membungkukkan badan. Mengambil sebuah kerikil lalu melemparkan ke tengah pantai.
“O ya?”
Cowok itu tersenyum.
Egidia termenung sejenak. Mengudak benaknya mencari profil cowok yang tiba-tiba akrab dengannya.
“Pernah ceritamu diterbitkan?” Egidia mulai tertarik. Buku adalah sahabatnya. Karena segudang ilmu ditimbanya dari tumpukan kertas-kertas itu.
“Banyak,” jawab cowok itu.
“Yang terbaru?” desak Egidia penasaran.
“Senja, Laut dan Pelangi,” cowok itu menyebutkan judul buku karangannya.
Egidia berpikir keras. Ia mencoba mengingat semua novel remaja yang tak pernah dilewatkannya jika ada novel-novel remaja yang baru terbit. Terutama yang bercerita tentang alam. Dan usahanya ternyata tidak sia-sia. Sebuah nama kini nyantel nyata di benaknya.
“Oke. Aku mulai ingat. Kalau nggak salah novel itu bercerita tentang cowok yang merasa dibuang oleh keluarganya?” Egidia membuka kalimat dengan mengutip prolog novel yang terdiri dari tujuh episode itu.
“Bukan merasa. Tapi benar-benar dibuang.” Cowok itu tersenyum. Ada luka memancar dari sorot matanya yang tajam.
“Yang memilih tinggal di tepi-tepi pantai dengan tenda ketimbang tinggal di rumah mewah?” lanjut Egidia yakin.
“Kamu membacanya?” Cowok itu menatap Egidia.
“Aku hapal dari episode satu sampai episode terakhir.” Mata Egidia bersinar ceria. “Jadi kamu…?” Egidia ingin betul mengetahui siapa cowok yang kini menemaninya ngobrol di tengah-tengah gerimis yang menggila.
“Re Angga Kalalang!” jawab cowok itu sembari mengulurkan lengan tangannya.
Surprais!
Egidia hampir tak percaya. Bisa ketemu dengan penulis idolanya di saat tak terduga seperti ini. Surprais sekaligus menyenangkan karena bisa bertemu langsung dengan seseorang yang telah menyita waktunya karena novel-novel tokoh utamanya selalu bernasib tragis dan kurang beruntung. Mereka adalah remaja yang ‘terbuang’. Antagonis dan meledak-ledak.
“Namaku Egidia. Aku salah satu pembacamu,” sambut Egidia. “Kalau buku itu saya bawa, aku pasti meminta kamu untuk membubuhkan tanda tangan.” Egidia tertawa.
Re ikut tertawa melihat tingkah Egidia yang polos dan bersahabat.
“Ah, sudahlah. Aku toh belum sengetop JK. Rowling. Aku baru belajar menulis,” jawab Re malu-malu.
“Tapi ceritanya bagus, kok. Senja, Laut dan Pelangi itu pengalaman pribadi, ya?” Sudut mata Egidia merayapi wajah Re.
“Begitulah.”
“Terlalu sentimentil menurutku.”
“Kenyataannya memang begitu. Aku memiliki Papa dan Mama. Tetapi mereka seperti tokoh ilusi. Nyata! Tapi aku tak pernah bisa memilikinya. Kesibukan membuat mereka lupa kalau di rumah ada seorang Re. Tapi… ah, sudahlah. Lupakanlah!” Re menggeleng. Mengambil beberapa batu kerikil dan membaginya kepada Egidia. Gadis itu ikut melemparkan kerikil-kerikil itu ke tengah pantai. Keciprak suaranya terhapus begitu saja oleh lidah ombak yang menari-nari.
“Menyedihkan,” kalimat Egidia terdengar seperti sebuah desahan.
Sebuah camar menukik dari langit. Menggoda segelintir nelayan yang masih setia dengan jalanya.
“Eh, lihat di atas!” Tiba-tiba Re menunjuk ke langit. Matanya berbinar ceria.
Sudut mata Egidia mengikuti arah telunjuk Re. Mula-mula Egidia tak menemukan apa-apa. Lama kelamaan di sela-sela gerimis dari gumpalan awan melesat sebuah lengkungan indah yang berwarna-warni. Lengkungan itu berpijak di permukaan pantai.
“Pelangi?” Egidia menjerit girang.
“Yah, pelangi. Indah. Nyata tapi tak abadi. Seperti sebuah kehidupan.” Mata Re tak lepas dari lukisan indah yang mengkombinasikan tujuh warna yang sempurna.
Tujuh menit lamanya Egidia dan Re merayapi lukisan Tuhan itu. Ketika gerimis berhenti dan sinar mentari memberontak dari dekapan awan, lambat laun warna itu memudar. Sedetik kemudian pelangi itu hilang dari pandangan ketika kemuning senja merenggutnya dengan paksa.
“Buanglowmu di sebelah mana, Re?” Egidia menatap wajah Re.
“Itu!” Re menunjuk sebuah tenda yang berdiri persis di kaki sebuah pohon kelapa.
“Kamu tidur di tenda itu, Re?” Egidia tak percaya.
Re tersenyum lalu mengangguk.
“Nggak takut?” Mata bening Egidia bergerak indah.
Re menggeleng.
“Kalau tiba-tiba ada Tsunami?” Tatapan Egidia menyapu wajah Re.
“Aku bersyukur. Aku diberi perasaan yang tajam. Sepertinya aku tahu persis kapan akan ada gelombang pasang dan kapan laut akan surut. Aku menyatu dengan laut. Laut itu ibuku,” Re tersenyum. Manis sekali. Menatap wajah Egidia. Mengajak Egidia membuat labirin sembari menunggu sunset yang sebentar lagi akan menghiasi Selat Sunda itu.
Saat sang Surya bersembunyi tiba-tiba ada sesuatu yang hilang dari hati Egidia, ketika ia harus kembali ke bungalow dan meninggalkan Re di tenda itu. Sendirian.
Egidia tahu. Perkenalan ini sebuah awal dari sebuah titian panjang masa remajanya yang kelak penuh warna.

***

“Ke mana lagi, Re?” Egidia mendekati Re yang sibuk memasukkan perlengkapan avonturirnya.
“Lombok, Gi. Aku ingin mendirikan tenda di Senggigi,” jawab Re. Mencoba mangangkat Blue Ransel kemudian mengencangkan tali tas itu.
“Sekolahmu?” Egidia menatap wajah Re lekat.
“Setelah ini usai, Gi. Percayalah. Aku pasti kembali ke bangku sekolah lagi,” Re tersenyum. Memberi kepastian kepada Egidia.
“Aku sering mendengar kalimat itu, Re. Entah yang keberapa. Dimulai sejak kamu bertualang ke Kanekes, traverse ke Pedalaman Kalimantan sampai kamu harus dievakuasi karena terjebak kabut di Kerinci Seblat, kalimat itu selalu kamu ucapkan sebelum kamu berangkat. Please, Re. Kamu hanya ingin menghiburku, kan?” Mata bening Egidia menatap lurus. Hinggap di wajah Re yang sejak dua tahun lalu menjadi sisi indah dalam perjalanan hidupnya.
“Sudahlah, Gi.” Re menghindari tatapan Egidia. Meraih gelas berisi cream coffee. Ditenggaknya sampai tandas.
“Atau katakan saja, Re. Kamu tidak akan pernah berhenti bertualang.” Egidia mencari kepastian.
“Dua tahun kita saling mengenal, Gi. Aku yakin kamu tahu betul siapa aku. Sifat-sifatku dan kebiasaanku….” Kalimat Re menggantung.
Egidia menggigit bibir.
“Aku seorang penulis, Gi. Mengertilah itu.”
“Oke. Aku tahu, Re. Tapi itu tidak bisa kamu jadikan alasan untuk selalu bertualang dan meninggalkan sekolah.”
“Aku butuh inspirasi.”
“Haruskah dengan cara itu?”
“Yah,” Re berjalan ke arah jendela. Kabut mengungkung vila kecil itu.
“Dulu sebelum kita saling menyatukan perasaan, aku telah jujur kepada kamu, Gi. Tentang semuanya. Tentang keluargaku yang broken. Tentang hobiku yang nyeleneh. Dan kamu menerimanya. Aku bahagia. Dua tahun sudah kamu mengerti aku sepenuhnya. Meski kamu harus membayar dengan mahal. Berpuluh-puluh malam Minggu harus kamu lalui dengan suasana sepi dan perasaan galau karena kamu memikirkan aku entah berada di mana. Dan kini mungkin aku akan maklum kalau kamu mulai bosan dengan suasana seperti itu.” Telunjuk Re membentuk coretan abstrak di kaca jendela yang mengembun.
“Bukan itu maksudku, Re.”
“Aku akan maklum kalau kamu akan meninggalkan aku.”
“Re?!”
“Sudahlah, Gi.”
“Ketahuilah, Re. Aku selalu mencemaskan kamu.” Ada embun di sudut mata gadis itu.
“Semalam aku memikirkan semuanya, Gi. Seperti sebuah dilema yang pahit. Di sisi lain aku sangat mencintai kamu. Tulus! Tetapi di sisi lainnya lagi aku tidak ingin menyiksamu. Tidak ingin membiarkan masa remajamu berlalu tak pasti. Tidak ingin melihatmu termenung sendirian melepas akhir pekan tanpa kahadiranku.” Re menatap wajah gadisnya.
“Apa maksudmu, Re?” Sesuatu menggelepar di dada Egidia.
Re menghela napas. Memegang pundak Egidia. Ditegakkannya dagu gadisnya dengan lembut.
“Kita berpisah, Gi. Kita mengambil jalan sendiri-sendiri.” Sebuah helaan napas panjang menghempas dari rongga dada Re.
“Re? Sadar kan apa yang kamu ucapkan?” Dada Egidia serasa sesak. Sebuah beban menggelayut di sana.
Re menundukkan kepalanya.
“Setelah dua tahun kita membangun semuanya, kamu akan menghancurkannya dalam sedetik?” Egidia tak percaya kalimat yang didengarnya barusan keluar dari mulut Re. Seorang cowok yang dengan susah payah dirajutnya dalam hati, dari kikisan Sang Penggoda yang dari hari ke hari semakin banyak menguji ketulusan cinta seorang Egidia terhadap Re. Tetapi sekarang?!
Re masih menunduk.
“Aku betul-betul kecewa, Re.” Ada luka yang memaksa gadis itu menggigit bibirnya.
“Aku mengerti kamu kecewa. Tetapi nanti kamu akan tahu bahwa jalan ini adalah jalan yang terbaik buat kamu. Itu kulakukan karena aku sangat mencintai kamu, Egi,” bisik Re lembut setelah mengangkat kepala.
Sebuah sapuan halus hinggak di kening Egidia. Dan gadis itu terpuruk dalam pelukan dada bidang Re.

***

Debur ombak Senggigi merenggut semua episode di benak Egidia. Re adalah sosok nyata yang telah mengisi hari-harinya. Yang telah menghiasi hari-harinya. Yang telah membuat masa remajanya penuh warna. Tangis, tawa, rindu dan kecemasannya terhadap seorang Re, selalu melukis hari-harinya. Petualangan-petualangannya yang konyol dan kerinduannya yang tak beralasan terhadap alam, sering memenjarakannya dalam kecemasan yang sangat kental. Membuat nama cowok itu terpatri dalam di lubuk hatinya.
Senggigi adalah venus. Cantik dan menggoda. Pantainya yang landai, dipangku bukit-bukit kecil dan kelokan jalan mulus, dari hari ke hari membuat pesona Senggigi semakin memikat. Belum lagi kalau senja turun, sinar jingga dari ufuk barat dengan leluasa menjilati punggung nelayan dengan perahu tradisional yang ditambatkan di bibir pantai. Juga jerit bocah-bocah pantai yang bermain lepas, mengejar kepiting laut, memberi warna lain di pantai ini. Mungkin hal itulah yang membuat ‘orang-orang berkantong tebal’ membekap Senggigi yang cantik ke dalam pelukan kavling-kavling bungalow yang kini menjamur di bibir Senggigi. Menyedihkan memang. Tapi itu hal yang sudah tidak asing lagi.
“Kita pulang Egi. Sudah tiga hari kita tinggal di pantai ini,” Fe, sahabat karibnya mengusik kebisuan gadis itu.
“Biarkan Re tenang di dunianya,” Fe berusaha merengkuh pundak Egidia.
“Ia pergi dengan beribu beban, Fe!” Kalimat Egidia terdengar masygul.
“Aku merasa gagal mengerti dunia Re, Fe.” Sesuatu mengembang di kelopak mata Egidia. Gadis itu menatap lurus ke hamparan permukaan pantai Senggigi.
“Sudahlah. Buanglah rasa bersalahmu itu, Egi.”
“Aku melarangnya ketika Re ingin pergi ke pantai ini, Fe. Seharusna aku tidak boleh melarangnya ke mana pun ia pergi. Alam adalah sahabat Re yang sesungguhnya.” Ada isak tangis terdengar dari mulut gadis itu.
“Sudahlah, Egi. Lupakan. Semua sudah takdir. Kita hanyalah boneka, Egi. Lemah dan tak berdaya apa-apa bila sudah berhadapan dengan takdir.” Fe berusaha menghibur Egidia.
Ia mengerti perasaan Egidia sepenuhnya. Ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dikasihi, pasti membuat perasaan sahabatnya itu terpukul. Apalagi Re pergi begitu mendadak. Tergulung gelombang pasang di pantai Senggigi ini, ketika Re sedang terlelap di dalam tendanya.
Kedua remaja itu tenggelam dalam kebisuan.
Mendadak gerimis mengguyur Senggigi. Kedua remaja itu tak juga beranjak dari bibir pantai. Ada satu hal yang ditunggu-tunggu selama tiga hari di Senggigi ini.
Dan harapan Egidia tak sia-sia. Ketika gerimis mulai mengguyur, dan sinar matahari masih tersisa, tiba-tiba sebuah lengkungan indah menggeliat dari balik awan. Menyodorkan warna indah sampai ke garis pantai.
“Lihat, Egi,” Fe berteriak sembari menunjuk semburat warna-warni yang dari detik ke detik semakin jelas. Membentuk selendang raksasa dengan tujuh warna sempurna.
Egidia menatap dengan mata nanar.
Senyum manis Re berkelebat di sela-sela pelangi. Kerinduan kepada Re menggumpal di dadanya. Matanya berkaca-kaca. Senyum manis itu terus menari-nari di pelupuk matanya.
Seperempat jam gadis itu larut dengan ilusinya. Ia merasa Re seperti hadir kembali. Menemaninya, melihat pelangi seperti dua tahun lalu di Pantai Anyer, saat untuk pertama kali saling dipertemukan.
“Kita ke Jakarta, Egi. Hampir seminggu lamanya kita meninggalkan bangku sekolah,” Fe tersenyum. Mengoyak nyanyian indah yang baru beberapa detik mengalun indah di dasar hatinya.
Pelangi yang indah itu kini telah tiada. Lenyap bersama hadirnya semburat kuning di sebelah barat.
“Yah, kita pulang, Fe!” Kalimat Egidia terdengar mantap. Ia banyak belajar dari Re tentang kehidupan. Pelangi adalah simbolnya. Tak satu pun ada yang abadi di muka bumi ini. Egidia mengerti sepenuhnya akan keputusan Re yang dulu sempat membuatnya putus asa. Alam, adalah cinta Re yang sesungguhnya. Bukan dirinya!

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.