Cerpen Ryana Mustamin

August 8, 2009 at 2:22 pm | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

ryanaHappy birthday to you.
Happy birthday to you.
Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you….

“SELAMAT ulangtahun, Utami!” Papa tersenyum samar. Disentuhnya kening Utami lembut, lantas ditatapnya wajah putrinya dengan lekat. “Kamu harus panjang umur!” Suara papa gemetar, dengan rahang yang mengeras.
Utami menggigil mendengar kalimat terakhir itu. Dirasakannya jemari yang merangkulnya dingin. Utami menatap aneh, dan seleret duka yang pernah hadir lima hari lalu kembali membayang pada wajah tua di depannya. Gadis itu membuang pandang, menyembunyikan matanya yang merebak. Ia tidak tahu, kejadian apa yang sesungguhnya tengah ia alami; memperingati ulangtahun dalam suasana berkabung….
Utami memejamkan mata, menenteramkan sedihnya. Tapi justru bayangan kelam yang memintas; sosok-sosok berbaju hitam, bau tanah merah yang basah, daun kamboja yang luruh….
Angin yang bertiup bergegas. Mama menyentuh lengannya, memeluk dan menciumnya. Wanita baya itu kemudian membisikkan ucapan selamat dengan nada yang sama dengan Papa: kering dan gemetar.
Malam mulai melarut. Bulan membayang lembut, bergerak naik, melewati satu-dua bintang. Ada bayangan pepohonan yang jatuh di rumput halaman. Di luar amat lengang, dan murung. Utami mengeluh lirih, lantas tatapnya jauh menerawang, benaknya pun mengembara ke lain tempat, ke sebuah lereng pegunungan yang senyap dan lembab, tempat Utari — saudara kembarnya, dibaringkan lima hari lalu. Dan dalam lima hari terlewat itu, Utari telah melupakan rumah putih, Papa, dirinya, dan…. ulangtahun mereka malam ini!
Suara angin dan desahan Papa terdengar sayup. Utami menoleh. Pandangannya jatuh pada kue ulangtahun di atas meja. Ia tidak memiliki keinginan untuk menyentuhnya. Dulu, tak satu pun peringatan semacam itu terlewati tanpa Utari. Dan mereka akan meniup lilin ulangtahun secara bersama-sama. Betapa pun mereka seperti anjing dan kucing sehari sebelumnya. Tapi kini?
“Papa tidak memiliki kado….”
Hening pecah. Ada burung malam melintas di atas genteng.
“Tapi Papa ingin bermain untuk Utami,” Papa membuka piano di sudut ruangan. Sejurus kemudian jemarinya lincah menari di atas tuts, melantunkan ‘Serenade’, sepenuh perasaan, menyulamkan kesesakan di dada Utami. Lagu itu, lagu kesayangan Utari. Ada kenangan berlarian tergesa: Papa membaca koran, Utari datang mengusik dan merajuk, meminta piano dimainkan, lalu mengalun Serenade….
Suatu kala, di kesilaman, betapa Utami benci dengan pemandangan seperti itu. Kemesraan Papa dan Utari, menumbuhkan sesuatu yang lain di hatinya. Kehilangan, keterasingan, dan kebencian. Namun, betapa sering sepenggal impiannya berhias peristiwa sejenis; ia dan Papa dalam sebuah taman bunga, berlarian, dan senggak oleh gelak. Tapi kemudian, saat terjaga, Utami hanya merasakan sebuah kengiluan. Ia tahu impiannya tidak akan pernah menetas jadi kenyataan.
Awan-awan bergerak menutupi bulan. Bayangan pepohonan di halaman hilang. Tapi dalam pekat dan kedap, ingatan Utami tetap berlayar. Kemudian berlabuh ke suatu masa di belahan hari lalu.

***

Dingin telah mencapai sumsum saat Utami tiba di ambang pintu. Hujan belum reda.
“Hai, Ri!” Katanya ketika daun pintu di depannya melebar. Dikibas-kibaskannya rambutnya yang kuyup.
“Baru pulang?” Gadis di depannya menatapnya penuh rupa.
Pertanyaan yang tidak perlu sebetulnya. Tapi Utami hafal adat Utari. Ia enggan ribut, maka dijawabnya dengan anggukan.
“Kau memang suka cari penyakit!”
Langkah Utami terhenti.
“Kau sendiri yang menciptakan kemarahan Papa!” Utari mengawasinya tajam.
“Sudah terlalu sering kau mengurusku, Ri. Aku sudah bosan mendengarnya!” Utami melanjutkan langkah.
“Itu demi kebaikanmu sendiri!” Utari berang.
Utami tersenyum patah. “Tidak begitu caranya!”
“Ho-ho, minta dibujuk? Tami sayang, betahlah di rumah! Belajarlah yang rajin, dan jangan keluyuran hingga malam begini….”
Mata Utami berkilat. Bulan di langit bersinar pucat.
“Seharusnya kau tidak perlu memaksakan seluruh kehendakmu. Apalagi memperalat Papa. Semua orang memiliki jalan sendiri. Kau memilih duniamu, dan Papa bangga karenamu. Tapi maaf, jangan memintaku mengulang dan mengikuti kesuksesanmu!”
Wajah saudara kembarnya itu menegang. Tersinggung.
Utami tidak peduli. Semalaman ia latihan untuk sebuah pagelaran. Ia lelah. Ia dingin. Ia merasa malang dan papa. Di perjalanan pulang tadi — dalam hujan badai, Utami masih sempat membangun ilusi: seseorang akan menyambutnya dengan mata cemas, menyuruhnya bergegas mengganti pakaian, menyodorinya segelas susu panas….
Utami menggigit bibirnya yang pucat. Pedih. Dan kepedihan serta kelelahan begitu mudah menetaskan kerapuhan dan kepitaman. Apalagi Utari… ah, ia sudah terlalu penat memelihara kesabaran.
“Kau memang banyak memiliki kelebihan dan semua mengakuinya,” suara Utami lara.
Angin memintas tergesa.
“Kenapa kau tak puas juga? Kenapa kau masih mencari kelebihan dengan mencari kelemahanku? Apa salahku?”
“Kau mulai kurang ajar!” Suara Utari berbaur tangis, dibaluri emosi.
“Aku hanya berkata apa adanya. Kau….”
“Tami!”
Ada kilat yang nyala di angkasa, lantas mati di penghujung cakrawala. Guruh secara runtun melukai keheningan langit. Musim yang rapuh, batin Utami, seperti hatiku. Suara yang keras dan berat milik Papa senantiasa membuatnya gagal memaki Utari. Ia seolah datang untuk memangkas habis pita suaranya, memaksanya berdiri di pihak yang lemah. Selalu begitu.
“Bertengkar lagi?” Suara berat itu kini dibarengi sorot mata berkilat angker.
“Biasa, Pa!” Utari menyahut, dan menenteramkan isaknya. Dipandangnya Utami dalam tatap penuh amarah. “Dinasehati, malah melawan!”
“Aku tidak butuh nasehat….”
“Tami!” Suara Papa menggelegar, menyaingi guruh.
Utami mengeluh pedih. Lagi-lagi kalimatnya tertebas. Papa mengawasinya nanar, menyalahkan.
Gadis itu menelan ludah, sakit. “Papa selalu membela Tari!” Suaranya tersendat, mengandung isak, dan putus asa.
“Papa tidak membela siapa-siapa. Hanya secara kebetulan Tari berdiri di pihak yang benar.”
Benar?! Utari benar?! Katakanlah begitu. Tapi kenapa Papa mesti mencetuskannya di depan Utari?! Mengapa Papa mengajari Utari jadi besar kepala?!
“Kau selalu pulang malam-malam, amat jarang di rumah. Wajar kan kalau Tari menegurmu? Papa juga tidak suka.”
“Tapi….”
“Masuklah! Dan belajar, seperti Tari!” Suara Papa tak terbantah.
Rinai hujan masih menggantung dalam kabut. Tenggorokan Utami perih. Ia lungkah, dengan sakit yang membelukar. Seperti Tari: betapa ia benci kalimat itu.
Utami mencari tombol lampu. Kamar benderang. Tapi hatinya pepat. Masih melela di matanya: Utari yang memandanginya dengan mata penuh kemenangan….
Betapa ia ingin tidur. Melupakan semuanya, meredam lara. Digantinya sweater. Tapi kemudian kakinya membawa ke jendela. Ia memang sulit tidur dalam keadaan demikian.
Hujan kini lembut, tapi langit masih berwarna ungu. Di seputar rumah, kabut melayang rendah. Utami mendesah. Di tempat yang sekarang, betapa ia sering menahan tangis, berdoa memohon ketegaran, dan belajar memanen hikmah sebuah prahara. Kunang-kunang terlalu sering jadi pelariannya, mengadukan kesomplakan jiwanya. Kerap ia berangan, betapa menyenangkan jadi seekor kunang-kunang, beterbangan, membawa berkas sinar di kelegaman.
Awan menepi, bintang-bintang mulai bermunculan. Bersinar pucat, terhalang kabut. Namun, betapapun sinarnya cerlang, Utami tak suka. Baginya, semua bintang tak ada yang berbeda: sama melukai! Kecuali satu-dua bintang dalam genggamannya….
Utami mengerjapkan mata. Sekarang, ia lebih suka merenungi langit. Padahal dulu, terlalu sering ia bermain di bawah purnama. Mengejar kunang-kunang, atau sekadar memperhatikannya dari kursi teras. Tapi betapa seringnya ia berbuat serupa, lebih kerap lagi Mama mengusiknya bersama Utari, memporandakan keasyikannya, melumatkan sebuah dunia yang diciptakannya diam-diam….
“Tami, nyanyi!” seru Mama.

Bintang kecil
di langit yang biru
amat banyak menghias angkasa
aku ingin….

Ah, ia suka lupa dengan ‘Bintang Kecil’ Mama. Ia tidak tertarik mengulang-ulang sebuah lagu yang sama. Baginya, binatang kecil berlampu itu jauh lebih memikat. Dan mama kecewa menjadi ibu guru yang gagal.
“Tami begitu lamban!” Lapor Mama ke Papa. “Tari bisa secepat itu menghafal lagu, tapi kok Tami nggak?”
Kemarau telah jatuh ketika Utami menyadari apa arti kekecewaan Mama. Ternyata ‘kelambanan’ menciptakan kerontang di dadanya. Rinai hujan telah berlalu, mengakhiri sejumlah hijau. Hal itu dipahaminya di bulan Juni, saat kenaikan kelas.
Papa menghambur dan memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi Utari. Utari juara kelas. Dari balik gorden, Utami perih menyaksikan adegan itu. Matanya mengerjap menyaksikan tubuh Utari yang berputar-putar di udara, penuh gelak dalam gendongan Papa.
“Tari minta hadiah apa?”
“Papa mau ngasih apa?” Mata Utari berpendar-pendar, sarat bintang.
“Apa yang Tari minta, Papa berikan!”
Tenggorakan Utami perih dan kering. Lalu ia ingat peristiwa sebelumnya. Mama yang mengeluh kecewa, mata Papa yang berkilat dengan urat menegang….
“Kok bisa begini, Mi?” Dahi Papa terlipat. Ada kemarahan ikut mengalir.
Gadis kecil itu merunduk pasrah. Ia mengerut, mencari perlindungan. Ditatapnya Mama. Tapi wanita itu justru kembali mengeluh. “Kembar. Tapi kok….?”
“Tami! Dengar papa!” Lelaki di depannya menatap nanap. “Tami harus mengurangi main. Tami harus belajar banyak, mengejar ketinggalan. Tahun depan, tidak boleh tidak, Tami harus naik kelas!”
Rerumputan meranggas dikhianati musim. Di udara, cakrawala mulai memucat. Sedikit demi sedikit kelam jatuh. Menyelimuti perdu bunga mawar dengan nuansa temaram. Di tubuh jalan, sepasang kaki mengayuh sepeda. Penat dan berdebu. Hujan telah lama selesai. Dan entah kapan lagi ia mengunjungi senja. Entah kapan lagi Utami menyaksikan polesan jingga di ufuk barat yang terbasuh hujan hingga lamur. Dunia kini begitu garing, dan sempit. Papa memaksanya menghabiskan waktu di depan meja belajar, seperti laku Utari. Ia hafal nyanyian Mama sepulang sekolah: “Cuci tangan dan kaki, Mi. Makan. Setelah itu belajar sebentar, lalu bobok siang. Petang nanti, selesaikan PR….”
Debu beterbangan. Jalan kecil yang dilewati Utami memang berabu. Banyak bocah yang berlarian, mengejar layang-layang putus. Matahari di situ selalu memanggang. Tapi Utami merasa damai tiap kali menyusurinya. Apalagi bila ia tengah melarikan kecewanya.
Ia tiba di depan rumah yang dicarinya, bercat biru teduh. Selalu teduh. Karena di dalamnya ada mata Kak Didi yang tenang dan lembut, ada ‘Papa-Mama’ kedua yang selalu mengerti.
“Masuklah, Adik Kecil!”
Angsa-angsa putih berkejaran di kolam. Lewat jendela, Utami melihat air yang semula tenang beriak.
“Tari usil lagi?” Didi menatapnya lunak.
Ayun langkah kami memang tak pernah bisa sama, batin Utami. Utari memaksanya untuk mengikuti jejaknya. Tak ada menit terlewati tanpa belajar, belajar dan belajar; memaksakannya jadi kutubuku, memaksanya jadi patung porselen yang berdiam di kamar.
Oh. Utami tak pernah bisa melakukannya. Jiwanya tak bisa terpenjara begitu. Ia menyukai bau tanah basah, ia mencintai hutan yang remang, ia selalu rindu pada tebing bercadas, ia menemukan dunianya di alam bebas. Ia menemukan pelabuhan di dada seseorang yang selalu mau memahaminya, ia menemukan cintanya dalam rengkuhan seorang lelaki bernama Didi.
Helaan napas gadis itu panjang dan pasrah. Didi memperhatikan mata murung di sampingnya dengan batin menggelepar. Utami yang berhati lembut, gadis kecilnya yang malang….
Didi yang membawanya berani keluar dari ambisi Papa dan Utari. Mereka bertemu pada sebuah musim. Dan keinginan untuk menyibak misteri di balik mata murung Utami begitu kuat menggelitik nuraninya. Gadis itu seperti memiliki keletihan yang panjang, kesendirian yang tak bertepi….
“Papa telah menyiapkan sebuah model untukku. Dan itu adalah Tari!” Keluh Utami tak suka, suatu ketika. “Aku tidak punya kesempatan untuk menjadi diriku sendiri. Aku pernah kalah dalam suatu kesempatan. Dan kini, Tari selalu menebas tiap kali aku mau memperbaikinya dengan caraku sendiri. Ia memang besar kepala di hadapan Papa….”
Utami asyik dengan lamunannya. Ia ingat sebuah malam yang pernah terlewati. Ruang tamu penuh gelak dan canda Oom Ben dan Tante Tien — sahabat Papa semasa SMA.
“Ini Utari dan Utami….”
“Kembar?” Oom Ben menatapi ia dan Utari bergantian dengan mata tersenyum.
Papa mengangguk. “Tapi keduanya seperti bumi dan langit.”
“Kok?” Tante Tien tak pandai menyimpan kesabaran.
“Ya, mereka memang tak ubah dengan langit dan bumi!” Mama menimpali. “Utami keras kepala, lamban dalam menangkap pelajaran. Berbeda dengan Utari. Ia anak yang manis, penurut, cerdas….”
Angin yang menerpa amat memerihkan pipi. Utami mengerjapkan mata. Mendadak kegamangan menyergapnya. Papa dan Mama telah menghantarnya pada sebuah pulau tak berpenghuni, membuatnya kehilangan arah. Disaksikannya mata kecil Utari yang berpendar-pendar penuh bintang dengan perasaan sakit. Ditatapnya hidung saudara kembarnya yang kembang kempis itu dengan perasaan benci. Dan, diam-diam, ia surut, menyingkir dari ruang tamu. Berdiam di kamar, menulikan kuping, tentu itu pekerjaan yang lebih bagus. Sebab ia hapal luar kepala apa yang bakal dipercakapkan Papa dan Mama dengan kedua tamunya itu; daftar tentang ‘bintang kelurga’ Utari kian panjang. Dan makin disadarinya: ia bukan kelinci kecil Papa yang lucu, pun bukan boneka Mama yang manis!
Senja merebak. Utami dan Didi berpandangan. Tangisan usai. “Maafin aku, ya! Aku selalu membawa kemelut….”
Didi mengulurkan tangan, menyeka lembut sepasang mata basah di depannya. Disentuhnya kening Utami sekejap. “Kita pergi latihan sekarang?” Didi mengawasinya lembut.
Letih Utami menyingkir. Ia membalas dengan mata tersenyum. Terbayang bintang-bintang dalam genggamannya: berpuluh piala dan piagam yang disembunyikannya di lemari….
Dialah pianis dan Sri Panggung yang memukau penonton, dialah bintang lapangan yang selalu mengundang gempita tempik sorak-sorai di tepi lapangan basket. Tapi Papa tidak pernah tahu itu — tak pernah mau tahu. Dan Utami merasa tidak perlu memberitahu. Ia cukup puas dengan dunianya, dengan Didi-nya. Ia tidak ingin mengusik kedudukan Utari di mata Papa. Biarlah Utari tetap jadi patung porselen….

***

Serenade telah lama berhenti. Suasana ngelangut meriap di ruangan. Mama sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Papa tertunduk di depan piano dengan mata berkaca, seolah berdoa untuk Utari. Di atas meja, kue ulang tahun masih utuh.
Malam makin larut. Utami tiba-tiba merasa ingin bertemu dengan Utari, ingin berada di dekatnya. Tapi berjuta tirai seolah menghalangi. Utami merasa menggapai, tapi tetap tak mampu disingkapnya.
Kakinya membawanya melangkah ke kamar Utari. Kelengangan menyambutnya. Utami mengusap foto Utari di atas meja dengan sepenuh jiwa. Timbul keinginannya untuk membereskan meja belajar Utari yang berdebu, membersihkan buku-bukunya. Hanya dengan berada di meja Utari, Utami merasa dekat dengan saudara kembarnya itu. Ia tahu pasti, waktu Utari banyak tersita di tempat itu.
Utami seolah melihat Utari datang, menuntun jemarinya membuka laci-laci meja. Angin malam menyerbu masuk lewat jendela yang dibiarkannya terbuka. Dada Utami gemuruh. Buku harian Utari ada dalam genggamannya. Catatan terakhir — tertanggal duapuluh tiga, ditulis sehari sebelum Utari mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.

Jumat, 23 September
My dear,
Kami bertengkar lagi. Saya tahu Tami tidak bersalah. Malam ini — dan berpuluh malam sebelumnya, ia pulang terlambat.
Saya tahu pasti Tami latihan teater. Seperti halnya saya tahu, beratus-ratus hari sebelumnya, waktunya sarat dengan kegiatan-kegiatan serupa.
Saya tidak tahu, kapan saya berhenti memanfaatkan keterlambatan — dan semua kesalahan kecil Tami lainnya — untuk menyulut pertengkaran. Saya tahu, saya telah berkompensasi. Saya iri dengan dunia Tami. Semua memujanya, mengaguminya. la memiliki Didi. Sementara saya — seperti kata Tami, saya adalah porselen. Dunia yang serius membuat teman-teman enggan dan takut mendekat.
Satu satunya ‘kekayaan’ saya adalah Papa dan Mama. Tapi saya melihat tanda-tanda, saya bakal kehilangan semuanya. Suatu ketika, cepat atau lambat, tabir yang menyelimuti diri Tami akan tersibak. Saya takut, dear! Saya harus mempertahankan milik saya satu-satunya itu: saya tetap harus jadi kebanggaan Papa, saya harus melupakan dunia remaja yang ceria untuk menjadi ‘anak manis’ Papa dengan belajar dan belajar. Saya tak boleh ‘cacat’ di hadapan Papa, saya harus tetap juara kelas. Ya, harus tetap jadi porselen Papa….
Tami telah jadi korban. Saya berdosa (maafkan saya, Mi!). Saya tersiksa dengan semua ini. Saya kepalang basah. Diam-diam, saya menjadi arsitek bagi luka luka Tami. Tapi saya tidak melihat pilihan lain….

Bulan tak lagi perkasa di angkasa.
Ah, Utari yang malang!
Utami menggigit bibir. Airmata yang begitu lama tak jatuh, kini mengambang di pelupuk matanya.
Ditutupnya jendela kamar Utari. Ia tahu apa arti ulangtahunnya malam ini.
“Selamat malam, Tari. Selamat jalan saudaraku….”
Disekanya isak terakhir. 

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: