Cerpen Wita Alamanda Simbolon

August 8, 2009 at 10:20 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

witaSUNGGUH, kukutuki sekaligus kunikmati kenyataan yang kualami sekarang ini. Aku bertanya-tanya, normalkah aku, atau jiwaku yang telah sakit? Luka demi luka di masa lalu ternyata telah mencetakku menjadi cewek yang mempersetankan cinta. Sampai kenyataan baru itu datang. Aku jatuh cinta pada Om Bur, seorang selebriti di kotaku, seorang yang sangat ramah, dan seorang Papa dari sahabat terbaikku.
Aku gamang.
Kutepuk keningku. Kuhitung, sudah sebulan perasaan terlarang itu menjerat hatiku. Seharusnya memang, ini tidak boleh terjadi!
Tania, sahabatku, anak Om Bur, yang mengawali semua ini. Ia tahu aku sedang kacau waktu itu. Lalu ia mengusulkan sesuatu.
“Udah, deh, Ke, terima aja Resnu. Dia kan cakep banget.”
“Aku nggak bisa, Tan. Sumpah, aku nggak punya perasaan apa-apa padanya, juga pada yang lain,” aku hampir menangis. “Aku takut, Tan, jangan-jangan nanti aku bisa jadi lesbi!”
“Hus! Ngaco!” Tania memandangku iba. “Kamu sendiri yang menghukum dirimu. Makanya jangan dipikir terus.”
“Gimana caranya supaya nggak mikir?”
“Buang bayangan mereka dari pikiran kamu. O, ya, kamu suka nggak dengerin radio Santana?”
“Memangnya kenapa?”
“Untuk mecahin masalah-masalah asmara kayak kamu ini, radio Santana-lah tempatnya. Papaku kan penyiar di sana.”
“Masak, sih?” aku mulai tertarik.
“Papa ngasuh banyak acara. Salah satunya ‘Problema Asmara Kamu’. Cara konsultasinya enak lagi, Ke. Pakai telepon.”
“Siapa sih nama Papa kamu?”
“Bur. Di udara dipanggil Om Bur.”
Aku menganga. Benar-benar tidak menyangka. Jadi Om Bur, penyiar top itu, Papa Tania?
“Kamu kok nggak bilang-bilang Om Bur itu Papamu, Tan?”
Banyak memang yang belum kuketahui tentang Tania, terutama keluarganya. Ia seorang yang agak tertutup, sama seperti aku. Yang jelas, Tania telah kehilangan ibunya sejak kecil. Sedang aku, juga telah kehilangan Papa dua tahun lalu. Barangkali, latar belakang persamaan nasib itulah yang membuat kami cepat akrab sejak menjadi siswa SMA Teladan.
Tania-lah yang pada akhirnya membuatku menjadi penggemar maniak radio Santana, terutama acara-acara yang diasuh oleh Om Bur.
“Halo, radio Santana di sini,” kata Om Bur waktu pertama kali aku ikutan di ajang ‘Problema Asmara Kamu’. “Ini dari siapa, ya?”
“Dari Keke, Om. Keke temannya Tania.”
“Tania?”
“Iya, Om. Tania anaknya Om. Kami satu sekolah. Teman akrab, Om.”
“O, begitu. Pasti Tania yang nyuruh kamu ikutan acara ini. Iya kan, Ke?”
“Iya deh, Om.”
“Oke, sekarang cerita deh apa masalah kamu, Ke?”
“Gini, Om. Saat ini saya sedang kacau. Kacau benar. Saya sering bener dikecewain sama cowok. Akibatnya, selama hampir dua tahun ini, saya nggak bisa lagi jatuh cinta pada cowok, secakep apapun itu. Saya nggak punya perasaan apa-apa lagi pada cowok, Om. Dan memang saya nggak bakalan bisa jatuh cinta, Om Bur.”
“Ah, yang bener?” Om Bur tertawa. Tawa untuk yang pertama kali selama dua tahun ini kuakui sangat menawan.
“Bener, Om, saya nggak bohong!”
“Iya deh, percaya. Berapa sekarang usia kamu, Ke?”
“Limabelas, Om.”
“Udah berapa kali kamu putus dengan pacar kamu?”
“Lima kali, Om.”
“Waduh, banyak sekali iya, Ke. Itu artinya Keke itu laris. Om bisa tebak, Keke pasti cantik, iya,” Om Bur tertawa.
Aku ikut tertawa.
“Aduh, Keke, seharusnya di usia kamu yang masih amat dini ini, Keke nggak boleh tersiksa karena cinta. Biarkan cinta itu datang silih berganti dalam kehidupan Keke, sampai tiba saatnya nanti Keke menemukan cinta sejati.”
“Cinta sejati, Om?”
“Iya, Ke. Kalo cinta sejati nanti sudah datang, Keke akan sadar bahwa nggak benar Keke nggak bisa jatuh cinta lagi. Segala sesuatunya akan indah pada waktunya, Ke. Juga cinta sejati kamu akan datang pada waktu yang tepat, sehingga indah pada waktunya. Begitu, Ke.”
Tiba-tiba saja, semuanya menjadi lain. Tiba-tiba saja, perasaanku menjadi plong.
“Oke deh, Keke, Om yakin Keke belum puas. Keke boleh datang konsultasi ke studio, dan Om akan dengar semua masalah Keke.”
“Bener, Om?”
“Bener. Masak Om bohong?”
“Dua hari lagi, saya datang bareng Tania iya, Om.”
“Oke, Om tunggu. Sekarang udahan dulu, iya. Salam buat adik Keke, Mama Keke, Papa Keke, juga kucing Keke.”
“Tapi, Om…?”
“Kenapa?”
“Saya nggak punya Papa lagi. Sudah meninggal….”
“Oh, maaf, Keke. Kalo begitu, salam buat Papa didobelin ke Mama Keke aja, deh.”
“Iya, Om….”

***

Sejak itu, aku jadi akrab dengan Om Bur. Tampangnya tidak seperti Bapak-Bapak. Wajahnya kelihatan masih amat muda. Punya sepasang mata yang amat teduh, senyum yang menawan, dan tawa yang renyah. Ia punya banyak modal untuk digandrungi.
Dan saat ini, detik ini, sama seperti hari-hari kemarin, aku sedang menunggu Om Bur siaran. Cuma bedanya, hari ini aku datang sendiri tanpa Tania. Betapa kangennya aku memandang mata Om Bur. Betapa kangennya aku tangan itu kembali menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Nggak dengan Tania?”
“Tania ada urusan, Om,” aku berbohong. Padahal Tania tidak tahu aku ke sini.
“Keke pasti haus. Mau minum apa, Ke?”
“Apa aja deh, Om.”
Om Bur begitu perhatian. Alangkah bahagianya Tania punya Papa sebaik Om Bur, dan alangkah malangnya aku tidak punya Papa untuk bermanja-manja.
“Apa kabar adikmu Sasi?” tanya Om Bur sambil menyodorkan sebotol sprite dingin.
“Baik, Om.”
“Kucing Keke?”
“Lagi flu, Om.”
Kami sama-sama tertawa.
“Mama Keke cantik, iya. Lembut lagi.”
Aku menganga. Cantik? Lembut? Kapan ia melihat Mama?
“Kemarin, waktu ngantar Tania ke rumah Keke, Om sempat bertemu Mama Keke. Kami lama ngobrol. Keke sih, pergi ke mana aja? Tania sampai sebel nunggu Keke. Tania nggak cerita?”
Aku menggeleng lemah. Tiba-tiba saja aku merasa cemburu.
“Waktu masih muda, Mama Keke pasti secantik Keke.”
“Berapa jam Om ngobrol dengan Mama?”
“Kira-kira lima jam, deh.”
Lima jam? Selama itu? Apa saja yang mereka obrolkan?
“Agar-agar buatan Mama enak banget. Sudah lama Om nggak makan agar-agar seenak itu.”
Kugigit bibirku. Om Bur makan agar-agar buatan Mama?
“Kaget iya, Ke?” Ia mengacak rambutku. “Om sama Tania sempat makan siang di rumah Keke. Sayur asemnya enak!”
Kugigit telunjukku. Sampai makan siang segala!
Om Bur sudah kembali siaran. Aku tidak berminat lagi menungguinya siaran. Aku harus pulang!
“Keke!” panggil Om Bur ketika kakiku sudah di halaman.
“Iya, Om?”
“Keke ada ongkos pulang?”
“Ada….”
“Salam buat Mama….”
“Iya….”
“Bilangin, Om Bur kangen makan agar-agar lagi.”
“Iya….”
“Dadah Keke….”
“Dadah…!”
Langkahku begitu berat. Tertarikkah Om Bur pada Mama? Tidak, tidak, tidak mungkin! Itu cuma pengungkapan rasa hormat Om Bur terhadap Mama karena aku adalah sahabat Tania! Hanya sebatas itu! Tidak mungkin ada yang lain!

***

Ini adalah untuk yang pertama kalinya aku melihat wajah Mama bersinar lagi selama dua tahun ini. Sejak Papa berpulang, Mama larut dalam segala kesedihannya.
Malam ini, Mama cantik sekali. Sudah berdandan rapi. Om Bur-kah yang ditunggunya? Tidak mungkin! Toh sejak Om Bur titip salam, ia tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang Mama.
“Mama lain sekarang iya, Mbak Ke,” Sasi mencolek tanganku.
Aku diam. Tanganku sedang sibuk mencari gelombang radio Santana. Malam ini Om Bur siaran. Katanya siang tadi, ia akan kirim lagu untukku.
“Halo, kawula muda, radio Santana bersama Anda,” suara Om Bur. “Sekarang kamu-kamu sedang mengikuti ajang ‘Anjang Sana’. Buat Keke di Padang Harapan, udah belajar belum? Kalo udah, dengerin nih lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ milik Anditi yang kamu pesan tadi siang. Om yakin, Keke pasti hepi dengerin lagu ini.”
Lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ dari Anditi berkumandang di kamarku, juga di hatiku.
“Buat Keke, Om tinggal dulu, iya. Sekarang giliran Mama Keke yang Om kirimi lagu.”
Astaga!
“Buat Mama Keke, selamat malam, dan selamat menunggu kedatangan saya. Udah rapi, kan? Oke deh, sebentar lagi saya dan Tania akan menjemputmu. Anak-anak diajak sekalian, iya?”
Aku terhempas. Kenyataan macam apakah lagi ini?!
Jam delapan, Om Bur datang. Tidak bersama Tania. Aku mengintip dari kamarku. Mama setengah berlari ke halaman menyambut Om Bur. Mereka saling senyum, saling bertatapan, saling….
Maka berakhirlah semua harapanku.
Mereka cekikikan di ruang tamu.
“Tania nggak jadi ikut?”
“Katanya malas, Jeng. Dia titip salam saja untuk Jeng. Anak-anak mana?”
“Sasi baru aja keluar dengan pacarnya. Sebentar, saya lihat dulu Keke di kamarnya.”
Refleks kuhempaskan tubuhku ke ranjang. Kututupi wajahku dengan selimut.
“Keke, Keke, bangun, Nak. Ada Om Bur,” Mama mengguncang tubuhku.
Beberapa menit kemudian, Mama keluar. Nyata sekali Mama tidak bersungguh-sungguh membangunkanku. Supaya acaranya dengan Om Bur tidak terganggu!
Aku mengintip lagi dari kamar.
“Wah, Keke nggak bisa dibangunin lagi tuh, Mas.”
Dasar pembohong! Apa katanya tadi?! Mas?!
“Iya udah. Bagaimana kalau kita nggak jadi keluar? Kan lebih enak di rumah. Saya ingin memandang bola matamu lama-lama, Jeng….”
“Ah, Mas ini….”
Genit! Mama genit!
“Jeng…!”
“Iya…?”
“Sudah kamu beritahu anak-akan tentang rencana pernikahan kita?”
“Belum, Mas. Tapi aku yakin, mereka akan setuju. Apalagi Keke, dia pasti merasa sangat surprais.”
Airmataku banjir. Dua tahun aku tidak punya perasaan apa-apa pada cowok. Sekarang, setelah perasaan itu kembali muncul, kenapa Om Bur harus dirampas? Kenapa justru yang merampasnya adalah Mama?
Airmataku terus berhamburan, dan aku gagal menyembunyikan suara tangisku.
“Keke, ada apa, Nak?” Tiba-tiba Mama sudah berdiri di ambang pintu. Di belakang Mama, ada Om Bur….
“Keke, bilang pada Mama ada apa?”
“Keke… Keke…!”
“Kenapa, Nak?”
“Keke… Keke mimpi diterkam harimau. Keke takut, Ma….”
“Udah, jangan takut lagi, iya,” Mama menarikku ke pelukannya. “Di sini ada Mama, ada Om Bur.”
“Iya, Ke. Jangan takut. Ada Om di sini. Mimpi segitu aja Keke kok takut?”

***

Tak ada lagi suara radio di kamarku. Bahkan radio sudah kulemparkan ke gudang. Toh semuanya sudah berakhir! Toh luka-lukaku sudah sempurna dalamnya! Toh…!
Tinjuku terkepal, menahan rasa cemburu yang amat hebat.
Hari pernikahan Mama dengan Om Bur sudah ditentukan. Aku cuma bisa mengangguk lemah ketika Mama minta restu persetujuanku beberapa hari yang lalu.
“Kamu setuju kan, Ke, kalo Mama menikah… dengan Om Bur?” tanya Mama. Matanya memandangku penuh harap.
“Setuju, Ma.”
“Kamu kok lesu, Ke. Kenapa, Nak? Sakit?”
“Mimpi-mimpi seram itu terus mengganggu saya, Ma,” aku berbohong.
“Mimpi diterkam harimau?”
Aku mengangguk. Airmataku merebak. Tuhan, betapa pahitnya kenyataan ini!
“Sebaiknya, saya tinggal bersama Nenek dulu di Curup, Ma.”
“Baiklah, Nak.”
Sejak mendengar tentang pernikahan Mama dengan Om Bur, aku memang terus bermimpi. Bukan mimpi diterkam harimau, bukan! Aku bermimpi, Mama menikah di gereja. Dan dalam mimpi itu, aku menangis, menangis, dan menangis!

***

Menurut rencana, cuma sebulan aku tinggal bersama Nenek. Nyatanya, sampai bulan keempat, sampai Mama menikah, sampai Mama dan Sasi pindah ke rumah Om Bur, aku tidak kembali. Kukira, aku sudah tidak punya tempat lagi di sana. Buat apa aku kembali ke rumah, jika di sana aku cuma berjuang menyingkirkan rasa cemburu kepada Mama.
Tiap hari kerjaku cuma merenung, dan terus menyesali nasib.
Suara radio tetangga sebelah berkumandang, memamerkan lagu dangdut. Iseng-iseng, kuhidupkan radio Nenek.
Dan… suara khas Om Bur langsung meluncur.
“Buat Keke di kota kecil Curup, gimana kabarnya, Nak. Minggu depan, Papa, Mama, Tania, dan Sasi akan mengunjungimu. Papa kangen menjewer hidung Keke….”
Radio kusentakkan. Hampir saja jatuh membentur lantai. Apa katanya tadi? Papa? Lancang betul!
Minggu yang gila itu pun tiba. Mereka datang dengan segala keceriaan mereka, dengan segala kebahagiaan mereka. Tiga bulan pisah dengan Mama, aku lihat ia bertambah cantik. Tak ada lagi warna kelabu dalam matanya. Aku senang, tapi juga marah, sedih, sirik, iri, dan cemburu!
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Keke nggak kangen pada Papa?”
Tenggorokanku tercekik.
“Kangen kok, Pa….”
Tuhan, aku telah memanggilnya Papa?
“Halo, Kak Keke…!”
Aku semakin takjub. Apa kata Tania? Aku dipanggil Kakak? Aku memang tua tujuh bulan darinya. Tapi, haruskah aku dipanggil Kakak?!
Rasa takjubku tidak cukup sampai di situ. Tania dengan fasih memanggil Mama pada Mamaku, dan Sasi dengan lincahnya memanggil Papa pada Om Bur. Aku menggigit bibir. Harus bagaimana aku bersikap di tengah luapan kegembiraan mereka?
“Mama, Mama,” Tania menarik-narik tangan Mamaku. “Kolam ikannya mana dong, Ma?”
“Tuh, di ujung sana, Sayang.”
“Kita mancing sekarang dong, Ma!”
Mama, Om Bur, Sasi, dan Tania berlarian ke arah kolam ikan. Aku menyusul, tanpa semangat.
“Seharusnya kamu bahagia punya pengganti Papa sebaik dia, Ke,” Nenek menggamitku dari belakang.
“Saya bahagia kok, Nek.”
“Kenapa mesti bohong. Nenek sudah baca buku harianmu.”
“Nenek!” Aku memekik. “Nenek lancang sekali!”
“Kenapa ini bisa terjadi, Ke?”
“Saya nggak tahu, Nek! Perasaan itu mengalir begitu saja.”
“Sebenarnya bisa kamu cegah. Tapi kamu nggak mau melakukanna, karena kamu egois!”
“Egois kata Nenek?”
“Apa nggak egois namanya, jika kamu nggak rela Mama dan adik kamu bahagia. Sebenarnya, perasaan kamu pada Om Bur bukan cinta! Sebenarnya, sosok Om Bur muncul dalam benak kamu sebagai Papa, tapi kamu salah kaprah menyebutnya sebagai cinta. Dan nggak bener kamu nggak bisa jatuh cinta lagi! Kamu hanya belum ketemu cinta sejati, Keke. Percayalah, cinta sejati suatu saat akan datang dalam hidupmu, akan indah pada waktunya, Keke….”
Aku ternganga.
“Mulai sekarang, bunuh semua rasa cemburu kamu! Seharusnya kamu bersyukur, telah mendapat pengganti Papa yang sangat baik! Apalah artinya perasaan semu kamu dibanding dengan cinta dan kasih sayang Om Bur yang begitu tulus? Itu karunia besar, Cucu….”
Tangisku pecah.
“Tapi, Nek, saya duluan yang mengenal Om Bur.”
“Jadi maumu apa sekarang?”
“Nek….”
“Masihkah kamu tetap sirik pada Mama kamu, jika Nenek beritahu sekarang bahwa Mama telah mengandung?”
“Apa, Nek?”
“Kamu akan segera punya adik.”
“Saya… saya….”
“Sekarang pergi sana ikut mancing. Panggil Om Bur dengan sebutan Papa tanpa malu-malu!”
“Nek…!”
“Keke!” teriak Om Bur dari jauh. “Cepeten sini mancing bareng Papa!”
“Iya, Papa!”
Aku berlari menghampiri mereka ke kolam ikan. Nenek memang benar. Mulai sekarang, akan kubunuh perasaan terlarang ini, meskipun untuk itu aku harus berjuang.
Bukankah Om Bur pernah bilang, segala sesuatunya akan indah pada waktunya. 

Sungguh, kukutuki sekaligus kunikmati kenyataan yang kualami sekarang ini. Aku bertanya-tanya, normalkah aku, atau jiwaku yang telah sakit? Luka demi luka di masa lalu ternyata telah mencetakku menjadi cewek yang mempersetankan cinta. Sampai kenyataan baru itu datang. Aku jatuh cinta pada Om Bur, seorang selebriti di kotaku, seorang yang sangat ramah, dan seorang Papa dari sahabat terbaikku.
Aku gamang.
Kutepuk keningku. Kuhitung, sudah sebulan perasaan terlarang itu menjerat hatiku. Seharusnya memang, ini tidak boleh terjadi!
Tania, sahabatku, anak Om Bur, yang mengawali semua ini. Ia tahu aku sedang kacau waktu itu. Lalu ia mengusulkan sesuatu.
“Udah, deh, Ke, terima aja Resnu. Dia kan cakep banget.”
“Aku nggak bisa, Tan. Sumpah, aku nggak punya perasaan apa-apa padanya, juga pada yang lain,” aku hampir menangis. “Aku takut, Tan, jangan-jangan nanti aku bisa jadi lesbi!”
“Hus! Ngaco!” Tania memandangku iba. “Kamu sendiri yang menghukum dirimu. Makanya jangan dipikir terus.”
“Gimana caranya supaya nggak mikir?”
“Buang bayangan mereka dari pikiran kamu. O, ya, kamu suka nggak dengerin radio Santana?”
“Memangnya kenapa?”
“Untuk mecahin masalah-masalah asmara kayak kamu ini, radio Santana-lah tempatnya. Papaku kan penyiar di sana.”
“Masak, sih?” aku mulai tertarik.
“Papa ngasuh banyak acara. Salah satunya ‘Problema Asmara Kamu’. Cara konsultasinya enak lagi, Ke. Pakai telepon.”
“Siapa sih nama Papa kamu?”
“Bur. Di udara dipanggil Om Bur.”
Aku menganga. Benar-benar tidak menyangka. Jadi Om Bur, penyiar top itu, Papa Tania?
“Kamu kok nggak bilang-bilang Om Bur itu Papamu, Tan?”
Banyak memang yang belum kuketahui tentang Tania, terutama keluarganya. Ia seorang yang agak tertutup, sama seperti aku. Yang jelas, Tania telah kehilangan ibunya sejak kecil. Sedang aku, juga telah kehilangan Papa dua tahun lalu. Barangkali, latar belakang persamaan nasib itulah yang membuat kami cepat akrab sejak menjadi siswa SMA Teladan.
Tania-lah yang pada akhirnya membuatku menjadi penggemar maniak radio Santana, terutama acara-acara yang diasuh oleh Om Bur.
“Halo, radio Santana di sini,” kata Om Bur waktu pertama kali aku ikutan di ajang ‘Problema Asmara Kamu’. “Ini dari siapa, ya?”
“Dari Keke, Om. Keke temannya Tania.”
“Tania?”
“Iya, Om. Tania anaknya Om. Kami satu sekolah. Teman akrab, Om.”
“O, begitu. Pasti Tania yang nyuruh kamu ikutan acara ini. Iya kan, Ke?”
“Iya deh, Om.”
“Oke, sekarang cerita deh apa masalah kamu, Ke?”
“Gini, Om. Saat ini saya sedang kacau. Kacau benar. Saya sering bener dikecewain sama cowok. Akibatnya, selama hampir dua tahun ini, saya nggak bisa lagi jatuh cinta pada cowok, secakep apapun itu. Saya nggak punya perasaan apa-apa lagi pada cowok, Om. Dan memang saya nggak bakalan bisa jatuh cinta, Om Bur.”
“Ah, yang bener?” Om Bur tertawa. Tawa untuk yang pertama kali selama dua tahun ini kuakui sangat menawan.
“Bener, Om, saya nggak bohong!”
“Iya deh, percaya. Berapa sekarang usia kamu, Ke?”
“Limabelas, Om.”
“Udah berapa kali kamu putus dengan pacar kamu?”
“Lima kali, Om.”
“Waduh, banyak sekali iya, Ke. Itu artinya Keke itu laris. Om bisa tebak, Keke pasti cantik, iya,” Om Bur tertawa.
Aku ikut tertawa.
“Aduh, Keke, seharusnya di usia kamu yang masih amat dini ini, Keke nggak boleh tersiksa karena cinta. Biarkan cinta itu datang silih berganti dalam kehidupan Keke, sampai tiba saatnya nanti Keke menemukan cinta sejati.”
“Cinta sejati, Om?”
“Iya, Ke. Kalo cinta sejati nanti sudah datang, Keke akan sadar bahwa nggak benar Keke nggak bisa jatuh cinta lagi. Segala sesuatunya akan indah pada waktunya, Ke. Juga cinta sejati kamu akan datang pada waktu yang tepat, sehingga indah pada waktunya. Begitu, Ke.”
Tiba-tiba saja, semuanya menjadi lain. Tiba-tiba saja, perasaanku menjadi plong.
“Oke deh, Keke, Om yakin Keke belum puas. Keke boleh datang konsultasi ke studio, dan Om akan dengar semua masalah Keke.”
“Bener, Om?”
“Bener. Masak Om bohong?”
“Dua hari lagi, saya datang bareng Tania iya, Om.”
“Oke, Om tunggu. Sekarang udahan dulu, iya. Salam buat adik Keke, Mama Keke, Papa Keke, juga kucing Keke.”
“Tapi, Om…?”
“Kenapa?”
“Saya nggak punya Papa lagi. Sudah meninggal….”
“Oh, maaf, Keke. Kalo begitu, salam buat Papa didobelin ke Mama Keke aja, deh.”
“Iya, Om….”

***

Sejak itu, aku jadi akrab dengan Om Bur. Tampangnya tidak seperti Bapak-Bapak. Wajahnya kelihatan masih amat muda. Punya sepasang mata yang amat teduh, senyum yang menawan, dan tawa yang renyah. Ia punya banyak modal untuk digandrungi.
Dan saat ini, detik ini, sama seperti hari-hari kemarin, aku sedang menunggu Om Bur siaran. Cuma bedanya, hari ini aku datang sendiri tanpa Tania. Betapa kangennya aku memandang mata Om Bur. Betapa kangennya aku tangan itu kembali menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Nggak dengan Tania?”
“Tania ada urusan, Om,” aku berbohong. Padahal Tania tidak tahu aku ke sini.
“Keke pasti haus. Mau minum apa, Ke?”
“Apa aja deh, Om.”
Om Bur begitu perhatian. Alangkah bahagianya Tania punya Papa sebaik Om Bur, dan alangkah malangnya aku tidak punya Papa untuk bermanja-manja.
“Apa kabar adikmu Sasi?” tanya Om Bur sambil menyodorkan sebotol sprite dingin.
“Baik, Om.”
“Kucing Keke?”
“Lagi flu, Om.”
Kami sama-sama tertawa.
“Mama Keke cantik, iya. Lembut lagi.”
Aku menganga. Cantik? Lembut? Kapan ia melihat Mama?
“Kemarin, waktu ngantar Tania ke rumah Keke, Om sempat bertemu Mama Keke. Kami lama ngobrol. Keke sih, pergi ke mana aja? Tania sampai sebel nunggu Keke. Tania nggak cerita?”
Aku menggeleng lemah. Tiba-tiba saja aku merasa cemburu.
“Waktu masih muda, Mama Keke pasti secantik Keke.”
“Berapa jam Om ngobrol dengan Mama?”
“Kira-kira lima jam, deh.”
Lima jam? Selama itu? Apa saja yang mereka obrolkan?
“Agar-agar buatan Mama enak banget. Sudah lama Om nggak makan agar-agar seenak itu.”
Kugigit bibirku. Om Bur makan agar-agar buatan Mama?
“Kaget iya, Ke?” Ia mengacak rambutku. “Om sama Tania sempat makan siang di rumah Keke. Sayur asemnya enak!”
Kugigit telunjukku. Sampai makan siang segala!
Om Bur sudah kembali siaran. Aku tidak berminat lagi menungguinya siaran. Aku harus pulang!
“Keke!” panggil Om Bur ketika kakiku sudah di halaman.
“Iya, Om?”
“Keke ada ongkos pulang?”
“Ada….”
“Salam buat Mama….”
“Iya….”
“Bilangin, Om Bur kangen makan agar-agar lagi.”
“Iya….”
“Dadah Keke….”
“Dadah…!”
Langkahku begitu berat. Tertarikkah Om Bur pada Mama? Tidak, tidak, tidak mungkin! Itu cuma pengungkapan rasa hormat Om Bur terhadap Mama karena aku adalah sahabat Tania! Hanya sebatas itu! Tidak mungkin ada yang lain!

***

Ini adalah untuk yang pertama kalinya aku melihat wajah Mama bersinar lagi selama dua tahun ini. Sejak Papa berpulang, Mama larut dalam segala kesedihannya.
Malam ini, Mama cantik sekali. Sudah berdandan rapi. Om Bur-kah yang ditunggunya? Tidak mungkin! Toh sejak Om Bur titip salam, ia tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang Mama.
“Mama lain sekarang iya, Mbak Ke,” Sasi mencolek tanganku.
Aku diam. Tanganku sedang sibuk mencari gelombang radio Santana. Malam ini Om Bur siaran. Katanya siang tadi, ia akan kirim lagu untukku.
“Halo, kawula muda, radio Santana bersama Anda,” suara Om Bur. “Sekarang kamu-kamu sedang mengikuti ajang ‘Anjang Sana’. Buat Keke di Padang Harapan, udah belajar belum? Kalo udah, dengerin nih lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ milik Anditi yang kamu pesan tadi siang. Om yakin, Keke pasti hepi dengerin lagu ini.”
Lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ dari Anditi berkumandang di kamarku, juga di hatiku.
“Buat Keke, Om tinggal dulu, iya. Sekarang giliran Mama Keke yang Om kirimi lagu.”
Astaga!
“Buat Mama Keke, selamat malam, dan selamat menunggu kedatangan saya. Udah rapi, kan? Oke deh, sebentar lagi saya dan Tania akan menjemputmu. Anak-anak diajak sekalian, iya?”
Aku terhempas. Kenyataan macam apakah lagi ini?!
Jam delapan, Om Bur datang. Tidak bersama Tania. Aku mengintip dari kamarku. Mama setengah berlari ke halaman menyambut Om Bur. Mereka saling senyum, saling bertatapan, saling….
Maka berakhirlah semua harapanku.
Mereka cekikikan di ruang tamu.
“Tania nggak jadi ikut?”
“Katanya malas, Jeng. Dia titip salam saja untuk Jeng. Anak-anak mana?”
“Sasi baru aja keluar dengan pacarnya. Sebentar, saya lihat dulu Keke di kamarnya.”
Refleks kuhempaskan tubuhku ke ranjang. Kututupi wajahku dengan selimut.
“Keke, Keke, bangun, Nak. Ada Om Bur,” Mama mengguncang tubuhku.
Beberapa menit kemudian, Mama keluar. Nyata sekali Mama tidak bersungguh-sungguh membangunkanku. Supaya acaranya dengan Om Bur tidak terganggu!
Aku mengintip lagi dari kamar.
“Wah, Keke nggak bisa dibangunin lagi tuh, Mas.”
Dasar pembohong! Apa katanya tadi?! Mas?!
“Iya udah. Bagaimana kalau kita nggak jadi keluar? Kan lebih enak di rumah. Saya ingin memandang bola matamu lama-lama, Jeng….”
“Ah, Mas ini….”
Genit! Mama genit!
“Jeng…!”
“Iya…?”
“Sudah kamu beritahu anak-akan tentang rencana pernikahan kita?”
“Belum, Mas. Tapi aku yakin, mereka akan setuju. Apalagi Keke, dia pasti merasa sangat surprais.”
Airmataku banjir. Dua tahun aku tidak punya perasaan apa-apa pada cowok. Sekarang, setelah perasaan itu kembali muncul, kenapa Om Bur harus dirampas? Kenapa justru yang merampasnya adalah Mama?
Airmataku terus berhamburan, dan aku gagal menyembunyikan suara tangisku.
“Keke, ada apa, Nak?” Tiba-tiba Mama sudah berdiri di ambang pintu. Di belakang Mama, ada Om Bur….
“Keke, bilang pada Mama ada apa?”
“Keke… Keke…!”
“Kenapa, Nak?”
“Keke… Keke mimpi diterkam harimau. Keke takut, Ma….”
“Udah, jangan takut lagi, iya,” Mama menarikku ke pelukannya. “Di sini ada Mama, ada Om Bur.”
“Iya, Ke. Jangan takut. Ada Om di sini. Mimpi segitu aja Keke kok takut?”

***

Tak ada lagi suara radio di kamarku. Bahkan radio sudah kulemparkan ke gudang. Toh semuanya sudah berakhir! Toh luka-lukaku sudah sempurna dalamnya! Toh…!
Tinjuku terkepal, menahan rasa cemburu yang amat hebat.
Hari pernikahan Mama dengan Om Bur sudah ditentukan. Aku cuma bisa mengangguk lemah ketika Mama minta restu persetujuanku beberapa hari yang lalu.
“Kamu setuju kan, Ke, kalo Mama menikah… dengan Om Bur?” tanya Mama. Matanya memandangku penuh harap.
“Setuju, Ma.”
“Kamu kok lesu, Ke. Kenapa, Nak? Sakit?”
“Mimpi-mimpi seram itu terus mengganggu saya, Ma,” aku berbohong.
“Mimpi diterkam harimau?”
Aku mengangguk. Airmataku merebak. Tuhan, betapa pahitnya kenyataan ini!
“Sebaiknya, saya tinggal bersama Nenek dulu di Curup, Ma.”
“Baiklah, Nak.”
Sejak mendengar tentang pernikahan Mama dengan Om Bur, aku memang terus bermimpi. Bukan mimpi diterkam harimau, bukan! Aku bermimpi, Mama menikah di gereja. Dan dalam mimpi itu, aku menangis, menangis, dan menangis!

***

Menurut rencana, cuma sebulan aku tinggal bersama Nenek. Nyatanya, sampai bulan keempat, sampai Mama menikah, sampai Mama dan Sasi pindah ke rumah Om Bur, aku tidak kembali. Kukira, aku sudah tidak punya tempat lagi di sana. Buat apa aku kembali ke rumah, jika di sana aku cuma berjuang menyingkirkan rasa cemburu kepada Mama.
Tiap hari kerjaku cuma merenung, dan terus menyesali nasib.
Suara radio tetangga sebelah berkumandang, memamerkan lagu dangdut. Iseng-iseng, kuhidupkan radio Nenek.
Dan… suara khas Om Bur langsung meluncur.
“Buat Keke di kota kecil Curup, gimana kabarnya, Nak. Minggu depan, Papa, Mama, Tania, dan Sasi akan mengunjungimu. Papa kangen menjewer hidung Keke….”
Radio kusentakkan. Hampir saja jatuh membentur lantai. Apa katanya tadi? Papa? Lancang betul!
Minggu yang gila itu pun tiba. Mereka datang dengan segala keceriaan mereka, dengan segala kebahagiaan mereka. Tiga bulan pisah dengan Mama, aku lihat ia bertambah cantik. Tak ada lagi warna kelabu dalam matanya. Aku senang, tapi juga marah, sedih, sirik, iri, dan cemburu!
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Keke nggak kangen pada Papa?”
Tenggorokanku tercekik.
“Kangen kok, Pa….”
Tuhan, aku telah memanggilnya Papa?
“Halo, Kak Keke…!”
Aku semakin takjub. Apa kata Tania? Aku dipanggil Kakak? Aku memang tua tujuh bulan darinya. Tapi, haruskah aku dipanggil Kakak?!
Rasa takjubku tidak cukup sampai di situ. Tania dengan fasih memanggil Mama pada Mamaku, dan Sasi dengan lincahnya memanggil Papa pada Om Bur. Aku menggigit bibir. Harus bagaimana aku bersikap di tengah luapan kegembiraan mereka?
“Mama, Mama,” Tania menarik-narik tangan Mamaku. “Kolam ikannya mana dong, Ma?”
“Tuh, di ujung sana, Sayang.”
“Kita mancing sekarang dong, Ma!”
Mama, Om Bur, Sasi, dan Tania berlarian ke arah kolam ikan. Aku menyusul, tanpa semangat.
“Seharusnya kamu bahagia punya pengganti Papa sebaik dia, Ke,” Nenek menggamitku dari belakang.
“Saya bahagia kok, Nek.”
“Kenapa mesti bohong. Nenek sudah baca buku harianmu.”
“Nenek!” Aku memekik. “Nenek lancang sekali!”
“Kenapa ini bisa terjadi, Ke?”
“Saya nggak tahu, Nek! Perasaan itu mengalir begitu saja.”
“Sebenarnya bisa kamu cegah. Tapi kamu nggak mau melakukanna, karena kamu egois!”
“Egois kata Nenek?”
“Apa nggak egois namanya, jika kamu nggak rela Mama dan adik kamu bahagia. Sebenarnya, perasaan kamu pada Om Bur bukan cinta! Sebenarnya, sosok Om Bur muncul dalam benak kamu sebagai Papa, tapi kamu salah kaprah menyebutnya sebagai cinta. Dan nggak bener kamu nggak bisa jatuh cinta lagi! Kamu hanya belum ketemu cinta sejati, Keke. Percayalah, cinta sejati suatu saat akan datang dalam hidupmu, akan indah pada waktunya, Keke….”
Aku ternganga.
“Mulai sekarang, bunuh semua rasa cemburu kamu! Seharusnya kamu bersyukur, telah mendapat pengganti Papa yang sangat baik! Apalah artinya perasaan semu kamu dibanding dengan cinta dan kasih sayang Om Bur yang begitu tulus? Itu karunia besar, Cucu….”
Tangisku pecah.
“Tapi, Nek, saya duluan yang mengenal Om Bur.”
“Jadi maumu apa sekarang?”
“Nek….”
“Masihkah kamu tetap sirik pada Mama kamu, jika Nenek beritahu sekarang bahwa Mama telah mengandung?”
“Apa, Nek?”
“Kamu akan segera punya adik.”
“Saya… saya….”
“Sekarang pergi sana ikut mancing. Panggil Om Bur dengan sebutan Papa tanpa malu-malu!”
“Nek…!”
“Keke!” teriak Om Bur dari jauh. “Cepeten sini mancing bareng Papa!”
“Iya, Papa!”
Aku berlari menghampiri mereka ke kolam ikan. Nenek memang benar. Mulai sekarang, akan kubunuh perasaan terlarang ini, meskipun untuk itu aku harus berjuang.
Bukankah Om Bur pernah bilang, segala sesuatunya akan indah pada waktunya.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: