Cerpen Rahmat Taufik RT

August 8, 2009 at 10:04 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

taufikWirda mengeluh pelan. Sepucuk surat bersampul biru di tangannya ditatapnya sekali lagi. Dan kegalauan itu tiba-tiba saja datang, membelenggunya, dan rasanya hampir membekukan semua sendi-sendinya. Oh, surat ini….
Dengan matanya, dia mengeja untaian huruf di permukaan sampul biru lembut itu. Untaian huruf yang rapi, yang membentuk nama Leo di situ. Wirda menghela napas. Jemarinya bergetar manakala membuka ujung sampulnya. Cepat saja, dibacanya kalimat-kalimat berbaris rapi di situ. Dan dalam diamnya, kembali dia mengeluh pelan.
Jadi dia akan datang. Jadi Leo akan datang, besok. Tuhan, sekali lagi Wirda mengeluh. Seharusnya ini menggembirakan. Tetapi….
“Hai, Wir,” sebuah suara membuatnya menoleh. Indras tersenyum ke arahnya.
“Ada apa?” tanyanya sambil memaksakan diri untuk membalas senyum cowok itu. Dimasukkannya lembar surat Leo ke sampulnya.
“Surat dari siapa?” Indras yang melihat gerakannya, bertanya.
“Dari Leo…,” jawab Wirda, pelan dan ngambang.
“Oh, aku mengganggu keasyikanmu rupanya.” Indras tertawa kecil. “Kalau boleh tahu, Leo bilang apa?”
“Dia akan datang besok.”
“Wah, baguslah itu.” Indras mendesah. “Dengan begini kalian akan bisa menuntaskan rindu. Lima purnama yang terlewati tanpa dia cukup membuatmu kalang-kabut didera kerinduan, bukan?”
Wirda terdiam, merasa kelu mendadak untuk memberi tanggapan.
“Oya, ini bukumu kukembalikan,” Indras menyahut lagi. Diangsurkannya sebuah buku bersampul selebritis. “Thanks, ya,” katanya lagi. “Dan salam untuk Leo,” lanjutnya berseloroh seraya mengedipkan mata sebelum berlalu.
Wirda menggigit bibir. Diikutinya langkah panjang yang khas milik Indras dengan tatapan. Seorang lagi. Ya, seorang lagi yang tertipu. Lima belas menit yang lalu, ketika Yaning memberikan surat ini padanya, gadis berambut panjang itu pun mengatakan hal yang serupa; tentang rindunya pada Leo. Padahal… ah, apakah aku punya rindu, Wirda menggumam dalam hati. Rindukah aku pada Leo? Dengan tak pernah menyempatkan diri untuk berlama-lama mengingat Leo, apakah aku masih punya rindu untuk cowok itu? Dengan tak pernah sedikit pun menantikan kepulangan Leo, rindukah aku pada cowok itu?

***

Gucci di pergelangannya diliriknya sekali lagi. Pukul 3.20, sore. Berarti dia sudah terlambat 20 menit. Wirda menarik ujung bibirnya sekilas. Apa reaksi Leo melihat keterlambatannya kali ini? Marah, atau tetap seperti yang sudah-sudah; tersenyum dengan kearifan yang mengagumkan?
Dirapikannya sekali lagi jambulnya yang sudah bertengger manis di ubun-ubunnya. Kemudian dengan langkah tenang, dia melangkah ke tempat Leo yang sedang duduk memunggunginya.
“Leo…,” panggilnya halus.
Cowok itu menoleh. Dan senyumnya yang tenang itu, dan matanya yang menyiratkan kearifan, membuat Wirda menahan napas untuk sedetik.
“Kau terlambat sekali, Wir,” dia menengok arlojinya. “Hampir setengah jam. Macet, ya?”
“Leo, aku….” Wirda menunduk. Tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Tak mungkin dia mengatakan bahwa dia sengaja datang terlambat. Tak mungkin dia mengatakan bahwa sebenarnya dia tak menghendaki adanya pertemuan seperti ini….
“Tidak apa.” Leo mengibaskan tangan, tersenyum tenang. “Aku tahu kau sibuk akhir-akhir ini. Iya, kan?” Lalu ditariknya sebuah kursi untuk Wirda.
Ah, seperti dulu-dulu, keluh Wirda. Seperti kemarin-kemarin, setiap kali dia membuat kesalahan, Leo senantiasa siap dengan selaksa pengertiannya. Harus bagaimana, Leo? Aku harus bagaimana agar kau sempat untuk kehilangan kesabaran? Aku ingin melihat setitik kekurangan dari sikapmu yang teramat sempurna di mataku selama ini. Aku ingin melihatnya, Leo; setitik saja, agar kecanggungan bisa kutepis. Agar aku punya sedikit keberanian… ah… untuk mengatakan bahwa selama ini cinta belum bisa kutumbuhkan di hatiku….
Ditatapnya cowok yang tengah menunduk itu. Dia tahu, kesalahan paling besar yang pernah ia lakukan dan tak habis ia sesali adalah ketika menerima pernyataan cinta Leo tanpa tahu apa dan bagaimana wujud perasaannya yang sebenarnya pada cowok manis itu. Semuanya terjadi demikian cepat rasanya dan berlangsung begitu saja. Dan dia seperti tersihir oleh mata yang dipenuhi gemerlap kilau cinta yang bertaburan di dalamnya. Dan tahu-tahu dia telah mengangguk, mengiyakan dan menerima tawaran Leo!
Baru kemudian setelah sederet malam Minggu terlewati, kesadaran tiba-tiba saja datang melecut; dia tidak mencintai Leo. Dia menyukai cowok itu, barangkali menyayangi, tetapi tak pernah berhasil mencintainya. Sampai sekarang. Padahal dia telah berusaha sebisanya.
Wirda mendesah lirih. Cinta, di manakah dirimu sebenarnya? Lelah sudah batinku menggapai bayangmu untuk kupersembahkan pada Leo, kau tak pernah juga bisa kuraih. Lalu, sampai kapan sandiwara yang tak pernah sengaja tercipta ini berakhir? Wirda mengeluh. Dia lelah, dan ingin semuanya berakhir. Dia ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Leo, tapi sebelum niat itu terlaksana ketakberdayaan sudah lebih dulu datang membungkamnya. Dia tak sanggup, selalu tak sanggup melihat mata hitam penuh cinta itu berlumuran luka.

***

Lalu hari-hari pun berlalu dengan kebersamaan yang penuh sandiwara. Nyaris tanpa kesan, tapi bagi Wirda, bukan tanpa arti. Ya, di lintas hari-harinya bersama Leo, di sela keterpurukannya ke sudut kebimbangan yang kian menyiksa, dicobanya untuk meraup keberanian dan menepis ketanpadayaan.
Dan pelan-pelan, kesadaran pun mengusik. Dia harus jujur, pada Leo, pada hatinya sendiri, dan pada semuanya. Agar semuanya tak lagi menjadi beban. Toh, kalau langit bisa jujur dengan keapaadaan warnanya pada semua yang dipayunginya, kenapa dia tidak?
Tetapi nyatanya? Ah. Wirda lupa, tak semua insan menginginkan kejujuran. Terkadang, karena kepahitan, mereka lebih menyukai bila kejujuran tak pernah terucap. Salah satu ego dari manusia? Entahlah. Yang jelas, hanya dalam tempo kurang sejam setelah Wirda melayangkan surat pernyataan tentang kejujuran hati itu pada Leo, mobil cowok itu telah mendecitkan bannya di halaman rumah Wirda.
Kerikil lepas dari kumpulannya, debu terusik dari ketermanguannya ketika cowok itu melompat turun. Dan… mata itu, mata hitam penuh cinta itu, benar-benar berlumurkan luka! Wirda bergidik di keterpakuannya.
“Apa maksudmu dengan lelucon yang tidak lucu seperti ini, Wir?” desah Leo berat. Dan luka makin menganga di hitam matanya. Wirda menunduk, tak sanggup menatap.
“Wir,” suara Leo lagi, “Katakan, ada apa sebenarnya. Aku menyakitimu? Aku berbuat salah padamu?”
Wirda menggeleng pelan, tak mampu berucap. Padahal, inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Tapi… mana keberanian itu? Mana? Ah. Disesalinya hatinya yang terlampau lemah. Disesalinya kodratnya sebagai wanita yang melulu menempatkan perasaan di letak paling atas. Disesalinya semuanya!
“Lalu kenapa?” Leo mengeluh. Diusapnya wajahnya dengan kedua telapak tangan. Diamatinya Wirda yang tetap saja menunduk di hadapannya. Hati-hati dia mengulurkan tangan.
“Aku mencintaimu, Wir,” ucapnya pelan. “Amat sangat.”
Wirda masih diam juga; menekuri lantai dengan hati kacau.
“Tatap aku, Wir,” pinta Leo. Disentuhnya dagu gadis itu. Tanpa daya, Wirda mendongak, mencoba menguatkan diri untuk menatap Leo. Dan di mata Leo, luka dan cinta yang pekat bergumul di sana. Oh! Tak tahan, Wirda merapatkan mata, tak sanggup menatap lama-lama. Dan dua butir air bening meluncur begitu saja di kedua pipinya.
“Aku mencintaimu, Wir,” ulang Leo lagi. “Aku tidak ingin kehilangan kamu. Kau tidak sungguh-sungguh dengan surat ini, bukan?” tanyanya seperti tuntutan. Dan Wirda tak punya pilihan lain selain menelan ketololan lagi; mengiyakan semuanya. Leo menarik napas.
“Aku mengerti, kau kecewa karena aku kurang memperhatikanmu akhir-akhir ini. Tetapi kamu harus tahu, semua ini kulakukan untuk kita. Setelah lolos UMPTN, aku tidak boleh bersikap santai lagi, bukan? Banyak yang harus aku selesaikan sebelum berangkat ke Makassar. Dan itu membutuhkan waktu dan perhatian yang tidak sedikit. Kau mengerti?”
Dan lagi-lagi tak ada jalan lain bagi Wirda kecuali mengangguk.
Kemudian, Leo pun berangkat ke Makassar, membawa cintanya, membawa keyakinannya bahwa Wirda pun melepasnya dengan segenap cinta di Watampone. Dan surat-suratnya pun mengalir bak air bah. Tak perhah henti. Hingga detik ini, surat terakhirnya yang kini berada di genggaman Wirda, yang mengabarkan tentang kepulangannya besok.
Wirda mendesah. Ditatapnya sekali lagi surat itu. Sepasang burung yang tadi asyik bercengkerama di udara kini entah ke mana. Hilang dari pandangan. Tetapi kegalauan yang menggerumit di hati Wirda tak hilang juga. Dilangkahkannya kaki dengan lesu, dan begitu tiba dimulut gerbang distopnya sebuah becak. Dia ingin tiba cepat-cepat di rumah, merendam kepalanya dalam bak selama mungkin – seperti kebiasaannya kalau sedang sumpek – kemudian tidur.

***

Gagang telepon itu tergenggam erat-erat di tangan Wirda yang bergetar. Lidahnya kelu begitu mendengar suara dari seberang. Suara Leo.
“Sedari tadi kau hanya diam saja, Wir,” sahut Leo ketika menyadari bahwa hanya dia yang selalu ngomong. Ada nada rindu di letup suaranya. Dan Wirda merasa kedinginan tiba-tiba. “Pangling ya, mendengar suaraku?” Leo tertawa. Wirda menggigit bibir.
“Ah, aku kangen, Wir,” kata Leo lagi. “Sungguh! Kau percaya itu, bukan?”
“Leo, aku…,” ucapan Wirda menggantung, disalib oleh suara sumringah dari seberang.
“Tunggulah. Lima belas menit lagi aku ke rumahmu. Jangan ke mana-mana, ya.” Dan suara telepon yang diletakkan kembali membuat Wirda lunglai seperti kehabisan tenaga. Dibarengi dengan keluhan panjang, dihenyakkannya tubuhnya ke kursi panjang. Oh, sandiwara sialan ini mesti terjalani lagi! Sampai kapan?
Dan derum mobil memasuki halaman membuat Wirda bangkit. Dengan gerakan malas ditariknya handel pintu, lalu dengan senyum yang dipaksakan dia menyambut Leo yang turun tergesa dari Pajero-nya. Lihatlah, dia tampak semakin jangkung dan… tampan! Aneh, mengapa aku tak pernah bisa mencintainya, keluh Wirda di hati. Disambutnya uluran tangan Leo.
“Aku kangen, Wir,” kalimat pertama yang diucpkan cowok itu, sambil meremas hangat jemari Wirda. “Kau tahu itu?”
Tanpa kata, Wirda mengangguk.
“Kau semakin pendiam,” Leo menggumam kemudian, pelan. Matanya mengamati Wirda. “Ada apa?”
Tak ada sahutan. Wirda menggigiti kukunya; cermin hatinya yang sedang resah.
“Atau, kamu tidak senang aku pulang, ya?”
“Tidak, bukan begitu,” sanggah Wirda cepat.
Leo tertawa. “Sudahlah. Kita keluar sekarang, bagaimana?”
Oh, inilah yang tidak diinginkan Wirda. Keluar bersama Leo, sementara hatinya tak sedikit pun bersamanya. Itu sebuah siksaan; menipu diri sendiri, dan menipu Leo.
“Bagaimana, Wir?”
Wirda mendesah pelan. “Maaf, Leo, tapi kali ini….”
“Kenapa, tidak bisa?” pintas leo cepat. Matanya mengarah tajam ke manik mata Wirda.
Pelan, Wirda mengangguk.
Leo tertegun sejenak. “Baiklah kalau begitu,” desahnya kemudian. Ada kekecewaan yang mewarnai kalimatnya. “Aku pulang dulu.” Dia bangkit. “Besok, kalau kau punya waktu, kita keluar, ya.” Matanya bersinar penuh harap.
Wirda mengangguk pelan. Bagaimana lagi? Dan ketika bayangan Leo menghilang bersama Pajero-nya, sederet perasaan bersalah tiba-tiba melingkari batinnya. Leo begitu tulus dengan cintanya, sementara dia? Ah.

***

Leo pulang dengan kecewa. Kursi rotan berderik ketika dia menjatuhkan tubuhnya ke situ. Kekecewaan bergumpal-gumpal di hatinya. Selama kepulangannya hanya sekali dia bertemu dengan Wirda. Selebihnya, jangankan sosoknya, baunya pun tak tercium. Hanya laporan: ‘Non Wirda sedang keluar, belajar di rumah temannya’ dari Bik Inah yang senantiasa menyambutnya.
“Temannya yang mana, Bik?”
“Ndak tahu tuh, Den. Non Wirda ndak bilang apa-apa.”
Pufh! Leo mengepal tinju dengan gusar. Ditatapnya foto Wirda di dinding kamarnya dengan pandangan nanar. Dia kesal, tapi tak mampu untuk marah. Tidak, gadis itu terlampau lembut untuk menerima damparatan. Dia mencintai gadis itu, amat mencintai!
Diusapnya wajah. Dicobanya untuk introspeksi diri. Siapa tahu dia pernah berbuat salah terhadap gadis itu. Tetapi setelah lama merenung, akhirnya dia mengeluh putus asa ketika tak juga berhasil menemukan sejumput kekhilafan yang pernah ia lakukan terhadap gadis itu. Lalu, kenapa sikap Wirda seperti itu? kenapa gadis itu seperti sengaja merentang jarak? Ada orang ketigakah, dan Wirda ingin memutuskan hubungan di antara mereka?
Putus! Leo terhenyak. Seperti sesuatu yang lama terbenam di dasar, tiba-tiba kesadaran muncul menyeruak. Dulu, lama berselang rasanya, menjelang keberangkatannya ke Makassar, Wirda pernah menawarkan kata yang sama. Putus!
Leo merasa gamang tiba-tiba. Baru disadarinya kini, masalah itu sebenarya belum tuntas. Tuhan! Apakah sikap menghindar gadis itu sekarang ada hubungannya dengan yang dulu?
Oh, rasanya tak sabar Leo untuk menemui gadis itu. Tetapi di mana? Sekonyong-konyong dia ingat Yaning. Ah, gadis itu pasti tahu kawan-kawan dekat Wirda. Dengan sigap diraihnya kunci kontak Pajero-nya, dan kemudian melesatkannya pergi.

***

“Heran deh, tak biasanya kamu begini, Wir,” cericau Yaning.
Wirda menoleh. “Kenapa?”
Yaning mengangka bahu. “Tiba-tiba rajin mengerjakan tugas, dan tiap hari ke sini….”
“Kamu tidak senang ya, aku datang ke rumahmu?” tanya Wirda memintas. “Sudah, aku pulang saja kalau begitu.”
“Eit!” Yaning melompat, menarik lengan Wirda. “Kau terlalu perasa akhir-akhir ini.” Dia tertawa. Wirda tersenyum.
“Aku ingin membenahi semua pelajaran, Ning. Ujian tinggal sebulan lagi, kan?” kilah Wirda.
Yaning mengangguk-angguk, meski tak sepenuhnya menerima dalih itu. Ada dugaan yang meluncas di hatinya. Tetapi tak berani untuk memastikan sendiri.
“Oya, apa kabar Leo?” tanyanya kemudia. “Sudah balik lagi ke Makassar?” sambungnya.
Dan Wirda tertegun. Ditatapnya Yaning dengan keresahan yang tak tersembunyikan. Ya, apa kabar Leo sekarang? Dia bingung, tak tahu mesti menjawab bagaimana. Tidak ada yang diketahuinya tentang Leo lagi, selain bahwa cowok itu setiap sore datang ke rumahnya. Dan… dan dia senantiasa menghindar; seperti yang ia lakukan sekarang….
“Wir…,” sentuh Yaning pelan. Wirda segera tersadar. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” lanjut Yaning lagi. Wirda menunduk.
“Dia masih di sini, kok,” jawabnya singkat. Dan tanpa kata, dibenahirnya buku-bukunya yang berserak. Yaning menatapnya dengan hati bertanya-tanya.
“Tapi kulihat Leo tak pernah bersamamu. Kenapa?”
“Tidak apa-apa,” Wirda menjawab pendek, tanpa menoleh, tetap sibuk mengemasi buku-bukunya.
Yaning menghela napas. Dari sikap Wirda, dia tahu gadis itu menyembunyikan sesuatu. Lembut, disentuhnya bahu gadis itu. “Kau mulai tak jujur, Wir,” katanya tanpa tekanan.
Wirda mendongak, menatap Yaning dengan mata resah.
“Aku sahabatmu kan, Wir. Katakan, kau menyembunyikan sesuatu tentang Leo, bukan? Dia menyakitimu?”
Wirda menunduk, menggeleng berkali-kali dengan gerak lambat. Leo menyakitinya? Laki-laki yang kebaikannya hampir mendekati titik kesempurnaan itu menyakitinya? Oh, tak akan pernah terjadi. Justru dia, dia yang menyia-nyiakan kebaikan cowok itu!
“Lalu kenapa?” desah Yaning bingung.
“Aku yang sengaja meghindarinya, Ning,” desis Wirda pelan.
Yaning mengerutkan kening.
“Jadi itu sebabnya setiap sore kau ke sini?”
Wirda mengangguk pelan. Kelu.
“Oh, Wir,” Yaning meremas bahunya, “Leo pasti tak akan memaafkan aku kalau dia tahu aku menyediaka tempat untuk menghindar buatmu,” sesalnya.
“Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain,” suara Wirda basah. Dan di matanya ada kabut tebal yang berangsur berubah menjadi gerimis kecil. “Aku tersiksa setiap kali mesti bertemu dengan Leo; menatap matanya yang penuh cinta. Aku tidak bisa!”
“Tapi kenapa?” tanya Yaning, tak habis pikir.
Wirda mendesah. Inikah saat untuk mengungkapkan segalanya? Setelah sekian lama berpura-pura dalam sandiwara yang tak pernah sengaja tercipta, setelah ratusan hari terlewati dengan hati terkemas rapi dalam kebimbangan. Inikah saatnya untuk mengakhiri semuanya?!
Dan memang itulah mestinya. Tersendat-sendat, Wirda menceritakan semuanya. Tentang ketololannya menerima cinta Leo tanpa mengkaji perasaannya sendiri, tentang pencarian dan pengejaran cinta yang meletihkan, kesia-siaan, kegoyahannya dalam bersikap dan tentang betapa dia ingin lepas dari belenggu ketanpadayaan….
“Aku tak menyangka hal ini.” Yaning merangkulnya begitu penuturannya selesai. Wirda terisak, tetapi ada kelegaan yang menyusup di sela-sela kisi hatinya.
“Aku tak tahu mesti berbuat apa lagi,” keluhnya. “Aku tahu, membiarkan segalanya berlarut-larut akan semakin memperparah keadaan. Tapi setiap kali kucoba untuk mengungkapkan segalanya pada Leo, ketakutan telal lebih dulu datang membungkamku. Aku tak sanggup melihatnya terluka. Dia begitu baik, begitu penuh pengertian dan pengertian… oh, aku tidak mungkin sanggup melihatnya kecewa….”
“Aku mengerti,” sahut Yaning pelan. “Tetapi sampai kapan kau akan membiarkan semuanya berlarut-larut? Diam tak selamanya merupakan jalan paling bijak, kau tahu itu. Jangan diam terus, Wir. Kau akan tersiksa, dan semakin menenggelamkan Leo ke dalam harapan-harapan kosong.”
“Tapi aku tidak bisa.” Wirda menunduk, mendekap wajahnya dengan kedua tangan. “Benar-benar tidak bisa!”
“Kau mesti bisa,” tekan Yaning. “Keterlibatanmu selama ini hanya karena ketakutanmu melihat Leo terluka, bukan? Percayalah, dia pasti menerima semuanya, sekalipun pahit. Dia bukan cowok kemarin sore, Wir. Dia pati bisa memahami semuanya dengan sikap dewasanya. Selama ini dia…,” kalimat Yaning menggantung. Di sana, di mulut pintu yang terbuka lebar, Leo tertegun dengan sorot mata aneh!
“Leo…!” desis Yaning hampir tak kedengaran. Dan Wirda terperangah. Keterkejutan yang memenuhi ruang dadanya seketika berganti dengan ketakutan yang amat sangat begitu mata Leo menghunjamnya. Dan luka itu, luka yang menganga lebar dan dalam, kembali ada! Tergambar jelas di mata hitam penuh kilau cinta itu. Lebih kelam dari yang dulu! Tuhan! Wirda mendesah, tetapi tetap tak sanggup bersuara. Dan sebelum keheningan berubah beku, Leo telah mencairkannya dengan berbalik tanpa kata, melangkah tergesa, melindas kerikil dengan suara berderak-derak.
“Leo,” Wirda memanggil dengan suara pelan. Tetapi Leo tak mendengarnya. Terus saja melangkah tergesa, membuka pintu mobil dengan kasar dan menutupnya dengan bantingan, lalu kemudian melesatkannya pergi.
“Dia pasti mendengar semuanya,” Wirda mengeluh. “Oh, dia pasti sangat kecewa.”
Yaning menghela napas pelan, mengelus bahu Wirda lembut.

***

“Jadi itu yang kau lakukan selama ini, Wir,” desah Leo pahit.
Wirda menunduk, menekuri lantai.
“Seharusnya kau tidak perlu menghindar,” sesal Leo. “Semua toh bisa diselesaikan dengan baik-baik, bukan?”
Kepala Wirda terangkat, mencoba memberanikan diri untuk menatap Leo.
“Aku mencintaimu, Wir.” Leo balas menatap. Ada gelepar luka yang bersemayam di sana, amat jelas! “Dan selama ini,” Leo melanjutkan lagi, “telah kuyakinkan dalam hati bahwa kau pun menyimpan cinta untukku, sebelum segalanya menjadi jelas bagiku. Kenapa, Wir, sekian lama kamu menyiksa batin hanya agar aku tidak kecewa. Padahal kau tahu, semuanya bisa terselesaikan dengan baik-baik, bukan?”
Oh, dengar, dengarlah katanya. Wirda menangis dalam hati. Dia begitu tulus begitu penuh pengertian. Tuhan, mengapa aku tak juga bisa mencintainya?
“Leo…,” bibir Wirda bergetar. “Semuanya ini salahku. Aku….”
“Jangan teruskan, Wir. Tak ada yang salah di antara kita.”
“Tetapi aku menyakitimu.”
“Dan cintaku telah menyiksa batinmu sekian lama, bukan? Aku tidak mungkin bisa tenang mencintaimu kalau aku tahu cintaku hanya membuat kau tersiksa. Kau mengerti?” Digenggamnya jemari Wirda. Gadis itu menunduk.
“Kukira semua sudah jelas.” Leo mengempaskan napas kuat-kuat. “Yah, mungkin kita memang harus berpisah. Supaya tak ada hati yang terluka lebih lama….”
“Leo!” Wirda menggigit bibir. Ditatapnya wajah cowok itu dengan mata membasah. “Ta-tapi… ki-kita tetap akan bersahabat, bukan?” tanyanya ragu.
Leo menunduk. Bersahabat? Bisakah itu? Mampukah dia mengubah cinta yang lama bersemayam di hatinya dengan sebentuk kasih tanpa nuansa? Ah, Leo ragu, tetapi….
“Aku akan berusaha, Wir, biar waktu yang akan….” Leo tersenyum paksa. Kalimatnya tak rampung. Ada nada getir yang terbias pada wajahnya yang mengeras. Sepasang matanya berkaca. Dia bangkit kemudian, menyentuh bahu Wirda lembut. “Aku pulang, Wir. Jaga dirimu baik-baik!”
Lalu, cowok itu pun berbalik. Hanya kalimat itu yang diucapkannya setanda pisah. Hanya itu! Tak ada kata perpisahan syahdu yang mengharu-biru. Tak ada apa-apa.
Di tempatnya, Wirda tergugu. Dipejamkannya mata, tak sanggup menatap langkah gontai milik Leo yang pernah dikaribi. Dan ketika sosok itu lenyap bersama Pajero-nya, seperti ada yang lepas dan hilang, raib mendadak di ruang hatinya. Ah! Cinta kadang memang sangat menyakitkan!

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: