Cerpen Reni Erina

August 8, 2009 at 9:10 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

reni“KE RUMAHKU, yuk! Kita bikin pe-er bareng-bareng!”
“Tapi aku harus pulang dulu. Kalo nggak pamit sama Mama, uh, bisa-bisa kupingku bengkak tujuh hari!”
Imel terkikik. “Ya, sudah. Aku tunggu di rumah sore nanti, ya?”
“Hai, semua!”
Imel dan Rista kontan menoleh ke arah sumber suara yang amat mereka kenal. Tak jauh dari tempat mereka, nampak senyum Bastian mekar menghampiri kumpulan teman-temannya. Beberapa detik kumpulan itu bertambah riuh dengan derai canda. Apalagi Bastian memang terkenal dengan gaya humornya. Konyol tapi simpatik. Dan dua gadis itu saling lirik menyembunyikan kekagumannya diam-diam.
“Yuk. Bisnya datang, tuh.”
Keduanya melompat naik. Tapi diam-diam sudut mata keduanya masih sempat mencuri pandang ke arah kumpulan itu.

***

“Uaaahhh! Akhirnya…!”
Rista meregangkan kedua tangannya ke atas sambil menguap kecil. Lalu berbaring di karpet lembut.
“Lega kan, kalo pe-er sudah kelar? Nah, sekarang enaknya kita ngapain, ya?” Imel menutup bukunya. Dinyalakannya disc-player. “Mau tambah minum lagi?”
Rista mengangguk. Membiarkan Imel beranjak keluar kamar, sementara dia asyik memeluk Teddy Bear. Tembang-tembang lembut itu malah membuai rasa kantuknya.
“Ini dia! Sekalian aku bawa botol jusnya biar kamu bisa nambah sepuasnya, tanpa aku harus repot bolak balik. Dan ini ada banyak cemilan kesukaan kamu.”
“Dari tadi, kek!” Dengan antusias Rista mencomot biskuit coklat yang kalengnya masih dalam dekapan Imel. Imel sampai melotot gemas.
“Kalo ngerjain pe-er sambil ngemil, nggak bakalan beres. Apalagi kamu! Eh, tahu Tutu kelas sebelah kan? Lihat perubahan badannya, nggak?”
“Tutu? Nah, itu dia yang aku heran. Dia kok sekarang langsing, ya? Diet?”
“Tauk! Tapi dia jadi kelihatan cantik, ya?”
“He-eh, sih. Pasti Heru si Mata Keranjang itu termasuk salah satu yang kecantol.”
Imel terkikik. “Kok, Heru? Kenapa juga nggak kamu sebutin Si Roy, Agus, Kim, atau Bastian?”
“Soalnya Heru itu nggak bisa lihat jidat bagus sedikit. Tapi kalo cowok model si… Roy, atau… Bastian….” Rista menelan ludah saat menyebut nama terakhir itu. “Mereka bukan tipe seperti itu. Tahu sendiri kan, berapa banyak cewek cakep di sekolah kita yang histeris banget ngejar-ngejar mereka? Toh, mereka nggak peduli! Apalagi kalo cuma Si Tutu!”
“Kamu kepingin nggak jadi cewek tercantik di sekolah?”
“Maksudnya?” Rista mencomot biskuit coklat kedua.
“Supaya kamu bisa jadi idola.”
Rista nyengir. Menjawil pipi Imel gemas.
“Bodoh amat sih, kalo aku nggak punya impian seperti itu. Dengan menjadi cewek tercantik, rasanya aku akan mudah mendapatkan cowok mana pun yang aku suka.”
“Tapi cantik saja belum cukup ya, Ris?”
“Ya. Benar juga,” Rista menarik napas. Dia jadi kurang semangat mengunyah biskuitnya. Bayang Bastian menari-nari.
“Abangku, Reinhard, pernah bilang, yang menarik dari cewek adalah kepribadian yang baik dan tutur kata yang manis. Kecantikan fisik memang daya tarik pertama. Tapi bukan yang utama dan terpenting.”
“Kepribadian yang baik itu yang kayak apa, sih?”
“Yaaaang…,” Imel mulai usil. “Yang nggak doyan ngemil kayak kamu!”
Rista nyengir. Menyambit Imel dengan Teddy Bear. Tapi meleset. Teddy Bear itu melayang ke arah meja sudut dekat ranjang. Untungnya Imel cepat menangkapnya. Sebelum Teddy Bear itu memporak-porandakan yang ada di atas meja sudut.
“Hei, awas! Nanti kena gelas kristalku!”
“Oups! Sori, Mel. Eh, tapi… gelas kristal?” Dengan dahi berkerut bola mata Rista berpindah ke arah meja sudut. “Kenapa pindah ke situ, Mel? Biasanya gelas kristal itu kan kamu pajang di lemari kaca? Dengan meletakkannya di atas meja itu, resiko pecahnya besar, Mel!”
“Tak akan pecah kalo tidak ada yang melempar Teddy Bear-ku seperti tadi.” Imel mendelik lucu. “Cuma ganti suasana saja kok, Ris. Tapi jadi cantik kan di meja itu?”
“Hei!” Rista tiba-tiba mendekati meja sudut dan menyentuh bibir gelas kristal itu dengan ujung jarinya hati-hati. Gelas itu berisi air putih.
“Jangan disentuh!” Imel melesat, menarik tangan Rista dengan gemas.
Rista meringis. Kedua alisnya terangkat tinggi.
“Sejak kapan kamu minum di gelas kristal? Hihihi, pingin seperti Putri Cinderella, ya? Pesta dansa dengan anggur dalam gelas kristal? Tapi itu kok, bukan anggur?”
“Ngaco! Siapa yang mimpi jadi Cinderella? Sini! Aku ceritakan sesuatu.” Imel menarik Rista ke bibir ranjang. Dipandanginya sahabatnya itu dengan raut ragu. “Janji jangan menertawakan aku?”
“Oke.” Rista memasang wajah serius. Tapi detik berikutnya dia malah terbahak.
“Kenapa?”
“Daripada tertawanya nanti dan kamu tersinggung, sebaiknya tertawa sekarang.”
“Ah, sinting! Kamu percaya pada sesuatu yang bersifat….” Imel mengedikkan bahu. Dia bingung dan belum menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan kalimat supranatural yang dimaksud. “Bersifat….”
“Mistik? Dongeng? Tahayul? Apa, dong?”
“Entahlah! Tapi minggu lalu nenekku kedatangan kawan lamanya. Kawan nenekku itu menyarankan agar aku selalu menyediakan segelas air putih dalam gelas kristal tiap malam sebelum aku tidur, sambil berdoa dan memohon apa pun keinginanku.”
“Teruuus…?”
“Bila aku bermimpi tentang sesuatu yang berhubungan dengan doa dan permohonanku itu, maka begitu terbangun, aku harus meminum air itu sampai habis.”
“Maksudnya, biar mimpi itu jadi kenyataan?”
Imel mengangguk. Tapi Rista malah ngakak.
“Gimana hasilnya?”
“Aku baru melaksanakan anjuran itu tiga hari ini. Selama tiga hari ini, aku belum bermimpi apa pun. Apalagi yang berhubungan dengan doa dan permohonanku.”
“Terus, air putih ini?”
“Kawan nenekku itu bilang, jangan diminum sebelum aku bermimpi apa pun.”
“Jadi, umur air ini sudah tiga hari?”
“Ya. Tapi air nggak kenal basi. Apalagi kalau nggak ada kamu di sini, kamarku ini steril, lho? Anti-kuman.”
Rista kembali ke karpet. Menuangkan jus dalam gelas dan meneguknya.
“Sebenarnya, kalo boleh aku tahu apa sih permohonan kamu?”
Imel meringis. Dia menggeleng. “Tak akan aku sebutkan!”
“Tapi salah satunya pingin jadi cewek tercantik, kan?”
“Hm… nggak juga!”
Imel nyengir. Hatinya mendadak bermekaran. Tak akan dia sebutkan bahwa salah satunya adalah berharap Bastian punya sedikit perhatian untuknya! Sayangnya, dia tak pernah bermimpi tentang yang satu itu. Hati Imel mendadak luluh. Diliriknya gelas kristalnya.
“Resep itu boleh juga kamu coba, Ris.”
“Tak akan! Kayak anak kecil. Percaya sama tahayul macam itu. Sekarang bukan zaman dukun-dukunan lagi, Non! Sudah, ah. Aku pulang dulu. Trims ya, jangan lupa baca mantera sebelum tidur. Dan siapkan juga bola kacanya, ya? Hihihi….”

***

Malamnya, di kamarnya, Rista malah terbengong-bengong. Segelas air putih dalam gelas kristal? Meminumnya kalau kita bermimpi tentang permohonan kita? Hih, aneh! Bola mata Rista menyapu langit-langit kamar. Seandainya aku mempercayai ‘tradisi’ itu, kira-kira permohonan apa yang akan aku minta sebelum tidur itu, ya? Minta supaya aku jadi juara kelas? Atau minta supaya Bastian jadi pacarku? Atau….
Rista senyum-senyum sendiri. Kok jadi ketularan sintingnya Imel, ya?! Minta supaya Bastian jadi pacarku, mungkin terlalu jauh. Tapi paling tidak Bastian punya sedikit perhatian padaku. Mau menyapaku, atau mau mengajakku ngobrol di kantin. Aha! Rasanya boleh juga dicoba.
Tergesa Rista bangkit. Dia menuju ke ruang tengah. Kebetulan Mama punya satu set gelas kristal kiriman Om Yon dari Hongkong. Mama tentu tak akan kehilangan jika dia mengambilnya satu.
Setelah diisi dengan air putih dari dispenser, dibawanya gelas itu ke kamar. Diletakkan di sisi tempat tidur. Rista mulai menarik selimutnya. Jam sepuluh saat dia melirik weker. Dipanjatkannya sejuta permohonan tentang Bastian dengan tangan dilipat di dada dan mata memejam. Semoga saja malam ini dia benar-benar memimpikan Bastian. Tapi Imel tidak boleh tahu hal ini! Oh, Bastian! Cowok paling keren, paling simpatik, dan paling lucu! Apa lagi kalau sedang menggiring bola basket di lapangan. Apa lagi kalau sedang berkutat dengan buku-buku di perpustakaan. Apa lagi kalau sedang tertawa dan bercanda bersama teman-temannya. Apa lagi kalau….
Rista terlelap. Dengan sejuta angan tentang Bastian dibawanya dalam tidur.

***

Pagi saat Imel menjejakkan kaki di halaman sekolah, hatinya demikian kacau. Bahagia, resah, ragu, berbaur satu. Semalam, untuk yang pertama kalinya sejak dia menerapkan anjuran kawan neneknya tentang air putih dalam gelas kristal tiga hari yang lalu itu, dia bermimpi. Ini adalah mimpi yang terindah yang selama ini dia panjatkan. Bastian datang dan memberi bunga. Waw! Dan bunga itu dipersembahkan Bastian di halaman samping sekolah! Waktu pagi tadi dia terbangun, segera saja air putih dalam gelas kristal di meja sudut itu diteguknya sampai habis!
Lalu apa yang akan terjadi hari ini, ya? Imel melangkah dengan keresahan yang setengah mati dia sembunyikan. Semoga mimpi itu jadi kenyataan, Tuhan!
Sampai di kelas ternyata sudah ada Rista. Duduk bertopang dagu dengan mata menerawang.
“Ngelamuni siapa?”
Olala, Rista nyaris terlompat kaget. Dia melotot kesal. Lamunannya tentang mimpi semalam buyar. Imel pengacau! Tak tahukah anak ini bahwa mimpi indah semalam itu akan terus dia kenang? Heh, hebat juga. Sekali dia berdoa sebelum tidur, malamnya Bastian datang dalam mimpi. Mendekatinya dan mengajaknya minum di kantin. Begitu dia terbangun pagi tadi, air putih dalam gelas kristal itu diteguknya sampai habis. Semoga menjadi kenyataan. Tapi si Pengacau ini datang mengganggu lamunannya. Huh!
“Tumben pagi sekali kamu datang?”
“Biar nggak kena macet.”
“Ke kantin, yuk!”
Rista menahan napas. Ke kantin? Bagaimana kalau bertemu Bastian? Jangan-jangan cowok itu urung mengajaknya minum karena ada Imel? Biasanya, di kencan pertama, cowok akan merasa risih bila ada orang ketiga.
“Nanti saja!”
“Aku mau beli permen, nih. Yuk, sebelum bel.”
Rista ragu-ragu mengikuti langkah Imel. Bola matanya mencari-cari sepanjang langkah mereka menuju kantin dimana si Keren Bastian? Oups! Itu dia! Bersandar di dekat pintu kantin. Sendirian. Mungkinkah Bastian menunggunya? Rista serba salah. Ditariknya tangan Imel
“Nggak usah ke kantin, deh!”
Imel bingung. Kenapa juga Si Rista ini! Dan Imel mendadak panik saat menangkap bayang Bastian yang beranjak menuju halaman samping. Mimpi itu! Oh, mungkinkah? Imel menarik tangannya dari cengkeraman Rista.
“Aku ada perlu sebentar!”
“Ke mana?”
“Ke kelasnya Tutu. Kamu tunggu saja di kelas.”
Imel ngibrit meninggalkan Rista yang manyun-manyun karena kesal.
Tiba di halaman samping, Imel melihat Bastian duduk sendirian di bangku taman. Dia pura-pura berjalan menuju perpustakaan. Inikah saatnya, Tuhan?! Ah, semoga Bastian memanggilnya dan….
“Mel!”
Jantung Imel hampir copot. Tapi suara itu bukan suara Bastian. Tapi Dodo! Hah, pengacau!
“Ada waktu?” Dodo tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Untuk?”
Dodo menarik sikutnya agak ke tepi.
“Ulangtahunmu dua minggu lalu, sebenarnya aku mau memberikan sesuatu untukmu. Tapi aku ragu. Dan kupikir, mungkin sekarang waktu yang tepat.”
Imel ternganga saat Dodo mengulurkan tiga tangkai bunga mawar plastik mungil yang terbungkus dalam bentuk buket. Cantik sekali.
“Aku senang kalau kamu mau menerimanya. Kutelepon malam nanti, ya?”
“Tapi….”
Dodo sudah kabur. Imel tertegun di tempatnya. Dodo? Diliriknya Bastian yang masih duduk sendirian entah menunggu siapa. Hah, kenapa Dodo? Rasanya semalam yang dia sebutkan dalam doa adalah Bastian.
Hati Imel nelangsa. Apa lagi saat dirasakannya Bastian sama sekali tidak memperhatikan keberadaannya di situ. Cowok itu malah asyik membuka-buka catatannya.

***

Saat bel pulang berdering, Rista begitu antusias mengemasi buku-bukunya. Berbeda dengan Imel yang nampak lesu.
“Ada apa sih, Mel? Dari tadi cemberuuut saja. Ngomong, dong! Aku kan bingung?”
Imel menggeleng. “Cuma lagi malas saja bawaannya.”
“Benar? Nggak ada apa-apa?”
“Ya. Aku mau ke perpustakaan sebentar, mengembalikan buku.”
“Kalau begitu, aku tunggu di kantin ya?”
“Oke.”
Rista lega. Barangkali inilah kesempatannya. Bukankah setiap bel pulang dia sering melihat Bastian menuju kantin?
Di kantin Rista duduk memesan es jeruk. Dadanya berdebar resah. Terutama saat melihat Bastian masuk ke kantin. Tapi cowok itu bersama teman-temannya. Doa Rista bertebaran di hati. Semoga mimpi itu menjadi kenyataan.
“Hai? Sendirian?”
Duh! Rista mengumpat dalam hati. Kenapa si Mata Keranjang Heru yang mengambil tempat di depannya?
“Boleh aku traktir minumnya?”
“Terima kasih, tapi aku sudah bayar kok.”
“Mana Imel? Nggak bareng dia?”
“Di perpustakaan.” Rista mengaduk-aduk es jeruknya dengan hati tak karuan. Cepatlah pergi, Mata Keranjang, karena tempat itu untuk Bastian!
“Kalau lain kali aku mengajakmu keluar, mau?”
“Terima kasih!” Rista mulai memasang wajah tak suka. Dan hatinya perlahan luluh lantak saat dilihatnya Bastian dan teman-temannya meninggalkan kantin. Oh, mimpi itu!
Untung saja Imel segera muncul sebelum Heru bertambah menjengkelkan. Cowok itu beranjak saat Imel memintanya pergi dengan halus.
“Ternyata asyik berduaan, ya?” ledek Imel.
Rista cemberut. “Ini hari yang menyebalkan!” rungutnya. Tapi jauh di dasar hatinya dia masih berharap mimpi itu akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.
“Aku juga merasakan hal yang sama. Menjengkelkan! Lihat!” Imel mengeluarkan bunga mawar plastik dari tasnya.
“Waw, cantiknya!” Rista mengelus bunga itu. “Dari siapa? Harusnya kamu bahagia, dong?”
“Ya, kalau saja yang memberikannya bukan Dodo!”
“Hah? Dodo?” Riska cekikikan.
“Diam! Ayo kita pulang!”
Di dalam bis, Rista masih cekikikan meledek Imel.
“Seandainya bukan Dodo yang memberi bunga itu?” gumam Rista.
“Siapa misalnya?” tanya Imel dalam nada malas.
Rista mengedikkan bahu. “Entahlah. Mungkin seseorang yang kamu harapkan.”
“Akan menjadi lain!” Imel tersenyum kecut. “Tadi pagi aku bahagia sekali. Seperti yang kusebutkan dalam doa dan permohonan, aku memimpikan seseorang memberiku seikat bunga. Seseorang yang membuatku simpatik selama ini. Air putih dalam gelas kristal itu langsung aku teguk. Tapi ternyata….”
“Boleh aku tahu, siapa?”
Imel menatap Rista ragu. “Bastian!”
Tenggorokan Rista tersekat. Jadi selama ini permohonan mimpi mereka sama? Tentang Bastian? Haruskah dia menceritakan juga mimpinya semalam dan ‘resep’ air putih dalam gelas kristal yang diconteknya dari Imel?! O, tidak! Dia tidak mau Imel menertawakannya!

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: