Cerpen Pangerang Em

August 8, 2009 at 8:52 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

pangerangSAYA benar-benar terpana begitu melihat wajah yang ada di depan saya. Jadi seperti inilah sosok Bang Beng?
Uih, sederet makhluk keren pujaan warga dunia sebangsa Tom Cruise, atau Justin Timberlake, ataukah si Keanu Reeves, ternyata poinnya jauh di bawah Bang Beng. Akan ada saja ketidaksempurnaannya. Kalau tidak pada rambutnya yang kepirangan, kulitnya yang kebulean, atau matanya yang kelewat hijau sampai kayak orang rabun. Tapi yang namanya Bang Beng… waw, sudah rambutnya ikal legam, matanya hitam kelam, alisnya yang nyaris bertaut… benar-benar makhluk sempurna!
“Hai.” Dia mengangkat tangannya. “Kamu pasti Ena.”
Nah, dia tahu nama saya!
Nyaris saja saya melonjak kalau tidak cepat menyadari kalau kali ini kami bersua. Kalau saya jadi melonjak-lonjak kegirangan plus kege-eran, seperti apa kesan dia pada saya nanti?
Padahal orang bilang, kesan di awal perjumpaan itu sangat berarti!
“Kok tahu, sih?” Saya justru tersipu.
“Tentu, dong. Habis, kamu mirip betul dengan kakak kamu. Mudah-mudahan kamu bukan kloningnya dia.”
Saya tertawa mendengar gurauannya.
“Oh ya, Ella ada, kan?”
Tawa saya terpotong. Tersadar bahwa kedatangannya kemari adalah untuk kakak saya, bukan untuk saya. Ah, kenapa tadi saya begitu bersemangat? Sampai begitu bel ber-‘ning-nong’, dan menduga yang datang itu adalah orang yang bernama Bang Beng, saya yang justru menyerbu membuka pintu depan?
“Lho, ditanya kok malah bingung? Hoi, hoi!” Bang Beng menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan mata saya.
Harusnya saya tertawa oleh ulahnya itu. Tapi, entah kenapa, saya malah menanggapinya dengan acuh tak acuh.
“Kak Ella masih dandan, tuh. Di kamar,” sahut saya kemudian.
“Nah, sekarang kamu boleh laporan sama dia, bahwa Bang Beng yang ditunggunya telah mendarat dengan selamat. Oke?
Ooh, Mama, jadi dia datang memang bukan untuk saya? Dengar, dia malah mengusir saya dari hadapannya!

***

Saya sedang tidur-tidur ayam ketika Kak Ella muncul di sisi saya. Dia pasti setengah melompat, sampai sofa yang saya terlentangi berkeriut. Tentu dia sangat senang. Gembira sekali!
“Apaaaa….”
“Naaaah, bagaimana tanggapanmu tentang dia?”
“Apa…?”
Kak Ella manyun. Dia mematikan suara Toni Braxton dari stereo-set, lalu memekik. “Dia. Bang, Beng! Ganteng, kan?!”
“Uh, nenek-nenek pikun juga tahu dia itu ganteng.”
“Aih, sip. Berarti saya nggak asal comot.”
“Tapi….”
“Heh, tapi apa lagi? Kurang tinggi? Aduh, dia itu satu tujuh lima, lho. Untuk ukuran Indonesia dia itu sudah tinggi.”
Kembali sofa berkeriut. Kali ini saya yang menggelinjang.
“Kalau soal tingginya sih, tinggi banget malah. Apalagi kalau untuk saya.” Sejenak saya tertegun oleh kata-kata saya barusan. Kok untuk saya?!
“Lalu, apanya yang tapi?”
“Dia…,” lagi-lagi saya tertegun, “dia kelihatannya baik. Maksud saya, saya menangkap kesan dia itu orang yang sangat baik.”
Kak Ella ngakak-ngakak. “Itu sih bukan tapi,” serunya di sela ngakaknya. “Itu namanya nilai tambah.”
“Nah, karena itu dia nggak pantas diplonco lagi.”
Ngakak Kak Ella langsung padam. “Heh, sekali ini nggak lagi, deh.” Dia memencet hidung saya. Untung tidak berbunyi ‘tut’ kayak klakson. Lalu lanjutnya, “Jangan kuatir, sekali ini saya serius banget. Bersungguh-sungguh!”
Justru pengakuan Kak Ella barusan malah membuat saya berkecil hati.

***

Saya selalu teringat bagaimana Kak Ella memakai kata ‘plonco’ untuk cowok-cowok yang dipermainkannya.
Ketika Kak Taufik tidak lagi muncul-muncul di rumah ini, kala ditanya enteng saja Kak Ella menjawab, “Ah, Taufik itu kan cuma saya plonco saja.”
Heh, padahal sebelumnya, Kak Taufik itu rajin banget mengunjungi Kak Ella. Lalu Kak Anang yang rajin mengantarnya pulang kuliah, dan kini tidak pernah lagi kelihatan, Kak Ella juga bilang Anang itu cuma diplonco saja. Kemudian Kak Enal katanya juga diplonco, sampai tidak lagi nongol-nongol. Yang membuat saya kadang-kadang ikut sedih karena Kak Almy, yang seisi rumah tahu kalau mereka itu pacaran sejak kecil di kelas dua SMA, eh dianggap pula Kak Ella cuma dia plonco. Jadi, Kak Almy itu diplonco oleh Kak Ella sampai lebih tiga tahun?!
Dasar Kak Ella!
Bahkan, kalau saya mau repot-repot mengingat-ngingat yang lain, daftar cowok yang telah diploncoi oleh Kak Ella bakal bertambah panjang lagi. Sampai ke nama Bang Beng….
Suatu hari, sepulang kuliah, Kak Ella nyelonong ke kamar saya. Ditepuknya pundak saya, lalu seperti kebiasaanya selama ini tidak lupa dia pun memencet hidung saya.
“Kamu mau dengar cerita tentang Bang Beng?” ujarnya.
“Bang Beng?” Kening saya terlipat. “Ehm, nama cemilan itu, kan?”
“Uh, asal kamu, ya? Bang Beng itu adalah makhluk paling keren di Fakultas Ekonomi, you know? And, siap-siap saja dengar cerita bagaimana kakakmu ini menaklukkan makhluk super-tampan itu!”
Saya langsung melengos. “Memangnya banteng, sampai perlu ditaklukkan segala!”
“Eh, kamu bisa saja protes begitu karena kamu belum pernah merasakannya.”
“Merasakan apa?” Rasaingin tahu saya muncul. “Merasakan bagaimana asyiknya menaklukkan cowok.” Bibir Kak Ella sampai meor-meor bercerita. Saking asyiknya, barangkali. “Ada seninya, deh.”
“Ujung-ujungnya paling untuk dibuat plonco lagi.”
Kak Ella cuma tertawa menanggapi.
Dan itulah pertama kali saya mendengar nama Bang Beng beredar di rumah ini.
Selanjutnya, hampir setiap pulang kuliah ada saja cerita Kak Ella tentang Bang Beng. Karena keseringannya sampai saya menduga Kak Ella benar-benar jatuh hati pada nama itu. Jatuh cinta beneran!
Yang membuat saya ikut menaruh perhatian dibanding ‘cowok-cowok plonco’ Kak Ella sebelumnya, karena menurut cerita Kak Ella, Bang Beng itu suka juga menanyakan situasi keluarga kami. Eh, apakah itu berarti Bang Beng juga benar-benar jatuh hati pada Kak Ella, alias juga jatuh cinta beneran? Kalau begitu, mereka memang sudah klop!
Lalu tibalah pada hari yang tidak pernah saya duga ini. Bang Beng menelepon. Karena Kak Ella sedang keluar, maka saya yang menerima teleponnya. Ah, ngobrol dengan Bang Beng ternyata sangat menyenangkan.
Berawal dari situ, saya kemudian jadi ikut senang bila telepon dari Bang Beng berdering. Apalagi kalau Kak Ella pas tidak ada, maka yang menerima telepon pastilah saya. Rasa senang saya jadi berlipat-lipat tatkala pada percakapan via telepon yang keempat, Bang Beng menyatakan akan berkunjung ke rumah kami. Saat dia menyatakan begitu, rasanya saya mau melonjak-lonjak kegirangan.
Itulah kenapa saya begitu bersemangat ketika Bang Beng benar-benar datang. Sampai begitu bel ber-‘ning-nong’, saya menyerbu membuka pintu depan. Padahal, ah, dia datang ternyata bukan untuk saya, tapi untuk Kak Ella.
Saya mesti mengakui bila sesuatu telah terjadi pada diri saya. Suatu keanehan!
Entah kenapa, saya malah merasa gelisah melihat Kak Ella kian akrab dengan Bang Beng. Uh, bukankah saya seharusnya ikut senang? Bahwa Kak Ella benar-benar menepati janjinya, untuk tidak menjadikan Bang Beng sebagai cowok ploncoannya lagi?
Di kala termenung-menung sendiri, memang saya langsung menyadari bahwa perasaan saya itu salah. Tidak pada tempatnya. Tapi anehnya, di kala keakraban mereka terlihat lagi di depan mata saya, perasaan aneh itu datang lagi. Sepertinya saya tidak memiliki kemampuan untuk membendungnya.
“Itu tandanya kamu cemburu,” pendapat Utari, ketika saya menceritakannya.
“Ah, kamu,” elak saya. “Masak sih, saya mesti mencemburui kakak sendiri?”
“Lho, cemburu itu nggak mengenal saudara, En. Namanya juga cinta itu buta. Jadi, mana bisa membedakan antara yang saudara dengan yang bukan?”
“Aih, kamu kok ngomong soal cinta, sih?” Saya rasakan paras saya memanas. “Siapa yang cinta?”
“Datangnya cinta itu memang terkadang nggak kita sadari, kok. Tiba-tiba saja dia nongol, wusss, tahu-tahu sudah tembus ke dalam jantung. Deg! Gitu aja, tanpa kita sadari.”
“Wuuu, kamu. Kecil-kecil sudah jadi pakar cinta. Kalau kelak sudah masuk SMA, wah kamu bakal jadi apa lagi, ya?”
Utari tertawa. “Mungkin saya sudah jadi pakar di bidang tragedi rumah tangga.”
Ketika saling ngeledek dengan Utari itu, sama sekali tidak pernah terbayang bila ledekannya itu kelak akan menjadi kenyataan. Ah, jatuh cinta pada Bang Beng? Mana mungkin?!
Saya terpana. Takjub campur kaget. Kok Bang Beng ngomong begitu? Mana mungkin….
“Dalam hal seperti ini, nggak ada yang nggak mungkin, En. Kalau kita mau, kenapa nggak mungkin?”
“Maksud Bang Beng….”
“Yap. Kalau kita memang merasa saling menyukai, kenapa pula nggak mungkin untuk saling jatuh cinta?”
Di atas kepala kami, bentang langit begitu cerah. Geriap angin sore pun terasa begitu bersahabat di kulit. Tapi… entahlah, apakah saya sedang menikmati semua itu atau justru sedang sibuk mengurai benang kusut di dalam pikiran saya. Rasanya campur-aduk!
Ini semua berawal dari terlambatnya Kak Ella pulang dari rumah teman fitnesnya, hingga ketika Bang Beng muncul di rumah, sayalah yang menemaninya ngobrol. Sampai kemudian dia mengajak saya jalan-jalan.
Awalnya sih saya menganggapnya biasa saja. Letup-letup aneh yang muncul kemudian di dalam hati saya berupaya saya redam sendiri. Selesai melongok counter-counter di mal, mampir di pojok Texas Fried Chicken, lalu menyusuri trotoar, masih saja letup perasaan saya tersimpan dengan rapi. Saya menjaganya dengan baik.
Sampai kemudian Bang Beng melontarkan kalimat tadi.
“Kok kamu malah jadi murung begitu?” Bang Beng kembali mengagetkan saya. “Ah, ayolah, saya nggak ingin mendengar kamu bilang nggak suka sama saya.”
Dari samping, saya menatap matanya. Entah kekuatan dari mana yang membuat saya seperti itu. Padahal, hanya Tuhan yang tahu, betapa bergetarnya badan saya.
“Memang bukan itu, Bang Beng,” sahut saya akhirnya.
“Nah.” Jemari Bang Beng terdecak. “Lalu, apa lagi?”
“Sepertinya Bang Beng lupa bagaimana Kak Ella….”
Kalimat saya terpotong oleh tawanya. “Jadi, kamu menyangka kami ada hubungan khusus, begitu?” ujarnya di sela tawa.
“Ah, setahu saya Bang Beng dengan Kak Ella malah pacaran.”
Bang Beng semakin tertawa. Bahkan tawanya kali ini lebih nyaring dan lebih panjang. Sampai kemudian dia menyahut, “Uh, sudahlah. Mari kita pulang.”
Di dalam perjalanan pulang, saya sibuk dengan rangkaian pikiran saya sendiri.

***

Saya kemudian jadi kelimpungan sendiri. Inilah akibat dari penyataan Bang Beng hari itu, ketika dia mengajak saya jalan-jalan. Uh, apakah tidak sebaiknya saya menceritakannya saja pada Kak Ella? Apa tanggapan Kak Ella nanti? Bakalan mengamuk di depan Bang Beng? Atau, uh, tidak perlu saya ngomong apa-apa pada Kak Ella? Biarlah ini menjadi rahasia saya dengan Bang Beng? Supaya… aduh, apakah bukan ini yang dinamakan selingkuh? Nyeleweng dari Kakak sendiri?
Setelah jemu membolak-balik badan di tempat tidur, hampir setengah jam kemudian, barulah saya memutuskan untuk bicara saja dengan Kak Ella. Setelah itu terserah tanggapan Kak Ella nanti. Siapa tahu dia malah tertawa. Siapa tahu dia pun menganggap Bang Beng sama saja dengan cowok-cowoknya terdahulu, sebagai cowok plonco doang.
“Hah, Kak Ella….” Di depan kamarnya saya malah nyaris pingsan berdiri. Apa yang tengah diperbuat Kak Ella ini?
“Kaget?” Kak Ella nyengir, sampai wajahnya tambah menyeramkan. “Ini namanya masker, En. Memang belum perhah lihat teman-teman kamu pakai beginian kalau dandan?”
Saya mengurut dada. Idih, jangankan teman-teman SMP saya yang masih culun-culun itu, seingat saya Mama saja tidak pernah saya lihat pakai ‘topeng monster’ beginian.
“Kirain mau main topeng monyet.”
“Uh, kamu.” Wajah Kak Ella balik lagi ke cermin di depannya. Dia kembali mematut-matut wajahnya.
“Untuk apa, sih?” selidik saya seraya duduk di tepi tempat tidurnya.
“Mau tahu aja kamu. Cowok aja belum punya.”
Saya meringis, tapi tentu saja tanpa sepengetahuan Kak Ella. ‘Cowok aja belum punya?’. Uh, kalau saya mau, Bang Beng itu sudah jadi cowok saya! rutuk saya dalam hati.
“Heh, kenapa malah melongo begitu?”
Ketahuan sedang memikirkan Bang Beng, saya jadi gelagapan juga. Buru-buru saya menetralkan pikiran saya kembali.
“Nggak usah kamu heran-heran begitu, ah. Nanti, kalau Bang Beng yang datang, nah, harusnya dia yang heran melihat kekasih tersayangnya kian cantik. Begittcchuu.”
Rasanya seperti ada sengatan listrik yang mengaliri tubuh saya.
“Heh, malah makin heran. Belum tahu dia!”
Harusnya saya tertawa melihat gaya Kak Ella yang lucu. Tapi, yang dikatakannya tadi justru lebih menyita benak saya.
“Jadi… jadi, Kak Ella kepingin terlihat lebih cantik….”
“Di depan Bang Beng, pasti dong!”
“Bukankah….”
“Eit, no-no!” Jemari Kak Ella terkibas-kibas. “Saya tahu apa yang ada di pikiran kamu. Menyangka Bang Beng sebagai plonco lagi, kayak cowok-cowok yang dulu itu?” Wajah topengnya pun tergeleng-geleng. “Yang satu ini, nggak lagi deh! Kali ini saya serius, seriuuus banget! Saya sudah bertekad untuk menjadikan Bang Beng sebagai kekasih tersayang dan tercinta. Paling cinta, dan nggak bakalan ada lagi cowok lain yang mengisi hati ini. Ya, kecuali Bang Beng iut!”
Di depan Kak Ella, demi mendengar penuturannya tadi, rasanya saya kepingin berubah menjadi patung saja. Diam, diaaam saja, tanpa bisa bergerak-gerak.

***

Saya benar-benar terpana begitu melihat wajah di depan saya.
Bang Beng….
Oh, dia sampai menjemput saya di gerbang sekolah?
Untuk apa….
“Bang Beng?!” Akhirnya saya terpekik juga.
“Heran?” Bang Beng mengembangkan senyum. Senyumnya yang amat mempesona! “Saya menjemputmu begini karena nggak sabaran lagi menunggu sore.”
Saya mengernyitkan kening. “Untuk?”
“Ya, mengajakmu jalan-jalan.”
“Pakai seragam begini?”
“Nggak masalah. Paling kita cuma mampir makan burger sebentar, lalu mengantarmu pulang. Ada yang ingin saya katakan.”
“Apa?”
“Bukan di sini dong, tempatnya.”
Mudah-mudahan teman-teman sekolah saya tidak salah duga, pinta saya ketika menyurukkan badan ke dalam mobil yang dibawa Bang Beng. Mudah-mudahan mereka menduga salah seorang keluarga kami yang mendadak menjemput untuk urusan penting. Kalau mereka menduga lain, wah, besok muka saya entah mau diumpetin di mana.
“Kamu tahu, kenapa saya jadi tiba-tiba nggak sabaran begini sampai menjemputmu ke sekolah?” tanyanya di balik kemudi. Kemudian dijawabnya sendiri. “Karena semalam, setelah saya berpikir bolak-balik, akhirnya saya memutuskan sesuatu. Dan harus saya sampaikan secepatnya kepada kamu.”
“Apa?” Saya mendongak ke wajahnya tiba-tiba.
“Saya merasa, saya mencintaimu!”
“Oh….”
“Eit, jangan protes apa-apa lagi.” Tidak dihiraukannya perubahan mendadak di paras saya. “Mengenai soal Ella, saya pkir nggak ada masalah. Toh selama ini saya nggak pernah merasa serius dengan dia. Biasa aja.”
Dengan cepat wajah Kak Ella berkelebat masuk ke dalam benak saya, kemudian teringat ucapan-ucapannya kemarin, bahwa kali ini dia sangat serius dengan Bang Beng. Dia merasa sangaaaat mencintainya. Kak Ella tidak ingin lagi menjadikan cowok tersebut hanya sebagai ploncoannya saja. Dengan Bang Beng, Kak Ella benar-benar serius!
“Bang Beng….”
“Kenapa?”
“Tapi, Kak Ella itu….”
“Ah, saya nggak merasa mencintainya, kok,” potong Bang Beng. “Kamu tahu, di kampus dia itu suka banget mempermainkan cowok. Jadi kalau kami pisah, saya pikir itu nggak masalah bagi dia. Lagipula, uh, Ella itu bagi saya nggak lebih dari cewek ploncoan aja.”
Tanpa sadar kepala saya tersandar ke jok. Entahlah, apakah saya harus tertawa atau menangis mendengar penuturan Bang Beng. Apakah saya harus sedih, gembira, atau malah terpekik-pekik.
Sekarang perasaan saya jadi campur aduk tidak karuan!

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: