Cerpen Nurhayati Pujiastuti

August 8, 2009 at 2:03 pm | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

nurhayatiSEBENARNYA, sosok yang berdiri kaku dan menghadang langkah Asry untuk memasuki halaman rumah besar itu, sangatlah menarik. Tubuh tinggi dengan kulit putih dan senyum yang bertengger di wajah tampan itu.
Lalu mata seperti elang yang memandangnya dengan serius itu.
Asry mengembuskan napasnya. Menyembunyikan ruas-ruas jemarinya. Sudah ada peringatan sebelumnya dari Andini dan dia memperhatikan peringatan itu.
“Cari siapa, Mbak?”
Sapaan yang ramah dengan mata mengerling menggoda. Asry tersenyum kecut. Kalau tidak mengenal siapa cowok di depannya itu, ia pasti akan terkesirap sendiri mendapat kerlingan seperti itu.
“Cari aku, kan?” tangan si Tampan terulur, berniat menggapai tangan Asry. Tapi Asry cepat mengelak.
Asry menggelengkan kepalanya. Ia hampir mengurungkan niatnya untuk bertahan di tempat itu. Tapi untunglah, suara nyaring yang sangat dikenalnya, menyelamatkannya.
“Apa-apaan, sih?” Andini mendorong tubuh cowok tampan itu. “Berani-beraninya ganggu temanku. Awas, ya. Aku bilangin Mama baru tahu rasa kamu. Masih kecil berani-beraninya ganggu cewek yang sudah gede.” Tangan Asry ditarik. Mendorong tubuh si Tampan lalu melewatinya. “Siapa?” tanya Asry. Ia menoleh ke arah si Tampan. Lalu memalingkan wajahnya ketika mendapati si Tampan menghadiahinya lagi dengan kerling menggoda dan senyum di bibirnya.
“Adikku,” sahut Andini cepat. “Tidak usah dipedulikan. Ado memang begitu. Maklum….” Andini mengedikkan bahunya. Mengembuskan napasnya.
“Kenapa?”
“Andini menggaruk kepalanya. “Anak bungsu yang butuh banyak perhatian. Tapi kesibukan orangtuaku membuatnya merasa kehilangan banyak perhatian. Lalu berteman dengan anak-anak berengsek dan hasilnya….”
“Dia…?”
Andini mengangguk seperti tahu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan Asry. “Sekolahnya sudah pindah beberapa kali. Entah dengan cara apa lagi aku harus menyadarkannya.”
“Orangtuamu?”
Andini tersenyum kecut. “Pasrah.”
“Tapi…?”
“Aku sendiri tidak tahu apa yang diinginkan Ado. Dia berengsek, bandel dan selalu mengganggu kawanku-kawanku. Karena itu aku selalu melarang kawan-kawanku yang cewek datang ke rumahku.”
“Ceweknya…?” Asry tersenyum. Menepuk bahu Andini. “Biasanya kalau dia mencintai seseorang, dia akan mudah disadarkan.”
Andini mengernyit. Memandang Asry.
“Kenapa?”
“Kamu berniat…?”
“Jangan konyol kamu!” Kali ini, Asry yang sepertinya tahu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan Andini. “Aku lebih pantas menjadi kakaknya!”
Andini tertawa. “Barangkali saja kamu mau berbaik hati….” Andini tidak meneruskan kalimatnya ketika ia merasakan sebuah kerikil mengenai kakinya. Ia menoleh. Melotot. “Ado…!”
Ado tertawa. “Aku mau!” teriak Ado, mengangkat jempolnya tinggi-tinggi, lalu mengerling ke arah Asry.
Dan Asry hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan si Tampan itu.

***

Sebuah kebetulan mungkin bila hari ini, Asry melihat Ado dan kawan-kawannya bergerombol di sebuah halte. Melakukan kegiatan menyebalkan di matanya. Menggoda gadis-gadis yang akan naik dan turun dari bus di halte itu. Terkadang, bahkan begitu kurang ajarnya, berani mencolek pinggul seorang gadis lalu bersembunyi dan tertawa-tawa.
Asry menggelengkan kepalanya. Mengembuskan napasnya. Lalu membulatkan tekadnya untuk berjalan ke arah halte bus itu. Ado harus melihatnya. Dan ia ingin sekali melihat sampai di mana kekurangajaran anak itu.
“Hallo…,” sebuah sapaan yang hampir saja disertai sebuah colekan kalau ia tidak cepat-cepat mengelak.
Asry melotot. Tersenyum sinis pada cowok berkulit hitam yang dengan tenangnya berdiri di sampingnya. Ia menggeser selangkah. Dan cowok itu cuma menanggapinya dengan tawa lebar yang membuat deretan gigi-giginya yang coklat kelihatan jelas sekali. Tangannya kembali terulur, ingin menggapai pinggul Asry. Tapi sebuah tangan lain menepiskannya.
“Jangan! Teman gue.”
Asry menoleh. Kejutan yang tidak diharapkan. Ternyata Ado masih punya rasa belas kasihan.
“Sendiri?” Senyum manis bertengger di bibir Ado. “Kawan-kawanku memang suka jahil.”
Asry menggelengkan kepalanya. “Tidak sekolah?” tanyanya tanpa memperhatikan Ado.
“Pasti sudah termakan omongan Andini. Kakakku yang satu itu memang paling suka mempromosikan kejelekanku pada kawan-kawan ceweknya. Pantas saja pasaranku di mata kawan-kawan ceweknya agak menurun.”
“Aku bukan anak kecil lagi yang dengan begitu gampangnya mempercayai omongan orang tanpa melihat kenyataannya terlebih dahulu.”
Ado bertepuk tangan.
“Kenapa?”
“Aku kira pertama melihatmu…,” Ado mengernyit. “Aku tidak tahu namamu.”
“Aku Asry. Dan kamu harus memanggilku Mbak karena aku lebih pantas menjadi kakakmu.”
Ado mencibir. “Apa bukan lebih pantas menjadi sepasang kekasih?”
Asry melotot.
Ado tertawa. Menoleh kawan-kawannya mengikuti tawanya dengan irama dibuat-buat.
Asry menggeleng. “Sekolah yang benar dan pikirkan masa depanmu baru….”
“Alaaah….”
“Akan banyak gadis yang berebut cintamu.”
Ado menjentikkan jemarinya. “Aku cuma ingin…,” Ado menggaruk kepalanya. “Kamu mau pulang?”
“Ke toko buku. Ada yang dicari.”
“Cowok?”
“Kamu kira aku tipe cewek yang suka cuci mata di toko buku?”
“Barangkali….” Ado terbahak. Kali ini, kawan-kawannya sedang sibuk memperhatikan seorang ibu yang berdandan menor yang baru saja turun dari bus hingga tidak mempedulikan tawa Ado.
“Kenapa?”
“Aku mau menemanimu.”
“Aku biasa sendiri.”
“Aku antar sampai ke rumah.”
“Nanti banyak gadis-gadis SMA yang cemburu padaku.”
“Tidak peduli!”
“Harus ada syaratnya.”
“Apa?”
“Aku tidak suka jalan dengan cowok yang merokok.”
“Belum apa-apa sudah banyak tuntutan.”
“Kalau…?”
“Iya, Mbak,” kali ini Ado mengangguk keras-keras. Berjalan mengikuti langkah-langkah Asry meninggalkan halte. Tidak dpedulikannya teriakan kawan-kawannya yang memanggilnya.

***

“Hebat!”
“Apa-apaan, sih?” Andini mengangkat kedua alisnya. Lalu tertawa. “Kamu ternyata bisa mengubah Ado.”
“Ngomong apa kamu?”
“Alaaah… pakai sembunyi-sembunyian. Suer, aku sangat menyetujui hubunganmu dengan Ado. Dan sangat berminat menjadikanmu sebagai adik ipar.”
“Ngaco!” Asry melotot. “Aku baru sekali bertemu dengannya.”
“Alaaah….”
“Oke. Tiga kali, dan semuanya itu di halte bus ketika aku akan menunggu bus untuk pulang. Dia menawari aku untuk menemaniku dan aku tidak bisa menolak.”
“Dan hasilnya, dia berubah menjadi penyair dadakan. Banyak puisi memenuhi buku tulisannya. Dia jadi rajin melamun dan keberengsekannya sudah agak menurun.”
“Tapi….”
Andini bertepuk tangan. “Kamu membawa banyak perubahan untuknya. Aku menyukainya.”
“Tapi….”
“Kalau ada sesuatu yang disimpan Ado untukmu, kamu mau menerimanya kan?”
“Apa-apaan, sih?” Asry mengernyit. “Omonganmu ngaco dan kamu mengambil kesimpulan terlalu cepat.”
“Aku kakaknya.”
“Tapi bukan berarti…?”
“Puisi-puisi di bukunya itu cuma ditujukan untukmu. Sungguh, aku tidak mengada-ada.”
Asry menggelengkan kepalanya. Bayangan Ado melintasi kepalanya.
Ah, si Tampan itu. Siapa yang percaya anak konyol itu bisa jatuh cinta padanya? Senyum dan kerlingnya begitu sering dilakukan hingga ia terkadang berpikir anak konyol itu pasti melakukannya pada gadis-gadis lain.
“Gimana?”
Asry melotot. Menggeleng.
“Kamu tidak tertarik pada Ado?”
“Terlalu tampan dan aku tidak mau bersaing dengan gadis-gadis SMA yang lebih pantas untuknya.”
“Kalau kenyataannya dia cuma tertarik padamu dan bersedia berubah total untukmu?”
“Sebuah tantangan, heh?”
“Katakanlah begitu,” angguk Andini. “Kamu mau melakukannya dengan suka rela, kan? Lagipula, selama ini aku tidak pernah melihat kamu akrab dengan satu cowok. Kamu belum punya pacar, kan?”
“Masalahnya…,” Asry menggelengkan kepalanya. “Aku takut akan jatuh cinta pada Ado.”
“Kebetulan kalau begitu.”
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Aku akan membantumu untuk menyadarkan Ado. Tapi jangan pernah berharap ada sesuatu di antara kami.”
“Berarti…,” Andini mengedikkan bahunya. “Hilang deh, harapanku untuk menjadikanmu adik ipar.”
“Konyol,” sahut Asry lalu mengurai tawa. Bayangan Ado melintasi kepalanya lagi.
Dan kali ini, ia merasakan ada yang bergetar di hatinya. Tapi samar sekali.

***

“Sadar apa tidak dengan apa yang tengah kamu lakukan?”
Asry menutup majalahnya. Memandang ke arah kakaknya. “Mau bicara soal cowok yang mengantarku pulang tadi?”
Nita mengangguk. “Ada binar cinta di matanya.”
Asry tertawa. “Terlalu mengada-ada. Dia menganggapku sebagai kakak dan aku menganggapnya sebagai adik, tidak lebih dan tidak ada yang perlu didiskusikan.”
Nita mencibir. “Sudah tiga malam Minggu kalian keluar bersama. Dan tingkahmu yang resah setiap akan menunggu kedatangannya, membuatku yakin, sudah ada yang lain di hatimu. Kamu tidak bisa menyembunyikannya dariku.”
“Terlalu berprasangka.”
“Mungkin. Tapi kurasa hati kecilmu mengiyakan prasangkaku itu,” Nita menggeleng. “Katakan hal itu pada hati kecilmu.”
“Kamu ingin menghakimiku?”
Nita tertawa. “Tampan memang. Menarik dan tingkahnya menyenangkan. Tapi bukan berarti kamu harus melupakan segala janjimu dengan Dodit. Dia menunggumu. Dan setahun lagi, sepulangnya dari Australia, dia akan mengikatmu dengan tali pertunangan.”
Asry diam menundukkan kepalanya.
Dodit?! Ia menggigit bibirnya. Akhir-akhir ini, nama itu benar-benar hilang dari kepalanya berganti dengan wajah Ado.
Ya Tuhan, desisnya sambil mengusap wajahnya. Ia hampir lupa bahwa ia sudah memiliki seorang arjuna yang tengah menuntut ilmu jauh di seberang sana, yang selalu meminta kesetiaannya dalam penantian.
“Akhiri kisah cintamu dengan anak itu. Sebelum salah satu di antara kalian terluka.”
“Tapi…?”
“Jalinan cinta kalian cukup sampai di sini saja. Tidak perlu ada episode-episode lain yang justru akan membuat kamu sukar melepaskannya.”
“Tapi…?”
“Sedikit dewasalah….”
Asry mengembuskan napasnya. “Sulit,” gelengnya sambil berjalan keluar kamarnya.
“Asry…!”
Tidak ada sahutan. Yang terdengar hanyalah nyanyian keras yang meluncur dari bibir Asry.

***

Apa yang sebenarnya diharapkan dari hubungan yang terjalin dengan Ado selama ini?
Asry mengembuskan napasnya.
Andini bilang, Ado telah berubah sekarang ini. Tidak lagi suka bergerombol dengan kawan-kawannya. Dan sudah memilih rumah sebagai tempat mencari ketenangan ketimbang tempat-tempat lain. Kata Andini lagi, cintanya pada Asry begitu besar. Sampai-sampai semua nasehat Asry diikuti dan tidak ada yang dibantah.
Asry menggigit bibirnya.
Lalu, haruskah ia tinggalkan Ado begitu saja? Dan membiarkan anak itu kembali ke dunianya semula? Alangkah jahatnya bila itu sampai ia lakukan. Tapi apakah di mata Dodit dia bukan gadis yang jahat? Mengabaikan janji kesetiaan? Tukang selingkuh?
“Asry…?”
Sudah ada kata cinta yang diucapkan dengan begitu romantisnya oleh Ado, dan meski samar ia telah menjawab dengan anggukan.
“Kamu melamun…!”
Asry tersenyum pada Ado di sampingnya. “Mbak…,” ujarnya dengan wajah dibuat cemberut.
“Mbak…,” ujar Ado mengikuti seperti menggoda. “Melamun di saat berduaan dengan pacar, berarti melamunkan cowok lain.”
“Nyatanya…,” Asry tertawa. Lalu menggeleng. “Cuma melamun kalau-kalau ada gadis lain yang kebaikannya melebihi aku dan bisa kamu cintai dengan sungguh-sungguh, apa yang akan kamu lakukan?”
Ado mengernyit, seperti berpikir. Ia belum menjawab.
Suara Asry seperti tersekat. “Kamu akan meninggalkan aku atau…?”
“Terlalu jauh berpikir,” geleng Ado. “Aku tidak suka.”
“Tapi…?”
Ado mengungkap bijak. “Mengalir seperti air. Biarkan itu terjadi pada hubungan kita.”
Asty tersenyum — hei, dari mana datangnya semua kearifan pada cowok bengal itu?
“Tapi kemungkinan itu bisa terjadi, kan?” cetusnya seperti menuntut.
Ado mengangguk. “Tapi bukan berarti, aku akan dengan mudahnya menghilangkan nama seseorang yang begitu baiknya hingga membuat hidupku berubah.”
“Tapi…?”
Ado menggeleng keras-keras.
“Atau kamu yang berniat meinggalkanku?” tanyanya cepat dengan wajah serius.
Asry menggeleng cepat. “Biarlah mengalir seperti air. Waktu yang akan bicara dan menentukan semua itu,” desisnya seperti pada dirinya sendiri.
Diembuskannya napas kuat-kuat.
Ada Didot dan Ado di hatinya. Dan kesetiaannya sebagai seorang wanita seperti dituntut dalam dilema yang teramat berat.
Tapi biarlah saat ini, ia menikmati episode jalinan cintanya dengan Ado. Barangkali di seberang sana, Didot pun tengah menciptakan episode cinta dengan gadis yang lain.
Entahlah.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: