Cerpen Kurnia Effendi

August 8, 2009 at 4:51 am | Posted in CERPEN Aniters | Comments Off on Cerpen Kurnia Effendi
Tags:

kurniaSATU

Bandar udara Husein Sastranegara tidak terlampau sibuk dalam pelukan udara sore yang cerah. Aroma musim hujan seperti sengaja ditiupkan oleh angin dari seberang, lebih keras dibanding hari-hari biasa. Nampak batang-batang rumput dengan kembang putih-kelabu menari-nari.

“Kita datang terlalu siang,” gumam Laras. Dia menoleh ke samping. “He, mana Bram?”

Matanya yang cokelat  menyapu lobi. Memilah-milah kesibukan calon penumpang dan kru bandara. Lalu dilihatnya Bram sedang memasang rokok dan menyulutnya di sudut kafetaria persis di bawah tanda “ruangan merokok”. Seperti tahu sedang diperhatikan, kepalanya berpaling ke arah Laras sambil melempar senyum. Ketenteraman kecil kembali menghuni bola mata gadis yang kini sedang menggerakkan kakinya, melangkah meninggalkan toko souvenir. 

“Mencariku?” tanya Bram, di belakangnya.

“Kukira kamu telah berubah pikiran,” ujar Laras.

“Maksudmu?”

“Bukankah sore ini mestinya kamu ada acara di lapangan basket?”

“Apa?” Bram mengerutkan alis.

“Kubaca pengumumannya di depan kantor Senat.”

“O, barangkali kegiatan Puisi Sore. Masih boleh terlambat.”

Laras menatap Bram sambil mencibir, “Itu cuma kedok, kan? Sebenarnya kalian masih meributkan soal student centre?”

Bram tertawa perlahan. “Masalah itu sudah selesai, kok! Rektor sudah memenuhi permintaan kita …”

“Permintaan kalian! Ingat, aku tidak termasuk! Dan kudengar pihak institut ingin mendapat persetujuan dari ketiga unit kegiatan yang menempati ruang istimewa itu.”

“Betul,” Bram menyedot rokoknya lebih dalam. “Masing-masing ketuanya: Fajrul Rahman, Sentot, dan Arby, telah bertemu Rektor. Dan kini… tiada lagi ketegangan.”

Laras kembali menghadap udara terbuka. Rambutnya berkibar, dan ia menyipitkan matanya yang menentang arus angin. Diam-diam Laras mulai percaya pada pendapat anak-anak Grup Apresiasi Sastra, bahwa kehidupan ini indah justru karena banyak terdapat peristiwa spontan di luar rencana kita. Seperti kepulangannya hari ini, misalnya. Atau beberapa peristiwa yang menghiasi hari-hari sebelumnya. Seakan-akan ia Dewi Musim yang dengan sekehendak hati bisa mengembuskan angin laut, menabur salju, menyepuh warna langit, atau menumbuhkan bunga-bunga. Untuk bumi yang mana? Untuk siapa?

Bram tentu saja lelaki yang selalu bergairah, yang merasa kecewa menyaksikan suasana kampusnya semakin dingin saja. Tidak semarak lagi! Kini mahasiswa barunya lebih suka bicara tentang mode pakaian, mobil mewah, diskotik, dan pelesir ke luar negeri. Bram sangat benci terhadap sikap borjuis mereka.

Tapi, meski benaknya bertolak belakang dengan selera mereka, Bram masih mempertimbangkan ucapan Laras. Dia seperti membagi hatinya untuk dua persoalan besar: kegiatan mahasiswa dan Laras. Gadis yang giat dalam banyak unit kesenian itu sangat sadar terhadap kelangsungan regenerasi aktivitas mahasiswa. Ia rajin mengikuti pertemuan Forum Himpunan Jurusan dan terlibat panitia Program Pengenalan Lingkungan  Kampus bukan sekadar ajang snobisme. Bukan kompensasi akibat beberapa mata kuliahnya jatuh. Dan Bram sangat menghargai sikap-sikap demikian.

“Sebenarnya aku lebih setuju dengan pemisahan ruangan itu dengan sekat.”

“Kenapa begitu?” tanya Bram. “Karena kamu juga anggota GAS?”

“Kamu selalu berprasangka subyektif,” Laras tersenyum, “Ludruk, GAS, dan Apresiasi Musik memang butuh ruangan terpisah. Meskipun amat sempit, setidaknya akan merdeka seperti Studi Teater Mahasiswa.”

“Laras, tidakkah kamu tahu maksud di balik kebijaksanaan itu?” tanya Bram. “Institut tidak sekadar ingin memindahkan unit-unit kegiatan mahasiswa ke student centre. ITB punya sekitar empat puluh unit kesenian, pendidikan, dan olah raga yang aktif. Mereka tak akan tertampung. Rektorat sebenarnya ingin kita kehilangan tempat diskusi untuk menyeragamkan aspirasi…”

“Aku tahu,” potong Laras tanpa emosi. “Tapi kita tak perlu menentang secara langsung. Kita jadi terjebak pada romantisme cengeng, dengan mempertahankan segala macam sejarah yang kini nilainya telah berubah. Sentot benar, bahwa mahasiswa ITB hanya mampu bermain satu bola. Dihadapkan pada trik lain, kita kebingungan.”

“Tapi, student centre milik mahasiswa, bukan? Ia dibangun dan dikembangkan oleh mahasiswa untuk kegiatan ekstra-kurikuler mahasiswa. Rektorat tidak berhak memaksakan kehendak!”

“Nah, itu soal lain. Aku juga baru tahu dari dokumen Dewan Mahasiswa yang sudah ‘almarhum’. Rupanya harus ada dialog yang jelas. Bukan dengan demonstrasi seperti tempo hari. Memalukan jika dibaca orang di koran-koran.”

“Kamu benar,” Bram setuju. “Eh, kita pesan minum, yuk!”

“Ayo!” Laras membuka daftar menu. “Aku sudah city check-in, tinggal naik. Pesawatku masih setengah jam lagi. Kamu mau cepat-cepat ke kampus, Bram?”

Bram melirik arlojinya. “Nanti saja. Aku masih ingin mengamati kejadian-kejadian di bandara.”

“Ah, apa yang menarik? Atau ada yang aneh?” tanya Laras seraya menggeser tempat duduk.

“Sesuatu yang menarik, pada mulanya terkadang nampak biasa saja. Dan sesuatu yang aneh, sering muncul dengan tiba-tiba, bukan? Misalkan seluruh pesawat ternyata tidak diijinkan mendarat di sini. Atau mendadak ada sejumlah teroris yang mengepung bandara. Atau…”

Laras tertawa. “Itulah penyakit yang mesti kamu hilangkan, Bram! Kepalamu penuh pikiran sinting. Kenapa sih suka pada hal-hal yang beraroma kepanikan?”

“Nggak tahu,” Bram nyengir. “Kadang-kadang aku ingin jadi seorang pembajak yang harus menyandera penumpang demi tebusan kebijakan pemerintah untuk membatalkan kenaikan harga BBM misalnya, atau sebaliknya: menyelamatkan pesawatmu dari sandera teroris.”

“Ih, macam-macam!” Laras bergidik. “Semester depan lebih baik segera kamu ambil Tugas Akhir. Tuangkanlah angan-angan kacaumu itu di sana. Tentang nuklir, misalnya. Atau tenaga laser yang masuk dapur rumah-tangga…”

“Wah, ide yang bagus!” Mata Bram berbinar. Lalu diraihnya selembar kertas untuk menulis pesanan. “Kita mau minum apa?”

Laras mamasang kacamata minusnya.  “Es kelapa muda,”

“Aku mau kopi,” Kemudian dipanggilnya pelayan.

“Kamu tidak menyebutku borjuis, Bram? Aku pulang naik pesawat, nih!” goda Laras. Dikeluarkannya novel Marga T dari tas kanvasnya. Di tengah halaman terselip sepucuk tiket.

Bram tersenyum. Ditariknya asbak dan ia membunuh rokoknya. “Tiket gratis dari mana?”

Siwalan!” Laras memaki lembut sambil tertawa. Disobeknya plastik berisi emping manis. “Dari Hesa.”

“Maksudku, apakah Hesa sengaja membelinya untukmu?”

“Wah!” Laras membelalakkan matanya. ”Bukan! Ini hadiah… ehm, door prize dari Radio Oz.”

“Dalam acara apa? Rally Dancing? Nonton Jazz?”

Laras menggeleng. “Kalau tak salah, hadiah kuis,“ ia berdusta.

Ah, apa kata Ayah nanti kalau aku menelepon minta dijemput di bandara Soekarno-Hatta, pikir Laras. Pasti ada tuduhan sok kaya dan segera diselidikinya jumlah tabunganku dengan sederet kecurigaan. Hm-hm, Laras tersenyum sendiri.

Sebetulnya sangat sederhana ujung-pangkalnya. Hesa, sahabatnya dari Jurusan Desain Grafis memenangkan lomba cipta kartu ulang tahun Radio Oz. Ia berhak menerima hadiah tiket pesawat terbang Bandung-Jakarta pergi-pulang plus makan malam di Tizi’s. Hesa merasa terlanjur menukarnya dengan perjalanan Jumat sore ini, ketika mendadak ada perubahan jadwal kolokium Merencana Grafis. Sabtu pagi ia harus mempresentasikan tugas konsep visual positioning sebuah produk. Laras merasa lebih baik memanfaatkan anugerah itu daripada pemiliknya memilih orang lain sebagai ahli waris. Hikmahnya: Laras pulang ke Jakarta bermewah-mewah.

Memang ada beberapa kebetulan yang membuat Laras semakin ingin menyembunyikan kegembiraannya. Hari Sabtu dia tidak libur, tapi bebas dari jadwal mid-test. Latihan sendratari di PSTK pun ditunda. Kesempatan bagus untuk menyiapkan acara ulang tahun, bukan?.

Laras ingin menguji diri, bagaimana rasanya jauh dari Bram pada sebuah malam Minggu, pada sebuah malam ulang tahun. Apakah sepekan ‘hari-hari merah jambu’ yang dijalinnya akan menciptakan rasa kangen yang berbeda? Lalu ketika akhirnya ia mengontak Villa Merah, besok malam, akankah bertanya: “Apakah bisa bicara dengan Bram? Katakan, ini interlokal istimewa dari Jakarta…”

Ya besok hari ulang tahunnya! Sungguh, dia harus menutup rapat-rapat kemungkinan Bram mengingatnya. Meskipun dia yakin: Bram kurang peka terhadap hal-hal seperti itu. Mahasiswa Elektro yang kritis itu sudah terlalu biasa berhadapan dengan dimensi hitam dan putih.

“Kamu suka…” Mata Bram  membaca sampul novel. “Marga?”

“Lebih suka Sydney Sheldon. Lho, salah membandingkan ya?” sahut Laras. “Memang kenapa?”

“Ini bagus, nggak?” Bram mengulurkan novel yang telah dibacanya beberapa halaman. “Pembukaannya mengesankan.”

“Aku baru mau membacanya,” Laras menimang-nimang buku itu sebelum menyimpannya kembali ke dalam tas. “Jangan memaksa diri untuk tertarik. Bacaan yang paling pas buatmu hanya ‘Buku Putih’. Atau ‘Catatan Seorang Demonstran’!”

Bram meneguk kopinya. “Nyindir, ya?”

Laras tergelak. “Tidak. Aku cuma mengingatkan, bahwa pikiranmu kurang diimbangi dengan simbol-simbol manis…”

“Siapa bilang?”

“Buktinya, bahkan puisi-puisi yang kamu sukai pun bernada protes dan ekstrem.”

“Aku selalu kalah berdebat denganmu,” Bram tersenyum. ”Maksudku, selalu mengalah.”

“Nah, betul, kan?” Laras mencibir.

“Apanya?” Alis Bram berkerut.

“Kau tak pernah bisa romantis!” Laras menatap wajah Bram dari balik gelas yang diangkat tinggi-tinggi di depan hidungnya.

“Agaknya aku harus membuktikan kekeliruan ‘tesis’ mu, Laras.”

Hah? Laras menghentikan kunyahan empingnya. Aku mesti lekas-lekas mengalihkan topik pembicaraan, pikirnya cemas. Ini bisa menjalar ke acara akhir pekan. Gawat. Nah, ada suara pengumuman untuk boarding pass. Laras merasa lega.

“Rupanya pesawatku sudah siap,” ujarnya. Ia melihat masih ada dua belas menit waktu yang tersisa sebelum jam penerbangan. “Bram, tolong.”

Bram menerima uang dari tangan Laras dan mengayun langkah ke kasir kafetaria. “Eh, apa saja yang kamu makan?”

“Tambah emping dan cokelat satu!” seru Laras. Sweater-nya dilipat, kemudian disisirnya rambut.

“Nggak usah terburu-buru, Laras.” Bram mengulurkan uang kembalian. Ini Bandung, bukan Hongkong atau Changi. Kamu akan kebingungan dengan jumlah gate di sana.”

Laras tertawa kecil sambil membaca nomor penerbangan yang tertera pada tiket. ”Aku memang suka gugup kalau menghadapi hal-hal yang tidak biasa kulakukan.”

“Jangan sok merakyat!”

Sebetulnya Laras punya alasan yang lebih tepat untuk kegugupannya itu. Ya. Jangan sampai Bram mempraktikkan perilaku romantisnya saat itu. Laras merasa akan salah tingkah. Meskipun pada sisi lain hatinya mengharapkan itu terjadi.

Namun nampaknya Bram tenang-tenang saja. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Dan pandangannya tidak menyiratkan sesuatu.

“Kapan kembali ke Bandung?”

“Hari Senin aku ada praktikum kimia analitik sehari suntuk. Aku tak boleh terlambat lagi.”

Angin mengirim gemuruh suara mesin jet ke ruang tunggu airport. Beberapa lelaki muda dengan paras eksekutif mulai mengangkat kopor-kopor mungilnya. Ketika mereka sampai pintu pembatas “passenger only”, Laras dan Bram siap berpisah.

Laras merasa terganggu oleh rambutnya yang terlempar ke sana-kemari diserbu angin dari koridor. Diambilnya pita warna pink yang senantiasa tersimpan di dalam saku tasnya. Dan sungguh tak terduga ketika Bram mengambil pita itu dari tangannya.

“Mari kuikatkan,” katanya.

Dengan detak jantung yang berbeda dari biasa, Laras tersenyum diam-diam. Tak peduli bagaimana hasilnya nanti, dia segera menyerahkan kepalanya. Hanya beberapa detik rambutnya berada dalam genggaman tangan Bram, lalu selesai. Seperti apa jadinya? Ah, di sekitar mereka berdiri tak ada cermin.

Thanks!”

Namun sewaktu kakinya meneruskan langkah menuju ruang penumpang, Bram tetap berdiri di tempatnya. Laras menoleh. “Hei!”

Dilihatnya Bram tertawa melambaikan tangannya. “Selamat jalan!”

Laras tertegun, tetapi akhirnya membalas lambaian itu. “Sampai hari Senin, Bram!”

Sampai malam Minggu, kata hati Laras, andai kamu tidak meninggalkan asrama. Tapi sebagaimana biasanya, Laras yakin, Bram akan tetap berada di asrama. Kecuali jika Liga Film Mahasiswa memutar film bagus. Atau ada yang menantangnya bridge di tempat lain. Atau jika Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan punya tema diskusi cukup menarik di kampus, atau…

Huh, memang demikian kenyataannya, gerutu Laras. Bram akan lebih sayang pada acaranya di Lapangan Basket daripada melepas pesawat Laras hingga lenyap dari pandangan matanya. Dasar! Tapi… Bram toh tetap yang paling istimewa sampai hari ini.

Ya. Lebih dari seminggu Bram telah berhasil menempuh “hari-hari merah jambu” dalam kehidupan Laras. Tanpa seorang pun tahu, gadis berdarah Jawa itu telah menciptakan special week. Menjelang hari jadinya, disediakannya tujuh hari untuk memilih seseorang yang akan menjadi ‘bintang’. Siapa pun dia. Setiap sahabat yang dikenalnya berhak terjerat dalam perangkap pink days yang dia rentangkan. Bahkan seandainya dia seorang kawan baru.

Dan tanpa diduga, ternyata pilihannya jatuh kepada Bram. Sementara laki-laki yang paling menyukai film-film perang dan spionase itu tidak menyadari dirinya telah menjadi bintang dalam hati Laras.

Bram yang mengabarkan pengumuman mendadak praktikum kimia organik tambahan; Bram memberinya kumpulan puisi pemenang Nobel; Bram menemaninya menyelesaikan dua laporan praktikum hingga larut malam di Aula Barat; Bram marah-marah ketika ia membolos dua mata kuliah demi mentoring mahasiswa; Bram menukar harga tiket bioskop cineplex dengan sepuluh undangan untuk nonton film beramai-ramai di LFM-ITB; Bram menyelesaikan tugas matematika-nya saat dia meringkuk di sekretariat Mahagotra Ganesha dengan kepala pening… Dan hanya Bram, di antara anggota Komite Pembelaan Mahasiswa ITB, yang selalu meminta pendapat Laras. Serta banyak lagi…

Catatan hati Laras penuh dengan peran tokoh Bram. Paling dominan dibanding kawan-kawan lainnya. Posisi Bram dalam ”hari-hari merah jambu” nya tak terkejar lagi oleh cowok lain. Apalagi ketika hujan turun tiba-tiba di ujung Jalan Ganesha, dan Bram ‘menyeret’ Laras ke beranda Villa Merah. Laras ingat betul, karena itu terjadi kemarin sore, pada sebuah Kamis yang dingin.

“Kita masuk saja. Ke kamarku. Aku punya kaset Deodate. Atau mau dengar Fariz RM? Aku juga punya buku bagus. Dan sambil menunggu hujan reda, kita bisa…” Kalimat Bram menggantung. Tatapannya sungguh tidak bermaksud membuat orang penasaran.

Tapi sore itu Laras merasa penasaran. “Ngapain?”

“Makan mi instan dengan telur ceplok. Akan kubuatkan khusus. Eh, kamu mau?”

Laras tersenyum. “Sangat mau!”

Maka pada senja yang basah itu Laras memberi tahu, bahwa Jumat sore dia akan pulang ke Jakarta. Naik pesawat! Memang keputusan mendadak. Namun rupanya Bram tidak berusaha untuk terbelalak. Meskipun dia tidak tahu kalau tiketnya pun muncul sangat tiba-tiba dari Hesa – tiga jam sebelumnya, di Perpustakaan Pusat. Hanya keyakinannya mengatakan: tak mungkin Laras gila-gilaan begitu tanpa alasan.

Kini Laras mulai mendaki tangga pesawat, dan merasa tak perlu berpaling lagi. Bram mungkin sudah meninggalkan lobi bandara. Atau bahkan sudah menyalakan motornya di luar sana. Laras segera menempati nomor kursinya, melalui jendela mungil menyaksikan landasan mulai sepi kembali. Bram benar-benar telah hilang dari pandangan. Laras hanya menghela napas dalam-dalam.

“Kalau benar ada acara demo mahasiswa di Lapangan Basket, aku mesti segera ke sana,” gumam Bram. Ia bergegas sambil mencari-cari kunci motornya di saku jaket. Beberapa langkah menjelang pintu keluar, ia merasa harus berhenti.

Beberapa orang bule menggerombol di depan pintu utama. Cahaya terang di luar menghadirkan siluet mereka, dan rambut-rambut warna pirang itu muncul seperti emas. Gadis-gadis jangkung yang masih remaja, beberapa pemuda, seorang nyonya, juga anak-anak kecil. Mereka ramai berbicara dalam bahasa Inggris.

Bram tak sabar menunggu mereka menyisih dari jalan, tapi dicobanya bertahan. Lalu seorang pemuda memberikan dua buket mawar segar pada gadis yang bermata bagus, dan sebuah lagi untuk Si Mungil yang rajin tertawa. Seperti dalam film seri televisi saja, pikir Bram kesal.

Pada mulanya Bram ingin menerobos keluar tanpa peduli pada upacara romantis itu, kalau saja tidak mendengar sesuatu. Di antara kesibukan mereka bersentuhan pipi ada terloncat kata happy birthday. Happy Birthday? Ya. Seketika pikirannya bekerja ekstra.

Ia sudah hampir tiba di tempat parkir, namun masih ada yang kurang beres dengan perasaannya. Beberapa saat ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sekarang tanggal  tiga belas! Oh. Ditengadahkannya kepala, lalu matanya berkeliling, dan dengan gugup dimasukkannya kedua tangannya ke dalam saku celana.

Ingatkah Laras pada hari ulang tahunnya sendiri? Sudah pasti! Dan dia pulang ke Jakarta. Adakah acara istimewa di sana? Adakah seseorang yang sedang menunggu? Bram bertanya-tanya dalam hati.

“Mestinya aku mengucapkan sesuatu sebelum dia terbang,” sesal Bram.

Tiba-tiba ia melangkah kembali ke lobi. Mendekati seorang Satpam, tapi tidak muncul sepatah kata pun. Ia berbalik setelah menghadiahkan tanda tanya di kepala Satpam. “Tak mungkin,” ujarnya sendiri. “Di sini belum pernah kulihat orang menjual bunga.”

Hatinya galau oleh perasaan yang tak jelas. Dilihatnya Si Mungil pirang tengah duduk dengan buket bunga di pangkuan. Gadis kecil, ujar Bram dalam hati, kamu tentu mau mengerti perasaanku. Kamu pasti dapat menolongku, Sayang.

Bram pun melangkah mendekat. Semula ingin bicara baik-baik kepada ibunya. Tapi tertangkap oleh ekor matanya: tubuh burung logam Merpati yang ditumpangi Laras mulai menutup pintunya. Tinggal detik-detik yang menentukan. Apakah aku mesti terlambat, pikir Bram cemas. Ya. Mendadak saja hatinya bisa cemas oleh sesuatu yang amat cengeng!

“Excuse me, Darling”, Bram tiba di depan gadis kecil itu. Tangannya mengambil keranjang bunga, sebelum pemiliknya menyadari.

Si Mungil terbelalak. Bram bergegas meninggalkannya, bersamaan dengan gerakan pertama pesawat Laras. Lalu terdengar seruan kecil.

Mom!”

Sesaat seolah ada adegan yang terhenti. Ibu Si Pirang Mungil itu berdiri dengan pandangan tak mengerti. Sekaligus bermacam prasangka menghuni kepalanya, sebagai orang asing yang merasa diperlakukan tidak benar. Ia memanggil Satpam yang sudah sejak tadi merasa heran dengan tingkah Bram.

Bram berlari, berputar jalan dan menerobos garis security dengan menunjukkan sebuah name-tag dari sakunya yang terkait dengan pin bergambar burung garuda warna emas. Ia hanya memerlukan beberapa detik agar petugas keamanan terlena, dengan mengatakan ada yang tertinggal: Penting! Ah, loloslah dia, meski hanya sejenak. Petugas segera sadar dan mencoba menyusul langkahnya dengan gegas.

Sebuah gerakan yang didukung oleh kekuatan nekad, Bram berhasil masuk ruang tunggu dan menerobos pintu yang dijaga tak terlampau ketat oleh pemeriksa tiket sebelum berjalan ke tempat pesawat. Kini Bram berlari menuju ke tepi landasan. Ia memanggil-manggil nama Laras, tapi teriakannya larut bersama angin. Dijunjungnya buket mawar merah curian itu tinggi-tinggi. Ia tak yakin Laras melihatnya dari jendela, tapi ia percaya ada lebih dari sepuluh pasang mata sedang menyaksikan tingkahnya di tempat luas itu dari pesawat.

Sementara pesawat terus bergerak, bersiap-siap untuk take-off. Di ruang tunggu airport mulai ada sedikit keributan. Agaknya Bram bakal terlibat kesulitan. Petugas lapangan yang sedang memberikan gerakan tangan untuk sang pilot pun mulai curiga.

Benar. Ada beberapa mata dalam pesawat yang melihatnya.

“Teroris!”

“Siapa?”

“Mana?”

Laras meletakkan novel dan melonggarkan sabuk pengaman. Ia terpengaruh suara di sebelah-menyebelah, dan mencoba menengok ke luar melalui kaca jendela. Astaga!

“Bram!” pekiknya tanpa sadar.

Dilihatnya Bram tengah menyebar kuntum-kuntum bunga mawar yang telah dipatahkan dari tangkai mereka. Ditaburnya di aspal landasan dengan serabutan. Berusaha menggambar sesuatu. Menyerupai bentuk hati…

Laras tahu, Bram bermaksud mengucapkan selamat ulang tahun dengan bunga-bunga mawar itu. Tetapi kenapa dengan cara nekat dan merugikan diri sendiri? Pada saat kita minum kan bisa, pikirnya tak mengerti. Ini sungguh kejutan yang berbahaya! Sementara Laras makin tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia menganggap kejadian ini tidak masuk akal! Ia juga tak sadar kalau perubahan-perubahan wajahnya menjadi perhatian penumpang lain. Semua menatapnya dengan curiga. Juga was-was.

Pesawat terus bergerak. Sedangkan Laras merasa hatinya tidak turut meluncur. Tak sadar tangannya mencengkeram bahu seseorang.

“Adik mengenalnya?” tanya laki-laki empat-puluhan di sisinya.

“Eh, ya,” bisik Laras gugup.

Pramugari, dengan suara yang dibuat tenang, memperingatkan penumpang agar tetap memasang sabuknya masing-masing. “Anda semua tak perlu khawatir. Gentleman itu hanya ingin menyampaikan selamat jalan kepada kita.”

Gambar hati itu belum terbentuk sempurna, manakala bunga di tangan Bram telah habis. Berikutnya empat orang segera menangkap tangannya yang melambai-lambai. Meringkusnya. Bram tidak melawan. Tangannya justru mengisyaratkan, bahwa ia tidak apa-apa. Bibir Bram tersenyum. Dari jarak yang semakin jauh, Laras seperti menemukan potret yang ingin disimpannya sepanjang masa. Sebelum kemudian dia memejamkan mata.

Peristiwa ini sangat bersejarah, seru hatinya. Seandainya dengan sadar Bram melakukannya, maka sungguh merupakan happening art terindah yang pernah kusaksikan. Aku tak mungkin melupakannya. Dialah kekasihku! Semisal dia memintaku kembali lagi sebelum kuinjak tanah Jakarta, aku akan melakukannya.

Maka Laras pun merasakan matanya basah. Laras tak lagi menyaksikan apa-apa, selain gumpalan awan dan biru langit. Terdengar bisik-bisik penumpang di belakang. Selebihnya, adalah usaha mereka mengalihkan perhatian dan menenteramkan diri dari berbagai kemungkinan mengerikan. Barangkali kejutan senja di bandara yang baru lalu, tinggal menjadi cerita di benak masing-masing.

Sesuatu yang aneh sering muncul dengan tiba-tiba, bukan? Laras teringat ucapan Bram setengah jam yang lewat. Dan itu telah terjadi di depan matanya. Bahkan Bram yang melakukannya!

Ya, Tuhan. Apa yang terjadi atas Bram kemudian? Selamatkanlah dia! Dia bukan teroris! Dia bukan subversif! Dia… dia… sesungguhnya orang yang paling romantis.

Hati Laras gelisah. Dan perjalanan pun jadi sangat panjang.

 

***

DUA

SEANDAINYA akan memakan waktu berabad-abad, barangkali Laras tetap memilih duduk abadi di depan meja telepon menunggu deringnya, sampai seluruh tubuh dan hatinya ditumbuhi lumut. Ia pun turut jadi sinting. Hampir sepuluh kali ia menghubungi telepon Villa Merah, jawabannya masih serupa: “Bram belum tiba di rumah.”

Kecemasanku terbukti, pikir Laras. Bram pasti ditangkap, diinterogasi, ditahan…

“Laras, kamu belum juga mandi?”

“Sebentar, Bu.”

“Jerukmu juga belum diminum,” kata ibunya lagi. “Tadi ada kiriman bunga dan kartu untukmu. Kamu sudah tahu?”

Kiriman? Teman-teman SMA-nya memang banyak yang kuliah di Jakarta. Tapi dari siapa? Laras tak beranjak dari tempatnya. Hatinya belum tergugah oleh hal-hal lain.

“Nanti akan Laras lihat, Bu.”

Lalu jemarinya kembali memencet angka. Ini yang kesebelas! Bunyi ‘tut’ di seberang terdengar sayup-sayup. Seseorang mengangkatnya. “Halo.”

“Apakah bisa bicara dengan Bram? Ini dari Laras di Jakarta.”

“Tunggu sebentar.”

Ya, Tuhan, terimakasih. Itulah satu-satunya jawaban yang mengandung sedikit harapan.

“Laras? Ada apa?” Itulah suara Bram. “Kamu meneleponku berulang kali?”

“Ya,” sahut Laras dengan kegembiraan yang tidak ditutup-tutupi lagi. “Kamu tentu mengerti bagaimana aku merasa sangat gelisah sebelum tahu keadaanmu. Aku … sulit untuk percaya bahwa itu terjadi. Maksudku, kamu melakukan sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Padahal andai kamu hanya merencanakannya, bagiku itu sudah merupakan surprise. Aku tadi melihatmu ditangkap petugas keamanan. Aku punya pikiran buruk sepanjang perjalanan. Bram! Bram …”

“Ya?”

“Oh, seharusnya kamu bercerita!”

Terdengar Bram tertawa. “Bagaimana aku bisa ngomong kalau nggak kamu beri kesempatan? Dengarkan Laras …”

“Aku ingin kalimatmu yang pertama adalah, bahwa kamu nggak kenapa-napa!”

Right! So far is okay,” ujar Bram tenang. ”Tidak ada masalah. Semuanya beres. Mereka mau mengerti dan tidak memperpanjang lagi.”

“Tapi kenapa baru sekarang tiba di rumah?” Laras tak percaya.

“Itu karena aku lama ngobrol di Kantin F. Kebetulan jumpa kawan-kawan. Diskusi Lapangan Basket pindah ke sana.”

“Astaga! Bram, tidakkah terpikir olehmu, aku akan segera mencari kabarmu?”

“Tentu. Kepulanganku ini juga lari dari forum.” Bram tertawa menenteramkan. ”Take it easy, Laras. Waktu ditanya, aku mengatakan sejujurnya apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku hanya mau mengucapkan selamat ulang tahun pada gadisku. Tentang hari-jadimu baru kuingat setelah kamu naik pesawat. Aku merasa tidak punya cara lain yang lebih baik. Aku ingin sedikit kontroversial, agar lebih panjang dikenang. Dan mereka bisa mengerti, setelah yakin bahwa ini hanya persoalan cinta. Bukan kriminal, apalagi subversif ….”

Sesaat Laras merasa detak jantungnya berubah kecepatan. Cinta? Tentunya cinta yang gila-gilaan!

“Kamu pasti menganggapku gila, bukan? Memang itu perbuatan gila. Aku sendiri ingin tertawa setiap kali mengingatnya.”

“Tidak sepenuhnya kuanggap sinting, Bram. Karena tindakanmu sehari-hari sebenarnya sudah cukup gila.”

“Terima kasih atas pujianmu.”

“Jangan marah,” Laras tergelak. “Bram, aku ingin kamu berterus terang. Apa yang kaupikirkan tentang kepulanganku ini? Maksudku setelah kamu ingat ulang tahunku.” 

“Ehm,” Bram berpikir sejenak. ”Ada dua dugaan. Yang pertama, kamu lupa ulang tahunmu sendiri. Itulah yang mendorongku melakukan kesintingan. Yang kedua: kamu pasti ingin merayakannya dengan seseorang di Jakarta. Barangkali aku merasa cemburu, dan …”

Bingo! Aku menang!” potong Laras. “Ternyata keduanya keliru. Sebenarnya aku punya rencana kecil. Aku ingin meneleponmu malam Minggu besok. Aku ingin menikmati suasana yang lain, perasaan yang berbeda dari cara-cara klasik masa kini. Tapi, tahu nggak, kini semua jadi berantakan!”

“Oho, no problem! Aku tetap menunggu teleponmu, Cantik. Jangan khawatir. Besok malam aku tidak akan ke mana-mana. Oke? Salam manis, see you!”

Laras tak sempat mengucapkan salam balasan. Bram benar-benar telah menutupnya. Dasar! Tapi, sungguh, kini hatinya telah lepas dari rasa cemas. Bahkan mungkin berganti dengan musik yang lebih semarak.

Dan kiriman itu? Laras meloncat dari kursinya dengan perasaan bahagia. Ia ingin segera tahu, siapa yang masih mengingatnya? Yang masih menyayanginya? Ah, itu dia!

Sebuah krans bunga anggrek, serta sepucuk kartu berwarna merah jambu. Amboi, warna favorit! Tanda tangannya seperti pernah dikenalnya. Astaga … Hesa!

“Selamat ulang tahun, Laras. Tak ada yang paling tepat kubingkiskan padamu selain tiket perjalanan dan sebuah acara makan malam yang anggun. Besok malam kujemput kamu jam tujuh. Kita makan malam bersama di Mandarin.”

Sejenak Laras memejamkan matanya. Lebih dari sekadar kejutan, hal ini tak pernah terlintas di kepalanya. Kenapa luput dari logikanya, bahwa pembatalan perjalanan masih dapat dilakukan beberapa jam sebelum penerbangan? Kenapa tak pernah terpikir kalau Hesa hanya mengarang cerita tentang perubahan jadwal kolokiumnya? Kenapa tak terbersit dalam benaknya, bahwa Hesa sengaja memberinya sebuah kenangan yang mahal pada hari ulang tahunnya? Kenapa lepas dari intuisinya bahwa Hesa, ternyata, juga …

 

(Untuk Larasati, Teknik Kimia ITB 85)

 

***

 

(Dimuat sebagai cover story di majalah Anita Cemerlang, 1986)

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: