Cerpen Ery Sofid

August 8, 2009 at 10:09 am | Posted in CERPEN Aniters | Comments Off on Cerpen Ery Sofid

sofid-altAKU yakin wajah yang berada di dalam cermin itu bukan diriku. Teksturnya menyimpang liar dari fakta. Dengan jujur aku mengakui bahwa aku terlahir ganteng. Mirip Antonio Banderas sedikit. Tapi saat jemari mentari pagi memancar mataku dan membuyarkan mimpi dalam pulasku, kebanggaan akan wajahku sekonyong-konyong terancam. Tapi pagi ini, aku berani menyangkal. Aslinya penampilanku memikat, namun kenapa musti nongol figur makhluk aneh?
Aku tak bisa mendeskripsikan secara detail ‘diri’-ku yang lain, yang nampak di cermin. Kira-kira begini, kepalaku nyaris mengembang sebesar guci keramik yang dipajang di ruang tamu. Bulat rada melonjong. Jidatku lebar dan berkerut-merut. Oya, kepala ‘asing’ itu botak licin mengkilap. Sepasang mataku persis ikan maskoki, seputarnya sembab. Pelipisku membengkak dan alisku rimbun kecoklatan. Hidungku cuma menyembul satu senti dengan cuping mekar. Pesek. Makhluk itu, selayang mengingatkan pada film-filim science-fiction yang kerap aku tonton. Jelek, menjijikkan, dan menakutkan.
Lama pula aku terpekur. Aku tegaskan harapan semoga pengalaman aneh pagi ini cuma ilusi belaka. Harus ada proses kausalitas kalau aku terhasut percaya. Kenapa begitu? Tapi yang mengherankan saat aku menguji kesesuaian antara diriku yang di luar dan bayangan di dalam cermin. Tiap gerakan fisik yang aku lakukan misalnya meraba-raba pipi, hidung, bibir, telinga, mata, dan kening, dia menirunya serba tepat. Tapi aku tetap merasakan keberadaan diriku wajar-wajar saja. Ah, apa yang sebenarnya terjadi?
Satu-satunya cara membuktikan apakah semua ini ilusi atau bukan adalah mencari persepsi obyektif dari Ibu dan Bapakku. Meskipun aku yakin makhluk dalam cermin itu bukan diriku yang riil.
“Tumben terlambat, Ry,” kata Ibu yang lagi mengoleskan selai nanas ke lempengan roti. “Buruan mandi, deh. Sebentar kesiangan sampai sekolah.”
Senyumku tercetak kaku. Jarum jam dinding merangkak di kisaran enam lima belas menit. Sesaat aku tertegun memandang mereka.
Bapak mendongak dari rentangan koran yang dibacanya sejenak. “Malah bengong. Bapak pengen berangkat nih, Ry. Mau menumpang atau nggak?”
“Siap, Bos,” sahutku. Lalu ngeloyor ke belakang. Lega.
Tapi seusai mandi dan balik bersalin seragam di kamar, aku kembali menemukan ‘diri’-ku yang asing saat bercermin.

***

Sebenarnya aku segan mengeluhkan perihal ini. Pada siapapun, bahkan Bapak dan Ibu. Aku ingin melupakannya. Masih mengantri sederet masalah lain yang lebih penting dipikirkan. Namun entah kenapa peristiwa edan pagi tadi itu terus-menerus menerjang benakku. Sesosok makhluk antah-berantah. Ini amat mengganggu ketenanganku.
Unek-unek itu coba aku limpahkan ke Beno. Dari sejumlah teman seantero sekolah, Beno ibarat kulit dan daging denganku. Dekat. Sahabat. Kadang anak-anak iseng meledek kami pasangan hombreng. Cuek. Hak mereka bersuara. Yang jelas kerukunanku sama Beno terbina. Beno baik. Solidaritasnya cemerlang. Itulah pasalnya aku mempercayainya.
Bahwa Beno terheran-heran selepas menyimak pemaparanku, aku mafhum. Kiasah misterius ini sarat kadar khayali. Sembilanpuluh sembilan prosen, mungkin. Sukar dicerna rasio. Tapi ketika kubuktikan kepadanya, lewat secarik kaca peraut pinsil, Beno terkejut bukan kepalang. Merinding. Dan percaya. Setelah sekian menit mencermatinya.
“Tapi mengapa keadaanmu yang kulihat sekarang nggak menggambarkan kelainan oragan-oragan sedikit pun?” tanya Beno meringis. Tubuhnya melorot lemas di kursi. Dipandangnya aku lumat-lumat.
“Itu yang masih belum terjawab,” sahutku, sambil menyusupkan rautan tadi ke dalam ransel.
“Mirip-mirip… mutant? Tahu kan, Ry?” Beno mereka-reka.
“Ya, perubahan sel-sel genetik akibat faktor tertentu,” tanggapku. “Radiasi nuklir atau limbah-limbah kimiawi pun memungkinkan terangsangnya proses mutasi gen jika terkena.”
“Tapi ini bukan mutasi, Ry,” sergah Beno serius.
“Saya rasa begitu,” keluhku. “Ah, kenapa saya ini?!”
“Anatomi makhluk dalam cermin itu, kayak makhluk-makhluk imajinasi dari angkasa luar, Ry,” Beno mengobral taksiran lain.
“Alien, begitu? Saya dirasuki Alien? Bagaimana bisa?” Aku jadi merasa geli sendiri. Aku tak kuasa menangkal laju senyumku. Pembicaraan kami di kantin siang ini sepulang sekolah seakan-akan saling menguliti kebodohan saja. “Dalam jasadku hidup Alien….”
“Kamu percaya UFO, Ry? Kehidupan lain selain di bumi?”
Aku menguncupkan bahu sambil tertawa. “Nggak tahu, deh. Tapi kamu bisa kan mengupas masalah saya ini dari sudut yang wajar?”
Beno tergugu. Lalu melengos. “Yah, kamu benar,” sungutnya.

***

Kelas III IPS 2 ramai dan gaduh. Sesekali terlontar sorak-sorai membahana. Begitu riuh dan bersemangat. Dan dijerat amarah.
Beno menyongsong kedatanganku. Ia nampak cemas.
“Gawat, Ry. Bondan menghasut anak-anak!”
“Apa?” Aku tersengat. Aku bersijingkat. Melongok ke dalam kelas dari kerumunan siswa yang memadati pintu. Bondan nampak berdiri kokoh di atas meja. Berkoar-koar dengan tatapan berapi-api.
Seantero SMA 17 Agustus 45 pasti kenal Bondan. Dialah siswa pemberani di sekolah ini. Ketimpangan-ketimpangan yang ia temukan dalam aktifitas pendidikan di sekolah kami, digugatnya blak-blakan. Pendukungnya banyak. Ia figur pemberontak tulen. Ia terpaksa didepak dari keanggotaan OSIS, karena kelewat gencar mengkritik dan melecehkan inisiatif ketua yang melempem.
Katanya, para pengurus OSIS itu cuma numpang tenar, biar dekat sama guru-guru. Hebatnya lagi, cowok yang bokapnya sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik itu, tak sungkan-sungkan hengkang dari kelas saat guru mengajar. “Cara menerangkannya payah. Tuh guru pantes ngajar di TK!” ujarnya.
Kini, ia menancapkan aksi baru. Dasar senewen!
Bondan pengen mengadakan demonstrasi?” Aku menoleh ke Beno.
“Yah,” angguk Beno. “Tadi, tiba-tiba saja ia memanggil anak-anak dari kelas-kelas lain. Mengumpulkannya di kelas kita. Ipung dan Fredi membantunya. Kamu tahu kan, Ry, Bondan jago propaganda. Dia bilang, Kepala Sekolah kita yang baru sebulan bertugas itu diangkat lewat prosedur nggak sah. Dia juga tambahkan, Kepsek baru itu mata duitan. Ry, kita harus cegah niat sontoloyo Bondan.”
Aku tak sangka Bondan berpikiran sekotor itu. Menimang-nimang sedetik, lalu aku menyeruak. Hingga aku berada di dalam kelas.
“Bondan, turun!” bentakku. “Saya mau ngomong sama kamu!”
Bondan menyeringai ke arahku. Ia melompat ke lantai.
“Halo, Ketua Kelas kita. Mau bergabung?” Gayanya menyebalkan.
Aku menggeretnya ke pojok kelas. Menghindar dari keramaian.
“Kamu musti punya alasan yang kuat kenapa mengajak demo, Dan?!”
“Aku rasa sudah jelas. Kita tuntut agar Pak Widnarjo, Kepsek kita yang terdahulu, dikembalikan posisinya. Kepsek baru sekarang ini mutunya rendah!”
“Aku kenal Pak Sigit, Dan. Sekolah memilih dia karena dedikasinya yang tinggi. Ia justru lebih baik ketimbang Pak Widnarjo.”
“Problem kamu, Ry. Pokoknya aku dan lainnya menentang.”
Mendadak kepalaku pening. Tubuhku limbung dan tersandar ke dinding. Pada saat itu, sebersit adegan ringkas berkelebat di benakku. Aku melihat Bondan menerima segepok uang dari Pak Widnarjo!
“Ry, kamu kenapa?” tanya Bondan acuh tak acuh.
Adegan tadi sirna. Pening itu berangsur hilang. Aneh….
“Kamu disogok berapa sama Pak Widnarjo?” tebakku spontan, seolah aku yakin tebakanku jitu. Aku tatap Bondan setajam pedang.
Bondan tersekat. Gelisah. “Ki-kita bagi dua, Ry,” bisiknya.
“Kamu bubarkan anak-anak atau aku laporkan ke guru BP,” ancamku.
“Ry, aku cuma disuruh beliau. Dia kecewa atas penggeseran jabatan Kepsek itu. Dia dendam,” ujar Bondan tersendat-sendat.
“Itu fitnah, Dan. Kamu sama saja makan uang haram!” geramku.
Agaknya Bondan menyesal. “Bagaimana kamu bisa tahu imbalan itu, Ry?”
Aku mendengus. Menggeleng. Tuhan, apa lagi ini….”

***

Sorot mata mereka terpusat ke arahku. Berpuluh-puluh makhluk mengerikan itu mengelilingi. Di bawah keremangan suatu ruang. Mereka membisu, namun telingaku menangkap suara-suara riuh. Kupikir mereka menggunakan sistem komunikasi telepatis. Pesan-pesan disampaikan terselubung. Brain to brain!
Inilah bahasa paling rumit sekaligus runyam yang pernah kuketahui. Pakar linguistik atau etnologi pun mungkin kudu ekstra pusing menerjemahkannya. Tapi aku sedikit dan tak lancar mampu mengkamuskan pesan-pesan itu. Entah bagaimana aku bisa tahu!
Ada sepenggal kalimat terus-menerus mendengung memenuhi tempurung kepalaku, hingga aku menghapalnya.
“Secepatnya kami menjemputmu. Segenap bangsa menanti takdir kepemimpinanmu. Generasi tercerdas dan lebih bermoral luhur. Revolusi ini harus dihentikan. Korban sudah banyak. Secepatnya kami menjemputmu. Secepatnya….”
Aku terbangun. Dadaku berdebebar-debar tak beraturan. Cuplikan mimpi tadi masih menggelepar-gelepar di ingatanku. Perasaan gamang berkecamuk di lorong-lorong sukmaku. Malam itu aku mengalami derita batin menyayat. Ditindas oleh terkaman berjuta tanya. Siapakah diriku sesungguhnya?!
Aku beranjak dari ranjang. Kunyalakan lampu. Dengan gelisah aku menjenguk cermin. Napasku tersedak. Wajah makhluk itu masih ada. Kini aku lekas tanggap. Wajahku dalam cermin itu persis wajah makhluk yang menghiasi arena mimpiku. Persis!
Tuhan, siapakah aku sebenarnya? Mengapa Engkau datangkan cobaan berat ini pada hamba-Mu? Siapakah mereka… siapakah aku…?

***

Rasanya aku tak bisa menyimpan lebih lama lagi keganjilan-keganjilan yang akhir-akhir ini merongrong ketenteramanku. Hari itu, aku beberkan seluruhnya pada Ibu dan Bapak.
Mereka terkejut sekali. Terlebih-lebih pas aku buktikan.
“Astaga, waktunya telah tiba,” desis Ibu dengan muka haru.
Aku terhenyak. “Maksdu Ibu apa?”
“Ah, nggak. Nggak apa-apa,” kelit Ibu seakan tersentak.
Kebingunganku tumbuh. Aku tak mengerti mengapa ketika kegundahan tengah membelit hatiku, mereka malah semakin memupuknya.
“Bu, Pak, Hery harus tahu arti semua ini?!” Aku coba mendesak.
Bapak mendengus berat. Ibu menoleh ke Bapak. Saling kikuk.
“Perjanjian itu sudah kita sepakati, Bu. Kita tak boleh melanggarnya. Bukankah kita berhutang budi pada mereka….”
“Pak, ada apa sih?” Kesabaranku dihimpit penasaran.
Mata tua Ibu berkilat sayu. “Bapak saja yang cerita.”
Bapak mengangguk. Mendehem. Ia pindah ke sofa tempatku membeku tegang. Duduk di sisiku. Merangkul pundakku, ia bertutur pelan.
“Ry, delapanbelas tahun lalu, keluarga kita belum semakmur sekarang. Kami, Bapak-Ibu, masih di Cianjur. Perkebunan cabai shishito yang Bapak kelola bersama Ny. Hamada terancam musnah. Cabai khas Jepang yang ditanam di lahan seluas 660 meter persegi itu diserang hama. Seluruhnya. Sulit dipastikan jenis hama apa. Apakah ulat grayak, nematoda, tungau, atau hama thrips. Ny. Hamada malah cenderung mengira antranoksa, sejenis penyakit tanaman yang membahayakan. Kami kelimpungan. Meskipun penanaman cabai ini merupakan proyek percontohan yang pertama dirintis di Indonesia, dan prospeknya nggak sebagus pembudidayaan cabai-cabai lokal, Ny. Hamada bertekad menyelamatkannya. Para petani yang bekerja satu per satu mulai undur diri. Hanya Bapak yang tetap bertahan. Bersama Ny. Hamada, pimpinan proyek itu, kami berpikir keras. Penyemprotan pestisida maunpun insektisida sudah dilakukan. Hasilnya nihil. Sejumlah tenaga ilmuwan rekan Ny. Hamada, dari Jepang, kalang-kabut. Mereka menyerah. Dalam semangat yang kian rapuh, kami masih berjuang memecahkan masalah ini. Dalam saat-saat kritis itulah, kami didatangi oleh seseorang.”
“Siapa dia? Utusan pemda?” selaku. Aku menyimak seksama.
“Mulanya kami dan staf lainnya menduga begitu. Ia mengunjungi laboratorium kami malam hari. Ia menjanjikan bahwa besok pagi kondisi area tanaman cabai shishito itu akan kembali normal. Ia mengaku memiliki zat kimiawi tertentu yang ampuh memberantas hama atau penyakit. Kami senang mendengarnya. Tapi ia baru bersedia memenuhi janjinya asalkan kami sanggup menjalani satu syarat. Ini dia tujukan ke Bapak dan Ibu. Entah dari mana ia tahu kalau kami sudah menikah. Pria itu meminta agar kami mengadopsi seorang bayi dari mereka. Ibumu menyambut setuju. Sudah lama Ibu merindukan anak. Bapak turut bahagia. Maka dibuatlah perjanjian. Saatnya kamu menanjak dewasa, mereka akan menemui kami. Mengambil kamu, Ry. Membawamu pergi lagi.”
Kali ini aku kurang paham. Dan Bapak agaknya tahu hal ini.
Perlahan ia melanjutkan. “Orang itu menepati janji. Esok harinya perkebunan cabai shishito kami nampak lebih sehat, segar, kuat dan subur. Nggak lagi layu dan meranggas kusam seperti kemarin-kemarin. Terlebih menakjubkan, sejak itu tanaman cabai shishito kami kebal terhadap gangguan hama dan penyakit apa pun.”
“Bagaimana ia bisa melakukannya?” tanyaku.
“Nggak seorang pun tahu….” Suara Bapak terbata. Melirik Ibu.
“Semuanya, Pak. Ungkapkan,” ujar Ibu tampak tabah dalam duka.
“Baiklah. Kamu nggak tahu teknologi apa yang mereka terapkan. Sekitar pukul dua dinihari, sepeninggalnya, kami terjaga dari tidur. Hampir semua peneliti, staf, dan termasuk Ny. Hamada, mendengar bunyi gemuruh halus di angkasa. Kami berduyun-duyum keluar laboratorium. Di atas areal perkebunan cabai, mengapung sebuah piringan raksasa. Menyerupai cakram. Garis tengahnya diperkirakan sembilan ratus meter. Cahaya kehijauan tertumpah merata dari satu lubang yang menganga di permukaan bawah benda itu. Lahan tanaman cabai benderang oleh cahaya. Lima menit berlalu, cahaya lenyap. Benda tadi membubung lamban. Kali ini tanpa bunyi sedikit pun. Suasana terasa hening. Sunyi. Sampai benda itu tiba-tiba melejit luar biasa cepatnya. Nggak sampai satu menit, kamu sudah menyaksikan benda itu tinggal sebentuk titik mungil. Membaur di antara tebaran bintang. Dari peristiwa itu, kami menyimpulkan bahwa cahaya itulah yang memulihkan tananman cabai.”
Prasangka konyol menembus benakku. “Apakah mereka….”
“Ya, pria penolong itu makhluk luar bumi,” potong Bapak. “Kami nggak pernah bertemu lagi. Tapi ia pasti muncul lagi, setelah bayi yang diserahkan ke kami meningkat dewasa. Kami rawat, didik dan asuh bayi itu dengan penuh kasih-sayang. Kami anggap darah-daging kami sendiri. Sekarang ia sudah besar, gagah, tampan, dan pintar. Sang Jabang Bayi itu adalah… kamu sendiri, anakku….”
“Bapak mengada-ada!” sangkalku keras. Kaget dan tak percaya.
“Benar, Ry,” Ibu menegaskan. “Di sana, tempat asalmu, kamu adalah calon pemimpin. Kamu dipersiapkan guna menumbangkan pemimpin mereka saat ini. Yang bertindak semena-mena. Zalim dan biadab. Ada satu materi penting yang mereka sadari telah dilalaikan. Moral dan mental suci. Timbullah gagasan mempelajarinya dari umat manusia di bumi. Seorang bayi kaum mereka direkayasa sedemikian rupa hingga berwujud sama dengan bayi manusia. Bayi ini akan tumbuh sebagaimana layaknya manusia umumnya dan menyerap segala hal dalam kehidupan manusia. Termasuk apa itu moral dan mental. Sejak TK hingga kamu menjelang tamat SMA.”
Aku tercenung. Menelan ludah dengan susah payah.
Bapak melanjutkan. “Makhluk yang kamu lihat dalam cermin itu adalah sosok aslimu. Hanya akan terlihat jika kamu sudah mencapai kedewasaan. Ini juga isyarat, mereka tengah bersiap-siap menjemputmu. Selanjutnya kamu akan digembleng ilmu kemiliteran di sana.”
“Ah, ini mengada-ada!” desahku takut dan sedih. “Ibulah yang melahirkan aku. Kalianlah orangtua aku yang sesungguhnya!”
“Sebelum Bapak menikah, Ibumu dinyatakan mandul oleh dokter. Akibat kanker kandungan yang pernah dideritanya,” jelas Bapak dengan serius.
Aku terbelalak. Badai ganas menerpa jiwaku. “Bagaimana kalau aku menolak pergi saat mereka datang?!” dalihku emosi. Kalut luar biasa.
“Kami pun nggak rela berpisah darimu, tapi kami harus mematuhi perjanjian. Kamu harus ikut mereka,” jawab Bapak murung. Matanya berkaca-kaca.
“Kalau kerusuhan di sana mereda, kamu bisa sesekali menemui kami, Ry. Tentu kamu akan membawa cerita-cerita menarik tentang dunia di sana. Dunia asing yang masih misterius itu,” hibur Ibu, juga dengan mata berkaca-kaca.
Bapak dan Ibu sepertinya telah siap menghadapi hal ini. Tiba-tiba saja aku merasa tak punya pilihan lain lagi. Walau sulit kucerna, akhirnya kepasrahan membalutku. Siapa pun aku, inilah takdir. Bahwa ternyata aku adalah putra dari segolongan kaum yang bukan manusia. Dan malam itu, aku bersikap tegar saat di atas rumahku mengambang megah sebuah cakram raksasa.
Keberangkatanku telah tiba. 

Aku yakin wajah yang berada di dalam cermin itu bukan diriku. Teksturnya menyimpang liar dari fakta. Dengan jujur aku mengakui bahwa aku terlahir ganteng. Mirip Antonio Banderas sedikit. Tapi saat jemari mentari pagi memancar mataku dan membuyarkan mimpi dalam pulasku, kebanggaan akan wajahku sekonyong-konyong terancam. Tapi pagi ini, aku berani menyangkal. Aslinya penampilanku memikat, namun kenapa musti nongol figur makhluk aneh?
Aku tak bisa mendeskripsikan secara detail ‘diri’-ku yang lain, yang nampak di cermin. Kira-kira begini, kepalaku nyaris mengembang sebesar guci keramik yang dipajang di ruang tamu. Bulat rada melonjong. Jidatku lebar dan berkerut-merut. Oya, kepala ‘asing’ itu botak licin mengkilap. Sepasang mataku persis ikan maskoki, seputarnya sembab. Pelipisku membengkak dan alisku rimbun kecoklatan. Hidungku cuma menyembul satu senti dengan cuping mekar. Pesek. Makhluk itu, selayang mengingatkan pada film-filim
science-fiction yang kerap aku tonton. Jelek, menjijikkan, dan menakutkan.
Lama pula aku terpekur. Aku tegaskan harapan semoga pengalaman aneh pagi ini cuma ilusi belaka. Harus ada proses kausalitas kalau aku terhasut percaya. Kenapa begitu? Tapi yang mengherankan saat aku menguji kesesuaian antara diriku yang di luar dan bayangan di dalam cermin. Tiap gerakan fisik yang aku lakukan misalnya meraba-raba pipi, hidung, bibir, telinga, mata, dan kening, dia menirunya serba tepat. Tapi aku tetap merasakan keberadaan diriku wajar-wajar saja. Ah, apa yang sebenarnya terjadi?
Satu-satunya cara membuktikan apakah semua ini ilusi atau bukan adalah mencari persepsi obyektif dari Ibu dan Bapakku. Meskipun aku yakin makhluk dalam cermin itu bukan diriku yang riil.
“Tumben terlambat, Ry,” kata Ibu yang lagi mengoleskan selai nanas ke lempengan roti. “Buruan mandi, deh. Sebentar kesiangan sampai sekolah.”
Senyumku tercetak kaku. Jarum jam dinding merangkak di kisaran enam lima belas menit. Sesaat aku tertegun memandang mereka.
Bapak mendongak dari rentangan koran yang dibacanya sejenak. “Malah bengong. Bapak pengen berangkat nih, Ry. Mau menumpang atau nggak?”
“Siap, Bos,” sahutku. Lalu ngeloyor ke belakang. Lega.
Tapi seusai mandi dan balik bersalin seragam di kamar, aku kembali menemukan ‘diri’-ku yang asing saat bercermin.

***

Sebenarnya aku segan mengeluhkan perihal ini. Pada siapapun, bahkan Bapak dan Ibu. Aku ingin melupakannya. Masih mengantri sederet masalah lain yang lebih penting dipikirkan. Namun entah kenapa peristiwa edan pagi tadi itu terus-menerus menerjang benakku. Sesosok makhluk antah-berantah. Ini amat mengganggu ketenanganku.
Unek-unek itu coba aku limpahkan ke Beno. Dari sejumlah teman seantero sekolah, Beno ibarat kulit dan daging denganku. Dekat. Sahabat. Kadang anak-anak iseng meledek kami pasangan
hombreng. Cuek. Hak mereka bersuara. Yang jelas kerukunanku sama Beno terbina. Beno baik. Solidaritasnya cemerlang. Itulah pasalnya aku mempercayainya.
Bahwa Beno terheran-heran selepas menyimak pemaparanku, aku mafhum. Kiasah misterius ini sarat kadar khayali. Sembilanpuluh sembilan prosen, mungkin. Sukar dicerna rasio. Tapi ketika kubuktikan kepadanya, lewat secarik kaca peraut pinsil, Beno terkejut bukan kepalang. Merinding. Dan percaya. Setelah sekian menit mencermatinya.
“Tapi mengapa keadaanmu yang kulihat sekarang nggak menggambarkan kelainan oragan-oragan sedikit pun?” tanya Beno meringis. Tubuhnya melorot lemas di kursi. Dipandangnya aku lumat-lumat.
“Itu yang masih belum terjawab,” sahutku, sambil menyusupkan rautan tadi ke dalam ransel.
“Mirip-mirip…
mutant? Tahu kan, Ry?” Beno mereka-reka.
“Ya, perubahan sel-sel genetik akibat faktor tertentu,” tanggapku. “Radiasi nuklir atau limbah-limbah kimiawi pun memungkinkan terangsangnya proses mutasi gen jika terkena.”
“Tapi ini bukan mutasi, Ry,” sergah Beno serius.
“Saya rasa begitu,” keluhku. “Ah, kenapa saya ini?!”
“Anatomi makhluk dalam cermin itu, kayak makhluk-makhluk imajinasi dari angkasa luar, Ry,” Beno mengobral taksiran lain.
“Alien, begitu? Saya dirasuki Alien? Bagaimana bisa?” Aku jadi merasa geli sendiri. Aku tak kuasa menangkal laju senyumku. Pembicaraan kami di kantin siang ini sepulang sekolah seakan-akan saling menguliti kebodohan saja. “Dalam jasadku hidup Alien….”
“Kamu percaya UFO, Ry? Kehidupan lain selain di bumi?”
Aku menguncupkan bahu sambil tertawa. “Nggak tahu, deh. Tapi kamu bisa kan mengupas masalah saya ini dari sudut yang wajar?”
Beno tergugu. Lalu melengos. “Yah, kamu benar,” sungutnya.

***

Kelas III IPS 2 ramai dan gaduh. Sesekali terlontar sorak-sorai membahana. Begitu riuh dan bersemangat. Dan dijerat amarah.
Beno menyongsong kedatanganku. Ia nampak cemas.
“Gawat, Ry. Bondan menghasut anak-anak!”
“Apa?” Aku tersengat. Aku bersijingkat. Melongok ke dalam kelas dari kerumunan siswa yang memadati pintu. Bondan nampak berdiri kokoh di atas meja. Berkoar-koar dengan tatapan berapi-api.
Seantero SMA 17 Agustus 45 pasti kenal Bondan. Dialah siswa pemberani di sekolah ini. Ketimpangan-ketimpangan yang ia temukan dalam aktifitas pendidikan di sekolah kami, digugatnya blak-blakan. Pendukungnya banyak. Ia figur pemberontak tulen. Ia terpaksa didepak dari keanggotaan OSIS, karena kelewat gencar mengkritik dan melecehkan inisiatif ketua yang melempem.
Katanya, para pengurus OSIS itu cuma numpang tenar, biar dekat sama guru-guru. Hebatnya lagi, cowok yang bokapnya sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik itu, tak sungkan-sungkan hengkang dari kelas saat guru mengajar. “Cara menerangkannya payah. Tuh guru pantes ngajar di TK!” ujarnya.
Kini, ia menancapkan aksi baru. Dasar senewen!
Bondan pengen mengadakan demonstrasi?” Aku menoleh ke Beno.
“Yah,” angguk Beno. “Tadi, tiba-tiba saja ia memanggil anak-anak dari kelas-kelas lain. Mengumpulkannya di kelas kita. Ipung dan Fredi membantunya. Kamu tahu kan, Ry, Bondan jago propaganda. Dia bilang, Kepala Sekolah kita yang baru sebulan bertugas itu diangkat lewat prosedur nggak sah. Dia juga tambahkan, Kepsek baru itu mata duitan. Ry, kita harus cegah niat sontoloyo Bondan.”
Aku tak sangka Bondan berpikiran sekotor itu. Menimang-nimang sedetik, lalu aku menyeruak. Hingga aku berada di dalam kelas.
“Bondan, turun!” bentakku. “Saya mau ngomong sama kamu!”
Bondan menyeringai ke arahku. Ia melompat ke lantai.
“Halo, Ketua Kelas kita. Mau bergabung?” Gayanya menyebalkan.
Aku menggeretnya ke pojok kelas. Menghindar dari keramaian.
“Kamu musti punya alasan yang kuat kenapa mengajak demo, Dan?!”
“Aku rasa sudah jelas. Kita tuntut agar Pak Widnarjo, Kepsek kita yang terdahulu, dikembalikan posisinya. Kepsek baru sekarang ini mutunya rendah!”
“Aku kenal Pak Sigit, Dan. Sekolah memilih dia karena dedikasinya yang tinggi. Ia justru lebih baik ketimbang Pak Widnarjo.”
“Problem kamu, Ry. Pokoknya aku dan lainnya menentang.”
Mendadak kepalaku pening. Tubuhku limbung dan tersandar ke dinding. Pada saat itu, sebersit adegan ringkas berkelebat di benakku. Aku melihat Bondan menerima segepok uang dari Pak Widnarjo!
“Ry, kamu kenapa?” tanya Bondan acuh tak acuh.
Adegan tadi sirna. Pening itu berangsur hilang. Aneh….
“Kamu disogok berapa sama Pak Widnarjo?” tebakku spontan, seolah aku yakin tebakanku jitu. Aku tatap Bondan setajam pedang.
Bondan tersekat. Gelisah. “Ki-kita bagi dua, Ry,” bisiknya.
“Kamu bubarkan anak-anak atau aku laporkan ke guru BP,” ancamku.
“Ry, aku cuma disuruh beliau. Dia kecewa atas penggeseran jabatan Kepsek itu. Dia dendam,” ujar Bondan tersendat-sendat.
“Itu fitnah, Dan. Kamu sama saja makan uang haram!” geramku.
Agaknya Bondan menyesal. “Bagaimana kamu bisa tahu imbalan itu, Ry?”
Aku mendengus. Menggeleng. Tuhan, apa lagi ini….”

***

Sorot mata mereka terpusat ke arahku. Berpuluh-puluh makhluk mengerikan itu mengelilingi. Di bawah keremangan suatu ruang. Mereka membisu, namun telingaku menangkap suara-suara riuh. Kupikir mereka menggunakan sistem komunikasi telepatis. Pesan-pesan disampaikan terselubung. Brain to brain!
Inilah bahasa paling rumit sekaligus runyam yang pernah kuketahui. Pakar linguistik atau etnologi pun mungkin kudu ekstra pusing menerjemahkannya. Tapi aku sedikit dan tak lancar mampu mengkamuskan pesan-pesan itu. Entah bagaimana aku bisa tahu!
Ada sepenggal kalimat terus-menerus mendengung memenuhi tempurung kepalaku, hingga aku menghapalnya.
“Secepatnya kami menjemputmu. Segenap bangsa menanti takdir kepemimpinanmu. Generasi tercerdas dan lebih bermoral luhur. Revolusi ini harus dihentikan. Korban sudah banyak. Secepatnya kami menjemputmu. Secepatnya….”
Aku terbangun. Dadaku berdebebar-debar tak beraturan. Cuplikan mimpi tadi masih menggelepar-gelepar di ingatanku. Perasaan gamang berkecamuk di lorong-lorong sukmaku. Malam itu aku mengalami derita batin menyayat. Ditindas oleh terkaman berjuta tanya. Siapakah diriku sesungguhnya?!
Aku beranjak dari ranjang. Kunyalakan lampu. Dengan gelisah aku menjenguk cermin. Napasku tersedak. Wajah makhluk itu masih ada. Kini aku lekas tanggap. Wajahku dalam cermin itu persis wajah makhluk yang menghiasi arena mimpiku. Persis!
Tuhan, siapakah aku sebenarnya? Mengapa Engkau datangkan cobaan berat ini pada hamba-Mu? Siapakah mereka… siapakah aku…?

***

Rasanya aku tak bisa menyimpan lebih lama lagi keganjilan-keganjilan yang akhir-akhir ini merongrong ketenteramanku. Hari itu, aku beberkan seluruhnya pada Ibu dan Bapak.
Mereka terkejut sekali. Terlebih-lebih pas aku buktikan.
“Astaga, waktunya telah tiba,” desis Ibu dengan muka haru.
Aku terhenyak. “Maksdu Ibu apa?”
“Ah, nggak. Nggak apa-apa,” kelit Ibu seakan tersentak.
Kebingunganku tumbuh. Aku tak mengerti mengapa ketika kegundahan tengah membelit hatiku, mereka malah semakin memupuknya.
“Bu, Pak, Hery harus tahu arti semua ini?!” Aku coba mendesak.
Bapak mendengus berat. Ibu menoleh ke Bapak. Saling kikuk.
“Perjanjian itu sudah kita sepakati, Bu. Kita tak boleh melanggarnya. Bukankah kita berhutang budi pada mereka….”
“Pak, ada apa sih?” Kesabaranku dihimpit penasaran.
Mata tua Ibu berkilat sayu. “Bapak saja yang cerita.”
Bapak mengangguk. Mendehem. Ia pindah ke sofa tempatku membeku tegang. Duduk di sisiku. Merangkul pundakku, ia bertutur pelan.
“Ry, delapanbelas tahun lalu, keluarga kita belum semakmur sekarang. Kami, Bapak-Ibu, masih di Cianjur. Perkebunan cabai
shishito yang Bapak kelola bersama Ny. Hamada terancam musnah. Cabai khas Jepang yang ditanam di lahan seluas 660 meter persegi itu diserang hama. Seluruhnya. Sulit dipastikan jenis hama apa. Apakah ulat grayak, nematoda, tungau, atau hama thrips. Ny. Hamada malah cenderung mengira antranoksa, sejenis penyakit tanaman yang membahayakan. Kami kelimpungan. Meskipun penanaman cabai ini merupakan proyek percontohan yang pertama dirintis di Indonesia, dan prospeknya nggak sebagus pembudidayaan cabai-cabai lokal, Ny. Hamada bertekad menyelamatkannya. Para petani yang bekerja satu per satu mulai undur diri. Hanya Bapak yang tetap bertahan. Bersama Ny. Hamada, pimpinan proyek itu, kami berpikir keras. Penyemprotan pestisida maunpun insektisida sudah dilakukan. Hasilnya nihil. Sejumlah tenaga ilmuwan rekan Ny. Hamada, dari Jepang, kalang-kabut. Mereka menyerah. Dalam semangat yang kian rapuh, kami masih berjuang memecahkan masalah ini. Dalam saat-saat kritis itulah, kami didatangi oleh seseorang.”
“Siapa dia? Utusan pemda?” selaku. Aku menyimak seksama.
“Mulanya kami dan staf lainnya menduga begitu. Ia mengunjungi laboratorium kami malam hari. Ia menjanjikan bahwa besok pagi kondisi area tanaman cabai
shishito itu akan kembali normal. Ia mengaku memiliki zat kimiawi tertentu yang ampuh memberantas hama atau penyakit. Kami senang mendengarnya. Tapi ia baru bersedia memenuhi janjinya asalkan kami sanggup menjalani satu syarat. Ini dia tujukan ke Bapak dan Ibu. Entah dari mana ia tahu kalau kami sudah menikah. Pria itu meminta agar kami mengadopsi seorang bayi dari mereka. Ibumu menyambut setuju. Sudah lama Ibu merindukan anak. Bapak turut bahagia. Maka dibuatlah perjanjian. Saatnya kamu menanjak dewasa, mereka akan menemui kami. Mengambil kamu, Ry. Membawamu pergi lagi.”
Kali ini aku kurang paham. Dan Bapak agaknya tahu hal ini.
Perlahan ia melanjutkan. “Orang itu menepati janji. Esok harinya perkebunan cabai
shishito kami nampak lebih sehat, segar, kuat dan subur. Nggak lagi layu dan meranggas kusam seperti kemarin-kemarin. Terlebih menakjubkan, sejak itu tanaman cabai shishito kami kebal terhadap gangguan hama dan penyakit apa pun.”
“Bagaimana ia bisa melakukannya?” tanyaku.
“Nggak seorang pun tahu….” Suara Bapak terbata. Melirik Ibu.
“Semuanya, Pak. Ungkapkan,” ujar Ibu tampak tabah dalam duka.
“Baiklah. Kamu nggak tahu teknologi apa yang mereka terapkan. Sekitar pukul dua dinihari, sepeninggalnya, kami terjaga dari tidur. Hampir semua peneliti, staf, dan termasuk Ny. Hamada, mendengar bunyi gemuruh halus di angkasa. Kami berduyun-duyum keluar laboratorium. Di atas areal perkebunan cabai, mengapung sebuah piringan raksasa. Menyerupai cakram. Garis tengahnya diperkirakan sembilan ratus meter. Cahaya kehijauan tertumpah merata dari satu lubang yang menganga di permukaan bawah benda itu. Lahan tanaman cabai benderang oleh cahaya. Lima menit berlalu, cahaya lenyap. Benda tadi membubung lamban. Kali ini tanpa bunyi sedikit pun. Suasana terasa hening. Sunyi. Sampai benda itu tiba-tiba melejit luar biasa cepatnya. Nggak sampai satu menit, kamu sudah menyaksikan benda itu tinggal sebentuk titik mungil. Membaur di antara tebaran bintang. Dari peristiwa itu, kami menyimpulkan bahwa cahaya itulah yang memulihkan tananman cabai.”
Prasangka konyol menembus benakku. “Apakah mereka….”
“Ya, pria penolong itu makhluk luar bumi,” potong Bapak. “Kami nggak pernah bertemu lagi. Tapi ia pasti muncul lagi, setelah bayi yang diserahkan ke kami meningkat dewasa. Kami rawat, didik dan asuh bayi itu dengan penuh kasih-sayang. Kami anggap darah-daging kami sendiri. Sekarang ia sudah besar, gagah, tampan, dan pintar. Sang Jabang Bayi itu adalah… kamu sendiri, anakku….”
“Bapak mengada-ada!” sangkalku keras. Kaget dan tak percaya.
“Benar, Ry,” Ibu menegaskan. “Di sana, tempat asalmu, kamu adalah calon pemimpin. Kamu dipersiapkan guna menumbangkan pemimpin mereka saat ini. Yang bertindak semena-mena. Zalim dan biadab. Ada satu materi penting yang mereka sadari telah dilalaikan. Moral dan mental suci. Timbullah gagasan mempelajarinya dari umat manusia di bumi. Seorang bayi kaum mereka direkayasa sedemikian rupa hingga berwujud sama dengan bayi manusia. Bayi ini akan tumbuh sebagaimana layaknya manusia umumnya dan menyerap segala hal dalam kehidupan manusia. Termasuk apa itu moral dan mental. Sejak TK hingga kamu menjelang tamat SMA.”
Aku tercenung. Menelan ludah dengan susah payah.
Bapak melanjutkan. “Makhluk yang kamu lihat dalam cermin itu adalah sosok aslimu. Hanya akan terlihat jika kamu sudah mencapai kedewasaan. Ini juga isyarat, mereka tengah bersiap-siap menjemputmu. Selanjutnya kamu akan digembleng ilmu kemiliteran di sana.”
“Ah, ini mengada-ada!” desahku takut dan sedih. “Ibulah yang melahirkan aku. Kalianlah orangtua aku yang sesungguhnya!”
“Sebelum Bapak menikah, Ibumu dinyatakan mandul oleh dokter. Akibat kanker kandungan yang pernah dideritanya,” jelas Bapak dengan serius.
Aku terbelalak. Badai ganas menerpa jiwaku. “Bagaimana kalau aku menolak pergi saat mereka datang?!” dalihku emosi. Kalut luar biasa.
“Kami pun nggak rela berpisah darimu, tapi kami harus mematuhi perjanjian. Kamu harus ikut mereka,” jawab Bapak murung. Matanya berkaca-kaca.
“Kalau kerusuhan di sana mereda, kamu bisa sesekali menemui kami, Ry. Tentu kamu akan membawa cerita-cerita menarik tentang dunia di sana. Dunia asing yang masih misterius itu,” hibur Ibu, juga dengan mata berkaca-kaca.
Bapak dan Ibu sepertinya telah siap menghadapi hal ini. Tiba-tiba saja aku merasa tak punya pilihan lain lagi. Walau sulit kucerna, akhirnya kepasrahan membalutku. Siapa pun aku, inilah takdir. Bahwa ternyata aku adalah putra dari segolongan kaum yang bukan manusia. Dan malam itu, aku bersikap tegar saat di atas rumahku mengambang megah sebuah cakram raksasa.
Keberangkatanku telah tiba.

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: