Sentuhan Cinta bersama Susy Ayu di Pro2 105 FM Kamis Malam, 13 Agustus 2009

August 8, 2009 at 8:15 pm | Posted in ACARA Anita, SENTUHAN CINTA Anita-Pro2 105 FM | Leave a comment
Tags: ,

susy ayuJadwal Acara:

Kamis Malam, 13 Agustus 2009

Jam 22.00 WIB

Lokasi: Studio RRI Pro2 105.0 FM Jakarta

Jangan lewatkan acara “Sentuhan Cinta” bersama cerpen Rahasia Hati oleh Susy Ayu (Susy P. Ayuningtyas) di Pro2 FM hari Kamis Malam Jam 10.00 tgl 13 Agustus, yang akan dibacakan langsung penulisnya bersama para Aniters.

Aku tersentak akan cengkeramannya di setiap bagian tubuhku yang tergenggam, memberikan aku kesadaran bahwa gelomabng hasrat ini harus segera dihentikan. Perlawananku kemudian adalah suatu kesia-siaan. Jemarinya menelusup paksa dan merenggut kelopak mahkotaku, meraih teratai merah yang tersimpan di dalamnya. Tangkainya patah dan darah mengalir dari sana, membanjiri separuh hatiku yang mati seketika, sementara ia terus menikam-nikam membunuh tiap bagian diriku berulang kali sebelum kemudian ia meledak, dan jiwaku berkeping-keping.

Setajam apapun luka yang diberikan pada masa laluku, aku berusaha keras mendandani hatiku. Agar kelak ada hal lebih baik yang bisa kutawarkan pada diriku sendiri. Aku melihat waktu akan terbentang teramat oanjang di depanku, kau memaksaku untuk bertaruh atas keberadaanku sebagai manusia, ketika kau tempatkan aku pada posisi ini. Apakah keikhlasan yang akan menang atau kebencian, aku cuma ingin salah satu dari dua kemungkinan itu saja. Namun aku tidak ingin melupakannya, semua yang telah kita tempuhi bersama, sakit dan bahagia itu. Akupun juga ingin utuh dan bulat, aku tidak ingin mati tanpa makna, sudah terlambat untuk surut.

JANGAN LEWATKAN SENTUHAN CINTA SUSY AYU di PRO2 105 FM Kamis Malam pukul 22.00 tanggal 13 Agustus 2009!

 

Advertisements

Resensi Novel Romantic Thriller “The Patient” Karya: BS Wijaya

August 8, 2009 at 7:27 pm | Posted in RESENSI NOVEL Aniters | Leave a comment
Tags: ,

cover the patient karya bambang sukmawijayaJudul buku: THE PATIENT
Penulis: BS WIJAYA (Bambang Sukmawijaya)
Penerbit: Kutubuku Sampurna, Jakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: 165 hlm

Genre: Romantic Thriller 

 

Sinopsis

… tanpa kusangka, tahu-tahu tangannya sudah berada di udara, mengacung, dengan spoit besar yang siap menikam! Aku mendesis ngeri.

Tapi ia tak segera melakukan apa yang kutakutkan.

Dengan tenang, ia mengonsentrasikan cairan dalam tabung spoit di tangannya. Barulah setelah itu ia mulai mencari pangkal pahaku dan menyuntikku pelan-pelan…

Berhari-hari Ancha terbaring di rumah sakit. Sebuah kecelakaan mobil telah mengantarnya ke sebuah dunia yang dikelilingi para mahasiswi perawat cantik dan baik hati. Tapi yang paling mengesankan dan membuatnya penasaran adalah sensasi sentuhan seorang perawat tak dikenal yang pertama kali menanganinya ketika kecelakaan itu menimpanya. Penuh kasih, dan lembut. Seakan menghapus segala kegetiran dan kegersangan yang selama ini menyelimuti hidupnya. Ia sudah berusaha mencari tahu, namun tak satu pun dari para mahasiswi perawat yang mengenalinya.

Hingga suatu ketika, di saat Ancha mulai merasakan semangat hidup setelah sekian lama didera penderitaan bertubi-tubi –dari persoalan keluarga hingga masalah cinta, sepasang tangan diam-diam mengakhiri hidupnya secara medis.

Siapakah yang tega mengakhiri hidupnya?

Mahasiswi Perawat Ningsih yang cantik dan penuh perhatian namun belakangan tiba-tiba berubah sikap jadi asing di mata Ancha? Atau Nadya, mantan pacarnya yang bermuka dua dan masih kerap datang ke rumah sakit secara diam-diam karena belum rela melepaskan cintanya? Atau Mahasiswi Perawat Hilda yang berwajah buruk dan suka dijauhi oleh mahasiswi perawat lain? Ataukah ada yang lain? Lalu apa motifnya?

The Patient, adalah kisah kelam dan mengerikan tentang sepotong hati yang memiliki cara sendiri dalam mengungkapkan cintanya yang begitu dalam. Penuh kegetiran, dengan ending yang tak terduga.

———— ——— ——— ——— ——— ——— ———

“Seperti membaca jalinan puisi yang mengandung tanda tanya. Sisi lain
perasaan laki-laki yang jarang disentuh novel-novel Indonesia sebelumnya.”
– Zara Zettira ZR, penulis skenario dan novel, tinggal di Kanada

“Kisah mengharukan dan terasa sangat nyata! Gaya bahasanya yang
mudah dimengerti dan dibayangkan, membuat ceritanya lebih ‘hidup’.
Benar-benar AJAIB (Amazing, Juicy, Adorable, Imaginable, Brilliant! ”
– Tussie Aulika, redaktur pelaksana Majalah CITA CINTA

“Kasus Prita menyadarkan kita memang ada ‘sesuatu’ di rumah sakit.
Tapi kisah dalam novel ini lebih seru dan mendebarkan. Saya benar-benar tidak bisa berhenti membacanya sampai titik halaman terakhir.”
– Putra Gara, penulis novel Samudera Pasai

 

Novel romantic thriller ”THE PATIENT” tersedia di toko-toko buku GRAMEDIA dan toko buku terdekat lain, juga dapat dipesan melalui: www.bookopedia.com dan www.kutubukusampurna.com

Profil Pengurus Anita

August 8, 2009 at 4:30 pm | Posted in ANGGOTA Anita | Leave a comment
Tags:

kef22KURNIA EFFENDI

Ketua Umum ANITA

Nama Beken: Kurnia Effendi

Nama Sebenarnya: Kurnia Effendi

Tempat & Tgl Lahir: Slawi, 20 Oktober.

Alamat Email: kurnia_ef@yahoo.com

Alamat Facebook: kurnia effendi

Alamat Blog: www.sepanjangbraga.blogspot.com

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

Musim Gugur Telah Selesai

Hari-hari Merah Jambu

Tigaribu Kaki di Atas Bandung

Sebuah Cinta yang Wangi

Langit Makin Ungu

Kwatrin Pertemuan

Nuansa Hijau

Selembut Lumut Gunung

dll

Buku yang sudah diterbitkan:

Senapan Cinta (kumcer)

Burung Kolibri Merah Dadu (kumcer)

Aura Negeri Cinta (kumcer)

Kincir Api (Kumcer)

Bercinta di Bawah Bulan (Kumcer)

Kartunama Putih (puisi)

The Four Fingered Pianist (memoar)

 

ryana2

RYANA MUSTAMIN

Bendahara Umum ANITA

Nama Beken: Ryana Mustamin, Ana Mustamin

Nama Sebenarnya: S. Tri Yuliningtyas Mustamin

Tempat & Tgl Lahir: Bone (Sulawesi Selatan), 4 Juli.

Alamat Email: ryanamustamin@yahoo.com

Alamat Facebook: ana mustamin (http://www.facebook.com/ana.mustamin)

Alamat Blog: www.ryanamustamin.com

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

Gerimis Malam

Rahasia Hati Utari

Kabut di Telaga Bening

dll

 

Man in supermarket --- Image by © Michael Reh/Corbis

BAMBANG S.

Sekretaris Umum ANITA

Nama Beken: Bambang S.

Tempat & Tgl Lahir: Kabaena (Sulawesi Tenggara)

Alamat Email: bambangsukma@yahoo.com

Alamat Blog: www.komunikasiana.com

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

Kerinduan di Leter Buton

Langit Biru Watampone

Getar Trotoar Pantai Losari

Padang Lotus Panakukkang

Sebaris Belibis di Gigir Pangkajene

Kupu-kupu Kuning Bantimurung

Menunggu Ilologading di Kendari Beach

Kerlip Bintang di Langit Manado

Kakilangit Kabaena

Langgam Malam Kota Kolaka

Senandung yang Tak Pernah Mati

dll

Buku yang sudah diterbitkan:

The Patient (novel pentalogi)

– Getar Cinta Pantai Losari (kumcer)

 

reniRENI ERINA

Wakil Sekretaris & Dokumentasi ANITA

Nama Beken: Reni Erina

Nama Sebenarnya: Reni Erina

Tempat & Tgl Lahir: Jakarta, 2 September.

Alamat Email: re_erin@yahoo.com

Alamat Facebook: reni teratai air

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

Jika Hadir Cinta Lain

Sepasang Giok Suci

Yang Tak Bisa

Boneka Koala

Elegi Sore Hari

Si Kembar dan Teori Telur Puyuh

Gelas Kristal dan Sepotong Cinta

dll

 

putragara

PUTRA GARA

Humas dan Publikasi ANITA

Nama Beken: Putra Gara

Nama Sebenarnya: Putra Gara

Tempat & Tgl Lahir: Jakarta, 2 Februari.

Alamat Email: garaputra@yahoo.com

Alamat Facebook: putra gara

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

Cinta Yang Sempat Terbagi

Cinta Itu Sudah Tidak Ada Lagi

Malam di Krazan

Cinta Tak Bisa Berdusta

Andai Saja

dll

Buku yang sudah diterbitkan:

Fitri (novel serial)

Perempuan di Persimpangan Jalan (novel)

Cinta Semusim (novel)

Di Bawah Hujan (novel)

Samudera Pasai (novel)

 

e satiE. SATI

Event Organizer ANITA

Nama Beken: E. Sati

Nama Sebenarnya: Emmy Sidabutar

Tempat & Tgl Lahir: Pematang Siantar, 21 Juli.

Alamat Email: e_sidabutar1803@yahoo.com

Alamat Facebook: emmy sidabutar

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

Terbanglah Tinggi, Merpati Jingga

dll

 

ayiAYI JUFRIDAR

Ka Biro ANITA cab. Aceh

Nama Beken: Ayi Jufridar

Nama Sebenarnya: Ayi Jufridar

Tempat & Tgl Lahir: Bireuen, Aceh, 18 Agustus.

Alamat Email: ayi_jufridar@yahoo.com

Alamat Facebook: ayi jufridar

Alamat Blog: www.ayijufridar.multiply.com

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

Permainan di Hari Libur

Purnama Merah Darah

Histeria Buat Sang Idola

Menatap Bulan di Jasbret

Buluh Perindu

Serial Vini Vidi Vici

dll

Buku yang sudah diterbitkan:

Alon Buluek (novel)

 

zainalZAINAL TAHIR

Ka Biro ANITA cab. Makassar

Nama Beken: Zainal Tahir

Nama Sebenarnya: Zainal Tahir

Tempat & Tgl Lahir: Sungguminasa, Gowa (Sulawesi Selatan), 22 November.

Alamat Email: zainaltahir@yahoo.com

Alamat Facebook: zainal tahir

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

Cinta yang Tertipu

Taulolonna Gowa

Bukan untuk Cinta

Ambisi

Ada Cinta yang Tersisa

Di Atas Kapal Kerinci

Pacarku, Calon Foto Model

Malam Tahun Baru

Menjelan Senja

Jika Nanti Ia Datang

Kompetisi Cinta

Profil anggota Anita

August 8, 2009 at 3:24 pm | Posted in ANGGOTA Anita | 1 Comment
Tags:

zara

ZARA ZETTIRA ZR

Anggota ANITA cab. Kanada

 

 

Nama Beken: Zara Zettira ZR

Nama Sebenarnya: Zara Zettira ZR

Tempat & Tgl Lahir: Jakarta, 5 Agustus.

Alamat Email: thebaliconnections@yahoo.com

Alamat Facebook: Zara zzr

Blog: www.zarazettira.blogseleb.com

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

       Mimi Elektrik

       dll

Buku yang sudah diterbitkan:

       Jejak-Jejak Jejaka (novel)

       Sexy Anissa (novel)

       Prahara Asmara (novel)

       Nona DJ (novel)

       Ronnie Boy (novel)

       Salju Merah (novel)

       Mimi elektrik (novel)

       Eugene aku cinta padamu (novel)

       Bellinda (novel)

       GIRL TALK (novel serial terjemahan)

       Sweet Valley High (novel serial terjemahan)

       Cerita Dalam Keheningan (esai)

       Teman Minum Kopi (esai)

 

gongGOLA GONG

Anggota ANITA cab. Banten

 

Nama Beken: Gola Gong

Nama Sebenarnya: Heri Hendrayana Harris

Tempat & Tgl Lahir: Purwakarta 15 Agustus.

Alamat Email: gm_cakrawala@yahoo.com

Alamat Facebook: gola gong

Alamat Blog: www.golagong.com

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

       Happy Valentine

       Senja di Selat Sunda

       dll

Buku yang sudah diterbitkan:

       Balada Si Roy (serial)

       Happy Valentine (novel)

       Padamu Aku Bersimpuh (novel trilogi)

 

 

tinaTINA K

 Anggota ANITA cab. Jakarta

 

Nama Beken: Tina K

Nama Sebenarnya: Tina Kardjono

Tempat & Tgl Lahir: 4 Maret.

Alamat Email: magi_luna_00@yahoo.com

Alamat Facebook: magi luna

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

       Lotus Biru

       Burung Kolibri Merah Dadu

       dll

Buku yang sudah diterbitkan:

       Laki-laki Beraroma Rempah-rempah (kumcer)

 

  

  

 

alexandraALEXANDRA L. YUNADI

Anggota ANITA cab. Jakarta

 

Nama Beken: Alexandra L. Yunadi, Alexandra Leirissa Yunadi

Nama Sebenarnya: Alexandra Leirissa Yunadi

Tempat & Tgl Lahir: Surabaya, 17 April.

Alamat Email: alexandra_leirissa@yahoo.com  

Alamat Facebook: alexandra leirissa

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

       Peran Terakhir

       Langit Merah

       Dua Belas Pendar Bintang

       Tentang Mama

       Satu Kesempatan Lagi

       dll

Buku yang sudah diterbitkan:

       Dua Pasang Mata (novel teenlit)

       Dua Belas Pendar Bintang (novel teenlit)

       Cinta Ande-Ande Lumut (novel)

       Idolaku (antologi cerpen remaja)

       Bidadari Santa Monica (novel)

   

kjKURNIAWAN JUNAEDHIE

Anggota & Penasihat ANITA

 

 

Nama Beken: Kurniawan Junaedhie

Nama Sebenarnya: Kurniawan Junaedhie

Tempat & Tgl Lahir: Magelang, 24 November

Alamat Email: kurniawa5411@yahoo.co.id

Alamat Facebook: kurniawan junaedhie

Alamat Blog: www.kurniawan-junaedhie.blogspot.com

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

       Sang Pemuja (

       Kembali Pada Bunga

       Mendaki Cinta Yang Terjal

       Hotel

       Yang Idaman Hanya Engkau Yan

Buku yang sudah diterbitkan:

       Ensiklopedi Pers Indonesia (Nonfiksi)

       Sejarah Majalah Di Indonesia (Nonfiksi)

       Pesona Anthurium Daun, Agro Media Pustaka (nonfiksi)

       Menggebrak Dunia Wartawan (nonfiksi)

       Rahasia Sukses Bisnis Tanaman Hias (nonfiksi)

 

nurhayatipNURHAYATI PUJIASTUTI

Anggota ANITA cab. Jakarta

 

Nama Beken: Nurhayati Pujiastuti, Nurhayati P

Nama Sebenarnya: Nurhayati Pujiastuti

Tempat & Tgl Lahir: Jakarta, 6 Maret.

Alamat Email: kahlilgibran2001@yahoo.com

Alamat Facebook: nurhayati pujiastuti

Alamat Blog: www.nurhayatip.blogspot.com

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

       Episode Jalinan Cinta

       dll

Buku yang sudah diterbitkan:

       Memikat Hati Mertua (nonfiksi)

       Ingin Aku Menggapaimu (novel)

       Selamat Pagi Nona Peramal (novel)

       Lena, Operator (novel)

       Benci (kumcer)

       Rangkaian Hujan (kumcer)

       Ramalan (novel)

 

   

 

nur alimNUR ALIM DJALIL

Anggota ANITA cab. Makassar

 

Nama Beken: Nur Alim Djalil

Nama Sebenarnya: Nur Alim Djalil

Tempat & Tgl Lahir: Luwu, 29 Desember

Alamat Email: alimdjalil@ymail.com

Alamat Facebook: nur alim djalil

Alamat Blog: www.alimdjalil.wordpress.com

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

       Balada Sandal Jepit

       Misteri dari Pantai Waiara

       Gadis Angan-angan

       Surat Cinta nan Malang

       Kisah Sedih di Awal Tahun

       Balada Manis Dua Hati

       Saya Titip Adelia Padamu

       Si Monyet Kecil

       Kumbang Jantan dan Bunga-bunga

       Tetes-tetes Embun

       Sakura Hokkaido

       Betapa Sayang Aku Padamu

       dll

 

 

 

susy ayu, kaca mata-001SUSY AYU

Anggota ANITA cab. Jakarta

 

 

Nama Beken: Susy Ayu, Susy P. Ayuningtyas

Nama Sebenarnya: Susy Purwanti Ayuningtyas

Tempat & Tgl Lahir: Purwakarta, 14 Juni.

Alamat Email: susyayu_ranadiva@yahoo.co.id  

Alamat Facebook:  susy ayu

Karya yang pernah dimuat di Majalah Anita Cemerlang:

       Di Hatimu Ada Bara

       Dari Jendela Hati

       dll

Cerpen Ryana Mustamin

August 8, 2009 at 2:22 pm | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

ryanaHappy birthday to you.
Happy birthday to you.
Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you….

“SELAMAT ulangtahun, Utami!” Papa tersenyum samar. Disentuhnya kening Utami lembut, lantas ditatapnya wajah putrinya dengan lekat. “Kamu harus panjang umur!” Suara papa gemetar, dengan rahang yang mengeras.
Utami menggigil mendengar kalimat terakhir itu. Dirasakannya jemari yang merangkulnya dingin. Utami menatap aneh, dan seleret duka yang pernah hadir lima hari lalu kembali membayang pada wajah tua di depannya. Gadis itu membuang pandang, menyembunyikan matanya yang merebak. Ia tidak tahu, kejadian apa yang sesungguhnya tengah ia alami; memperingati ulangtahun dalam suasana berkabung….
Utami memejamkan mata, menenteramkan sedihnya. Tapi justru bayangan kelam yang memintas; sosok-sosok berbaju hitam, bau tanah merah yang basah, daun kamboja yang luruh….
Angin yang bertiup bergegas. Mama menyentuh lengannya, memeluk dan menciumnya. Wanita baya itu kemudian membisikkan ucapan selamat dengan nada yang sama dengan Papa: kering dan gemetar.
Malam mulai melarut. Bulan membayang lembut, bergerak naik, melewati satu-dua bintang. Ada bayangan pepohonan yang jatuh di rumput halaman. Di luar amat lengang, dan murung. Utami mengeluh lirih, lantas tatapnya jauh menerawang, benaknya pun mengembara ke lain tempat, ke sebuah lereng pegunungan yang senyap dan lembab, tempat Utari — saudara kembarnya, dibaringkan lima hari lalu. Dan dalam lima hari terlewat itu, Utari telah melupakan rumah putih, Papa, dirinya, dan…. ulangtahun mereka malam ini!
Suara angin dan desahan Papa terdengar sayup. Utami menoleh. Pandangannya jatuh pada kue ulangtahun di atas meja. Ia tidak memiliki keinginan untuk menyentuhnya. Dulu, tak satu pun peringatan semacam itu terlewati tanpa Utari. Dan mereka akan meniup lilin ulangtahun secara bersama-sama. Betapa pun mereka seperti anjing dan kucing sehari sebelumnya. Tapi kini?
“Papa tidak memiliki kado….”
Hening pecah. Ada burung malam melintas di atas genteng.
“Tapi Papa ingin bermain untuk Utami,” Papa membuka piano di sudut ruangan. Sejurus kemudian jemarinya lincah menari di atas tuts, melantunkan ‘Serenade’, sepenuh perasaan, menyulamkan kesesakan di dada Utami. Lagu itu, lagu kesayangan Utari. Ada kenangan berlarian tergesa: Papa membaca koran, Utari datang mengusik dan merajuk, meminta piano dimainkan, lalu mengalun Serenade….
Suatu kala, di kesilaman, betapa Utami benci dengan pemandangan seperti itu. Kemesraan Papa dan Utari, menumbuhkan sesuatu yang lain di hatinya. Kehilangan, keterasingan, dan kebencian. Namun, betapa sering sepenggal impiannya berhias peristiwa sejenis; ia dan Papa dalam sebuah taman bunga, berlarian, dan senggak oleh gelak. Tapi kemudian, saat terjaga, Utami hanya merasakan sebuah kengiluan. Ia tahu impiannya tidak akan pernah menetas jadi kenyataan.
Awan-awan bergerak menutupi bulan. Bayangan pepohonan di halaman hilang. Tapi dalam pekat dan kedap, ingatan Utami tetap berlayar. Kemudian berlabuh ke suatu masa di belahan hari lalu.

***

Dingin telah mencapai sumsum saat Utami tiba di ambang pintu. Hujan belum reda.
“Hai, Ri!” Katanya ketika daun pintu di depannya melebar. Dikibas-kibaskannya rambutnya yang kuyup.
“Baru pulang?” Gadis di depannya menatapnya penuh rupa.
Pertanyaan yang tidak perlu sebetulnya. Tapi Utami hafal adat Utari. Ia enggan ribut, maka dijawabnya dengan anggukan.
“Kau memang suka cari penyakit!”
Langkah Utami terhenti.
“Kau sendiri yang menciptakan kemarahan Papa!” Utari mengawasinya tajam.
“Sudah terlalu sering kau mengurusku, Ri. Aku sudah bosan mendengarnya!” Utami melanjutkan langkah.
“Itu demi kebaikanmu sendiri!” Utari berang.
Utami tersenyum patah. “Tidak begitu caranya!”
“Ho-ho, minta dibujuk? Tami sayang, betahlah di rumah! Belajarlah yang rajin, dan jangan keluyuran hingga malam begini….”
Mata Utami berkilat. Bulan di langit bersinar pucat.
“Seharusnya kau tidak perlu memaksakan seluruh kehendakmu. Apalagi memperalat Papa. Semua orang memiliki jalan sendiri. Kau memilih duniamu, dan Papa bangga karenamu. Tapi maaf, jangan memintaku mengulang dan mengikuti kesuksesanmu!”
Wajah saudara kembarnya itu menegang. Tersinggung.
Utami tidak peduli. Semalaman ia latihan untuk sebuah pagelaran. Ia lelah. Ia dingin. Ia merasa malang dan papa. Di perjalanan pulang tadi — dalam hujan badai, Utami masih sempat membangun ilusi: seseorang akan menyambutnya dengan mata cemas, menyuruhnya bergegas mengganti pakaian, menyodorinya segelas susu panas….
Utami menggigit bibirnya yang pucat. Pedih. Dan kepedihan serta kelelahan begitu mudah menetaskan kerapuhan dan kepitaman. Apalagi Utari… ah, ia sudah terlalu penat memelihara kesabaran.
“Kau memang banyak memiliki kelebihan dan semua mengakuinya,” suara Utami lara.
Angin memintas tergesa.
“Kenapa kau tak puas juga? Kenapa kau masih mencari kelebihan dengan mencari kelemahanku? Apa salahku?”
“Kau mulai kurang ajar!” Suara Utari berbaur tangis, dibaluri emosi.
“Aku hanya berkata apa adanya. Kau….”
“Tami!”
Ada kilat yang nyala di angkasa, lantas mati di penghujung cakrawala. Guruh secara runtun melukai keheningan langit. Musim yang rapuh, batin Utami, seperti hatiku. Suara yang keras dan berat milik Papa senantiasa membuatnya gagal memaki Utari. Ia seolah datang untuk memangkas habis pita suaranya, memaksanya berdiri di pihak yang lemah. Selalu begitu.
“Bertengkar lagi?” Suara berat itu kini dibarengi sorot mata berkilat angker.
“Biasa, Pa!” Utari menyahut, dan menenteramkan isaknya. Dipandangnya Utami dalam tatap penuh amarah. “Dinasehati, malah melawan!”
“Aku tidak butuh nasehat….”
“Tami!” Suara Papa menggelegar, menyaingi guruh.
Utami mengeluh pedih. Lagi-lagi kalimatnya tertebas. Papa mengawasinya nanar, menyalahkan.
Gadis itu menelan ludah, sakit. “Papa selalu membela Tari!” Suaranya tersendat, mengandung isak, dan putus asa.
“Papa tidak membela siapa-siapa. Hanya secara kebetulan Tari berdiri di pihak yang benar.”
Benar?! Utari benar?! Katakanlah begitu. Tapi kenapa Papa mesti mencetuskannya di depan Utari?! Mengapa Papa mengajari Utari jadi besar kepala?!
“Kau selalu pulang malam-malam, amat jarang di rumah. Wajar kan kalau Tari menegurmu? Papa juga tidak suka.”
“Tapi….”
“Masuklah! Dan belajar, seperti Tari!” Suara Papa tak terbantah.
Rinai hujan masih menggantung dalam kabut. Tenggorokan Utami perih. Ia lungkah, dengan sakit yang membelukar. Seperti Tari: betapa ia benci kalimat itu.
Utami mencari tombol lampu. Kamar benderang. Tapi hatinya pepat. Masih melela di matanya: Utari yang memandanginya dengan mata penuh kemenangan….
Betapa ia ingin tidur. Melupakan semuanya, meredam lara. Digantinya sweater. Tapi kemudian kakinya membawa ke jendela. Ia memang sulit tidur dalam keadaan demikian.
Hujan kini lembut, tapi langit masih berwarna ungu. Di seputar rumah, kabut melayang rendah. Utami mendesah. Di tempat yang sekarang, betapa ia sering menahan tangis, berdoa memohon ketegaran, dan belajar memanen hikmah sebuah prahara. Kunang-kunang terlalu sering jadi pelariannya, mengadukan kesomplakan jiwanya. Kerap ia berangan, betapa menyenangkan jadi seekor kunang-kunang, beterbangan, membawa berkas sinar di kelegaman.
Awan menepi, bintang-bintang mulai bermunculan. Bersinar pucat, terhalang kabut. Namun, betapapun sinarnya cerlang, Utami tak suka. Baginya, semua bintang tak ada yang berbeda: sama melukai! Kecuali satu-dua bintang dalam genggamannya….
Utami mengerjapkan mata. Sekarang, ia lebih suka merenungi langit. Padahal dulu, terlalu sering ia bermain di bawah purnama. Mengejar kunang-kunang, atau sekadar memperhatikannya dari kursi teras. Tapi betapa seringnya ia berbuat serupa, lebih kerap lagi Mama mengusiknya bersama Utari, memporandakan keasyikannya, melumatkan sebuah dunia yang diciptakannya diam-diam….
“Tami, nyanyi!” seru Mama.

Bintang kecil
di langit yang biru
amat banyak menghias angkasa
aku ingin….

Ah, ia suka lupa dengan ‘Bintang Kecil’ Mama. Ia tidak tertarik mengulang-ulang sebuah lagu yang sama. Baginya, binatang kecil berlampu itu jauh lebih memikat. Dan mama kecewa menjadi ibu guru yang gagal.
“Tami begitu lamban!” Lapor Mama ke Papa. “Tari bisa secepat itu menghafal lagu, tapi kok Tami nggak?”
Kemarau telah jatuh ketika Utami menyadari apa arti kekecewaan Mama. Ternyata ‘kelambanan’ menciptakan kerontang di dadanya. Rinai hujan telah berlalu, mengakhiri sejumlah hijau. Hal itu dipahaminya di bulan Juni, saat kenaikan kelas.
Papa menghambur dan memberikan kecupan bertubi-tubi di pipi Utari. Utari juara kelas. Dari balik gorden, Utami perih menyaksikan adegan itu. Matanya mengerjap menyaksikan tubuh Utari yang berputar-putar di udara, penuh gelak dalam gendongan Papa.
“Tari minta hadiah apa?”
“Papa mau ngasih apa?” Mata Utari berpendar-pendar, sarat bintang.
“Apa yang Tari minta, Papa berikan!”
Tenggorakan Utami perih dan kering. Lalu ia ingat peristiwa sebelumnya. Mama yang mengeluh kecewa, mata Papa yang berkilat dengan urat menegang….
“Kok bisa begini, Mi?” Dahi Papa terlipat. Ada kemarahan ikut mengalir.
Gadis kecil itu merunduk pasrah. Ia mengerut, mencari perlindungan. Ditatapnya Mama. Tapi wanita itu justru kembali mengeluh. “Kembar. Tapi kok….?”
“Tami! Dengar papa!” Lelaki di depannya menatap nanap. “Tami harus mengurangi main. Tami harus belajar banyak, mengejar ketinggalan. Tahun depan, tidak boleh tidak, Tami harus naik kelas!”
Rerumputan meranggas dikhianati musim. Di udara, cakrawala mulai memucat. Sedikit demi sedikit kelam jatuh. Menyelimuti perdu bunga mawar dengan nuansa temaram. Di tubuh jalan, sepasang kaki mengayuh sepeda. Penat dan berdebu. Hujan telah lama selesai. Dan entah kapan lagi ia mengunjungi senja. Entah kapan lagi Utami menyaksikan polesan jingga di ufuk barat yang terbasuh hujan hingga lamur. Dunia kini begitu garing, dan sempit. Papa memaksanya menghabiskan waktu di depan meja belajar, seperti laku Utari. Ia hafal nyanyian Mama sepulang sekolah: “Cuci tangan dan kaki, Mi. Makan. Setelah itu belajar sebentar, lalu bobok siang. Petang nanti, selesaikan PR….”
Debu beterbangan. Jalan kecil yang dilewati Utami memang berabu. Banyak bocah yang berlarian, mengejar layang-layang putus. Matahari di situ selalu memanggang. Tapi Utami merasa damai tiap kali menyusurinya. Apalagi bila ia tengah melarikan kecewanya.
Ia tiba di depan rumah yang dicarinya, bercat biru teduh. Selalu teduh. Karena di dalamnya ada mata Kak Didi yang tenang dan lembut, ada ‘Papa-Mama’ kedua yang selalu mengerti.
“Masuklah, Adik Kecil!”
Angsa-angsa putih berkejaran di kolam. Lewat jendela, Utami melihat air yang semula tenang beriak.
“Tari usil lagi?” Didi menatapnya lunak.
Ayun langkah kami memang tak pernah bisa sama, batin Utami. Utari memaksanya untuk mengikuti jejaknya. Tak ada menit terlewati tanpa belajar, belajar dan belajar; memaksakannya jadi kutubuku, memaksanya jadi patung porselen yang berdiam di kamar.
Oh. Utami tak pernah bisa melakukannya. Jiwanya tak bisa terpenjara begitu. Ia menyukai bau tanah basah, ia mencintai hutan yang remang, ia selalu rindu pada tebing bercadas, ia menemukan dunianya di alam bebas. Ia menemukan pelabuhan di dada seseorang yang selalu mau memahaminya, ia menemukan cintanya dalam rengkuhan seorang lelaki bernama Didi.
Helaan napas gadis itu panjang dan pasrah. Didi memperhatikan mata murung di sampingnya dengan batin menggelepar. Utami yang berhati lembut, gadis kecilnya yang malang….
Didi yang membawanya berani keluar dari ambisi Papa dan Utari. Mereka bertemu pada sebuah musim. Dan keinginan untuk menyibak misteri di balik mata murung Utami begitu kuat menggelitik nuraninya. Gadis itu seperti memiliki keletihan yang panjang, kesendirian yang tak bertepi….
“Papa telah menyiapkan sebuah model untukku. Dan itu adalah Tari!” Keluh Utami tak suka, suatu ketika. “Aku tidak punya kesempatan untuk menjadi diriku sendiri. Aku pernah kalah dalam suatu kesempatan. Dan kini, Tari selalu menebas tiap kali aku mau memperbaikinya dengan caraku sendiri. Ia memang besar kepala di hadapan Papa….”
Utami asyik dengan lamunannya. Ia ingat sebuah malam yang pernah terlewati. Ruang tamu penuh gelak dan canda Oom Ben dan Tante Tien — sahabat Papa semasa SMA.
“Ini Utari dan Utami….”
“Kembar?” Oom Ben menatapi ia dan Utari bergantian dengan mata tersenyum.
Papa mengangguk. “Tapi keduanya seperti bumi dan langit.”
“Kok?” Tante Tien tak pandai menyimpan kesabaran.
“Ya, mereka memang tak ubah dengan langit dan bumi!” Mama menimpali. “Utami keras kepala, lamban dalam menangkap pelajaran. Berbeda dengan Utari. Ia anak yang manis, penurut, cerdas….”
Angin yang menerpa amat memerihkan pipi. Utami mengerjapkan mata. Mendadak kegamangan menyergapnya. Papa dan Mama telah menghantarnya pada sebuah pulau tak berpenghuni, membuatnya kehilangan arah. Disaksikannya mata kecil Utari yang berpendar-pendar penuh bintang dengan perasaan sakit. Ditatapnya hidung saudara kembarnya yang kembang kempis itu dengan perasaan benci. Dan, diam-diam, ia surut, menyingkir dari ruang tamu. Berdiam di kamar, menulikan kuping, tentu itu pekerjaan yang lebih bagus. Sebab ia hapal luar kepala apa yang bakal dipercakapkan Papa dan Mama dengan kedua tamunya itu; daftar tentang ‘bintang kelurga’ Utari kian panjang. Dan makin disadarinya: ia bukan kelinci kecil Papa yang lucu, pun bukan boneka Mama yang manis!
Senja merebak. Utami dan Didi berpandangan. Tangisan usai. “Maafin aku, ya! Aku selalu membawa kemelut….”
Didi mengulurkan tangan, menyeka lembut sepasang mata basah di depannya. Disentuhnya kening Utami sekejap. “Kita pergi latihan sekarang?” Didi mengawasinya lembut.
Letih Utami menyingkir. Ia membalas dengan mata tersenyum. Terbayang bintang-bintang dalam genggamannya: berpuluh piala dan piagam yang disembunyikannya di lemari….
Dialah pianis dan Sri Panggung yang memukau penonton, dialah bintang lapangan yang selalu mengundang gempita tempik sorak-sorai di tepi lapangan basket. Tapi Papa tidak pernah tahu itu — tak pernah mau tahu. Dan Utami merasa tidak perlu memberitahu. Ia cukup puas dengan dunianya, dengan Didi-nya. Ia tidak ingin mengusik kedudukan Utari di mata Papa. Biarlah Utari tetap jadi patung porselen….

***

Serenade telah lama berhenti. Suasana ngelangut meriap di ruangan. Mama sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Papa tertunduk di depan piano dengan mata berkaca, seolah berdoa untuk Utari. Di atas meja, kue ulang tahun masih utuh.
Malam makin larut. Utami tiba-tiba merasa ingin bertemu dengan Utari, ingin berada di dekatnya. Tapi berjuta tirai seolah menghalangi. Utami merasa menggapai, tapi tetap tak mampu disingkapnya.
Kakinya membawanya melangkah ke kamar Utari. Kelengangan menyambutnya. Utami mengusap foto Utari di atas meja dengan sepenuh jiwa. Timbul keinginannya untuk membereskan meja belajar Utari yang berdebu, membersihkan buku-bukunya. Hanya dengan berada di meja Utari, Utami merasa dekat dengan saudara kembarnya itu. Ia tahu pasti, waktu Utari banyak tersita di tempat itu.
Utami seolah melihat Utari datang, menuntun jemarinya membuka laci-laci meja. Angin malam menyerbu masuk lewat jendela yang dibiarkannya terbuka. Dada Utami gemuruh. Buku harian Utari ada dalam genggamannya. Catatan terakhir — tertanggal duapuluh tiga, ditulis sehari sebelum Utari mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.

Jumat, 23 September
My dear,
Kami bertengkar lagi. Saya tahu Tami tidak bersalah. Malam ini — dan berpuluh malam sebelumnya, ia pulang terlambat.
Saya tahu pasti Tami latihan teater. Seperti halnya saya tahu, beratus-ratus hari sebelumnya, waktunya sarat dengan kegiatan-kegiatan serupa.
Saya tidak tahu, kapan saya berhenti memanfaatkan keterlambatan — dan semua kesalahan kecil Tami lainnya — untuk menyulut pertengkaran. Saya tahu, saya telah berkompensasi. Saya iri dengan dunia Tami. Semua memujanya, mengaguminya. la memiliki Didi. Sementara saya — seperti kata Tami, saya adalah porselen. Dunia yang serius membuat teman-teman enggan dan takut mendekat.
Satu satunya ‘kekayaan’ saya adalah Papa dan Mama. Tapi saya melihat tanda-tanda, saya bakal kehilangan semuanya. Suatu ketika, cepat atau lambat, tabir yang menyelimuti diri Tami akan tersibak. Saya takut, dear! Saya harus mempertahankan milik saya satu-satunya itu: saya tetap harus jadi kebanggaan Papa, saya harus melupakan dunia remaja yang ceria untuk menjadi ‘anak manis’ Papa dengan belajar dan belajar. Saya tak boleh ‘cacat’ di hadapan Papa, saya harus tetap juara kelas. Ya, harus tetap jadi porselen Papa….
Tami telah jadi korban. Saya berdosa (maafkan saya, Mi!). Saya tersiksa dengan semua ini. Saya kepalang basah. Diam-diam, saya menjadi arsitek bagi luka luka Tami. Tapi saya tidak melihat pilihan lain….

Bulan tak lagi perkasa di angkasa.
Ah, Utari yang malang!
Utami menggigit bibir. Airmata yang begitu lama tak jatuh, kini mengambang di pelupuk matanya.
Ditutupnya jendela kamar Utari. Ia tahu apa arti ulangtahunnya malam ini.
“Selamat malam, Tari. Selamat jalan saudaraku….”
Disekanya isak terakhir. 

Cerpen Nurhayati Pujiastuti

August 8, 2009 at 2:03 pm | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

nurhayatiSEBENARNYA, sosok yang berdiri kaku dan menghadang langkah Asry untuk memasuki halaman rumah besar itu, sangatlah menarik. Tubuh tinggi dengan kulit putih dan senyum yang bertengger di wajah tampan itu.
Lalu mata seperti elang yang memandangnya dengan serius itu.
Asry mengembuskan napasnya. Menyembunyikan ruas-ruas jemarinya. Sudah ada peringatan sebelumnya dari Andini dan dia memperhatikan peringatan itu.
“Cari siapa, Mbak?”
Sapaan yang ramah dengan mata mengerling menggoda. Asry tersenyum kecut. Kalau tidak mengenal siapa cowok di depannya itu, ia pasti akan terkesirap sendiri mendapat kerlingan seperti itu.
“Cari aku, kan?” tangan si Tampan terulur, berniat menggapai tangan Asry. Tapi Asry cepat mengelak.
Asry menggelengkan kepalanya. Ia hampir mengurungkan niatnya untuk bertahan di tempat itu. Tapi untunglah, suara nyaring yang sangat dikenalnya, menyelamatkannya.
“Apa-apaan, sih?” Andini mendorong tubuh cowok tampan itu. “Berani-beraninya ganggu temanku. Awas, ya. Aku bilangin Mama baru tahu rasa kamu. Masih kecil berani-beraninya ganggu cewek yang sudah gede.” Tangan Asry ditarik. Mendorong tubuh si Tampan lalu melewatinya. “Siapa?” tanya Asry. Ia menoleh ke arah si Tampan. Lalu memalingkan wajahnya ketika mendapati si Tampan menghadiahinya lagi dengan kerling menggoda dan senyum di bibirnya.
“Adikku,” sahut Andini cepat. “Tidak usah dipedulikan. Ado memang begitu. Maklum….” Andini mengedikkan bahunya. Mengembuskan napasnya.
“Kenapa?”
“Andini menggaruk kepalanya. “Anak bungsu yang butuh banyak perhatian. Tapi kesibukan orangtuaku membuatnya merasa kehilangan banyak perhatian. Lalu berteman dengan anak-anak berengsek dan hasilnya….”
“Dia…?”
Andini mengangguk seperti tahu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan Asry. “Sekolahnya sudah pindah beberapa kali. Entah dengan cara apa lagi aku harus menyadarkannya.”
“Orangtuamu?”
Andini tersenyum kecut. “Pasrah.”
“Tapi…?”
“Aku sendiri tidak tahu apa yang diinginkan Ado. Dia berengsek, bandel dan selalu mengganggu kawanku-kawanku. Karena itu aku selalu melarang kawan-kawanku yang cewek datang ke rumahku.”
“Ceweknya…?” Asry tersenyum. Menepuk bahu Andini. “Biasanya kalau dia mencintai seseorang, dia akan mudah disadarkan.”
Andini mengernyit. Memandang Asry.
“Kenapa?”
“Kamu berniat…?”
“Jangan konyol kamu!” Kali ini, Asry yang sepertinya tahu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan Andini. “Aku lebih pantas menjadi kakaknya!”
Andini tertawa. “Barangkali saja kamu mau berbaik hati….” Andini tidak meneruskan kalimatnya ketika ia merasakan sebuah kerikil mengenai kakinya. Ia menoleh. Melotot. “Ado…!”
Ado tertawa. “Aku mau!” teriak Ado, mengangkat jempolnya tinggi-tinggi, lalu mengerling ke arah Asry.
Dan Asry hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan si Tampan itu.

***

Sebuah kebetulan mungkin bila hari ini, Asry melihat Ado dan kawan-kawannya bergerombol di sebuah halte. Melakukan kegiatan menyebalkan di matanya. Menggoda gadis-gadis yang akan naik dan turun dari bus di halte itu. Terkadang, bahkan begitu kurang ajarnya, berani mencolek pinggul seorang gadis lalu bersembunyi dan tertawa-tawa.
Asry menggelengkan kepalanya. Mengembuskan napasnya. Lalu membulatkan tekadnya untuk berjalan ke arah halte bus itu. Ado harus melihatnya. Dan ia ingin sekali melihat sampai di mana kekurangajaran anak itu.
“Hallo…,” sebuah sapaan yang hampir saja disertai sebuah colekan kalau ia tidak cepat-cepat mengelak.
Asry melotot. Tersenyum sinis pada cowok berkulit hitam yang dengan tenangnya berdiri di sampingnya. Ia menggeser selangkah. Dan cowok itu cuma menanggapinya dengan tawa lebar yang membuat deretan gigi-giginya yang coklat kelihatan jelas sekali. Tangannya kembali terulur, ingin menggapai pinggul Asry. Tapi sebuah tangan lain menepiskannya.
“Jangan! Teman gue.”
Asry menoleh. Kejutan yang tidak diharapkan. Ternyata Ado masih punya rasa belas kasihan.
“Sendiri?” Senyum manis bertengger di bibir Ado. “Kawan-kawanku memang suka jahil.”
Asry menggelengkan kepalanya. “Tidak sekolah?” tanyanya tanpa memperhatikan Ado.
“Pasti sudah termakan omongan Andini. Kakakku yang satu itu memang paling suka mempromosikan kejelekanku pada kawan-kawan ceweknya. Pantas saja pasaranku di mata kawan-kawan ceweknya agak menurun.”
“Aku bukan anak kecil lagi yang dengan begitu gampangnya mempercayai omongan orang tanpa melihat kenyataannya terlebih dahulu.”
Ado bertepuk tangan.
“Kenapa?”
“Aku kira pertama melihatmu…,” Ado mengernyit. “Aku tidak tahu namamu.”
“Aku Asry. Dan kamu harus memanggilku Mbak karena aku lebih pantas menjadi kakakmu.”
Ado mencibir. “Apa bukan lebih pantas menjadi sepasang kekasih?”
Asry melotot.
Ado tertawa. Menoleh kawan-kawannya mengikuti tawanya dengan irama dibuat-buat.
Asry menggeleng. “Sekolah yang benar dan pikirkan masa depanmu baru….”
“Alaaah….”
“Akan banyak gadis yang berebut cintamu.”
Ado menjentikkan jemarinya. “Aku cuma ingin…,” Ado menggaruk kepalanya. “Kamu mau pulang?”
“Ke toko buku. Ada yang dicari.”
“Cowok?”
“Kamu kira aku tipe cewek yang suka cuci mata di toko buku?”
“Barangkali….” Ado terbahak. Kali ini, kawan-kawannya sedang sibuk memperhatikan seorang ibu yang berdandan menor yang baru saja turun dari bus hingga tidak mempedulikan tawa Ado.
“Kenapa?”
“Aku mau menemanimu.”
“Aku biasa sendiri.”
“Aku antar sampai ke rumah.”
“Nanti banyak gadis-gadis SMA yang cemburu padaku.”
“Tidak peduli!”
“Harus ada syaratnya.”
“Apa?”
“Aku tidak suka jalan dengan cowok yang merokok.”
“Belum apa-apa sudah banyak tuntutan.”
“Kalau…?”
“Iya, Mbak,” kali ini Ado mengangguk keras-keras. Berjalan mengikuti langkah-langkah Asry meninggalkan halte. Tidak dpedulikannya teriakan kawan-kawannya yang memanggilnya.

***

“Hebat!”
“Apa-apaan, sih?” Andini mengangkat kedua alisnya. Lalu tertawa. “Kamu ternyata bisa mengubah Ado.”
“Ngomong apa kamu?”
“Alaaah… pakai sembunyi-sembunyian. Suer, aku sangat menyetujui hubunganmu dengan Ado. Dan sangat berminat menjadikanmu sebagai adik ipar.”
“Ngaco!” Asry melotot. “Aku baru sekali bertemu dengannya.”
“Alaaah….”
“Oke. Tiga kali, dan semuanya itu di halte bus ketika aku akan menunggu bus untuk pulang. Dia menawari aku untuk menemaniku dan aku tidak bisa menolak.”
“Dan hasilnya, dia berubah menjadi penyair dadakan. Banyak puisi memenuhi buku tulisannya. Dia jadi rajin melamun dan keberengsekannya sudah agak menurun.”
“Tapi….”
Andini bertepuk tangan. “Kamu membawa banyak perubahan untuknya. Aku menyukainya.”
“Tapi….”
“Kalau ada sesuatu yang disimpan Ado untukmu, kamu mau menerimanya kan?”
“Apa-apaan, sih?” Asry mengernyit. “Omonganmu ngaco dan kamu mengambil kesimpulan terlalu cepat.”
“Aku kakaknya.”
“Tapi bukan berarti…?”
“Puisi-puisi di bukunya itu cuma ditujukan untukmu. Sungguh, aku tidak mengada-ada.”
Asry menggelengkan kepalanya. Bayangan Ado melintasi kepalanya.
Ah, si Tampan itu. Siapa yang percaya anak konyol itu bisa jatuh cinta padanya? Senyum dan kerlingnya begitu sering dilakukan hingga ia terkadang berpikir anak konyol itu pasti melakukannya pada gadis-gadis lain.
“Gimana?”
Asry melotot. Menggeleng.
“Kamu tidak tertarik pada Ado?”
“Terlalu tampan dan aku tidak mau bersaing dengan gadis-gadis SMA yang lebih pantas untuknya.”
“Kalau kenyataannya dia cuma tertarik padamu dan bersedia berubah total untukmu?”
“Sebuah tantangan, heh?”
“Katakanlah begitu,” angguk Andini. “Kamu mau melakukannya dengan suka rela, kan? Lagipula, selama ini aku tidak pernah melihat kamu akrab dengan satu cowok. Kamu belum punya pacar, kan?”
“Masalahnya…,” Asry menggelengkan kepalanya. “Aku takut akan jatuh cinta pada Ado.”
“Kebetulan kalau begitu.”
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Aku akan membantumu untuk menyadarkan Ado. Tapi jangan pernah berharap ada sesuatu di antara kami.”
“Berarti…,” Andini mengedikkan bahunya. “Hilang deh, harapanku untuk menjadikanmu adik ipar.”
“Konyol,” sahut Asry lalu mengurai tawa. Bayangan Ado melintasi kepalanya lagi.
Dan kali ini, ia merasakan ada yang bergetar di hatinya. Tapi samar sekali.

***

“Sadar apa tidak dengan apa yang tengah kamu lakukan?”
Asry menutup majalahnya. Memandang ke arah kakaknya. “Mau bicara soal cowok yang mengantarku pulang tadi?”
Nita mengangguk. “Ada binar cinta di matanya.”
Asry tertawa. “Terlalu mengada-ada. Dia menganggapku sebagai kakak dan aku menganggapnya sebagai adik, tidak lebih dan tidak ada yang perlu didiskusikan.”
Nita mencibir. “Sudah tiga malam Minggu kalian keluar bersama. Dan tingkahmu yang resah setiap akan menunggu kedatangannya, membuatku yakin, sudah ada yang lain di hatimu. Kamu tidak bisa menyembunyikannya dariku.”
“Terlalu berprasangka.”
“Mungkin. Tapi kurasa hati kecilmu mengiyakan prasangkaku itu,” Nita menggeleng. “Katakan hal itu pada hati kecilmu.”
“Kamu ingin menghakimiku?”
Nita tertawa. “Tampan memang. Menarik dan tingkahnya menyenangkan. Tapi bukan berarti kamu harus melupakan segala janjimu dengan Dodit. Dia menunggumu. Dan setahun lagi, sepulangnya dari Australia, dia akan mengikatmu dengan tali pertunangan.”
Asry diam menundukkan kepalanya.
Dodit?! Ia menggigit bibirnya. Akhir-akhir ini, nama itu benar-benar hilang dari kepalanya berganti dengan wajah Ado.
Ya Tuhan, desisnya sambil mengusap wajahnya. Ia hampir lupa bahwa ia sudah memiliki seorang arjuna yang tengah menuntut ilmu jauh di seberang sana, yang selalu meminta kesetiaannya dalam penantian.
“Akhiri kisah cintamu dengan anak itu. Sebelum salah satu di antara kalian terluka.”
“Tapi…?”
“Jalinan cinta kalian cukup sampai di sini saja. Tidak perlu ada episode-episode lain yang justru akan membuat kamu sukar melepaskannya.”
“Tapi…?”
“Sedikit dewasalah….”
Asry mengembuskan napasnya. “Sulit,” gelengnya sambil berjalan keluar kamarnya.
“Asry…!”
Tidak ada sahutan. Yang terdengar hanyalah nyanyian keras yang meluncur dari bibir Asry.

***

Apa yang sebenarnya diharapkan dari hubungan yang terjalin dengan Ado selama ini?
Asry mengembuskan napasnya.
Andini bilang, Ado telah berubah sekarang ini. Tidak lagi suka bergerombol dengan kawan-kawannya. Dan sudah memilih rumah sebagai tempat mencari ketenangan ketimbang tempat-tempat lain. Kata Andini lagi, cintanya pada Asry begitu besar. Sampai-sampai semua nasehat Asry diikuti dan tidak ada yang dibantah.
Asry menggigit bibirnya.
Lalu, haruskah ia tinggalkan Ado begitu saja? Dan membiarkan anak itu kembali ke dunianya semula? Alangkah jahatnya bila itu sampai ia lakukan. Tapi apakah di mata Dodit dia bukan gadis yang jahat? Mengabaikan janji kesetiaan? Tukang selingkuh?
“Asry…?”
Sudah ada kata cinta yang diucapkan dengan begitu romantisnya oleh Ado, dan meski samar ia telah menjawab dengan anggukan.
“Kamu melamun…!”
Asry tersenyum pada Ado di sampingnya. “Mbak…,” ujarnya dengan wajah dibuat cemberut.
“Mbak…,” ujar Ado mengikuti seperti menggoda. “Melamun di saat berduaan dengan pacar, berarti melamunkan cowok lain.”
“Nyatanya…,” Asry tertawa. Lalu menggeleng. “Cuma melamun kalau-kalau ada gadis lain yang kebaikannya melebihi aku dan bisa kamu cintai dengan sungguh-sungguh, apa yang akan kamu lakukan?”
Ado mengernyit, seperti berpikir. Ia belum menjawab.
Suara Asry seperti tersekat. “Kamu akan meninggalkan aku atau…?”
“Terlalu jauh berpikir,” geleng Ado. “Aku tidak suka.”
“Tapi…?”
Ado mengungkap bijak. “Mengalir seperti air. Biarkan itu terjadi pada hubungan kita.”
Asty tersenyum — hei, dari mana datangnya semua kearifan pada cowok bengal itu?
“Tapi kemungkinan itu bisa terjadi, kan?” cetusnya seperti menuntut.
Ado mengangguk. “Tapi bukan berarti, aku akan dengan mudahnya menghilangkan nama seseorang yang begitu baiknya hingga membuat hidupku berubah.”
“Tapi…?”
Ado menggeleng keras-keras.
“Atau kamu yang berniat meinggalkanku?” tanyanya cepat dengan wajah serius.
Asry menggeleng cepat. “Biarlah mengalir seperti air. Waktu yang akan bicara dan menentukan semua itu,” desisnya seperti pada dirinya sendiri.
Diembuskannya napas kuat-kuat.
Ada Didot dan Ado di hatinya. Dan kesetiaannya sebagai seorang wanita seperti dituntut dalam dilema yang teramat berat.
Tapi biarlah saat ini, ia menikmati episode jalinan cintanya dengan Ado. Barangkali di seberang sana, Didot pun tengah menciptakan episode cinta dengan gadis yang lain.
Entahlah.

Cerpen Wita Alamanda Simbolon

August 8, 2009 at 10:20 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

witaSUNGGUH, kukutuki sekaligus kunikmati kenyataan yang kualami sekarang ini. Aku bertanya-tanya, normalkah aku, atau jiwaku yang telah sakit? Luka demi luka di masa lalu ternyata telah mencetakku menjadi cewek yang mempersetankan cinta. Sampai kenyataan baru itu datang. Aku jatuh cinta pada Om Bur, seorang selebriti di kotaku, seorang yang sangat ramah, dan seorang Papa dari sahabat terbaikku.
Aku gamang.
Kutepuk keningku. Kuhitung, sudah sebulan perasaan terlarang itu menjerat hatiku. Seharusnya memang, ini tidak boleh terjadi!
Tania, sahabatku, anak Om Bur, yang mengawali semua ini. Ia tahu aku sedang kacau waktu itu. Lalu ia mengusulkan sesuatu.
“Udah, deh, Ke, terima aja Resnu. Dia kan cakep banget.”
“Aku nggak bisa, Tan. Sumpah, aku nggak punya perasaan apa-apa padanya, juga pada yang lain,” aku hampir menangis. “Aku takut, Tan, jangan-jangan nanti aku bisa jadi lesbi!”
“Hus! Ngaco!” Tania memandangku iba. “Kamu sendiri yang menghukum dirimu. Makanya jangan dipikir terus.”
“Gimana caranya supaya nggak mikir?”
“Buang bayangan mereka dari pikiran kamu. O, ya, kamu suka nggak dengerin radio Santana?”
“Memangnya kenapa?”
“Untuk mecahin masalah-masalah asmara kayak kamu ini, radio Santana-lah tempatnya. Papaku kan penyiar di sana.”
“Masak, sih?” aku mulai tertarik.
“Papa ngasuh banyak acara. Salah satunya ‘Problema Asmara Kamu’. Cara konsultasinya enak lagi, Ke. Pakai telepon.”
“Siapa sih nama Papa kamu?”
“Bur. Di udara dipanggil Om Bur.”
Aku menganga. Benar-benar tidak menyangka. Jadi Om Bur, penyiar top itu, Papa Tania?
“Kamu kok nggak bilang-bilang Om Bur itu Papamu, Tan?”
Banyak memang yang belum kuketahui tentang Tania, terutama keluarganya. Ia seorang yang agak tertutup, sama seperti aku. Yang jelas, Tania telah kehilangan ibunya sejak kecil. Sedang aku, juga telah kehilangan Papa dua tahun lalu. Barangkali, latar belakang persamaan nasib itulah yang membuat kami cepat akrab sejak menjadi siswa SMA Teladan.
Tania-lah yang pada akhirnya membuatku menjadi penggemar maniak radio Santana, terutama acara-acara yang diasuh oleh Om Bur.
“Halo, radio Santana di sini,” kata Om Bur waktu pertama kali aku ikutan di ajang ‘Problema Asmara Kamu’. “Ini dari siapa, ya?”
“Dari Keke, Om. Keke temannya Tania.”
“Tania?”
“Iya, Om. Tania anaknya Om. Kami satu sekolah. Teman akrab, Om.”
“O, begitu. Pasti Tania yang nyuruh kamu ikutan acara ini. Iya kan, Ke?”
“Iya deh, Om.”
“Oke, sekarang cerita deh apa masalah kamu, Ke?”
“Gini, Om. Saat ini saya sedang kacau. Kacau benar. Saya sering bener dikecewain sama cowok. Akibatnya, selama hampir dua tahun ini, saya nggak bisa lagi jatuh cinta pada cowok, secakep apapun itu. Saya nggak punya perasaan apa-apa lagi pada cowok, Om. Dan memang saya nggak bakalan bisa jatuh cinta, Om Bur.”
“Ah, yang bener?” Om Bur tertawa. Tawa untuk yang pertama kali selama dua tahun ini kuakui sangat menawan.
“Bener, Om, saya nggak bohong!”
“Iya deh, percaya. Berapa sekarang usia kamu, Ke?”
“Limabelas, Om.”
“Udah berapa kali kamu putus dengan pacar kamu?”
“Lima kali, Om.”
“Waduh, banyak sekali iya, Ke. Itu artinya Keke itu laris. Om bisa tebak, Keke pasti cantik, iya,” Om Bur tertawa.
Aku ikut tertawa.
“Aduh, Keke, seharusnya di usia kamu yang masih amat dini ini, Keke nggak boleh tersiksa karena cinta. Biarkan cinta itu datang silih berganti dalam kehidupan Keke, sampai tiba saatnya nanti Keke menemukan cinta sejati.”
“Cinta sejati, Om?”
“Iya, Ke. Kalo cinta sejati nanti sudah datang, Keke akan sadar bahwa nggak benar Keke nggak bisa jatuh cinta lagi. Segala sesuatunya akan indah pada waktunya, Ke. Juga cinta sejati kamu akan datang pada waktu yang tepat, sehingga indah pada waktunya. Begitu, Ke.”
Tiba-tiba saja, semuanya menjadi lain. Tiba-tiba saja, perasaanku menjadi plong.
“Oke deh, Keke, Om yakin Keke belum puas. Keke boleh datang konsultasi ke studio, dan Om akan dengar semua masalah Keke.”
“Bener, Om?”
“Bener. Masak Om bohong?”
“Dua hari lagi, saya datang bareng Tania iya, Om.”
“Oke, Om tunggu. Sekarang udahan dulu, iya. Salam buat adik Keke, Mama Keke, Papa Keke, juga kucing Keke.”
“Tapi, Om…?”
“Kenapa?”
“Saya nggak punya Papa lagi. Sudah meninggal….”
“Oh, maaf, Keke. Kalo begitu, salam buat Papa didobelin ke Mama Keke aja, deh.”
“Iya, Om….”

***

Sejak itu, aku jadi akrab dengan Om Bur. Tampangnya tidak seperti Bapak-Bapak. Wajahnya kelihatan masih amat muda. Punya sepasang mata yang amat teduh, senyum yang menawan, dan tawa yang renyah. Ia punya banyak modal untuk digandrungi.
Dan saat ini, detik ini, sama seperti hari-hari kemarin, aku sedang menunggu Om Bur siaran. Cuma bedanya, hari ini aku datang sendiri tanpa Tania. Betapa kangennya aku memandang mata Om Bur. Betapa kangennya aku tangan itu kembali menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Nggak dengan Tania?”
“Tania ada urusan, Om,” aku berbohong. Padahal Tania tidak tahu aku ke sini.
“Keke pasti haus. Mau minum apa, Ke?”
“Apa aja deh, Om.”
Om Bur begitu perhatian. Alangkah bahagianya Tania punya Papa sebaik Om Bur, dan alangkah malangnya aku tidak punya Papa untuk bermanja-manja.
“Apa kabar adikmu Sasi?” tanya Om Bur sambil menyodorkan sebotol sprite dingin.
“Baik, Om.”
“Kucing Keke?”
“Lagi flu, Om.”
Kami sama-sama tertawa.
“Mama Keke cantik, iya. Lembut lagi.”
Aku menganga. Cantik? Lembut? Kapan ia melihat Mama?
“Kemarin, waktu ngantar Tania ke rumah Keke, Om sempat bertemu Mama Keke. Kami lama ngobrol. Keke sih, pergi ke mana aja? Tania sampai sebel nunggu Keke. Tania nggak cerita?”
Aku menggeleng lemah. Tiba-tiba saja aku merasa cemburu.
“Waktu masih muda, Mama Keke pasti secantik Keke.”
“Berapa jam Om ngobrol dengan Mama?”
“Kira-kira lima jam, deh.”
Lima jam? Selama itu? Apa saja yang mereka obrolkan?
“Agar-agar buatan Mama enak banget. Sudah lama Om nggak makan agar-agar seenak itu.”
Kugigit bibirku. Om Bur makan agar-agar buatan Mama?
“Kaget iya, Ke?” Ia mengacak rambutku. “Om sama Tania sempat makan siang di rumah Keke. Sayur asemnya enak!”
Kugigit telunjukku. Sampai makan siang segala!
Om Bur sudah kembali siaran. Aku tidak berminat lagi menungguinya siaran. Aku harus pulang!
“Keke!” panggil Om Bur ketika kakiku sudah di halaman.
“Iya, Om?”
“Keke ada ongkos pulang?”
“Ada….”
“Salam buat Mama….”
“Iya….”
“Bilangin, Om Bur kangen makan agar-agar lagi.”
“Iya….”
“Dadah Keke….”
“Dadah…!”
Langkahku begitu berat. Tertarikkah Om Bur pada Mama? Tidak, tidak, tidak mungkin! Itu cuma pengungkapan rasa hormat Om Bur terhadap Mama karena aku adalah sahabat Tania! Hanya sebatas itu! Tidak mungkin ada yang lain!

***

Ini adalah untuk yang pertama kalinya aku melihat wajah Mama bersinar lagi selama dua tahun ini. Sejak Papa berpulang, Mama larut dalam segala kesedihannya.
Malam ini, Mama cantik sekali. Sudah berdandan rapi. Om Bur-kah yang ditunggunya? Tidak mungkin! Toh sejak Om Bur titip salam, ia tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang Mama.
“Mama lain sekarang iya, Mbak Ke,” Sasi mencolek tanganku.
Aku diam. Tanganku sedang sibuk mencari gelombang radio Santana. Malam ini Om Bur siaran. Katanya siang tadi, ia akan kirim lagu untukku.
“Halo, kawula muda, radio Santana bersama Anda,” suara Om Bur. “Sekarang kamu-kamu sedang mengikuti ajang ‘Anjang Sana’. Buat Keke di Padang Harapan, udah belajar belum? Kalo udah, dengerin nih lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ milik Anditi yang kamu pesan tadi siang. Om yakin, Keke pasti hepi dengerin lagu ini.”
Lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ dari Anditi berkumandang di kamarku, juga di hatiku.
“Buat Keke, Om tinggal dulu, iya. Sekarang giliran Mama Keke yang Om kirimi lagu.”
Astaga!
“Buat Mama Keke, selamat malam, dan selamat menunggu kedatangan saya. Udah rapi, kan? Oke deh, sebentar lagi saya dan Tania akan menjemputmu. Anak-anak diajak sekalian, iya?”
Aku terhempas. Kenyataan macam apakah lagi ini?!
Jam delapan, Om Bur datang. Tidak bersama Tania. Aku mengintip dari kamarku. Mama setengah berlari ke halaman menyambut Om Bur. Mereka saling senyum, saling bertatapan, saling….
Maka berakhirlah semua harapanku.
Mereka cekikikan di ruang tamu.
“Tania nggak jadi ikut?”
“Katanya malas, Jeng. Dia titip salam saja untuk Jeng. Anak-anak mana?”
“Sasi baru aja keluar dengan pacarnya. Sebentar, saya lihat dulu Keke di kamarnya.”
Refleks kuhempaskan tubuhku ke ranjang. Kututupi wajahku dengan selimut.
“Keke, Keke, bangun, Nak. Ada Om Bur,” Mama mengguncang tubuhku.
Beberapa menit kemudian, Mama keluar. Nyata sekali Mama tidak bersungguh-sungguh membangunkanku. Supaya acaranya dengan Om Bur tidak terganggu!
Aku mengintip lagi dari kamar.
“Wah, Keke nggak bisa dibangunin lagi tuh, Mas.”
Dasar pembohong! Apa katanya tadi?! Mas?!
“Iya udah. Bagaimana kalau kita nggak jadi keluar? Kan lebih enak di rumah. Saya ingin memandang bola matamu lama-lama, Jeng….”
“Ah, Mas ini….”
Genit! Mama genit!
“Jeng…!”
“Iya…?”
“Sudah kamu beritahu anak-akan tentang rencana pernikahan kita?”
“Belum, Mas. Tapi aku yakin, mereka akan setuju. Apalagi Keke, dia pasti merasa sangat surprais.”
Airmataku banjir. Dua tahun aku tidak punya perasaan apa-apa pada cowok. Sekarang, setelah perasaan itu kembali muncul, kenapa Om Bur harus dirampas? Kenapa justru yang merampasnya adalah Mama?
Airmataku terus berhamburan, dan aku gagal menyembunyikan suara tangisku.
“Keke, ada apa, Nak?” Tiba-tiba Mama sudah berdiri di ambang pintu. Di belakang Mama, ada Om Bur….
“Keke, bilang pada Mama ada apa?”
“Keke… Keke…!”
“Kenapa, Nak?”
“Keke… Keke mimpi diterkam harimau. Keke takut, Ma….”
“Udah, jangan takut lagi, iya,” Mama menarikku ke pelukannya. “Di sini ada Mama, ada Om Bur.”
“Iya, Ke. Jangan takut. Ada Om di sini. Mimpi segitu aja Keke kok takut?”

***

Tak ada lagi suara radio di kamarku. Bahkan radio sudah kulemparkan ke gudang. Toh semuanya sudah berakhir! Toh luka-lukaku sudah sempurna dalamnya! Toh…!
Tinjuku terkepal, menahan rasa cemburu yang amat hebat.
Hari pernikahan Mama dengan Om Bur sudah ditentukan. Aku cuma bisa mengangguk lemah ketika Mama minta restu persetujuanku beberapa hari yang lalu.
“Kamu setuju kan, Ke, kalo Mama menikah… dengan Om Bur?” tanya Mama. Matanya memandangku penuh harap.
“Setuju, Ma.”
“Kamu kok lesu, Ke. Kenapa, Nak? Sakit?”
“Mimpi-mimpi seram itu terus mengganggu saya, Ma,” aku berbohong.
“Mimpi diterkam harimau?”
Aku mengangguk. Airmataku merebak. Tuhan, betapa pahitnya kenyataan ini!
“Sebaiknya, saya tinggal bersama Nenek dulu di Curup, Ma.”
“Baiklah, Nak.”
Sejak mendengar tentang pernikahan Mama dengan Om Bur, aku memang terus bermimpi. Bukan mimpi diterkam harimau, bukan! Aku bermimpi, Mama menikah di gereja. Dan dalam mimpi itu, aku menangis, menangis, dan menangis!

***

Menurut rencana, cuma sebulan aku tinggal bersama Nenek. Nyatanya, sampai bulan keempat, sampai Mama menikah, sampai Mama dan Sasi pindah ke rumah Om Bur, aku tidak kembali. Kukira, aku sudah tidak punya tempat lagi di sana. Buat apa aku kembali ke rumah, jika di sana aku cuma berjuang menyingkirkan rasa cemburu kepada Mama.
Tiap hari kerjaku cuma merenung, dan terus menyesali nasib.
Suara radio tetangga sebelah berkumandang, memamerkan lagu dangdut. Iseng-iseng, kuhidupkan radio Nenek.
Dan… suara khas Om Bur langsung meluncur.
“Buat Keke di kota kecil Curup, gimana kabarnya, Nak. Minggu depan, Papa, Mama, Tania, dan Sasi akan mengunjungimu. Papa kangen menjewer hidung Keke….”
Radio kusentakkan. Hampir saja jatuh membentur lantai. Apa katanya tadi? Papa? Lancang betul!
Minggu yang gila itu pun tiba. Mereka datang dengan segala keceriaan mereka, dengan segala kebahagiaan mereka. Tiga bulan pisah dengan Mama, aku lihat ia bertambah cantik. Tak ada lagi warna kelabu dalam matanya. Aku senang, tapi juga marah, sedih, sirik, iri, dan cemburu!
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Keke nggak kangen pada Papa?”
Tenggorokanku tercekik.
“Kangen kok, Pa….”
Tuhan, aku telah memanggilnya Papa?
“Halo, Kak Keke…!”
Aku semakin takjub. Apa kata Tania? Aku dipanggil Kakak? Aku memang tua tujuh bulan darinya. Tapi, haruskah aku dipanggil Kakak?!
Rasa takjubku tidak cukup sampai di situ. Tania dengan fasih memanggil Mama pada Mamaku, dan Sasi dengan lincahnya memanggil Papa pada Om Bur. Aku menggigit bibir. Harus bagaimana aku bersikap di tengah luapan kegembiraan mereka?
“Mama, Mama,” Tania menarik-narik tangan Mamaku. “Kolam ikannya mana dong, Ma?”
“Tuh, di ujung sana, Sayang.”
“Kita mancing sekarang dong, Ma!”
Mama, Om Bur, Sasi, dan Tania berlarian ke arah kolam ikan. Aku menyusul, tanpa semangat.
“Seharusnya kamu bahagia punya pengganti Papa sebaik dia, Ke,” Nenek menggamitku dari belakang.
“Saya bahagia kok, Nek.”
“Kenapa mesti bohong. Nenek sudah baca buku harianmu.”
“Nenek!” Aku memekik. “Nenek lancang sekali!”
“Kenapa ini bisa terjadi, Ke?”
“Saya nggak tahu, Nek! Perasaan itu mengalir begitu saja.”
“Sebenarnya bisa kamu cegah. Tapi kamu nggak mau melakukanna, karena kamu egois!”
“Egois kata Nenek?”
“Apa nggak egois namanya, jika kamu nggak rela Mama dan adik kamu bahagia. Sebenarnya, perasaan kamu pada Om Bur bukan cinta! Sebenarnya, sosok Om Bur muncul dalam benak kamu sebagai Papa, tapi kamu salah kaprah menyebutnya sebagai cinta. Dan nggak bener kamu nggak bisa jatuh cinta lagi! Kamu hanya belum ketemu cinta sejati, Keke. Percayalah, cinta sejati suatu saat akan datang dalam hidupmu, akan indah pada waktunya, Keke….”
Aku ternganga.
“Mulai sekarang, bunuh semua rasa cemburu kamu! Seharusnya kamu bersyukur, telah mendapat pengganti Papa yang sangat baik! Apalah artinya perasaan semu kamu dibanding dengan cinta dan kasih sayang Om Bur yang begitu tulus? Itu karunia besar, Cucu….”
Tangisku pecah.
“Tapi, Nek, saya duluan yang mengenal Om Bur.”
“Jadi maumu apa sekarang?”
“Nek….”
“Masihkah kamu tetap sirik pada Mama kamu, jika Nenek beritahu sekarang bahwa Mama telah mengandung?”
“Apa, Nek?”
“Kamu akan segera punya adik.”
“Saya… saya….”
“Sekarang pergi sana ikut mancing. Panggil Om Bur dengan sebutan Papa tanpa malu-malu!”
“Nek…!”
“Keke!” teriak Om Bur dari jauh. “Cepeten sini mancing bareng Papa!”
“Iya, Papa!”
Aku berlari menghampiri mereka ke kolam ikan. Nenek memang benar. Mulai sekarang, akan kubunuh perasaan terlarang ini, meskipun untuk itu aku harus berjuang.
Bukankah Om Bur pernah bilang, segala sesuatunya akan indah pada waktunya. 

Sungguh, kukutuki sekaligus kunikmati kenyataan yang kualami sekarang ini. Aku bertanya-tanya, normalkah aku, atau jiwaku yang telah sakit? Luka demi luka di masa lalu ternyata telah mencetakku menjadi cewek yang mempersetankan cinta. Sampai kenyataan baru itu datang. Aku jatuh cinta pada Om Bur, seorang selebriti di kotaku, seorang yang sangat ramah, dan seorang Papa dari sahabat terbaikku.
Aku gamang.
Kutepuk keningku. Kuhitung, sudah sebulan perasaan terlarang itu menjerat hatiku. Seharusnya memang, ini tidak boleh terjadi!
Tania, sahabatku, anak Om Bur, yang mengawali semua ini. Ia tahu aku sedang kacau waktu itu. Lalu ia mengusulkan sesuatu.
“Udah, deh, Ke, terima aja Resnu. Dia kan cakep banget.”
“Aku nggak bisa, Tan. Sumpah, aku nggak punya perasaan apa-apa padanya, juga pada yang lain,” aku hampir menangis. “Aku takut, Tan, jangan-jangan nanti aku bisa jadi lesbi!”
“Hus! Ngaco!” Tania memandangku iba. “Kamu sendiri yang menghukum dirimu. Makanya jangan dipikir terus.”
“Gimana caranya supaya nggak mikir?”
“Buang bayangan mereka dari pikiran kamu. O, ya, kamu suka nggak dengerin radio Santana?”
“Memangnya kenapa?”
“Untuk mecahin masalah-masalah asmara kayak kamu ini, radio Santana-lah tempatnya. Papaku kan penyiar di sana.”
“Masak, sih?” aku mulai tertarik.
“Papa ngasuh banyak acara. Salah satunya ‘Problema Asmara Kamu’. Cara konsultasinya enak lagi, Ke. Pakai telepon.”
“Siapa sih nama Papa kamu?”
“Bur. Di udara dipanggil Om Bur.”
Aku menganga. Benar-benar tidak menyangka. Jadi Om Bur, penyiar top itu, Papa Tania?
“Kamu kok nggak bilang-bilang Om Bur itu Papamu, Tan?”
Banyak memang yang belum kuketahui tentang Tania, terutama keluarganya. Ia seorang yang agak tertutup, sama seperti aku. Yang jelas, Tania telah kehilangan ibunya sejak kecil. Sedang aku, juga telah kehilangan Papa dua tahun lalu. Barangkali, latar belakang persamaan nasib itulah yang membuat kami cepat akrab sejak menjadi siswa SMA Teladan.
Tania-lah yang pada akhirnya membuatku menjadi penggemar maniak radio Santana, terutama acara-acara yang diasuh oleh Om Bur.
“Halo, radio Santana di sini,” kata Om Bur waktu pertama kali aku ikutan di ajang ‘Problema Asmara Kamu’. “Ini dari siapa, ya?”
“Dari Keke, Om. Keke temannya Tania.”
“Tania?”
“Iya, Om. Tania anaknya Om. Kami satu sekolah. Teman akrab, Om.”
“O, begitu. Pasti Tania yang nyuruh kamu ikutan acara ini. Iya kan, Ke?”
“Iya deh, Om.”
“Oke, sekarang cerita deh apa masalah kamu, Ke?”
“Gini, Om. Saat ini saya sedang kacau. Kacau benar. Saya sering bener dikecewain sama cowok. Akibatnya, selama hampir dua tahun ini, saya nggak bisa lagi jatuh cinta pada cowok, secakep apapun itu. Saya nggak punya perasaan apa-apa lagi pada cowok, Om. Dan memang saya nggak bakalan bisa jatuh cinta, Om Bur.”
“Ah, yang bener?” Om Bur tertawa. Tawa untuk yang pertama kali selama dua tahun ini kuakui sangat menawan.
“Bener, Om, saya nggak bohong!”
“Iya deh, percaya. Berapa sekarang usia kamu, Ke?”
“Limabelas, Om.”
“Udah berapa kali kamu putus dengan pacar kamu?”
“Lima kali, Om.”
“Waduh, banyak sekali iya, Ke. Itu artinya Keke itu laris. Om bisa tebak, Keke pasti cantik, iya,” Om Bur tertawa.
Aku ikut tertawa.
“Aduh, Keke, seharusnya di usia kamu yang masih amat dini ini, Keke nggak boleh tersiksa karena cinta. Biarkan cinta itu datang silih berganti dalam kehidupan Keke, sampai tiba saatnya nanti Keke menemukan cinta sejati.”
“Cinta sejati, Om?”
“Iya, Ke. Kalo cinta sejati nanti sudah datang, Keke akan sadar bahwa nggak benar Keke nggak bisa jatuh cinta lagi. Segala sesuatunya akan indah pada waktunya, Ke. Juga cinta sejati kamu akan datang pada waktu yang tepat, sehingga indah pada waktunya. Begitu, Ke.”
Tiba-tiba saja, semuanya menjadi lain. Tiba-tiba saja, perasaanku menjadi plong.
“Oke deh, Keke, Om yakin Keke belum puas. Keke boleh datang konsultasi ke studio, dan Om akan dengar semua masalah Keke.”
“Bener, Om?”
“Bener. Masak Om bohong?”
“Dua hari lagi, saya datang bareng Tania iya, Om.”
“Oke, Om tunggu. Sekarang udahan dulu, iya. Salam buat adik Keke, Mama Keke, Papa Keke, juga kucing Keke.”
“Tapi, Om…?”
“Kenapa?”
“Saya nggak punya Papa lagi. Sudah meninggal….”
“Oh, maaf, Keke. Kalo begitu, salam buat Papa didobelin ke Mama Keke aja, deh.”
“Iya, Om….”

***

Sejak itu, aku jadi akrab dengan Om Bur. Tampangnya tidak seperti Bapak-Bapak. Wajahnya kelihatan masih amat muda. Punya sepasang mata yang amat teduh, senyum yang menawan, dan tawa yang renyah. Ia punya banyak modal untuk digandrungi.
Dan saat ini, detik ini, sama seperti hari-hari kemarin, aku sedang menunggu Om Bur siaran. Cuma bedanya, hari ini aku datang sendiri tanpa Tania. Betapa kangennya aku memandang mata Om Bur. Betapa kangennya aku tangan itu kembali menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku, sama seperti yang dilakukannya pada Tania.
Om Bur keluar dari ruang siaran. Ia datang menghampiriku.
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Nggak dengan Tania?”
“Tania ada urusan, Om,” aku berbohong. Padahal Tania tidak tahu aku ke sini.
“Keke pasti haus. Mau minum apa, Ke?”
“Apa aja deh, Om.”
Om Bur begitu perhatian. Alangkah bahagianya Tania punya Papa sebaik Om Bur, dan alangkah malangnya aku tidak punya Papa untuk bermanja-manja.
“Apa kabar adikmu Sasi?” tanya Om Bur sambil menyodorkan sebotol sprite dingin.
“Baik, Om.”
“Kucing Keke?”
“Lagi flu, Om.”
Kami sama-sama tertawa.
“Mama Keke cantik, iya. Lembut lagi.”
Aku menganga. Cantik? Lembut? Kapan ia melihat Mama?
“Kemarin, waktu ngantar Tania ke rumah Keke, Om sempat bertemu Mama Keke. Kami lama ngobrol. Keke sih, pergi ke mana aja? Tania sampai sebel nunggu Keke. Tania nggak cerita?”
Aku menggeleng lemah. Tiba-tiba saja aku merasa cemburu.
“Waktu masih muda, Mama Keke pasti secantik Keke.”
“Berapa jam Om ngobrol dengan Mama?”
“Kira-kira lima jam, deh.”
Lima jam? Selama itu? Apa saja yang mereka obrolkan?
“Agar-agar buatan Mama enak banget. Sudah lama Om nggak makan agar-agar seenak itu.”
Kugigit bibirku. Om Bur makan agar-agar buatan Mama?
“Kaget iya, Ke?” Ia mengacak rambutku. “Om sama Tania sempat makan siang di rumah Keke. Sayur asemnya enak!”
Kugigit telunjukku. Sampai makan siang segala!
Om Bur sudah kembali siaran. Aku tidak berminat lagi menungguinya siaran. Aku harus pulang!
“Keke!” panggil Om Bur ketika kakiku sudah di halaman.
“Iya, Om?”
“Keke ada ongkos pulang?”
“Ada….”
“Salam buat Mama….”
“Iya….”
“Bilangin, Om Bur kangen makan agar-agar lagi.”
“Iya….”
“Dadah Keke….”
“Dadah…!”
Langkahku begitu berat. Tertarikkah Om Bur pada Mama? Tidak, tidak, tidak mungkin! Itu cuma pengungkapan rasa hormat Om Bur terhadap Mama karena aku adalah sahabat Tania! Hanya sebatas itu! Tidak mungkin ada yang lain!

***

Ini adalah untuk yang pertama kalinya aku melihat wajah Mama bersinar lagi selama dua tahun ini. Sejak Papa berpulang, Mama larut dalam segala kesedihannya.
Malam ini, Mama cantik sekali. Sudah berdandan rapi. Om Bur-kah yang ditunggunya? Tidak mungkin! Toh sejak Om Bur titip salam, ia tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang Mama.
“Mama lain sekarang iya, Mbak Ke,” Sasi mencolek tanganku.
Aku diam. Tanganku sedang sibuk mencari gelombang radio Santana. Malam ini Om Bur siaran. Katanya siang tadi, ia akan kirim lagu untukku.
“Halo, kawula muda, radio Santana bersama Anda,” suara Om Bur. “Sekarang kamu-kamu sedang mengikuti ajang ‘Anjang Sana’. Buat Keke di Padang Harapan, udah belajar belum? Kalo udah, dengerin nih lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ milik Anditi yang kamu pesan tadi siang. Om yakin, Keke pasti hepi dengerin lagu ini.”
Lagu ‘Semenjak Ada Dirimu’ dari Anditi berkumandang di kamarku, juga di hatiku.
“Buat Keke, Om tinggal dulu, iya. Sekarang giliran Mama Keke yang Om kirimi lagu.”
Astaga!
“Buat Mama Keke, selamat malam, dan selamat menunggu kedatangan saya. Udah rapi, kan? Oke deh, sebentar lagi saya dan Tania akan menjemputmu. Anak-anak diajak sekalian, iya?”
Aku terhempas. Kenyataan macam apakah lagi ini?!
Jam delapan, Om Bur datang. Tidak bersama Tania. Aku mengintip dari kamarku. Mama setengah berlari ke halaman menyambut Om Bur. Mereka saling senyum, saling bertatapan, saling….
Maka berakhirlah semua harapanku.
Mereka cekikikan di ruang tamu.
“Tania nggak jadi ikut?”
“Katanya malas, Jeng. Dia titip salam saja untuk Jeng. Anak-anak mana?”
“Sasi baru aja keluar dengan pacarnya. Sebentar, saya lihat dulu Keke di kamarnya.”
Refleks kuhempaskan tubuhku ke ranjang. Kututupi wajahku dengan selimut.
“Keke, Keke, bangun, Nak. Ada Om Bur,” Mama mengguncang tubuhku.
Beberapa menit kemudian, Mama keluar. Nyata sekali Mama tidak bersungguh-sungguh membangunkanku. Supaya acaranya dengan Om Bur tidak terganggu!
Aku mengintip lagi dari kamar.
“Wah, Keke nggak bisa dibangunin lagi tuh, Mas.”
Dasar pembohong! Apa katanya tadi?! Mas?!
“Iya udah. Bagaimana kalau kita nggak jadi keluar? Kan lebih enak di rumah. Saya ingin memandang bola matamu lama-lama, Jeng….”
“Ah, Mas ini….”
Genit! Mama genit!
“Jeng…!”
“Iya…?”
“Sudah kamu beritahu anak-akan tentang rencana pernikahan kita?”
“Belum, Mas. Tapi aku yakin, mereka akan setuju. Apalagi Keke, dia pasti merasa sangat surprais.”
Airmataku banjir. Dua tahun aku tidak punya perasaan apa-apa pada cowok. Sekarang, setelah perasaan itu kembali muncul, kenapa Om Bur harus dirampas? Kenapa justru yang merampasnya adalah Mama?
Airmataku terus berhamburan, dan aku gagal menyembunyikan suara tangisku.
“Keke, ada apa, Nak?” Tiba-tiba Mama sudah berdiri di ambang pintu. Di belakang Mama, ada Om Bur….
“Keke, bilang pada Mama ada apa?”
“Keke… Keke…!”
“Kenapa, Nak?”
“Keke… Keke mimpi diterkam harimau. Keke takut, Ma….”
“Udah, jangan takut lagi, iya,” Mama menarikku ke pelukannya. “Di sini ada Mama, ada Om Bur.”
“Iya, Ke. Jangan takut. Ada Om di sini. Mimpi segitu aja Keke kok takut?”

***

Tak ada lagi suara radio di kamarku. Bahkan radio sudah kulemparkan ke gudang. Toh semuanya sudah berakhir! Toh luka-lukaku sudah sempurna dalamnya! Toh…!
Tinjuku terkepal, menahan rasa cemburu yang amat hebat.
Hari pernikahan Mama dengan Om Bur sudah ditentukan. Aku cuma bisa mengangguk lemah ketika Mama minta restu persetujuanku beberapa hari yang lalu.
“Kamu setuju kan, Ke, kalo Mama menikah… dengan Om Bur?” tanya Mama. Matanya memandangku penuh harap.
“Setuju, Ma.”
“Kamu kok lesu, Ke. Kenapa, Nak? Sakit?”
“Mimpi-mimpi seram itu terus mengganggu saya, Ma,” aku berbohong.
“Mimpi diterkam harimau?”
Aku mengangguk. Airmataku merebak. Tuhan, betapa pahitnya kenyataan ini!
“Sebaiknya, saya tinggal bersama Nenek dulu di Curup, Ma.”
“Baiklah, Nak.”
Sejak mendengar tentang pernikahan Mama dengan Om Bur, aku memang terus bermimpi. Bukan mimpi diterkam harimau, bukan! Aku bermimpi, Mama menikah di gereja. Dan dalam mimpi itu, aku menangis, menangis, dan menangis!

***

Menurut rencana, cuma sebulan aku tinggal bersama Nenek. Nyatanya, sampai bulan keempat, sampai Mama menikah, sampai Mama dan Sasi pindah ke rumah Om Bur, aku tidak kembali. Kukira, aku sudah tidak punya tempat lagi di sana. Buat apa aku kembali ke rumah, jika di sana aku cuma berjuang menyingkirkan rasa cemburu kepada Mama.
Tiap hari kerjaku cuma merenung, dan terus menyesali nasib.
Suara radio tetangga sebelah berkumandang, memamerkan lagu dangdut. Iseng-iseng, kuhidupkan radio Nenek.
Dan… suara khas Om Bur langsung meluncur.
“Buat Keke di kota kecil Curup, gimana kabarnya, Nak. Minggu depan, Papa, Mama, Tania, dan Sasi akan mengunjungimu. Papa kangen menjewer hidung Keke….”
Radio kusentakkan. Hampir saja jatuh membentur lantai. Apa katanya tadi? Papa? Lancang betul!
Minggu yang gila itu pun tiba. Mereka datang dengan segala keceriaan mereka, dengan segala kebahagiaan mereka. Tiga bulan pisah dengan Mama, aku lihat ia bertambah cantik. Tak ada lagi warna kelabu dalam matanya. Aku senang, tapi juga marah, sedih, sirik, iri, dan cemburu!
“Halo, Keke,” Om Bur menjewer hidungku. “Keke nggak kangen pada Papa?”
Tenggorokanku tercekik.
“Kangen kok, Pa….”
Tuhan, aku telah memanggilnya Papa?
“Halo, Kak Keke…!”
Aku semakin takjub. Apa kata Tania? Aku dipanggil Kakak? Aku memang tua tujuh bulan darinya. Tapi, haruskah aku dipanggil Kakak?!
Rasa takjubku tidak cukup sampai di situ. Tania dengan fasih memanggil Mama pada Mamaku, dan Sasi dengan lincahnya memanggil Papa pada Om Bur. Aku menggigit bibir. Harus bagaimana aku bersikap di tengah luapan kegembiraan mereka?
“Mama, Mama,” Tania menarik-narik tangan Mamaku. “Kolam ikannya mana dong, Ma?”
“Tuh, di ujung sana, Sayang.”
“Kita mancing sekarang dong, Ma!”
Mama, Om Bur, Sasi, dan Tania berlarian ke arah kolam ikan. Aku menyusul, tanpa semangat.
“Seharusnya kamu bahagia punya pengganti Papa sebaik dia, Ke,” Nenek menggamitku dari belakang.
“Saya bahagia kok, Nek.”
“Kenapa mesti bohong. Nenek sudah baca buku harianmu.”
“Nenek!” Aku memekik. “Nenek lancang sekali!”
“Kenapa ini bisa terjadi, Ke?”
“Saya nggak tahu, Nek! Perasaan itu mengalir begitu saja.”
“Sebenarnya bisa kamu cegah. Tapi kamu nggak mau melakukanna, karena kamu egois!”
“Egois kata Nenek?”
“Apa nggak egois namanya, jika kamu nggak rela Mama dan adik kamu bahagia. Sebenarnya, perasaan kamu pada Om Bur bukan cinta! Sebenarnya, sosok Om Bur muncul dalam benak kamu sebagai Papa, tapi kamu salah kaprah menyebutnya sebagai cinta. Dan nggak bener kamu nggak bisa jatuh cinta lagi! Kamu hanya belum ketemu cinta sejati, Keke. Percayalah, cinta sejati suatu saat akan datang dalam hidupmu, akan indah pada waktunya, Keke….”
Aku ternganga.
“Mulai sekarang, bunuh semua rasa cemburu kamu! Seharusnya kamu bersyukur, telah mendapat pengganti Papa yang sangat baik! Apalah artinya perasaan semu kamu dibanding dengan cinta dan kasih sayang Om Bur yang begitu tulus? Itu karunia besar, Cucu….”
Tangisku pecah.
“Tapi, Nek, saya duluan yang mengenal Om Bur.”
“Jadi maumu apa sekarang?”
“Nek….”
“Masihkah kamu tetap sirik pada Mama kamu, jika Nenek beritahu sekarang bahwa Mama telah mengandung?”
“Apa, Nek?”
“Kamu akan segera punya adik.”
“Saya… saya….”
“Sekarang pergi sana ikut mancing. Panggil Om Bur dengan sebutan Papa tanpa malu-malu!”
“Nek…!”
“Keke!” teriak Om Bur dari jauh. “Cepeten sini mancing bareng Papa!”
“Iya, Papa!”
Aku berlari menghampiri mereka ke kolam ikan. Nenek memang benar. Mulai sekarang, akan kubunuh perasaan terlarang ini, meskipun untuk itu aku harus berjuang.
Bukankah Om Bur pernah bilang, segala sesuatunya akan indah pada waktunya.

Cerpen Ery Sofid

August 8, 2009 at 10:09 am | Posted in CERPEN Aniters | Comments Off on Cerpen Ery Sofid

sofid-altAKU yakin wajah yang berada di dalam cermin itu bukan diriku. Teksturnya menyimpang liar dari fakta. Dengan jujur aku mengakui bahwa aku terlahir ganteng. Mirip Antonio Banderas sedikit. Tapi saat jemari mentari pagi memancar mataku dan membuyarkan mimpi dalam pulasku, kebanggaan akan wajahku sekonyong-konyong terancam. Tapi pagi ini, aku berani menyangkal. Aslinya penampilanku memikat, namun kenapa musti nongol figur makhluk aneh?
Aku tak bisa mendeskripsikan secara detail ‘diri’-ku yang lain, yang nampak di cermin. Kira-kira begini, kepalaku nyaris mengembang sebesar guci keramik yang dipajang di ruang tamu. Bulat rada melonjong. Jidatku lebar dan berkerut-merut. Oya, kepala ‘asing’ itu botak licin mengkilap. Sepasang mataku persis ikan maskoki, seputarnya sembab. Pelipisku membengkak dan alisku rimbun kecoklatan. Hidungku cuma menyembul satu senti dengan cuping mekar. Pesek. Makhluk itu, selayang mengingatkan pada film-filim science-fiction yang kerap aku tonton. Jelek, menjijikkan, dan menakutkan.
Lama pula aku terpekur. Aku tegaskan harapan semoga pengalaman aneh pagi ini cuma ilusi belaka. Harus ada proses kausalitas kalau aku terhasut percaya. Kenapa begitu? Tapi yang mengherankan saat aku menguji kesesuaian antara diriku yang di luar dan bayangan di dalam cermin. Tiap gerakan fisik yang aku lakukan misalnya meraba-raba pipi, hidung, bibir, telinga, mata, dan kening, dia menirunya serba tepat. Tapi aku tetap merasakan keberadaan diriku wajar-wajar saja. Ah, apa yang sebenarnya terjadi?
Satu-satunya cara membuktikan apakah semua ini ilusi atau bukan adalah mencari persepsi obyektif dari Ibu dan Bapakku. Meskipun aku yakin makhluk dalam cermin itu bukan diriku yang riil.
“Tumben terlambat, Ry,” kata Ibu yang lagi mengoleskan selai nanas ke lempengan roti. “Buruan mandi, deh. Sebentar kesiangan sampai sekolah.”
Senyumku tercetak kaku. Jarum jam dinding merangkak di kisaran enam lima belas menit. Sesaat aku tertegun memandang mereka.
Bapak mendongak dari rentangan koran yang dibacanya sejenak. “Malah bengong. Bapak pengen berangkat nih, Ry. Mau menumpang atau nggak?”
“Siap, Bos,” sahutku. Lalu ngeloyor ke belakang. Lega.
Tapi seusai mandi dan balik bersalin seragam di kamar, aku kembali menemukan ‘diri’-ku yang asing saat bercermin.

***

Sebenarnya aku segan mengeluhkan perihal ini. Pada siapapun, bahkan Bapak dan Ibu. Aku ingin melupakannya. Masih mengantri sederet masalah lain yang lebih penting dipikirkan. Namun entah kenapa peristiwa edan pagi tadi itu terus-menerus menerjang benakku. Sesosok makhluk antah-berantah. Ini amat mengganggu ketenanganku.
Unek-unek itu coba aku limpahkan ke Beno. Dari sejumlah teman seantero sekolah, Beno ibarat kulit dan daging denganku. Dekat. Sahabat. Kadang anak-anak iseng meledek kami pasangan hombreng. Cuek. Hak mereka bersuara. Yang jelas kerukunanku sama Beno terbina. Beno baik. Solidaritasnya cemerlang. Itulah pasalnya aku mempercayainya.
Bahwa Beno terheran-heran selepas menyimak pemaparanku, aku mafhum. Kiasah misterius ini sarat kadar khayali. Sembilanpuluh sembilan prosen, mungkin. Sukar dicerna rasio. Tapi ketika kubuktikan kepadanya, lewat secarik kaca peraut pinsil, Beno terkejut bukan kepalang. Merinding. Dan percaya. Setelah sekian menit mencermatinya.
“Tapi mengapa keadaanmu yang kulihat sekarang nggak menggambarkan kelainan oragan-oragan sedikit pun?” tanya Beno meringis. Tubuhnya melorot lemas di kursi. Dipandangnya aku lumat-lumat.
“Itu yang masih belum terjawab,” sahutku, sambil menyusupkan rautan tadi ke dalam ransel.
“Mirip-mirip… mutant? Tahu kan, Ry?” Beno mereka-reka.
“Ya, perubahan sel-sel genetik akibat faktor tertentu,” tanggapku. “Radiasi nuklir atau limbah-limbah kimiawi pun memungkinkan terangsangnya proses mutasi gen jika terkena.”
“Tapi ini bukan mutasi, Ry,” sergah Beno serius.
“Saya rasa begitu,” keluhku. “Ah, kenapa saya ini?!”
“Anatomi makhluk dalam cermin itu, kayak makhluk-makhluk imajinasi dari angkasa luar, Ry,” Beno mengobral taksiran lain.
“Alien, begitu? Saya dirasuki Alien? Bagaimana bisa?” Aku jadi merasa geli sendiri. Aku tak kuasa menangkal laju senyumku. Pembicaraan kami di kantin siang ini sepulang sekolah seakan-akan saling menguliti kebodohan saja. “Dalam jasadku hidup Alien….”
“Kamu percaya UFO, Ry? Kehidupan lain selain di bumi?”
Aku menguncupkan bahu sambil tertawa. “Nggak tahu, deh. Tapi kamu bisa kan mengupas masalah saya ini dari sudut yang wajar?”
Beno tergugu. Lalu melengos. “Yah, kamu benar,” sungutnya.

***

Kelas III IPS 2 ramai dan gaduh. Sesekali terlontar sorak-sorai membahana. Begitu riuh dan bersemangat. Dan dijerat amarah.
Beno menyongsong kedatanganku. Ia nampak cemas.
“Gawat, Ry. Bondan menghasut anak-anak!”
“Apa?” Aku tersengat. Aku bersijingkat. Melongok ke dalam kelas dari kerumunan siswa yang memadati pintu. Bondan nampak berdiri kokoh di atas meja. Berkoar-koar dengan tatapan berapi-api.
Seantero SMA 17 Agustus 45 pasti kenal Bondan. Dialah siswa pemberani di sekolah ini. Ketimpangan-ketimpangan yang ia temukan dalam aktifitas pendidikan di sekolah kami, digugatnya blak-blakan. Pendukungnya banyak. Ia figur pemberontak tulen. Ia terpaksa didepak dari keanggotaan OSIS, karena kelewat gencar mengkritik dan melecehkan inisiatif ketua yang melempem.
Katanya, para pengurus OSIS itu cuma numpang tenar, biar dekat sama guru-guru. Hebatnya lagi, cowok yang bokapnya sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik itu, tak sungkan-sungkan hengkang dari kelas saat guru mengajar. “Cara menerangkannya payah. Tuh guru pantes ngajar di TK!” ujarnya.
Kini, ia menancapkan aksi baru. Dasar senewen!
Bondan pengen mengadakan demonstrasi?” Aku menoleh ke Beno.
“Yah,” angguk Beno. “Tadi, tiba-tiba saja ia memanggil anak-anak dari kelas-kelas lain. Mengumpulkannya di kelas kita. Ipung dan Fredi membantunya. Kamu tahu kan, Ry, Bondan jago propaganda. Dia bilang, Kepala Sekolah kita yang baru sebulan bertugas itu diangkat lewat prosedur nggak sah. Dia juga tambahkan, Kepsek baru itu mata duitan. Ry, kita harus cegah niat sontoloyo Bondan.”
Aku tak sangka Bondan berpikiran sekotor itu. Menimang-nimang sedetik, lalu aku menyeruak. Hingga aku berada di dalam kelas.
“Bondan, turun!” bentakku. “Saya mau ngomong sama kamu!”
Bondan menyeringai ke arahku. Ia melompat ke lantai.
“Halo, Ketua Kelas kita. Mau bergabung?” Gayanya menyebalkan.
Aku menggeretnya ke pojok kelas. Menghindar dari keramaian.
“Kamu musti punya alasan yang kuat kenapa mengajak demo, Dan?!”
“Aku rasa sudah jelas. Kita tuntut agar Pak Widnarjo, Kepsek kita yang terdahulu, dikembalikan posisinya. Kepsek baru sekarang ini mutunya rendah!”
“Aku kenal Pak Sigit, Dan. Sekolah memilih dia karena dedikasinya yang tinggi. Ia justru lebih baik ketimbang Pak Widnarjo.”
“Problem kamu, Ry. Pokoknya aku dan lainnya menentang.”
Mendadak kepalaku pening. Tubuhku limbung dan tersandar ke dinding. Pada saat itu, sebersit adegan ringkas berkelebat di benakku. Aku melihat Bondan menerima segepok uang dari Pak Widnarjo!
“Ry, kamu kenapa?” tanya Bondan acuh tak acuh.
Adegan tadi sirna. Pening itu berangsur hilang. Aneh….
“Kamu disogok berapa sama Pak Widnarjo?” tebakku spontan, seolah aku yakin tebakanku jitu. Aku tatap Bondan setajam pedang.
Bondan tersekat. Gelisah. “Ki-kita bagi dua, Ry,” bisiknya.
“Kamu bubarkan anak-anak atau aku laporkan ke guru BP,” ancamku.
“Ry, aku cuma disuruh beliau. Dia kecewa atas penggeseran jabatan Kepsek itu. Dia dendam,” ujar Bondan tersendat-sendat.
“Itu fitnah, Dan. Kamu sama saja makan uang haram!” geramku.
Agaknya Bondan menyesal. “Bagaimana kamu bisa tahu imbalan itu, Ry?”
Aku mendengus. Menggeleng. Tuhan, apa lagi ini….”

***

Sorot mata mereka terpusat ke arahku. Berpuluh-puluh makhluk mengerikan itu mengelilingi. Di bawah keremangan suatu ruang. Mereka membisu, namun telingaku menangkap suara-suara riuh. Kupikir mereka menggunakan sistem komunikasi telepatis. Pesan-pesan disampaikan terselubung. Brain to brain!
Inilah bahasa paling rumit sekaligus runyam yang pernah kuketahui. Pakar linguistik atau etnologi pun mungkin kudu ekstra pusing menerjemahkannya. Tapi aku sedikit dan tak lancar mampu mengkamuskan pesan-pesan itu. Entah bagaimana aku bisa tahu!
Ada sepenggal kalimat terus-menerus mendengung memenuhi tempurung kepalaku, hingga aku menghapalnya.
“Secepatnya kami menjemputmu. Segenap bangsa menanti takdir kepemimpinanmu. Generasi tercerdas dan lebih bermoral luhur. Revolusi ini harus dihentikan. Korban sudah banyak. Secepatnya kami menjemputmu. Secepatnya….”
Aku terbangun. Dadaku berdebebar-debar tak beraturan. Cuplikan mimpi tadi masih menggelepar-gelepar di ingatanku. Perasaan gamang berkecamuk di lorong-lorong sukmaku. Malam itu aku mengalami derita batin menyayat. Ditindas oleh terkaman berjuta tanya. Siapakah diriku sesungguhnya?!
Aku beranjak dari ranjang. Kunyalakan lampu. Dengan gelisah aku menjenguk cermin. Napasku tersedak. Wajah makhluk itu masih ada. Kini aku lekas tanggap. Wajahku dalam cermin itu persis wajah makhluk yang menghiasi arena mimpiku. Persis!
Tuhan, siapakah aku sebenarnya? Mengapa Engkau datangkan cobaan berat ini pada hamba-Mu? Siapakah mereka… siapakah aku…?

***

Rasanya aku tak bisa menyimpan lebih lama lagi keganjilan-keganjilan yang akhir-akhir ini merongrong ketenteramanku. Hari itu, aku beberkan seluruhnya pada Ibu dan Bapak.
Mereka terkejut sekali. Terlebih-lebih pas aku buktikan.
“Astaga, waktunya telah tiba,” desis Ibu dengan muka haru.
Aku terhenyak. “Maksdu Ibu apa?”
“Ah, nggak. Nggak apa-apa,” kelit Ibu seakan tersentak.
Kebingunganku tumbuh. Aku tak mengerti mengapa ketika kegundahan tengah membelit hatiku, mereka malah semakin memupuknya.
“Bu, Pak, Hery harus tahu arti semua ini?!” Aku coba mendesak.
Bapak mendengus berat. Ibu menoleh ke Bapak. Saling kikuk.
“Perjanjian itu sudah kita sepakati, Bu. Kita tak boleh melanggarnya. Bukankah kita berhutang budi pada mereka….”
“Pak, ada apa sih?” Kesabaranku dihimpit penasaran.
Mata tua Ibu berkilat sayu. “Bapak saja yang cerita.”
Bapak mengangguk. Mendehem. Ia pindah ke sofa tempatku membeku tegang. Duduk di sisiku. Merangkul pundakku, ia bertutur pelan.
“Ry, delapanbelas tahun lalu, keluarga kita belum semakmur sekarang. Kami, Bapak-Ibu, masih di Cianjur. Perkebunan cabai shishito yang Bapak kelola bersama Ny. Hamada terancam musnah. Cabai khas Jepang yang ditanam di lahan seluas 660 meter persegi itu diserang hama. Seluruhnya. Sulit dipastikan jenis hama apa. Apakah ulat grayak, nematoda, tungau, atau hama thrips. Ny. Hamada malah cenderung mengira antranoksa, sejenis penyakit tanaman yang membahayakan. Kami kelimpungan. Meskipun penanaman cabai ini merupakan proyek percontohan yang pertama dirintis di Indonesia, dan prospeknya nggak sebagus pembudidayaan cabai-cabai lokal, Ny. Hamada bertekad menyelamatkannya. Para petani yang bekerja satu per satu mulai undur diri. Hanya Bapak yang tetap bertahan. Bersama Ny. Hamada, pimpinan proyek itu, kami berpikir keras. Penyemprotan pestisida maunpun insektisida sudah dilakukan. Hasilnya nihil. Sejumlah tenaga ilmuwan rekan Ny. Hamada, dari Jepang, kalang-kabut. Mereka menyerah. Dalam semangat yang kian rapuh, kami masih berjuang memecahkan masalah ini. Dalam saat-saat kritis itulah, kami didatangi oleh seseorang.”
“Siapa dia? Utusan pemda?” selaku. Aku menyimak seksama.
“Mulanya kami dan staf lainnya menduga begitu. Ia mengunjungi laboratorium kami malam hari. Ia menjanjikan bahwa besok pagi kondisi area tanaman cabai shishito itu akan kembali normal. Ia mengaku memiliki zat kimiawi tertentu yang ampuh memberantas hama atau penyakit. Kami senang mendengarnya. Tapi ia baru bersedia memenuhi janjinya asalkan kami sanggup menjalani satu syarat. Ini dia tujukan ke Bapak dan Ibu. Entah dari mana ia tahu kalau kami sudah menikah. Pria itu meminta agar kami mengadopsi seorang bayi dari mereka. Ibumu menyambut setuju. Sudah lama Ibu merindukan anak. Bapak turut bahagia. Maka dibuatlah perjanjian. Saatnya kamu menanjak dewasa, mereka akan menemui kami. Mengambil kamu, Ry. Membawamu pergi lagi.”
Kali ini aku kurang paham. Dan Bapak agaknya tahu hal ini.
Perlahan ia melanjutkan. “Orang itu menepati janji. Esok harinya perkebunan cabai shishito kami nampak lebih sehat, segar, kuat dan subur. Nggak lagi layu dan meranggas kusam seperti kemarin-kemarin. Terlebih menakjubkan, sejak itu tanaman cabai shishito kami kebal terhadap gangguan hama dan penyakit apa pun.”
“Bagaimana ia bisa melakukannya?” tanyaku.
“Nggak seorang pun tahu….” Suara Bapak terbata. Melirik Ibu.
“Semuanya, Pak. Ungkapkan,” ujar Ibu tampak tabah dalam duka.
“Baiklah. Kamu nggak tahu teknologi apa yang mereka terapkan. Sekitar pukul dua dinihari, sepeninggalnya, kami terjaga dari tidur. Hampir semua peneliti, staf, dan termasuk Ny. Hamada, mendengar bunyi gemuruh halus di angkasa. Kami berduyun-duyum keluar laboratorium. Di atas areal perkebunan cabai, mengapung sebuah piringan raksasa. Menyerupai cakram. Garis tengahnya diperkirakan sembilan ratus meter. Cahaya kehijauan tertumpah merata dari satu lubang yang menganga di permukaan bawah benda itu. Lahan tanaman cabai benderang oleh cahaya. Lima menit berlalu, cahaya lenyap. Benda tadi membubung lamban. Kali ini tanpa bunyi sedikit pun. Suasana terasa hening. Sunyi. Sampai benda itu tiba-tiba melejit luar biasa cepatnya. Nggak sampai satu menit, kamu sudah menyaksikan benda itu tinggal sebentuk titik mungil. Membaur di antara tebaran bintang. Dari peristiwa itu, kami menyimpulkan bahwa cahaya itulah yang memulihkan tananman cabai.”
Prasangka konyol menembus benakku. “Apakah mereka….”
“Ya, pria penolong itu makhluk luar bumi,” potong Bapak. “Kami nggak pernah bertemu lagi. Tapi ia pasti muncul lagi, setelah bayi yang diserahkan ke kami meningkat dewasa. Kami rawat, didik dan asuh bayi itu dengan penuh kasih-sayang. Kami anggap darah-daging kami sendiri. Sekarang ia sudah besar, gagah, tampan, dan pintar. Sang Jabang Bayi itu adalah… kamu sendiri, anakku….”
“Bapak mengada-ada!” sangkalku keras. Kaget dan tak percaya.
“Benar, Ry,” Ibu menegaskan. “Di sana, tempat asalmu, kamu adalah calon pemimpin. Kamu dipersiapkan guna menumbangkan pemimpin mereka saat ini. Yang bertindak semena-mena. Zalim dan biadab. Ada satu materi penting yang mereka sadari telah dilalaikan. Moral dan mental suci. Timbullah gagasan mempelajarinya dari umat manusia di bumi. Seorang bayi kaum mereka direkayasa sedemikian rupa hingga berwujud sama dengan bayi manusia. Bayi ini akan tumbuh sebagaimana layaknya manusia umumnya dan menyerap segala hal dalam kehidupan manusia. Termasuk apa itu moral dan mental. Sejak TK hingga kamu menjelang tamat SMA.”
Aku tercenung. Menelan ludah dengan susah payah.
Bapak melanjutkan. “Makhluk yang kamu lihat dalam cermin itu adalah sosok aslimu. Hanya akan terlihat jika kamu sudah mencapai kedewasaan. Ini juga isyarat, mereka tengah bersiap-siap menjemputmu. Selanjutnya kamu akan digembleng ilmu kemiliteran di sana.”
“Ah, ini mengada-ada!” desahku takut dan sedih. “Ibulah yang melahirkan aku. Kalianlah orangtua aku yang sesungguhnya!”
“Sebelum Bapak menikah, Ibumu dinyatakan mandul oleh dokter. Akibat kanker kandungan yang pernah dideritanya,” jelas Bapak dengan serius.
Aku terbelalak. Badai ganas menerpa jiwaku. “Bagaimana kalau aku menolak pergi saat mereka datang?!” dalihku emosi. Kalut luar biasa.
“Kami pun nggak rela berpisah darimu, tapi kami harus mematuhi perjanjian. Kamu harus ikut mereka,” jawab Bapak murung. Matanya berkaca-kaca.
“Kalau kerusuhan di sana mereda, kamu bisa sesekali menemui kami, Ry. Tentu kamu akan membawa cerita-cerita menarik tentang dunia di sana. Dunia asing yang masih misterius itu,” hibur Ibu, juga dengan mata berkaca-kaca.
Bapak dan Ibu sepertinya telah siap menghadapi hal ini. Tiba-tiba saja aku merasa tak punya pilihan lain lagi. Walau sulit kucerna, akhirnya kepasrahan membalutku. Siapa pun aku, inilah takdir. Bahwa ternyata aku adalah putra dari segolongan kaum yang bukan manusia. Dan malam itu, aku bersikap tegar saat di atas rumahku mengambang megah sebuah cakram raksasa.
Keberangkatanku telah tiba. 

Aku yakin wajah yang berada di dalam cermin itu bukan diriku. Teksturnya menyimpang liar dari fakta. Dengan jujur aku mengakui bahwa aku terlahir ganteng. Mirip Antonio Banderas sedikit. Tapi saat jemari mentari pagi memancar mataku dan membuyarkan mimpi dalam pulasku, kebanggaan akan wajahku sekonyong-konyong terancam. Tapi pagi ini, aku berani menyangkal. Aslinya penampilanku memikat, namun kenapa musti nongol figur makhluk aneh?
Aku tak bisa mendeskripsikan secara detail ‘diri’-ku yang lain, yang nampak di cermin. Kira-kira begini, kepalaku nyaris mengembang sebesar guci keramik yang dipajang di ruang tamu. Bulat rada melonjong. Jidatku lebar dan berkerut-merut. Oya, kepala ‘asing’ itu botak licin mengkilap. Sepasang mataku persis ikan maskoki, seputarnya sembab. Pelipisku membengkak dan alisku rimbun kecoklatan. Hidungku cuma menyembul satu senti dengan cuping mekar. Pesek. Makhluk itu, selayang mengingatkan pada film-filim
science-fiction yang kerap aku tonton. Jelek, menjijikkan, dan menakutkan.
Lama pula aku terpekur. Aku tegaskan harapan semoga pengalaman aneh pagi ini cuma ilusi belaka. Harus ada proses kausalitas kalau aku terhasut percaya. Kenapa begitu? Tapi yang mengherankan saat aku menguji kesesuaian antara diriku yang di luar dan bayangan di dalam cermin. Tiap gerakan fisik yang aku lakukan misalnya meraba-raba pipi, hidung, bibir, telinga, mata, dan kening, dia menirunya serba tepat. Tapi aku tetap merasakan keberadaan diriku wajar-wajar saja. Ah, apa yang sebenarnya terjadi?
Satu-satunya cara membuktikan apakah semua ini ilusi atau bukan adalah mencari persepsi obyektif dari Ibu dan Bapakku. Meskipun aku yakin makhluk dalam cermin itu bukan diriku yang riil.
“Tumben terlambat, Ry,” kata Ibu yang lagi mengoleskan selai nanas ke lempengan roti. “Buruan mandi, deh. Sebentar kesiangan sampai sekolah.”
Senyumku tercetak kaku. Jarum jam dinding merangkak di kisaran enam lima belas menit. Sesaat aku tertegun memandang mereka.
Bapak mendongak dari rentangan koran yang dibacanya sejenak. “Malah bengong. Bapak pengen berangkat nih, Ry. Mau menumpang atau nggak?”
“Siap, Bos,” sahutku. Lalu ngeloyor ke belakang. Lega.
Tapi seusai mandi dan balik bersalin seragam di kamar, aku kembali menemukan ‘diri’-ku yang asing saat bercermin.

***

Sebenarnya aku segan mengeluhkan perihal ini. Pada siapapun, bahkan Bapak dan Ibu. Aku ingin melupakannya. Masih mengantri sederet masalah lain yang lebih penting dipikirkan. Namun entah kenapa peristiwa edan pagi tadi itu terus-menerus menerjang benakku. Sesosok makhluk antah-berantah. Ini amat mengganggu ketenanganku.
Unek-unek itu coba aku limpahkan ke Beno. Dari sejumlah teman seantero sekolah, Beno ibarat kulit dan daging denganku. Dekat. Sahabat. Kadang anak-anak iseng meledek kami pasangan
hombreng. Cuek. Hak mereka bersuara. Yang jelas kerukunanku sama Beno terbina. Beno baik. Solidaritasnya cemerlang. Itulah pasalnya aku mempercayainya.
Bahwa Beno terheran-heran selepas menyimak pemaparanku, aku mafhum. Kiasah misterius ini sarat kadar khayali. Sembilanpuluh sembilan prosen, mungkin. Sukar dicerna rasio. Tapi ketika kubuktikan kepadanya, lewat secarik kaca peraut pinsil, Beno terkejut bukan kepalang. Merinding. Dan percaya. Setelah sekian menit mencermatinya.
“Tapi mengapa keadaanmu yang kulihat sekarang nggak menggambarkan kelainan oragan-oragan sedikit pun?” tanya Beno meringis. Tubuhnya melorot lemas di kursi. Dipandangnya aku lumat-lumat.
“Itu yang masih belum terjawab,” sahutku, sambil menyusupkan rautan tadi ke dalam ransel.
“Mirip-mirip…
mutant? Tahu kan, Ry?” Beno mereka-reka.
“Ya, perubahan sel-sel genetik akibat faktor tertentu,” tanggapku. “Radiasi nuklir atau limbah-limbah kimiawi pun memungkinkan terangsangnya proses mutasi gen jika terkena.”
“Tapi ini bukan mutasi, Ry,” sergah Beno serius.
“Saya rasa begitu,” keluhku. “Ah, kenapa saya ini?!”
“Anatomi makhluk dalam cermin itu, kayak makhluk-makhluk imajinasi dari angkasa luar, Ry,” Beno mengobral taksiran lain.
“Alien, begitu? Saya dirasuki Alien? Bagaimana bisa?” Aku jadi merasa geli sendiri. Aku tak kuasa menangkal laju senyumku. Pembicaraan kami di kantin siang ini sepulang sekolah seakan-akan saling menguliti kebodohan saja. “Dalam jasadku hidup Alien….”
“Kamu percaya UFO, Ry? Kehidupan lain selain di bumi?”
Aku menguncupkan bahu sambil tertawa. “Nggak tahu, deh. Tapi kamu bisa kan mengupas masalah saya ini dari sudut yang wajar?”
Beno tergugu. Lalu melengos. “Yah, kamu benar,” sungutnya.

***

Kelas III IPS 2 ramai dan gaduh. Sesekali terlontar sorak-sorai membahana. Begitu riuh dan bersemangat. Dan dijerat amarah.
Beno menyongsong kedatanganku. Ia nampak cemas.
“Gawat, Ry. Bondan menghasut anak-anak!”
“Apa?” Aku tersengat. Aku bersijingkat. Melongok ke dalam kelas dari kerumunan siswa yang memadati pintu. Bondan nampak berdiri kokoh di atas meja. Berkoar-koar dengan tatapan berapi-api.
Seantero SMA 17 Agustus 45 pasti kenal Bondan. Dialah siswa pemberani di sekolah ini. Ketimpangan-ketimpangan yang ia temukan dalam aktifitas pendidikan di sekolah kami, digugatnya blak-blakan. Pendukungnya banyak. Ia figur pemberontak tulen. Ia terpaksa didepak dari keanggotaan OSIS, karena kelewat gencar mengkritik dan melecehkan inisiatif ketua yang melempem.
Katanya, para pengurus OSIS itu cuma numpang tenar, biar dekat sama guru-guru. Hebatnya lagi, cowok yang bokapnya sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik itu, tak sungkan-sungkan hengkang dari kelas saat guru mengajar. “Cara menerangkannya payah. Tuh guru pantes ngajar di TK!” ujarnya.
Kini, ia menancapkan aksi baru. Dasar senewen!
Bondan pengen mengadakan demonstrasi?” Aku menoleh ke Beno.
“Yah,” angguk Beno. “Tadi, tiba-tiba saja ia memanggil anak-anak dari kelas-kelas lain. Mengumpulkannya di kelas kita. Ipung dan Fredi membantunya. Kamu tahu kan, Ry, Bondan jago propaganda. Dia bilang, Kepala Sekolah kita yang baru sebulan bertugas itu diangkat lewat prosedur nggak sah. Dia juga tambahkan, Kepsek baru itu mata duitan. Ry, kita harus cegah niat sontoloyo Bondan.”
Aku tak sangka Bondan berpikiran sekotor itu. Menimang-nimang sedetik, lalu aku menyeruak. Hingga aku berada di dalam kelas.
“Bondan, turun!” bentakku. “Saya mau ngomong sama kamu!”
Bondan menyeringai ke arahku. Ia melompat ke lantai.
“Halo, Ketua Kelas kita. Mau bergabung?” Gayanya menyebalkan.
Aku menggeretnya ke pojok kelas. Menghindar dari keramaian.
“Kamu musti punya alasan yang kuat kenapa mengajak demo, Dan?!”
“Aku rasa sudah jelas. Kita tuntut agar Pak Widnarjo, Kepsek kita yang terdahulu, dikembalikan posisinya. Kepsek baru sekarang ini mutunya rendah!”
“Aku kenal Pak Sigit, Dan. Sekolah memilih dia karena dedikasinya yang tinggi. Ia justru lebih baik ketimbang Pak Widnarjo.”
“Problem kamu, Ry. Pokoknya aku dan lainnya menentang.”
Mendadak kepalaku pening. Tubuhku limbung dan tersandar ke dinding. Pada saat itu, sebersit adegan ringkas berkelebat di benakku. Aku melihat Bondan menerima segepok uang dari Pak Widnarjo!
“Ry, kamu kenapa?” tanya Bondan acuh tak acuh.
Adegan tadi sirna. Pening itu berangsur hilang. Aneh….
“Kamu disogok berapa sama Pak Widnarjo?” tebakku spontan, seolah aku yakin tebakanku jitu. Aku tatap Bondan setajam pedang.
Bondan tersekat. Gelisah. “Ki-kita bagi dua, Ry,” bisiknya.
“Kamu bubarkan anak-anak atau aku laporkan ke guru BP,” ancamku.
“Ry, aku cuma disuruh beliau. Dia kecewa atas penggeseran jabatan Kepsek itu. Dia dendam,” ujar Bondan tersendat-sendat.
“Itu fitnah, Dan. Kamu sama saja makan uang haram!” geramku.
Agaknya Bondan menyesal. “Bagaimana kamu bisa tahu imbalan itu, Ry?”
Aku mendengus. Menggeleng. Tuhan, apa lagi ini….”

***

Sorot mata mereka terpusat ke arahku. Berpuluh-puluh makhluk mengerikan itu mengelilingi. Di bawah keremangan suatu ruang. Mereka membisu, namun telingaku menangkap suara-suara riuh. Kupikir mereka menggunakan sistem komunikasi telepatis. Pesan-pesan disampaikan terselubung. Brain to brain!
Inilah bahasa paling rumit sekaligus runyam yang pernah kuketahui. Pakar linguistik atau etnologi pun mungkin kudu ekstra pusing menerjemahkannya. Tapi aku sedikit dan tak lancar mampu mengkamuskan pesan-pesan itu. Entah bagaimana aku bisa tahu!
Ada sepenggal kalimat terus-menerus mendengung memenuhi tempurung kepalaku, hingga aku menghapalnya.
“Secepatnya kami menjemputmu. Segenap bangsa menanti takdir kepemimpinanmu. Generasi tercerdas dan lebih bermoral luhur. Revolusi ini harus dihentikan. Korban sudah banyak. Secepatnya kami menjemputmu. Secepatnya….”
Aku terbangun. Dadaku berdebebar-debar tak beraturan. Cuplikan mimpi tadi masih menggelepar-gelepar di ingatanku. Perasaan gamang berkecamuk di lorong-lorong sukmaku. Malam itu aku mengalami derita batin menyayat. Ditindas oleh terkaman berjuta tanya. Siapakah diriku sesungguhnya?!
Aku beranjak dari ranjang. Kunyalakan lampu. Dengan gelisah aku menjenguk cermin. Napasku tersedak. Wajah makhluk itu masih ada. Kini aku lekas tanggap. Wajahku dalam cermin itu persis wajah makhluk yang menghiasi arena mimpiku. Persis!
Tuhan, siapakah aku sebenarnya? Mengapa Engkau datangkan cobaan berat ini pada hamba-Mu? Siapakah mereka… siapakah aku…?

***

Rasanya aku tak bisa menyimpan lebih lama lagi keganjilan-keganjilan yang akhir-akhir ini merongrong ketenteramanku. Hari itu, aku beberkan seluruhnya pada Ibu dan Bapak.
Mereka terkejut sekali. Terlebih-lebih pas aku buktikan.
“Astaga, waktunya telah tiba,” desis Ibu dengan muka haru.
Aku terhenyak. “Maksdu Ibu apa?”
“Ah, nggak. Nggak apa-apa,” kelit Ibu seakan tersentak.
Kebingunganku tumbuh. Aku tak mengerti mengapa ketika kegundahan tengah membelit hatiku, mereka malah semakin memupuknya.
“Bu, Pak, Hery harus tahu arti semua ini?!” Aku coba mendesak.
Bapak mendengus berat. Ibu menoleh ke Bapak. Saling kikuk.
“Perjanjian itu sudah kita sepakati, Bu. Kita tak boleh melanggarnya. Bukankah kita berhutang budi pada mereka….”
“Pak, ada apa sih?” Kesabaranku dihimpit penasaran.
Mata tua Ibu berkilat sayu. “Bapak saja yang cerita.”
Bapak mengangguk. Mendehem. Ia pindah ke sofa tempatku membeku tegang. Duduk di sisiku. Merangkul pundakku, ia bertutur pelan.
“Ry, delapanbelas tahun lalu, keluarga kita belum semakmur sekarang. Kami, Bapak-Ibu, masih di Cianjur. Perkebunan cabai
shishito yang Bapak kelola bersama Ny. Hamada terancam musnah. Cabai khas Jepang yang ditanam di lahan seluas 660 meter persegi itu diserang hama. Seluruhnya. Sulit dipastikan jenis hama apa. Apakah ulat grayak, nematoda, tungau, atau hama thrips. Ny. Hamada malah cenderung mengira antranoksa, sejenis penyakit tanaman yang membahayakan. Kami kelimpungan. Meskipun penanaman cabai ini merupakan proyek percontohan yang pertama dirintis di Indonesia, dan prospeknya nggak sebagus pembudidayaan cabai-cabai lokal, Ny. Hamada bertekad menyelamatkannya. Para petani yang bekerja satu per satu mulai undur diri. Hanya Bapak yang tetap bertahan. Bersama Ny. Hamada, pimpinan proyek itu, kami berpikir keras. Penyemprotan pestisida maunpun insektisida sudah dilakukan. Hasilnya nihil. Sejumlah tenaga ilmuwan rekan Ny. Hamada, dari Jepang, kalang-kabut. Mereka menyerah. Dalam semangat yang kian rapuh, kami masih berjuang memecahkan masalah ini. Dalam saat-saat kritis itulah, kami didatangi oleh seseorang.”
“Siapa dia? Utusan pemda?” selaku. Aku menyimak seksama.
“Mulanya kami dan staf lainnya menduga begitu. Ia mengunjungi laboratorium kami malam hari. Ia menjanjikan bahwa besok pagi kondisi area tanaman cabai
shishito itu akan kembali normal. Ia mengaku memiliki zat kimiawi tertentu yang ampuh memberantas hama atau penyakit. Kami senang mendengarnya. Tapi ia baru bersedia memenuhi janjinya asalkan kami sanggup menjalani satu syarat. Ini dia tujukan ke Bapak dan Ibu. Entah dari mana ia tahu kalau kami sudah menikah. Pria itu meminta agar kami mengadopsi seorang bayi dari mereka. Ibumu menyambut setuju. Sudah lama Ibu merindukan anak. Bapak turut bahagia. Maka dibuatlah perjanjian. Saatnya kamu menanjak dewasa, mereka akan menemui kami. Mengambil kamu, Ry. Membawamu pergi lagi.”
Kali ini aku kurang paham. Dan Bapak agaknya tahu hal ini.
Perlahan ia melanjutkan. “Orang itu menepati janji. Esok harinya perkebunan cabai
shishito kami nampak lebih sehat, segar, kuat dan subur. Nggak lagi layu dan meranggas kusam seperti kemarin-kemarin. Terlebih menakjubkan, sejak itu tanaman cabai shishito kami kebal terhadap gangguan hama dan penyakit apa pun.”
“Bagaimana ia bisa melakukannya?” tanyaku.
“Nggak seorang pun tahu….” Suara Bapak terbata. Melirik Ibu.
“Semuanya, Pak. Ungkapkan,” ujar Ibu tampak tabah dalam duka.
“Baiklah. Kamu nggak tahu teknologi apa yang mereka terapkan. Sekitar pukul dua dinihari, sepeninggalnya, kami terjaga dari tidur. Hampir semua peneliti, staf, dan termasuk Ny. Hamada, mendengar bunyi gemuruh halus di angkasa. Kami berduyun-duyum keluar laboratorium. Di atas areal perkebunan cabai, mengapung sebuah piringan raksasa. Menyerupai cakram. Garis tengahnya diperkirakan sembilan ratus meter. Cahaya kehijauan tertumpah merata dari satu lubang yang menganga di permukaan bawah benda itu. Lahan tanaman cabai benderang oleh cahaya. Lima menit berlalu, cahaya lenyap. Benda tadi membubung lamban. Kali ini tanpa bunyi sedikit pun. Suasana terasa hening. Sunyi. Sampai benda itu tiba-tiba melejit luar biasa cepatnya. Nggak sampai satu menit, kamu sudah menyaksikan benda itu tinggal sebentuk titik mungil. Membaur di antara tebaran bintang. Dari peristiwa itu, kami menyimpulkan bahwa cahaya itulah yang memulihkan tananman cabai.”
Prasangka konyol menembus benakku. “Apakah mereka….”
“Ya, pria penolong itu makhluk luar bumi,” potong Bapak. “Kami nggak pernah bertemu lagi. Tapi ia pasti muncul lagi, setelah bayi yang diserahkan ke kami meningkat dewasa. Kami rawat, didik dan asuh bayi itu dengan penuh kasih-sayang. Kami anggap darah-daging kami sendiri. Sekarang ia sudah besar, gagah, tampan, dan pintar. Sang Jabang Bayi itu adalah… kamu sendiri, anakku….”
“Bapak mengada-ada!” sangkalku keras. Kaget dan tak percaya.
“Benar, Ry,” Ibu menegaskan. “Di sana, tempat asalmu, kamu adalah calon pemimpin. Kamu dipersiapkan guna menumbangkan pemimpin mereka saat ini. Yang bertindak semena-mena. Zalim dan biadab. Ada satu materi penting yang mereka sadari telah dilalaikan. Moral dan mental suci. Timbullah gagasan mempelajarinya dari umat manusia di bumi. Seorang bayi kaum mereka direkayasa sedemikian rupa hingga berwujud sama dengan bayi manusia. Bayi ini akan tumbuh sebagaimana layaknya manusia umumnya dan menyerap segala hal dalam kehidupan manusia. Termasuk apa itu moral dan mental. Sejak TK hingga kamu menjelang tamat SMA.”
Aku tercenung. Menelan ludah dengan susah payah.
Bapak melanjutkan. “Makhluk yang kamu lihat dalam cermin itu adalah sosok aslimu. Hanya akan terlihat jika kamu sudah mencapai kedewasaan. Ini juga isyarat, mereka tengah bersiap-siap menjemputmu. Selanjutnya kamu akan digembleng ilmu kemiliteran di sana.”
“Ah, ini mengada-ada!” desahku takut dan sedih. “Ibulah yang melahirkan aku. Kalianlah orangtua aku yang sesungguhnya!”
“Sebelum Bapak menikah, Ibumu dinyatakan mandul oleh dokter. Akibat kanker kandungan yang pernah dideritanya,” jelas Bapak dengan serius.
Aku terbelalak. Badai ganas menerpa jiwaku. “Bagaimana kalau aku menolak pergi saat mereka datang?!” dalihku emosi. Kalut luar biasa.
“Kami pun nggak rela berpisah darimu, tapi kami harus mematuhi perjanjian. Kamu harus ikut mereka,” jawab Bapak murung. Matanya berkaca-kaca.
“Kalau kerusuhan di sana mereda, kamu bisa sesekali menemui kami, Ry. Tentu kamu akan membawa cerita-cerita menarik tentang dunia di sana. Dunia asing yang masih misterius itu,” hibur Ibu, juga dengan mata berkaca-kaca.
Bapak dan Ibu sepertinya telah siap menghadapi hal ini. Tiba-tiba saja aku merasa tak punya pilihan lain lagi. Walau sulit kucerna, akhirnya kepasrahan membalutku. Siapa pun aku, inilah takdir. Bahwa ternyata aku adalah putra dari segolongan kaum yang bukan manusia. Dan malam itu, aku bersikap tegar saat di atas rumahku mengambang megah sebuah cakram raksasa.
Keberangkatanku telah tiba.

Cerpen Rahmat Taufik RT

August 8, 2009 at 10:04 am | Posted in CERPEN Aniters | Leave a comment
Tags:

taufikWirda mengeluh pelan. Sepucuk surat bersampul biru di tangannya ditatapnya sekali lagi. Dan kegalauan itu tiba-tiba saja datang, membelenggunya, dan rasanya hampir membekukan semua sendi-sendinya. Oh, surat ini….
Dengan matanya, dia mengeja untaian huruf di permukaan sampul biru lembut itu. Untaian huruf yang rapi, yang membentuk nama Leo di situ. Wirda menghela napas. Jemarinya bergetar manakala membuka ujung sampulnya. Cepat saja, dibacanya kalimat-kalimat berbaris rapi di situ. Dan dalam diamnya, kembali dia mengeluh pelan.
Jadi dia akan datang. Jadi Leo akan datang, besok. Tuhan, sekali lagi Wirda mengeluh. Seharusnya ini menggembirakan. Tetapi….
“Hai, Wir,” sebuah suara membuatnya menoleh. Indras tersenyum ke arahnya.
“Ada apa?” tanyanya sambil memaksakan diri untuk membalas senyum cowok itu. Dimasukkannya lembar surat Leo ke sampulnya.
“Surat dari siapa?” Indras yang melihat gerakannya, bertanya.
“Dari Leo…,” jawab Wirda, pelan dan ngambang.
“Oh, aku mengganggu keasyikanmu rupanya.” Indras tertawa kecil. “Kalau boleh tahu, Leo bilang apa?”
“Dia akan datang besok.”
“Wah, baguslah itu.” Indras mendesah. “Dengan begini kalian akan bisa menuntaskan rindu. Lima purnama yang terlewati tanpa dia cukup membuatmu kalang-kabut didera kerinduan, bukan?”
Wirda terdiam, merasa kelu mendadak untuk memberi tanggapan.
“Oya, ini bukumu kukembalikan,” Indras menyahut lagi. Diangsurkannya sebuah buku bersampul selebritis. “Thanks, ya,” katanya lagi. “Dan salam untuk Leo,” lanjutnya berseloroh seraya mengedipkan mata sebelum berlalu.
Wirda menggigit bibir. Diikutinya langkah panjang yang khas milik Indras dengan tatapan. Seorang lagi. Ya, seorang lagi yang tertipu. Lima belas menit yang lalu, ketika Yaning memberikan surat ini padanya, gadis berambut panjang itu pun mengatakan hal yang serupa; tentang rindunya pada Leo. Padahal… ah, apakah aku punya rindu, Wirda menggumam dalam hati. Rindukah aku pada Leo? Dengan tak pernah menyempatkan diri untuk berlama-lama mengingat Leo, apakah aku masih punya rindu untuk cowok itu? Dengan tak pernah sedikit pun menantikan kepulangan Leo, rindukah aku pada cowok itu?

***

Gucci di pergelangannya diliriknya sekali lagi. Pukul 3.20, sore. Berarti dia sudah terlambat 20 menit. Wirda menarik ujung bibirnya sekilas. Apa reaksi Leo melihat keterlambatannya kali ini? Marah, atau tetap seperti yang sudah-sudah; tersenyum dengan kearifan yang mengagumkan?
Dirapikannya sekali lagi jambulnya yang sudah bertengger manis di ubun-ubunnya. Kemudian dengan langkah tenang, dia melangkah ke tempat Leo yang sedang duduk memunggunginya.
“Leo…,” panggilnya halus.
Cowok itu menoleh. Dan senyumnya yang tenang itu, dan matanya yang menyiratkan kearifan, membuat Wirda menahan napas untuk sedetik.
“Kau terlambat sekali, Wir,” dia menengok arlojinya. “Hampir setengah jam. Macet, ya?”
“Leo, aku….” Wirda menunduk. Tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Tak mungkin dia mengatakan bahwa dia sengaja datang terlambat. Tak mungkin dia mengatakan bahwa sebenarnya dia tak menghendaki adanya pertemuan seperti ini….
“Tidak apa.” Leo mengibaskan tangan, tersenyum tenang. “Aku tahu kau sibuk akhir-akhir ini. Iya, kan?” Lalu ditariknya sebuah kursi untuk Wirda.
Ah, seperti dulu-dulu, keluh Wirda. Seperti kemarin-kemarin, setiap kali dia membuat kesalahan, Leo senantiasa siap dengan selaksa pengertiannya. Harus bagaimana, Leo? Aku harus bagaimana agar kau sempat untuk kehilangan kesabaran? Aku ingin melihat setitik kekurangan dari sikapmu yang teramat sempurna di mataku selama ini. Aku ingin melihatnya, Leo; setitik saja, agar kecanggungan bisa kutepis. Agar aku punya sedikit keberanian… ah… untuk mengatakan bahwa selama ini cinta belum bisa kutumbuhkan di hatiku….
Ditatapnya cowok yang tengah menunduk itu. Dia tahu, kesalahan paling besar yang pernah ia lakukan dan tak habis ia sesali adalah ketika menerima pernyataan cinta Leo tanpa tahu apa dan bagaimana wujud perasaannya yang sebenarnya pada cowok manis itu. Semuanya terjadi demikian cepat rasanya dan berlangsung begitu saja. Dan dia seperti tersihir oleh mata yang dipenuhi gemerlap kilau cinta yang bertaburan di dalamnya. Dan tahu-tahu dia telah mengangguk, mengiyakan dan menerima tawaran Leo!
Baru kemudian setelah sederet malam Minggu terlewati, kesadaran tiba-tiba saja datang melecut; dia tidak mencintai Leo. Dia menyukai cowok itu, barangkali menyayangi, tetapi tak pernah berhasil mencintainya. Sampai sekarang. Padahal dia telah berusaha sebisanya.
Wirda mendesah lirih. Cinta, di manakah dirimu sebenarnya? Lelah sudah batinku menggapai bayangmu untuk kupersembahkan pada Leo, kau tak pernah juga bisa kuraih. Lalu, sampai kapan sandiwara yang tak pernah sengaja tercipta ini berakhir? Wirda mengeluh. Dia lelah, dan ingin semuanya berakhir. Dia ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Leo, tapi sebelum niat itu terlaksana ketakberdayaan sudah lebih dulu datang membungkamnya. Dia tak sanggup, selalu tak sanggup melihat mata hitam penuh cinta itu berlumuran luka.

***

Lalu hari-hari pun berlalu dengan kebersamaan yang penuh sandiwara. Nyaris tanpa kesan, tapi bagi Wirda, bukan tanpa arti. Ya, di lintas hari-harinya bersama Leo, di sela keterpurukannya ke sudut kebimbangan yang kian menyiksa, dicobanya untuk meraup keberanian dan menepis ketanpadayaan.
Dan pelan-pelan, kesadaran pun mengusik. Dia harus jujur, pada Leo, pada hatinya sendiri, dan pada semuanya. Agar semuanya tak lagi menjadi beban. Toh, kalau langit bisa jujur dengan keapaadaan warnanya pada semua yang dipayunginya, kenapa dia tidak?
Tetapi nyatanya? Ah. Wirda lupa, tak semua insan menginginkan kejujuran. Terkadang, karena kepahitan, mereka lebih menyukai bila kejujuran tak pernah terucap. Salah satu ego dari manusia? Entahlah. Yang jelas, hanya dalam tempo kurang sejam setelah Wirda melayangkan surat pernyataan tentang kejujuran hati itu pada Leo, mobil cowok itu telah mendecitkan bannya di halaman rumah Wirda.
Kerikil lepas dari kumpulannya, debu terusik dari ketermanguannya ketika cowok itu melompat turun. Dan… mata itu, mata hitam penuh cinta itu, benar-benar berlumurkan luka! Wirda bergidik di keterpakuannya.
“Apa maksudmu dengan lelucon yang tidak lucu seperti ini, Wir?” desah Leo berat. Dan luka makin menganga di hitam matanya. Wirda menunduk, tak sanggup menatap.
“Wir,” suara Leo lagi, “Katakan, ada apa sebenarnya. Aku menyakitimu? Aku berbuat salah padamu?”
Wirda menggeleng pelan, tak mampu berucap. Padahal, inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Tapi… mana keberanian itu? Mana? Ah. Disesalinya hatinya yang terlampau lemah. Disesalinya kodratnya sebagai wanita yang melulu menempatkan perasaan di letak paling atas. Disesalinya semuanya!
“Lalu kenapa?” Leo mengeluh. Diusapnya wajahnya dengan kedua telapak tangan. Diamatinya Wirda yang tetap saja menunduk di hadapannya. Hati-hati dia mengulurkan tangan.
“Aku mencintaimu, Wir,” ucapnya pelan. “Amat sangat.”
Wirda masih diam juga; menekuri lantai dengan hati kacau.
“Tatap aku, Wir,” pinta Leo. Disentuhnya dagu gadis itu. Tanpa daya, Wirda mendongak, mencoba menguatkan diri untuk menatap Leo. Dan di mata Leo, luka dan cinta yang pekat bergumul di sana. Oh! Tak tahan, Wirda merapatkan mata, tak sanggup menatap lama-lama. Dan dua butir air bening meluncur begitu saja di kedua pipinya.
“Aku mencintaimu, Wir,” ulang Leo lagi. “Aku tidak ingin kehilangan kamu. Kau tidak sungguh-sungguh dengan surat ini, bukan?” tanyanya seperti tuntutan. Dan Wirda tak punya pilihan lain selain menelan ketololan lagi; mengiyakan semuanya. Leo menarik napas.
“Aku mengerti, kau kecewa karena aku kurang memperhatikanmu akhir-akhir ini. Tetapi kamu harus tahu, semua ini kulakukan untuk kita. Setelah lolos UMPTN, aku tidak boleh bersikap santai lagi, bukan? Banyak yang harus aku selesaikan sebelum berangkat ke Makassar. Dan itu membutuhkan waktu dan perhatian yang tidak sedikit. Kau mengerti?”
Dan lagi-lagi tak ada jalan lain bagi Wirda kecuali mengangguk.
Kemudian, Leo pun berangkat ke Makassar, membawa cintanya, membawa keyakinannya bahwa Wirda pun melepasnya dengan segenap cinta di Watampone. Dan surat-suratnya pun mengalir bak air bah. Tak perhah henti. Hingga detik ini, surat terakhirnya yang kini berada di genggaman Wirda, yang mengabarkan tentang kepulangannya besok.
Wirda mendesah. Ditatapnya sekali lagi surat itu. Sepasang burung yang tadi asyik bercengkerama di udara kini entah ke mana. Hilang dari pandangan. Tetapi kegalauan yang menggerumit di hati Wirda tak hilang juga. Dilangkahkannya kaki dengan lesu, dan begitu tiba dimulut gerbang distopnya sebuah becak. Dia ingin tiba cepat-cepat di rumah, merendam kepalanya dalam bak selama mungkin – seperti kebiasaannya kalau sedang sumpek – kemudian tidur.

***

Gagang telepon itu tergenggam erat-erat di tangan Wirda yang bergetar. Lidahnya kelu begitu mendengar suara dari seberang. Suara Leo.
“Sedari tadi kau hanya diam saja, Wir,” sahut Leo ketika menyadari bahwa hanya dia yang selalu ngomong. Ada nada rindu di letup suaranya. Dan Wirda merasa kedinginan tiba-tiba. “Pangling ya, mendengar suaraku?” Leo tertawa. Wirda menggigit bibir.
“Ah, aku kangen, Wir,” kata Leo lagi. “Sungguh! Kau percaya itu, bukan?”
“Leo, aku…,” ucapan Wirda menggantung, disalib oleh suara sumringah dari seberang.
“Tunggulah. Lima belas menit lagi aku ke rumahmu. Jangan ke mana-mana, ya.” Dan suara telepon yang diletakkan kembali membuat Wirda lunglai seperti kehabisan tenaga. Dibarengi dengan keluhan panjang, dihenyakkannya tubuhnya ke kursi panjang. Oh, sandiwara sialan ini mesti terjalani lagi! Sampai kapan?
Dan derum mobil memasuki halaman membuat Wirda bangkit. Dengan gerakan malas ditariknya handel pintu, lalu dengan senyum yang dipaksakan dia menyambut Leo yang turun tergesa dari Pajero-nya. Lihatlah, dia tampak semakin jangkung dan… tampan! Aneh, mengapa aku tak pernah bisa mencintainya, keluh Wirda di hati. Disambutnya uluran tangan Leo.
“Aku kangen, Wir,” kalimat pertama yang diucpkan cowok itu, sambil meremas hangat jemari Wirda. “Kau tahu itu?”
Tanpa kata, Wirda mengangguk.
“Kau semakin pendiam,” Leo menggumam kemudian, pelan. Matanya mengamati Wirda. “Ada apa?”
Tak ada sahutan. Wirda menggigiti kukunya; cermin hatinya yang sedang resah.
“Atau, kamu tidak senang aku pulang, ya?”
“Tidak, bukan begitu,” sanggah Wirda cepat.
Leo tertawa. “Sudahlah. Kita keluar sekarang, bagaimana?”
Oh, inilah yang tidak diinginkan Wirda. Keluar bersama Leo, sementara hatinya tak sedikit pun bersamanya. Itu sebuah siksaan; menipu diri sendiri, dan menipu Leo.
“Bagaimana, Wir?”
Wirda mendesah pelan. “Maaf, Leo, tapi kali ini….”
“Kenapa, tidak bisa?” pintas leo cepat. Matanya mengarah tajam ke manik mata Wirda.
Pelan, Wirda mengangguk.
Leo tertegun sejenak. “Baiklah kalau begitu,” desahnya kemudian. Ada kekecewaan yang mewarnai kalimatnya. “Aku pulang dulu.” Dia bangkit. “Besok, kalau kau punya waktu, kita keluar, ya.” Matanya bersinar penuh harap.
Wirda mengangguk pelan. Bagaimana lagi? Dan ketika bayangan Leo menghilang bersama Pajero-nya, sederet perasaan bersalah tiba-tiba melingkari batinnya. Leo begitu tulus dengan cintanya, sementara dia? Ah.

***

Leo pulang dengan kecewa. Kursi rotan berderik ketika dia menjatuhkan tubuhnya ke situ. Kekecewaan bergumpal-gumpal di hatinya. Selama kepulangannya hanya sekali dia bertemu dengan Wirda. Selebihnya, jangankan sosoknya, baunya pun tak tercium. Hanya laporan: ‘Non Wirda sedang keluar, belajar di rumah temannya’ dari Bik Inah yang senantiasa menyambutnya.
“Temannya yang mana, Bik?”
“Ndak tahu tuh, Den. Non Wirda ndak bilang apa-apa.”
Pufh! Leo mengepal tinju dengan gusar. Ditatapnya foto Wirda di dinding kamarnya dengan pandangan nanar. Dia kesal, tapi tak mampu untuk marah. Tidak, gadis itu terlampau lembut untuk menerima damparatan. Dia mencintai gadis itu, amat mencintai!
Diusapnya wajah. Dicobanya untuk introspeksi diri. Siapa tahu dia pernah berbuat salah terhadap gadis itu. Tetapi setelah lama merenung, akhirnya dia mengeluh putus asa ketika tak juga berhasil menemukan sejumput kekhilafan yang pernah ia lakukan terhadap gadis itu. Lalu, kenapa sikap Wirda seperti itu? kenapa gadis itu seperti sengaja merentang jarak? Ada orang ketigakah, dan Wirda ingin memutuskan hubungan di antara mereka?
Putus! Leo terhenyak. Seperti sesuatu yang lama terbenam di dasar, tiba-tiba kesadaran muncul menyeruak. Dulu, lama berselang rasanya, menjelang keberangkatannya ke Makassar, Wirda pernah menawarkan kata yang sama. Putus!
Leo merasa gamang tiba-tiba. Baru disadarinya kini, masalah itu sebenarya belum tuntas. Tuhan! Apakah sikap menghindar gadis itu sekarang ada hubungannya dengan yang dulu?
Oh, rasanya tak sabar Leo untuk menemui gadis itu. Tetapi di mana? Sekonyong-konyong dia ingat Yaning. Ah, gadis itu pasti tahu kawan-kawan dekat Wirda. Dengan sigap diraihnya kunci kontak Pajero-nya, dan kemudian melesatkannya pergi.

***

“Heran deh, tak biasanya kamu begini, Wir,” cericau Yaning.
Wirda menoleh. “Kenapa?”
Yaning mengangka bahu. “Tiba-tiba rajin mengerjakan tugas, dan tiap hari ke sini….”
“Kamu tidak senang ya, aku datang ke rumahmu?” tanya Wirda memintas. “Sudah, aku pulang saja kalau begitu.”
“Eit!” Yaning melompat, menarik lengan Wirda. “Kau terlalu perasa akhir-akhir ini.” Dia tertawa. Wirda tersenyum.
“Aku ingin membenahi semua pelajaran, Ning. Ujian tinggal sebulan lagi, kan?” kilah Wirda.
Yaning mengangguk-angguk, meski tak sepenuhnya menerima dalih itu. Ada dugaan yang meluncas di hatinya. Tetapi tak berani untuk memastikan sendiri.
“Oya, apa kabar Leo?” tanyanya kemudia. “Sudah balik lagi ke Makassar?” sambungnya.
Dan Wirda tertegun. Ditatapnya Yaning dengan keresahan yang tak tersembunyikan. Ya, apa kabar Leo sekarang? Dia bingung, tak tahu mesti menjawab bagaimana. Tidak ada yang diketahuinya tentang Leo lagi, selain bahwa cowok itu setiap sore datang ke rumahnya. Dan… dan dia senantiasa menghindar; seperti yang ia lakukan sekarang….
“Wir…,” sentuh Yaning pelan. Wirda segera tersadar. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” lanjut Yaning lagi. Wirda menunduk.
“Dia masih di sini, kok,” jawabnya singkat. Dan tanpa kata, dibenahirnya buku-bukunya yang berserak. Yaning menatapnya dengan hati bertanya-tanya.
“Tapi kulihat Leo tak pernah bersamamu. Kenapa?”
“Tidak apa-apa,” Wirda menjawab pendek, tanpa menoleh, tetap sibuk mengemasi buku-bukunya.
Yaning menghela napas. Dari sikap Wirda, dia tahu gadis itu menyembunyikan sesuatu. Lembut, disentuhnya bahu gadis itu. “Kau mulai tak jujur, Wir,” katanya tanpa tekanan.
Wirda mendongak, menatap Yaning dengan mata resah.
“Aku sahabatmu kan, Wir. Katakan, kau menyembunyikan sesuatu tentang Leo, bukan? Dia menyakitimu?”
Wirda menunduk, menggeleng berkali-kali dengan gerak lambat. Leo menyakitinya? Laki-laki yang kebaikannya hampir mendekati titik kesempurnaan itu menyakitinya? Oh, tak akan pernah terjadi. Justru dia, dia yang menyia-nyiakan kebaikan cowok itu!
“Lalu kenapa?” desah Yaning bingung.
“Aku yang sengaja meghindarinya, Ning,” desis Wirda pelan.
Yaning mengerutkan kening.
“Jadi itu sebabnya setiap sore kau ke sini?”
Wirda mengangguk pelan. Kelu.
“Oh, Wir,” Yaning meremas bahunya, “Leo pasti tak akan memaafkan aku kalau dia tahu aku menyediaka tempat untuk menghindar buatmu,” sesalnya.
“Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain,” suara Wirda basah. Dan di matanya ada kabut tebal yang berangsur berubah menjadi gerimis kecil. “Aku tersiksa setiap kali mesti bertemu dengan Leo; menatap matanya yang penuh cinta. Aku tidak bisa!”
“Tapi kenapa?” tanya Yaning, tak habis pikir.
Wirda mendesah. Inikah saat untuk mengungkapkan segalanya? Setelah sekian lama berpura-pura dalam sandiwara yang tak pernah sengaja tercipta, setelah ratusan hari terlewati dengan hati terkemas rapi dalam kebimbangan. Inikah saatnya untuk mengakhiri semuanya?!
Dan memang itulah mestinya. Tersendat-sendat, Wirda menceritakan semuanya. Tentang ketololannya menerima cinta Leo tanpa mengkaji perasaannya sendiri, tentang pencarian dan pengejaran cinta yang meletihkan, kesia-siaan, kegoyahannya dalam bersikap dan tentang betapa dia ingin lepas dari belenggu ketanpadayaan….
“Aku tak menyangka hal ini.” Yaning merangkulnya begitu penuturannya selesai. Wirda terisak, tetapi ada kelegaan yang menyusup di sela-sela kisi hatinya.
“Aku tak tahu mesti berbuat apa lagi,” keluhnya. “Aku tahu, membiarkan segalanya berlarut-larut akan semakin memperparah keadaan. Tapi setiap kali kucoba untuk mengungkapkan segalanya pada Leo, ketakutan telal lebih dulu datang membungkamku. Aku tak sanggup melihatnya terluka. Dia begitu baik, begitu penuh pengertian dan pengertian… oh, aku tidak mungkin sanggup melihatnya kecewa….”
“Aku mengerti,” sahut Yaning pelan. “Tetapi sampai kapan kau akan membiarkan semuanya berlarut-larut? Diam tak selamanya merupakan jalan paling bijak, kau tahu itu. Jangan diam terus, Wir. Kau akan tersiksa, dan semakin menenggelamkan Leo ke dalam harapan-harapan kosong.”
“Tapi aku tidak bisa.” Wirda menunduk, mendekap wajahnya dengan kedua tangan. “Benar-benar tidak bisa!”
“Kau mesti bisa,” tekan Yaning. “Keterlibatanmu selama ini hanya karena ketakutanmu melihat Leo terluka, bukan? Percayalah, dia pasti menerima semuanya, sekalipun pahit. Dia bukan cowok kemarin sore, Wir. Dia pati bisa memahami semuanya dengan sikap dewasanya. Selama ini dia…,” kalimat Yaning menggantung. Di sana, di mulut pintu yang terbuka lebar, Leo tertegun dengan sorot mata aneh!
“Leo…!” desis Yaning hampir tak kedengaran. Dan Wirda terperangah. Keterkejutan yang memenuhi ruang dadanya seketika berganti dengan ketakutan yang amat sangat begitu mata Leo menghunjamnya. Dan luka itu, luka yang menganga lebar dan dalam, kembali ada! Tergambar jelas di mata hitam penuh kilau cinta itu. Lebih kelam dari yang dulu! Tuhan! Wirda mendesah, tetapi tetap tak sanggup bersuara. Dan sebelum keheningan berubah beku, Leo telah mencairkannya dengan berbalik tanpa kata, melangkah tergesa, melindas kerikil dengan suara berderak-derak.
“Leo,” Wirda memanggil dengan suara pelan. Tetapi Leo tak mendengarnya. Terus saja melangkah tergesa, membuka pintu mobil dengan kasar dan menutupnya dengan bantingan, lalu kemudian melesatkannya pergi.
“Dia pasti mendengar semuanya,” Wirda mengeluh. “Oh, dia pasti sangat kecewa.”
Yaning menghela napas pelan, mengelus bahu Wirda lembut.

***

“Jadi itu yang kau lakukan selama ini, Wir,” desah Leo pahit.
Wirda menunduk, menekuri lantai.
“Seharusnya kau tidak perlu menghindar,” sesal Leo. “Semua toh bisa diselesaikan dengan baik-baik, bukan?”
Kepala Wirda terangkat, mencoba memberanikan diri untuk menatap Leo.
“Aku mencintaimu, Wir.” Leo balas menatap. Ada gelepar luka yang bersemayam di sana, amat jelas! “Dan selama ini,” Leo melanjutkan lagi, “telah kuyakinkan dalam hati bahwa kau pun menyimpan cinta untukku, sebelum segalanya menjadi jelas bagiku. Kenapa, Wir, sekian lama kamu menyiksa batin hanya agar aku tidak kecewa. Padahal kau tahu, semuanya bisa terselesaikan dengan baik-baik, bukan?”
Oh, dengar, dengarlah katanya. Wirda menangis dalam hati. Dia begitu tulus begitu penuh pengertian. Tuhan, mengapa aku tak juga bisa mencintainya?
“Leo…,” bibir Wirda bergetar. “Semuanya ini salahku. Aku….”
“Jangan teruskan, Wir. Tak ada yang salah di antara kita.”
“Tetapi aku menyakitimu.”
“Dan cintaku telah menyiksa batinmu sekian lama, bukan? Aku tidak mungkin bisa tenang mencintaimu kalau aku tahu cintaku hanya membuat kau tersiksa. Kau mengerti?” Digenggamnya jemari Wirda. Gadis itu menunduk.
“Kukira semua sudah jelas.” Leo mengempaskan napas kuat-kuat. “Yah, mungkin kita memang harus berpisah. Supaya tak ada hati yang terluka lebih lama….”
“Leo!” Wirda menggigit bibir. Ditatapnya wajah cowok itu dengan mata membasah. “Ta-tapi… ki-kita tetap akan bersahabat, bukan?” tanyanya ragu.
Leo menunduk. Bersahabat? Bisakah itu? Mampukah dia mengubah cinta yang lama bersemayam di hatinya dengan sebentuk kasih tanpa nuansa? Ah, Leo ragu, tetapi….
“Aku akan berusaha, Wir, biar waktu yang akan….” Leo tersenyum paksa. Kalimatnya tak rampung. Ada nada getir yang terbias pada wajahnya yang mengeras. Sepasang matanya berkaca. Dia bangkit kemudian, menyentuh bahu Wirda lembut. “Aku pulang, Wir. Jaga dirimu baik-baik!”
Lalu, cowok itu pun berbalik. Hanya kalimat itu yang diucapkannya setanda pisah. Hanya itu! Tak ada kata perpisahan syahdu yang mengharu-biru. Tak ada apa-apa.
Di tempatnya, Wirda tergugu. Dipejamkannya mata, tak sanggup menatap langkah gontai milik Leo yang pernah dikaribi. Dan ketika sosok itu lenyap bersama Pajero-nya, seperti ada yang lepas dan hilang, raib mendadak di ruang hatinya. Ah! Cinta kadang memang sangat menyakitkan!

Resensi Puisi “Kartu Nama Putih” Karya: Kurnia Effendi

August 8, 2009 at 9:56 am | Posted in RESENSI PUISI Aniters | Leave a comment
Tags:

kurnia-kartuputihJudul buku: Kartunama Putih
Penulis: Kurnia Effendi
Penerbit: Biduk, Bandung
Cetakan: I, 1997
Tebal: xiv + 95 hlm.

Kurnia Effendi sebagai cerpenis, itu sudah lama saya tahu. Sejak dua puluh tahun yang lalu di era generasi Anita Cemerlang. Tetapi bahwa ia juga seorang penyair, baru belakangan ini saya mengetahuinya. Dan diam-diam, oh…tepatnya sih saya yang kurang informasi, ia telah pernah menerbitkan puisi-puisinya itu dalam satu buku : Kartunama Putih. Buku tersebut lahir 11 tahun silam.

Kerena usianya yang sudah cukup “tua” untuk ukuran sebuah buku, tidaklah mengherankan jika kita sudah tidak akan menemukannya lagi di rak-rak toko buku. Namun, beruntunglah saya yang berkat persahabatan saya dengan penulisnya, masih bisa menikmati jejak kepenyairan Kurnia Effendi atau yang kerap disapa dengan nama akrabnya, Kef, ini. Sepekan lalu, pada sebuah siang yang menyengat, ia menghadiahi saya buku kumpulan puisinya itu.

Kartunama Putih memuat 86 biji sajak yang bertema atau berkisah ihwal nama-nama orang yang oleh saya akan saya bedakan menjadi dua bagian. Pertama adalah puisi-puisi yang melibatkan atau diperuntukkan bagi orang-orang terdekat Kef. Misalnya, istri, anak-anaknya, keluarga, keponakan, kakek, sahabat, atau bisa jadi sejumlah mantan kekasih di masa remaja. Bagian kedua merupakan puisi-puisi persembahan atau ungkapan kekaguman Kef kepada para tokoh. Baik nasional ataupun internasional. Di sana akan kita temukan nama-nama seperti Mega, Udin, Benyamin Netanyahu, Slobodan Milosevic, dan lain-lain.

Dari kedua pembagian ini, saya bisa merasakan perbedaannya. Maksud saya, saya merasakan kesan yang berbeda dari kedua.

Pada bagian untuk orang-orang terdekatnya, puisi-puisi yang ditulisnya terasa lebih “bunyi”. Barangkali karena ia benar-benar menuliskannya dari hati. Dari jarak yang dekat dengan subjeknya. Benar-benar merupakan ungkapan perasaan yang personal; yang umumnya hanya bisa dipahami oleh yang bersangkutan. Tetapi tidak demikian halnya dengan sajak-sajak Kef di buku ini. Meskipun puisi tersebut sangat personal sifatnya dan bukan ditujukan untuk kita (baca : saya), tapi kita (baca: saya) dapat ikut merasakan getarannya. Dengan kata lain, sampai ke hati. Baik maknanya maupun keindahannya. Atau saya lebih suka menyebutnya sebagai puisi-pusi yang bikin cemburu; lantaran tatkala membacanya saya membayangkan tentu pribadi-pribadi kepada siapa Kef menujukan sajak-sajaknya ini merasa tersanjung dan senang sekali. Sebab hal yang sama pernah saya rasakan pula.

Untuk jelasnya, baiklah, saya petikkan satu contohnya :

R.A.

Tinggal wangi bajumu, menyapu udara, ketika
Kereta bertolak ke utara. Tanganmu lepas dari
Genggaman. Jarak pun berkali lipat menawarkan sunyi
Di bumi yang selalu basah ini kutunggu kabar:
Kapan engkau kembali? Hujan terus turun, mencuci
Jarak pertemuan yang sengaja kunamai kenangan
Dingin peron merayap ke lantai kamar. Tempat
Sepasang kakiku terhenti. Menopang kerinduan
Yang tiba-tiba sangat berat.

Ingin kularutkan dalam mimpi: seluruh percakapan
Tentang harapan dan kecemasan. Juga tahun-tahun
Yang kupertaruhkan. Menunggu bulan turun
Ke pangkuan, alangkah panjang pengembaraan
Di malam yang kelewat basah, terus kupagut
Wangi bajumu. Terus kupagut

Puisi yang berangka tahun 1989 ini, jelas sekali merupakan puisi persembahan cinta untuk kekasih yang kini menjadi istrinya : R.A. Kependekan dari Ratu Ade. Tentu waktu itu mereka masih berstatus pacaran.

Walaupun “R.A.” sajak yang sangat personal bagi penulisnya, namun kita bisa meminjamnya untuk merayu kekasih kita. Apa lagi bila peristiwa atau situasi yang kita hadapi memiliki kemiripan dengan sajak tersebut.

Atau sajak yang ini :

KANGEN
: Ageng-Erda

Benarkah hanya jarak memisahkan kita
(Bukan karena orang ketiga, atau matirasa?)
Waktu telah lancang menghimpun seluruh
Perasaan yang diam-diam kutabung untukmu

Bahwa suatu ketika kado ini kubuka
Persis di depan bolamatamu
Yang menyembunyikan sejumlah gemerlap,
adalah tentang kangen semata

Ini juga milikku
Satu kangen yang tak bergeser
dari alamatmu.

Saya tentu tak kenal Ageng dan Erda. Dan saya memang tak perlu mengenal mereka lebih dahulu untuk bisa menikmati sajak ini; untuk dapat ikut serta merasakan kerinduan seorang kekasih di dalamnya. Bahkan saya berniat, kapan-kapan jikalau saya sedang kangen pada kekasih saya (kalau pas lagi punya kekasih), saya akan ungkapkan rindu saya dengan sajak ini.

Nah, kini mari kita bandingkan dengan sajak-sajaknya di “bagian kedua”. Langsung saja saya ambil satu sampel :

MEGA

Ketika bibirmu tersenyum
Beribu-ribu hati bijak turut tersiram sejuk
Tanganmu yang mengepal: menanamkan tunas
semangat kepada kebun massa di sekelilingmu

Engkau duduk pada kursi yang mula-mula
disiapkan untuk memimpin komunitas luluh-lantak
Babak kondisional dalam peta sosial politik,
dielu-elu dengan saputangan basah
Lorong panjang masa silam kembali diteropong
Darah orator mengalir kuat di jantungmu

Ketika bibirmu tersenyum
Seharusnya untuk 1993 sampai 1998
Namun dramatisasi dalam sandiwara negeri ini diperlukan
Untuk mengecoh para penulis sejarah masa depan
Akankah tangan-tangan kita perlu berlumur darah lagi?

Engkau kini duduk di kursi goyah
Sedang mata dunia tengah bersama-sama menatap
dari segala penjuru. Mungkin berjuta lembar skenario
harus ditimbang-tinbang, sebelum diterbitkan
dengan tinta cetak kepalsuan
Akankah tangan-tangan kita perlu berlumur darah lagi?

Sajak ini ditulis tahun 1996. Sudah pasti bermaksud mengenang peristiwa bersejarah 27 Juli 1996 yang berupaya menumbangkan Megawati dari kursi ketua DPP PDI. Zaman itu, ketika pemerintahan masih dijalankan oleh rezim Orde Baru yang otoriter, sosok Megawati dan PDI-nya menjadi simbol perlawanan. Megawati yang didzalimi, telah menumbuhkan banyak simpati di hati banyak orang di negeri ini. Mungkin termasuk Kurnia Effendi, sehingga terciptalah puisi ini.

Perhatikan diksi yang dipilih Kef dalam sajak ini. Sangat berbeda dengan yang ia pakai dalam sajak-sajak cintanya yang lembut dan romantis. Pada sajak “Mega” ini, saya seperti sedang membaca pamflet. Ada aroma politik, kekerasan, bau amis darah, kemarahan, serta sarat gugatan di sana. Demikian pula pada sajak “Literatur Kematian Udin” (hlm.16), “Kepada Ny. Hillary Clinton” (hlm.38), dan “Slobodan Milosevic” (hlm.24)

Tetapi itu masih lumayan. Masih lumayan ngerti, maksud saya. Sosok Megawati, Udin, Ny. Clinton, dan Milosevic bukanlah sosok asing. Namun, ketika sampai pada Peter Brook, Eva Johnson, Narrowsky, Oodgeroo Noonuccal, atau Hikotaro Yazaki, lantaran dangkalnya ilmu yang saya punyai, terpaksa kudu tanya si Google dulu untuk mengulik pengetahuan ihwal nama-nama tersebut. Akibatnya, saya merasakan ada jarak antara saya dengan puisi-puisi tentang mereka. Tidak senikmat saat saya membaca puisi-puisi di “bagian pertama”. Ah, mudah-mudahan Kef menulis sajak-sajak di “bagian kedua” ini bukan sekadar sebagai sebuah upaya gagah-gagahan.

Lalu, mana sajak “Kartunama Putih” yang dipakai untuk judul buku ini? Ia terletak di halaman xi (pembuka) dan 95 (penutup) :

Kartunama itu putih saja
Tak ada huruf kecuali warna kain kafan
Kartunama itu : putih saja

Namun, agaknya kartunama itu tak putih lagi. Di dalamnya, Kef telah mengukir nama-nama, puisi-puisi…***

-endah sulwesi-

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.